NovelToon NovelToon
Akhir Dari Penghianatan

Akhir Dari Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Wanita perkasa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Penikmat_lara

Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku beban?

Indira merasa lelah apabila terus terusan seperti ini, dan ia merasa kasihan juga dengan tubuhnya yang terus dipaksa untuk bekerja dan begadang tiap harinya. Ditempat kerja juga dirinya terus saja menguap karena mengantuk, sehingga hasil kerjanya dengan yang lainnya selisih begitu banyak dan gajinya lah yang paling sedikit dari yang lainnya.

Sangking seringnya dia begadang sehingga terciptalah mata panda diwajahnya yang sebelumnya tidak ada, facial wajah yang ia lakukan tiap dua minggu sekali pun rasanya tidak ada efeknya untuk mata panda diwajahnya itu. Semenjak kerja dipabrik tersebut, teman teman se pabriknya selalu mengajaknya untuk facial wajah agar dirinya bisa glow up seperti mereka.

"Yaudah tidur saja nggak papa," Pungkas Wisma.

"Ya," Jawab Indira dengan nada ketusnya.

Indira tanpa mempedulikan Wisma lagi langsung memejamkan kedua matanya karena mengantuk, beberapa saat kemudian dirinya pun akhirnya terlelap juga dalam tidurnya yang nyenyak. Biasanya dirinya tidak pernah tidur nyenyak seperti ini, apalagi tidur di jam segini karena biasanya dirinya tidurnya akan sangat larut malam.

******

Beberapa minggu kemudian, Indira rasanya sudah terbiasa diganggu oleh Wisma dan merasa bahwa ada seseorang yang bisa perhatian kepadanya. Ia yang kurang kasih sayang Ayahnya pun merasa damai karena ada sosok yang menyayanginya seperti ini, kalau dirinya tidak online pasti ada yang kirim spam chat kepadanya sehingga ia merasa bahwa ada seseorang yang menganggapnya penting.

Kadang kala Indira merasa lelah karena harus meladeni orang seperti Wisma, tapi terkadang dirinya juga merasa senang karena ada yang perhatian kepadanya. Indira tidak punya siapa siapa yang perhatian kepadanya, bahkan Ibunya saja tidak pernah menanyakan kabarnya sama sekali dan bahkan tidak pernah ada komunikasi diantara keduanya kecuali ketika Indira butuh uang.

Karena kurangnya kasih sayang dari sosok Ayah, hal itu membuat jiwa anak kecil didalam tubuh Indira rasanya ingin meronta ronta. Memang tubuhnya sudah menjadi tubuh orang dewasa, akan tetapi jiwa anak kecil didalam masih terperangkap didalam tubuh itu karena ia harus dewasa sebelum waktunya.

Tanpa dirinya sadari bahwa prilakunya berubah menjadi anak anak yang mudah sekali merajuk karena hal hal kecil, dan mudah sekali marah apabila ada yang mengganjal didalam pikirannya. Sedewasa apapun perempuan bakal bersikap layaknya anak kecil didepan orang yang disayanginya, itulah yang terjadi kepada Indira saat ini.

"Aku mau cerita sesuatu," Ucap Indira dengan sosok dibalik telpon.

"Mau cerita apa?" Tanya Wisma yang ada di seberang telpon.

"Aku sebel sama Pamanku selalu pake motorku terus, padahal sudah aku isi penuh bensinnya tapi selalu habis kalo dipake sama dia, nggak diganti juga. Masak aku tiap hari harus isi bensin terus," Keluh Indira karena motor miliknya selalu kehabisan bensin tiap kali habis dipakai oleh Pamannya yang berada disebelah rumah Neneknya.

Sejak Indira tinggal disana, Pamannya bisa semena mena memakai motor miliknya itu meskipun tanpa izin darinya terlebih dahulu. Bensin yang tadinya telah isi penuh olehnya selalu habis ketika selesai dipakai oleh Pamannya tanpa diisi kembali sebagai ucapan terima kasih, Indira terlalu lelah jika terus terusan seperti ini.

Tapi dirinya tidak bisa berbuat apa apa, kalau pun dia nantinya akan melarang Pamannya memakainya, mungkin dirinyalah yang menjadi masalah dalam rumah itu kedepannya. Ketika meminta saran kepada Ibunya dia hanya berkata menyuruhnya untuk sabar, tidak ada hal lain yang dikatakan selain sabar.

"Mangkanya belajar bersikap dewasa, jangan kekanak kanakan seperti itu."

Keluhannya itu hanya dianggap kekanak kanakan menurut Wisma, bahkan Indira sendiri pun langsung disuruh untuk bersikap dewasa lagi. Padahal Indira mengeluh seperti itu hanya ingin ditenangkan oleh Wisma dari rasa sakit hatinya, namun Wisma malah menyalahkan dirinya karena kurang bersikap dewasa soal itu.

"Menurutmu aku kekanak kanakan begitu?"

Indira paling tidak suka ketika dirinya curhat mengenai sesuatu kepada Wisma, karena Wisma hanya akan menyuruhnya untuk bersikap dewasa kalo tidak Wisma hanya bisa menyuruhnya untuk sabar. Ini adalah terakhir kalinya dirinya bercerita kepada Wisma, karena ia tidak lagi mau menahan sakit hati.

