akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 – Musuh yang Berpikir
Langit ruang dimensi tidak runtuh.
Ia retak. Bukan seperti gerbang monster yang biasa muncul—kasar, liar, penuh energi tak stabil. Retakan kali ini rapi, simetris, membentuk pola geometris sempurna, seolah-olah ruang itu sendiri sedang dibedah dengan presisi.
Rey berdiri di puncak menara dimensi, matanya menyipit.
“Ini bukan gerbang alami,” gumamnya.
“Ini… dibuat.”
Sila berdiri di sampingnya, listrik tipis berderak di ujung jarinya.
“Energinya berbeda. Tidak agresif. Tapi… menekan.”
Deva merasakan lebih dulu dari yang lain. Ia memegang dadanya, napasnya sedikit tertahan.
“Waktu di sekitar retakan itu… tidak rusak,” katanya pelan.
“Waktu… diatur.”
Rey menoleh tajam.
Makhluk atau pihak yang mampu mengatur waktu tanpa merusaknya—itu berarti satu hal.
Mereka cerdas.
Di dunia nyata, alarm tidak langsung berbunyi.
Sensor dimensi pemerintah tidak mendeteksi lonjakan energi besar. Tidak ada ledakan, tidak ada kehancuran awal.
Justru itulah yang membuatnya berbahaya.
Di tengah reruntuhan kota lama—kota yang belum sepenuhnya dipulihkan sejak invasi monster pertama—sebuah cahaya tipis terbuka.
Dari sana… keluar sosok humanoid.
Tinggi mereka hampir sama dengan manusia. Tubuh mereka ramping, dibalut lapisan seperti logam cair berwarna gelap. Wajah mereka polos, tanpa ekspresi, hanya dua mata bercahaya pucat.
Mereka berdiri.
Mengamati.
Tidak menyerang.
Warga yang masih tinggal di sekitar area itu berlari panik, namun makhluk-makhluk itu tidak mengejar.
Salah satu dari mereka mengangkat tangan.
Tanah di sekitarnya berhenti bergerak.
Debu menggantung di udara.
Angin membeku.
“Ini bukan monster…” bisik seorang operator pemerintah di ruang kontrol.
“Ini… humanoid.”
Komunikasi lintas dimensi aktif seketika.
“Semua regu siaga,” suara Rey bergema di saluran utama.
“Jangan menyerang lebih dulu.”
Beberapa komandan regu terkejut.
“Tidak menyerang?” tanya salah satu.
“Mereka sudah masuk wilayah kita.”
“Justru itu,” jawab Rey tenang.
“Kalau mereka ingin menghancurkan, mereka sudah melakukannya.”
Tim Cosmic berkumpul di ruang utama markas.
Leoni menampilkan visual dunia nyata di layar besar.
“Jumlah awal: tiga puluh unit. Formasi defensif. Tidak ada tanda agresi.”
Boy mengepalkan tangan.
“Biasanya monster langsung mengamuk.”
Leo menatap data medis energi.
“Energi mereka… stabil. Hampir seperti manusia, tapi… bukan.”
Deva melangkah maju.
“Ada sesuatu yang salah. Mereka bergerak mengikuti pola waktu yang… efisien. Tidak ada pemborosan.”
Rey mengangguk.
“Karena mereka memang bukan monster.”
Ia menatap layar.
“Mereka datang untuk berkomunikasi.”
Rey memutuskan turun langsung.
Ia membuka ruang dimensi terbatas dan muncul di dunia nyata—di hadapan para sosok humanoid itu. Tim Cosmic dan beberapa regu lainnya bersiaga di kejauhan, namun menahan serangan.
Salah satu sosok melangkah maju.
Gerakannya halus, hampir elegan.
“Akhirnya,” katanya.
Suaranya… tidak keluar dari mulut. Ia bergema langsung di pikiran semua yang mendengar.
“Kami telah menunggu.”
Rey menahan refleks defensifnya.
“Kalian siapa?”
“Kami adalah Arsitek,” jawab entitas itu.
“Penjaga keseimbangan antar-ruang.”
Sila menahan napas.
“Penjaga? Lalu monster-monster itu apa?”
Entitas itu menoleh sedikit.
“Kesalahan. Limbah eksperimen. Gangguan.”
Rey merasakan kemarahan naik, namun ia menahannya.
“Gangguan itu hampir memusnahkan dunia kami.”
“Kami tahu,” jawab Arsitek datar.
