Luna, seorang mahasiswi jurusan teknologi informasi semester akhir selalu begadang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Suatu malam ia tertidur di meja belajar bersama tumpukan kertas-kertas nya lalu tiba-tiba ia merasa seperti jatuh dari kursi. Tapi saat ia membuka matanya rupanya ia berada di dalam tubuh seseorang yang mirip dengannya. Ia yakin itu bukan dirinya yang sebelumnya. Tempat itu juga sangat asing baginya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang pria tampan berparas lembut berbicara padanya. "Annette, kau sudah lebih baik ? Bangunlah, aku membuatkan mu sarapan,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdansa
Emilie bisa bernafas lega saat melihat Annette mulai menjauh. Ia mulai melanjutkan bermain piano. Jarinya menari-nari diatas tuts dan menciptakan irama yang merdu. Banyak pujian yang Emilie terima hingga membuatnya melambung tinggi.
Annette yang meninggalkan pesta terlihat oleh Leon. Dan Leon pun menyusul Annette keluar setelah menghabiskan semua makanan Annette.
"Annette, kau mau kemana ?" tanya Leon yang melihat Annette celingak-celinguk di area taman.
"Aku sedang mencari dahan yang patah atau apa saja yang keras," jawab Annette masih fokus mencari. Ia bahkan mengangkat sedikit gaunnya agar tidak menghalangi kakinya yang mengobrak-abrik semak-semak.
"Untuk apa ?" tanya Leon mengerutkan dahinya. Pasalnya mereka sedang berada di pesta. Dan benda itu tidak dibutuhkan disini.
"Untuk memukul kepala Emilie," jawab Annette santai tanpa beban. Annette memang seorang yang galak dan sombong. Tapi ia memiliki tata krama yang bagus sebagai aturan putri dari pengusaha ternama. Berbeda dengan Annette sekarang yang dirasuki oleh Luna.
Luna sendiri memang tidak bisa bela diri. Tapi ia seorang yang berani mengungkapkan pendapatnya dan meledak-ledak.
Ia tidak bisa bermuka dua. Mengatakan suka tapi dalam hati benci setengah mati dan begitu sebaliknya.
Ia mengatakan dan melakukan apa yang memang berasal dari hatinya. Melihat barang milik Annette dikenakan oleh Emilie tentu ia tidak terima.
"Annette, sekarang apa lagi ? Kenapa tiba-tiba kau ingin memukul Emilie ?" tanya Leon tidak mengerti. Ia bingung sekaligus takut bila Annette sungguhan melakukan itu. Bukan karena ia mengkhawatirkan Emilie. Melainkan ia tidak mau nama Annette menjadi jelek di mata banyak orang.
"Dia memakai kalungku. Dia mencurinya," kata Annette tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Bersama dengan itu ia melihat dahan pohon cemara yang patah tersembunyi di dasar kolam ikan.
Annette bergerak maju dan hampir berjongkok sebelum akhirnya tubuhnya melayang sebab Leon mengangkat nya dan membawanya pergi dari sana.
"Annette, aku tau kau kesal. Tapi memukul Emilie karena sebuah kalung bukanlah keputusan yang tepat. Apalagi kita sedang berada di tengah keramaian," kata Leon dengan suara lembut. Tangannya juga sibuk merapikan anak rambut Annette yang mulai berantakan.
"Pasti kau khawatir aku melukainya," gerutu Annette dengan bibir maju dan tangan terlipat di dada.
"Tentu saja tidak. Aku justru mengkhawatirkan mu," kata Leon dengan sabar. Sepertinya Annette memang tidak bisa diberitahu dengan keras jika tidak ia akan memberontak.
Meskipun Leon sudah mengatakan mengkhawatirkan dirinya, namun Annette masih tetap cemberut.
"Begini saja, biar aku yang memintanya baik-baik supaya dia mengembalikan kalung itu padamu," tawar Leon. Tapi sepertinya tidak membuat Annette tertarik.
"Ini masalah wanita, kau tidak perlu ikut campur," kata Annette.
"Bagaimana kalau kau memintanya baik-baik. Aku akan mengantarmu. Tidak perlu memukulnya," sekali lagi Leon masih berusaha membujuk.
Annette menatap wajah Leon. Leon bicara dengan tegas namun lembut. Dan tidak di duga kali ini Annette menganggukkan kepalanya.
"Baiklah itu kita urus nanti. Sekarang ayo kita masuk. Apa kau tidak mau berdansa denganku ?" tanya Leon.
'Berdansa ?' seumur hidup Annette di zaman modern belum pernah ia berdansa. Meskipun di sekolah atau kampus tempatnya kuliah sering mengadakan acara tersebut namun ia tidak pernah ikut. Alasannya hanya satu. Ia rendah diri di hadapan teman-teman kaya nya.