Melihat ucapannya yang tidak dipedulikan oleh Indira, hal itu langsung membuat Wisma memutuskan sambungan telponnya dengan sepihak, dan justru hal itu langsung menciptakan sebuah kelegaan tersendiri bagi Indira. Ia tidak lagi menelpon ulang Wisma karena Wisma tengah merajuk, namun ia membiarkannya tanpa khawatir.

Indira pun teringat sebuah perkataan dari Riri yang mengatakan bahwa dirinya hanyalah beban bagi siapapun, perkataan itu seolah olah tengah berputar putar didalam ingatan Indira. Ia memper sangkut pautkan apa yang dia alami saat ini dengan ucapan dari Riri sebelumnya, sehingga akhirnya Indira pun menangis karena merasa bahwa dirinya memang beban bagi siapa saja.

*Bunda, apakah aku adalah beban?* Indira pun lalu mengirimkan sebuah pesan kepada Ibunya.

Tak lama kemudian, Indira mendapatkan pesan balasan dari Ibunya itu. Indira tak langsung membuka pesan tersebut karena belum siap untuk membacanya. Ia berusaha untuk menenangkan pikirannya agar tidak semakin terluka, dan tidak mempedulikan rasa sakit ditangannya itu.

*Indira bukan beban, Indira adalah harta paling berharga yang Bunda miliki, Indira tidak boleh berkata seperti itu ya. Bunda sangat sayang dengan Indira sampai kapanpun,* balasan dari Ibunya.

*Tapi kenapa semuanya seolah olah mengatakan bahwa Indira hanyalah beban bagi kalian,* Balasan Indira.

*Nggak ada yang mengatakan bahwa Indira itu beban, siapa yang mengatakan itu?*

*Kak Riri biasanya bilang begitu, ia selalu memarahiku dan selalu mengatakan bahwa aku hanyalah beban. Aku nggak mau dianggap beban oleh siapapun,*

*Ingat suatu hal, Bunda sangat bahagia ketika memiliki anak sepertimu, Dira. Nggak peduli apa yang dikatakan orang lain terhadapmu, yang Bunda tau bahwa Bunda sangat menyayangimu.*

*Makasih Bunda.*

*Dira adalah anugerah bagi Bunda yang memang Allah kirim untuk Bunda, jadi jangan pernah berpikiran seperti itu ya.*

*Iya Bunda.*

Indira lalu mengakhiri pesan tersebut dengan mengirim sebuah emote senyum kepada Ibunya, meskipun Ibunya berkata demikian tapi entah mengapa hatinya sama sekali tidak bisa tenang, dan semakin menyalahkan dirinya sendiri karena telah menjadi beban bagi orang orang terdekatnya sendiri.

Indira pun meneteskan air matanya hingga membasahi bantal yang ia gunakan untuk tidur itu, hingga akhirnya dirinya kelelahan dan memilih untuk memejamkan kedua matanya. Tak beberapa lama kemudian akhirnya dirinya tertidur juga, tidur setelah menangis mampu membuatnya tertidur dengan sangat lelap.

Meskipun belakangan ini sama sekali tidak ada yang menyakiti perasaannya, tapi ia tetap merasa sakit dan tanpa suatu sebab apapun air matanya pasti akan keluar dengan ditambah rasa sesak di dadanya. Apakah trauma yang dialaminya benar benar parah? Dan bahkan moodnya bisa berubah setiap detik sekali, yang tadi ya senang bisa mendadak menjadi diam.

Indira tidak berharap apapun kepada dunia ini, ia hanya bisa menjalani hari harinya sambil menunggu akhir dari hidupnya datang. Ia tau bahwa Allah sangat membenci orang orang yang bunuh diri, ia bertahan didunia ini hanya karena Allah tidak menerima arwah dari orang yang melakukan bunuh diri.

Beberapa puluh menit kemudian ponselnya berdering dengan sangat keras, sehingga hal itu langsung membuat Indira terbangun dari tidurnya. Ia melihat bahwa Wisma tengah menelponnya saat ini, ia sangat lelah dan ingin istirahat dengan tenang tanpa di ganggu oleh siapapun.

Indira melihat kearah ponselnya yang masih menunjukkan pukul 10 malam, masih sangat lama untuk menuju ke pagi hari yang biasanya dirinya terbangun dari tidurnya. Ia mengabaikan telpon itu dan kembali memejamkan kedua matanya karena lelah, dan tak lama kemudian ponselnya berdering kembali.

"Ngeganggu orang tidur aja," Guman Indira kesal.

Tapi tetap saja Indira lalu mengangkat telpon vidio tersebut, ia langsung menyandarkan ponselnya di tembok dekatnya dan langsung kembali tidur seperti semula sambil memejamkan kedua matanya dengan rapat. Wisma pun mengeluarkan kata kata yang sangat banyak kepada Indira, Indira sendiri hanya mendengarkannya tanpa menyahuti ucapan dari Wisma.