“Itulah sebabnya... Sebelum semuanya berakhir kami datang.”
Arsitek melanjutkan.
“Energi ruang dimensi milikmu… seharusnya tidak milik siapapun, Satu-satunya dimensi yang menghasilkan energi murni.”
Beberapa anggota regu langsung bereaksi, namun Rey mengangkat tangan—memerintahkan mereka diam.
“Kekuatan itu datang padaku dengan sendirinya,” kata Rey dingin.
“dunia kami bertahan karena energi di dalamnya.”
“Dan itulah masalahnya,” jawab Arsitek.
“Kalian beradaptasi terlalu cepat.”
Ia menatap Rey secara langsung.
“Dan satu individu mempercepat semuanya.”
Nama itu muncul di pikiran semua orang.
Armand.
“Dia membuka jalur yang seharusnya tersegel,” lanjut Arsitek.
“Eksperimennya menciptakan ketidakstabilan lintas dimensi. Monster hanyalah efek samping.”
Rey mengepalkan tangan.
“Jadi kalian datang untuk menghentikannya?”
“Tidak,” jawab Arsitek.
“Kami datang untuk mengoreksi.”
Salah satu Arsitek mengangkat tangan.
Hologram muncul—memperlihatkan simulasi masa depan.
Dunia manusia yang dipenuhi konflik.
Gerbang dimensi yang semakin sering terbuka.
Perang antar-spesies.
“Probabilitas kehancuran total: 97%,” kata Arsitek.
“Solusi optimal: pembatasan permanen akses dimensi.”
“Dengan cara apa?” tanya Rey pelan.
Arsitek menatapnya.
“Dengan menghapus individu-individu kunci.”
Sunyi.
Sila bereaksi lebih dulu.
“Kalian mau membunuhnya?!”
“Bukan membunuh,” jawab Arsitek.
“Menghapus dari alur eksistensi.”
Boy melangkah maju.
“Rey bukan masalahnya!”
“Dia adalah anomali terbesar,” jawab Arsitek.
“Ruang dimensi yang harus kembali ke posisinya, kalau tidak.. bukan hanya dunia ini saja...”
Rey menutup mata sejenak.
Tiga tahun.
Tiga tahun melatih dunia.
Tiga tahun membangun harapan.
Dan kini, ia ditawari satu pilihan.
“Kalau aku pergi,” kata Rey pelan,
“kalian berhenti menyerang dunia ini?”
Arsitek terdiam beberapa detik.
“Probabilitas kehancuran menurun menjadi 12%.”
Tim Cosmic membeku.
“Tidak,” kata Deva tiba-tiba.
Semua menoleh.
“Aku bisa menghentikan waktu,” lanjut Deva, suaranya gemetar tapi tegas.
“Tapi aku tidak akan membiarkan waktu mencuri Rey dari kami.”
Sila berdiri di sisi Rey.
“Kalau kalian mau dia… kalian harus melewati kami semua.”
Regu Cosmic yang lain ikut maju, satu per satu.
Lima belas regu.
Seratus lebih manusia dengan kekuatan berbeda.
Arsitek memandang mereka.
“Menarik,” katanya.
“Manusia memilih konflik… bahkan saat tahu risikonya.”
Rey membuka matanya, mengetahui dengan pasti apa yang terjadi dimasa depan.
“Karena dunia ini milik kami,” katanya tegas.
“Bukan untuk dikoreksi atau dikuasai oleh pihak luar.”
Jauh di tempat lain, Armand menyaksikan semuanya melalui layar energi.
Ia tersenyum puas.
“sebuah entitas,” gumamnya.
“Selama ini akupun tidak tahu keberadaan mereka yang menyebut diri sebagai Arsitek itu.”
Ia menekan tombol lain.
Sebuah proyek lama aktif kembali.
“Aku tidak perduli siapa mereka selama penelitianku ini terus berjalan.”
Langit dunia nyata bergetar.
Para Arsitek mundur satu langkah—bukan karena takut, tapi karena perhitungan ulang.
“Pikirkanlah,” kata mereka.
“Kami akan kembali… dengan keputusan final.”
Cahaya menyelimuti mereka.
Dan mereka menghilang.
Rey menghembuskan napas panjang.
Ancaman baru telah muncul.
Bukan monster.
Bukan pengkhianat biasa.
Melainkan penjaga Cosmic yang menganggap manusia sebagai kesalahan.
Dan di balik semuanya…
Armand masih menyiapkan sesuatu yang misterius.