Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Persiapan.
Rangga tetap ngotot dan memaksa kedua orang tuanya untuk mengikuti apa yang dia inginkan, membuat Beni dan juga Martha hanya menghela napas berat.
"Yaudahlah, terserahmu saja," ucap Beni. Dia sudah lelah mengurus perusahaan, sekarang masih saja dipusingkan karena masalah yang dibuat oleh putranya sendiri.
Rangga tersenyum senang, sekarang dia tidak perlu khawatir lagi dengan ancaman Rania untuk bercerai darinya. Wanita itu akan tetap menjadi istrinya karena dia sudah mendapat bantuan dari kedua orangtuanya.
Setelah selesai bicara dengan orangtuanya, Rangga beralih menemui sang pengacara yang telah menunggu di ruang kerja. Sama seperti sebelumnya, dia menyuruh pengacara itu untuk mengurus segala persiapan agar Rania tidak akan bisa menceraikannya.
"Huh, akhirnya semua selesai," ucap Rangga seraya merebahkan tubuhnya di atas sofa setelah selesai bicara dengan pengacara. Kemudian dia melirik ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja, terlihat benda pipih itu bergetar sampai beberapa kali.
Perlahan Rangga meraih ponsel itu dan melihat ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Vita, spontan dia mencengkram benda pipih itu dengan kuat saat melihat nama wanita itu tertera di layar.
"Ck, aku harus menyelesaikan urusanku dengannya," gumam Rangga. Kemudian dia beranjak dari sofa dan berlalu pergi keluar untuk menemui Vita.
Di tempat lain, terlihat Rania dan Dafa sudah selesai makan. Mereka lalu bergegas pulang sebelum malam semakin larut. Namun, di tengah perjalanan, Rania tidak sengaja melihat Nino—temannya sedang terduduk dipinggi jalan. Dengan cepat dia menepikan mobilnya dan bergegas menghampiri laki-laki itu.
"Nino!"
Laki-laki yang merasa namanya dipanggil langsung menoleh, dia tampak terkejut saat melihat keberadaan Rania.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Rania, matanya melirik ke arah motor yang biasa dikendarai Nino.
"Biasalah, motorku mogok lagi," jawab Nino dengan kesal. "Kau sendiri dari mana, Ran?" tanyanya kemudian.
"Aku abis makan sama anakku," jawab Rania, lalu dia bertanya apakah Nino butuh tumpangan untuk pulang atau tidak.
"Aku nunggu temen Ran, katanya dia mau jemput, tapi dari tadi gak nongol-nongol," desis Nino kesal, sudah hampir satu jam dia menunggu tetap temannya tidak datang juga.
Rania melirik ke arah jam yang melingkar ditangannya. Sekarang sudah pukul 10 lewat, sudah lumayan malam kalau harus terus menunggu dipinggir jalan.
"Gimana kalau kuantar pulang aja, besok baru kau ke sini lagi ngambil motormu," tawar Rania, merasa kasihan pada laki-laki itu.
"Apa gak ngrepotin, Ran?" Nino merasa sungkan, apalagi harus naik ke mobil Rania, dia merasa sedikit malu.
Rania menggeleng. "Enggaklah, orang cuma kek gini aja. Lagian rumah kita searah." katanya sambil tersenyum.
Nino mengangguk setuju dan segera menitipkan motornya di warung yang berada tidak jauh dari sana, kemudian dia masuk ke dalam mobil Rania dan mereka berlalu pergi ke tempat tujuan.
Sepanjang perjalanan, Rania dan Nino asyik bercerita tentang masa kuliah dulu, juga tentang pekerjaan yang sekarang sedang dikerjakan oleh laki-laki itu, sampai tidak sadar kalau mereka sudah sampai di depan rumah Nino.
"Gak mampir dulu, Ran. Ada mamaku kok di dalam," tawar Nino.
"Lain kali aja yah No, udah malam nih," balas Rania. "Liat, Dafa jugak udah tidur." Dia menunjuk sang putra yang ada dikursi belakang dengan ekor matanya.
Nino mengangguk paham, kemudian dia segera keluar dari mobil Rania, tidak lupa mengucapkan terima kasih karena wanita itu sudah menolongnya.
Setelah mengantar Nino, Rania kembali melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumah, tanpa sadar jika sejak tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikan dari kejauhan.
"Cih." Dia mendengus, kemudian berlalu pergi dari tempat itu.
Tidak berselang lama, Rania dan Dafa sudah berada di rumah. Dia segera membaringkan Dafa di ranjang dan ikut berbaring di samping putranya.
Rania menatap langit-langit kamar, pikirannya melanglang buana memikirkan masa depannya dan juga Dafa. Mereka harus segera keluar dari rumah ini dan pindah ke rumah lamanya, rumah kecil di pinggiran kota, rumah yang berhasil dia beli atas kerja kerasnya sebelum berumah tangga.