Indira benar benar merasa lelah saat ini, dirinya ingin segera istirahat karena besoknya dirinya harus pergi bekerja. Karena pabriknya yang gajinya borongan membuatnya harus bekerja lebih keras lagi untuk bisa mencapai targetnya, dan jikalau dirinya kurang vit hal itu bisa menyebabkan kurangnya fokusnya dalam bekerja.

"Kamu dari tadi nggak menghubungi aku sama sekali, telpon pun nggak, kemana saja sih? Gitu ya, aku ngambek ikut ngambek, nggak dibujuk," Omel Wisma.

"Aku ngantuk mau tidur," Jawab Indira.

"Loh jangan tidur dulu, selesaikan dulu masalah kita, jangan langsung tidur gitu aja. Bangun! Bangun!"

"Berisik! Aku ngantuk, aku mau tidur! Kalo nggak suka aku tidur yaudah jangan telpon!" Sentak Indira karena dirinya memang benar benar mengantuk hari itu.

Indira langsung menutup telponnya begitu saja tanpa mau mendengarkan ucapan dari Wisma terlebih dahulu, Indira tidak mempedulikan begitu banyaknya pesan yang dikirimkan oleh Wisma kepadanya saat itu, karena dirinya benar benar mengantuk dan ingin segera istirahat secepatnya.

Bukan hanya karena dirinya lelah saja sehingga ia begitu sangat mengantuk, melainkan karena dirinya habis menangis sehingga matanya terasa perih dan ingin sekali di pejamkan saat ini. Tidak ada yang mampu mengerti perasaannya saat ini, dan bahkan ia hanya bisa menenangkan dirinya sendiri tanpa butuh orang lain yang melakukan itu.

******

Beberapa hari kemudian, Indira berkunjung kembali ke rumah Budenya yang sebelumnya dirinya datangi untuk memberikannya sesuatu yang ia dapatkan di pabriknya yakni tampah. Setiap jum'at legi pabrik itu akan mengadakan syukuran berupa nasi pincuk, oleh karenanya akan ada yang mendapatkan jatah untuk bisa membawa tampah pulang.

"Udah lama tinggal sama Nenekmu?" Tanya Ana, Budenya Indira.

"Udah hampir 3 bulan, Bude. Kenapa?" Tanya Indira balik.

"Nenekmu kemaren bilang ke Bude, suruh ngasih tau dirimu. Kalo tiap gajian jangan lupa kasih juga ke Nenekmu, dia bilang sendiri gitu ke Bude. Emang kamu nggak pernah ngasih Nenekmu?"

Indira pun mengingatnya, tiap minggu dirinya dikasih oleh Bundanya dan disuruh Bundanya untuk ngasih ke Neneknya. Katanya biar Indira tidak dipersulit Neneknya ketika tinggal disana, dirinya bahkan tidak pernah telat memberikannya kepada Neneknya, tapi kenapa Neneknya mengatakan itu kepadanya lewat Budenya.

"Tiap minggu tidak pernah telat kok, Bude. Selalu aku kasih," Jawab Indira.

"Entah kok dia sampe bilang gitu ke Bude, emang Nenekmu itu cerewet, sayangnya cuma kalo ada duitnya doang. Yang sabar aja disana, kalo nggak sabar ikut Bude aja kesini,"

"Iya Bude,"

"Bude akan menerima dengan sepenuh hati kalo kamu mau tinggal disini, biar ada yang bantu bantu Bude juga. Bude jualan kerupuk jadi biar ada yang bantu, pintu rumah Bude terbuka lebar untukmu. Kalo iya, nanti Bude bilang sama Ibumu,"

"Iya Bude, lihat nanti saja ya."

"Iya."

Mereka pun mengobrol santai disana sambil menyaksikan beberapa orang yang tengah bekerja mewadahi krupuk dalam kantong plastik untuk dijual. Itu adalah usaha dari Budenya selama ini, banyak orang orang luar desa yang sering beli disana dan krupuk itu terkenal dimana mana.

Setelah lama berada disana, Indira lalu berpamitan untuk pulang karena sudah hampir magrib, dan dirinya takut apabila nanti Neneknya menghawatirkan dirinya karena belum pulang pulang juga. Oleh karena itu, Indira langsung berpamitan untuk pulang saat itu juga, dan langsung melesatkan motornya untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.

1
JELINA,S.PD.K JELINA,S.PD.K
Ndak seru ceritanya ga bisa dilanjutkan
Riskejully: Nggak mau baca juga nggak papa kak, ini cerita hanya untuk mengenang kisahku dan seseorang yang aku cintai saja. terima kasih sudah baca sampai sini🙏
total 1 replies
Lee Mba Young
what 3 bln tp gk tau rumah RT nya. lah berarti waktu mau tinggal gk laporan dulu dong.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.
Riskejully: bukan komplek ya, awalnya dia tinggal sama budenya disatu tempat dan para tetangganya sudah tau, tapi budenya tiba tiba pindah ditempat lain namun masih tetanggaan + indira jarang bersosialisasi dengan siapapun. pulang kerja langsung masuk rumah di kunci rapat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!