"Tapi aku tidak bisa berdansa," cicit Annette pelan.
"Tidak apa-apa. Aku juga tidak bisa. Kita ikuti pasangan lain saja," balas Leon. Ia sama sekali tidak keberatan dengan pengakuan Annette sebab ia pun juga begitu.
Setelah lama membujuk akhirnya Annette mau pergi dari sana dan memasuki tempat acara. Emilie memainkan pianonya lagi dan kini disampingnya ada Nyonya Vivian yang matanya bergerak kesana-kemari seperti mencari sesuatu di tengah kerumunan.
Annette tersenyum sinis. Nampak sekali ketakutan dalam diri Emilie hingga ibunya menjaganya seperti itu.
'Andaikan Annette masih memiliki ibu, ia pasti juga dijaga seperti itu,' gumam Annette sedikit sedih.
Semua orang sudah mulai berdansa. Mereka hanya fokus pada pasangan masing-masing tanpa melihat pasangan lainnya.
Leon memeluk kedua pinggang ramping Annette, dan menyuruh Annette meletakkan kedua tangannya diatas bahunya.
Mereka menari pelan mengikuti alunan musik. Memang Annette akui Emilie sangat hebat dalam mencari irama yang menghanyutkan.
Annette merasa ada yang melihatnya dari samping. Ia menoleh dan matanya bertatapan dengan mata tajam Nyonya Vivian yang terlihat jelas memancarkan kebencian.
Annette dengan sifat tengil dari masa modern nya membalas tatapan itu dengan mengejek. Ia menjulurkan lidahnya sembari memutar bola matanya.
"Kau kenapa ?" tanya Leon hampir tertawa.
Annette terkejut. Terlalu fokus pada Nyonya Vivian membuatnya lupa jika saat ini sangat intim dengan Leon. Ia merasa amat malu karena mungkin saja Leon sudah melihat wajah jeleknya.
"Annette, kau tidak apa-apa ?" tanya Leon yang kini sudah tertawa. Ekspresi wajah Annette yang lucu tidak bisa hilang dari ingatannya.
"Tidak apa-apa, jangan mengajakku bicara," balas Annette ketus. Lalu ia mengarahkan pandangannya pada lantai. Menurutnya itu lebih aman.
Sedangkan Leon yang tau jika Annette tengah malu, ia berusaha sebisa mungkin untuk meredam tawanya. Jangan sampai ia merusak suasana yang sudah susah payah ia bangun.
"Annette, apa kau mencintai ku ?" tiba-tiba Leon bertanya hal itu setelah berhasil meredakan tawanya.
Annette mendongak. Menatap wajah Leon yang lebih tinggi darinya. Hatinya berdebar kencang mendapati pertanyaan seperti itu.
"Menurutmu bagaimana ?" tanya Annette.
"Menurutku iya. Kau mencintaiku karena kau yang mengatakannya sendiri," jawab Leon tersenyum lembut.
"Anggap saja seperti itu. Tapi sayangnya kau tidak mencintaiku kan ?" tebak Annette sok tau.
"Kau bisa membaca isi hatiku ?" tanya Leon pura-pura terkejut.
Mendengar ucapan Leon, Annette membuka matanya lebar. "Jadi benar kau tidak mencintaiku ?" sungutnya sembari memukul pelan bahu Leon.
"Aku kan bertanya. Belum menjawab," kata Leon sembari menahan tangan Annette.
"Annette, kalau pun aku mengatakan mencintai kau pasti tidak akan percaya. Jadi rasakan saja bagaimana caraku memperlakukanmu," kata Leon pelan dan dalam. Kepalanya menunduk perlahan kemudian mengecup sekilas bibir Annette. Dan bersamaan dengan itu, sesi berdansa sudah selesai.
Mereka bertepuk tangan seperti sebelumnya. Memberikan penghargaan pada Emilie yang menyajikan musik romantis untuk mereka.
Acara selanjutnya adalah mengucapkan selamat kepada kedua mempelai pengantin. Mereka bergantian memberi selamat dan berdoa akan kebahagiaan di masa depan.
Annette mematung melihat pengantin yang begitu bahagia. Sebuah bayangan muncul memperlihatkan dirinya menangis dibalik tembok merasakan sakit hati yang luar biasa saat mendengar Leon bicara pada pendeta bahwa yang ia cintai sebenarnya adalah Emilie.
Annette mengingat, ia dan Leon hanya mengucapkan sumpah pernikahan tanpa cincin dan gaun pengantin.
'Malang sekali nasibmu, Annette...'
...
😍😍💪❤❤
paati meninggalnya diracun ama vivian..
❤😍😍💪💪💪❤❤❤
❤❤❤💪💪💪
🤣😄😄❤💪💪
😍❤❤❤💪💪💪💪
🤣😄❤❤💪
❤❤😍😍💪