"Aku juga harus segera mencari pekerjaan," gumam Rania. Sebelumnya dia bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang property, bersama dengan Vita.
Rania berhasil naik ke posisi manager berkat keuletan dan kepintarannya, dia juga berhasil mengumpulkan gajinya untuk membeli rumah, walau hanya berukuran kecil dan memiliki satu kamar.
Namun, Rania harus berhenti dari pekerjaan itu karena permintaan dari orangtua Rangga. Kedua mertuanya tidak mau melihatnya bekerja, apalagi bekerja di perusahaan yang tidak terkenal. Mereka merasa malu, dan juga merasa jauh lebih mampu untuk menghidupinya.
"Aku masih punya tabungan, apa aku buka usaha aja yah?" gumamnya, dia merasa bingung.
Rania menghela napas berat, kemudian memilih untuk segera tidur karena merasa pusing. Dia akan memikirkan semuanya dengan perlahan. Namun, yang paling penting untuk sekarang adalah berpisah dengan Rangga. Dia harus segera menyewa pengacara untuk menyiapkan berkas perpisahannya.
***
Pagi harinya, Rania bersiap-siap untuk pergi bersama dengan Dafa. Dia ingin melihat rumah lamanya dulu sebelum pindah ke sana sekalian ke kantor pengacara, dan bertepatan dengan kedatangan Rangga ke rumah itu.
"Sayang!"
Rania tersentak kaget saat mendengar suara Rangga, dia bergegas melihat ke arah pintu dengan tatapan tajam. "Mau ngapain lagi kau ke sini, Mas?" tanyanya dengan tidak suka.
Rangga mendekat, berjalan santai menghampiri Dafa yang sedang memakai sepatu. "Mau menemuimu dan Dafalah," jawabnya, seolah tidak terjadi apapun dalam rumah tangga mereka.
Rania mengepalkan kedua tangannya, menahan kesal dan marah. Dia memang harus segera keluar dari rumah ini secepatnya.
"Tapi kalian mau ke mana?" tanya Rangga, dia memperhatikan penampilan Rania dari atas sampai bawah, terlihat jelas jika istrinya itu akan pergi keluar.
Rania memalingkan wajah dan tidak menjawab pertanyaan Rangga. "Udah siap, Sayang?" tanyanya pada Dafa.
Dafa mendongak, kemudian mengangguk. "Udah siap." Dia langsung berdiri seraya berkacak pinggang, menunjukkan penampilannya yang paripurna.
Rania tersenyum dan memuji penampilan putranya yang sangat tampan dan menggemaskan, sementara Rangga berdecak kesal karena merasa diabaikan oleh istrinya, bahkan putranya juga seperti tidak melihat keberadaannya.
"Dafa mau ke mana?" Rangga beralih bertanya pada Dafa membuat bocah itu melihat ke arahnya.
"Pergi sama mama," jawab Dafa. "Papa ikut?" tanyanya dengan penuh harap.
"Tentu sa-"
"Ayo, Dafa! Kita udah kesiangan ini," potong Rania, dengan cepat dia menyambar tasnya, lalu menggandeng Dafa dan membawanya keluar.
Rangga menggertakkan giginya, spontan dia mengejar langkah Rania dan langsung mencekal tangan wanita itu. "Tunggu, Rania!" katanya tajam.
"Apa-apaan sih kau ini, Mas?" ucap Rania kesal. Dia mengibaskan tangan Rangga, tetapi cekalan laki-laki itu tidak terlepas.
"Jawab pertanyaanku!" seru Rangga, suaranya sudah meninggi dengan tidak sabar.
Rania mendesis. "Bukan urusanmu!" Dia kembali mengibaskan lengannya, tapi Rangga malah semakin mencengkram kuat sampai membuatnya meringis menahan sakit.
"Aku suamimu, aku berhak tau ke mana pun kau pergi!" bentak Rangga marah.
Rania tertawa, lalu menatap tajam. "Aku mau ke kantor pengacara untuk mengurus perceraian kita. Puas!" bentaknya gantian.
Tubuh Rangga bergetar, rahangnya mengeras penuh emosi mendengar ucapan Rania. Dengan cepat dia menarik paksa wanita itu dan membawanya naik ke lantai 2 membuat Rania berteriak minta dilepaskan.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Rania sembari berusaha untuk menahan langkah Rangga. "Lepaskan aku!" suaranya memenuhi seisi rumah sampai membuat Dafa yang berdiri diam di ruang tamu mengerut takut.
Rangga hanya diam dan tidak mempedulikan teriakan Rania, dia terus menarik paksa wanita itu sampai ke kamar, lalu menghempaskan tubuh Rania ke atas ranjang.
"Apa kau gila, Rangga!" teriak Rania dengan mata memerah, dia memegang pergelangan tangan kirinya yang membengkak akibat tarikan paksa laki-laki itu.
"Kau tidak boleh keluar dari rumah ini satu langkah pun,"
"Apa?"
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda