Katarina Ayudia adalah siswi genius penerima beasiswa yang hidup sederhana, sementara Alarick Valerius adalah putra tunggal konglomerat sekaligus ketua geng motor yang ditakuti. Cinta mereka yang membara harus menghadapi tembok besar bernama Victoria Valerius, ibu Alarick, yang merancang fitnah keji untuk memisahkan mereka. Victoria mengancam masa depan Kate dan memanipulasi Alarick hingga pria itu percaya bahwa Kate adalah gadis oportunis yang telah mengkhianatinya dengan banyak pria.
Perpisahan pahit selama bertahun-tahun meninggalkan luka mendalam, Kate hidup dalam kemiskinan dan kerja keras demi bertahan hidup, sementara Alarick tumbuh menjadi CEO dingin yang menderita trauma psikologis berupa rasa mual hebat setiap kali menyentuh Kate karena bayangan fitnah masa lalu.
langsung baca aja dear😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Romansa Yang Memulihkan
Alarick tidak membawa Kate ke rumah besar Valerius. Ia juga tidak membawanya ke apartemen mewah yang penuh kenangan pahit. Alarick membawa Kate ke sebuah pondok kecil di pinggir danau milik mendiang kakeknya, satu-satunya tempat yang tidak diketahui oleh Victoria.
Malam itu, dunia seolah berhenti berputar. Tidak ada tuntutan bisnis, tidak ada intimidasi, dan tidak ada lagi bayang-bayang Cloe.
Pondok itu sangat tenang. Suara jangkrik dan gemericik air danau menjadi musik alami yang menemani mereka. Alarick telah melepaskan jas mahalnya, hanya mengenakan kemeja putih yang kancingnya terbuka, sementara Kate mengenakan salah satu kaos lama Alarick yang tertinggal di sana, kaos yang terlalu besar di tubuhnya namun terasa sangat hangat.
Alarick duduk di sofa kayu depan perapian, menarik Kate ke dalam dekapannya. Ia tidak lagi menyentuh Kate dengan gairah yang menuntut. Tangannya yang besar hanya mengelap sisa air mata di pipi Kate dengan ibu jarinya, gerakannya sangat lembut seolah Kate adalah kelopak bunga yang paling rapuh.
"Lima tahun, Kate..." bisik Alarick, suaranya parau. "Bagaimana bisa kamu menahan semua luka itu sendirian? Bagaimana bisa kamu tetap diam saat aku memakimu dengan kata-kata kotor itu?"
Kate menyandarkan kepalanya di dada Alarick, mendengarkan detak jantung pria itu yang kini berdegup tenang. "Karena aku tahu, jika aku melawan ibumu, dia akan menghancurkanmu juga, Al. Aku tidak mau kamu kehilangan keluargamu karena aku."
Alarick mencium puncak kepala Kate, lama dan dalam. "Keluarga yang menghancurkan kebahagiaan anaknya sendiri bukanlah keluarga, Kate. Kamu adalah satu-satunya rumah yang aku punya."
Alarick kemudian bangkit, ia mengambil sebuah kotak kecil dari dapur dan membawanya ke depan Kate. Ternyata itu adalah bahan-bahan untuk membuat cokelat panas, persis seperti yang sering mereka lakukan saat SMA dulu.
Mereka menghabiskan waktu dengan hal-hal kecil. Alarick membantu Kate menyeduh minuman, mereka duduk di lantai beralaskan karpet bulu di depan api unggun yang hangat. Alarick sesekali mencuri ciuman kecil di kening Kate, di hidungnya, dan di jemarinya.
Tidak ada mual. Tidak ada rasa jijik. Trauma itu seolah menguap saat Alarick menyadari bahwa setiap inci tubuh Kate adalah milik yang suci, yang dijaga dengan penderitaan selama dua tahun.
"Al," panggil Kate pelan, menatap api yang menari di perapian. "Aku takut ini hanya mimpi. Aku takut besok pagi aku bangun dan kamu masih membenciku."
Alarick meletakkan cangkirnya, lalu merangkak mendekat. Ia menangkup wajah Kate dengan kedua tangannya, memaksa gadis itu menatap matanya yang penuh dengan komitmen.
"Dengar, Kate. Aku sudah kehilanganmu sekali karena kebodohanku percaya pada fitnah. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Besok, lusa, dan selamanya, aku akan ada di sini. Aku akan melepaskan nama Valerius jika perlu, hanya untuk tetap bersamamu."
Alarick kemudian mengecup bibir Kate. Kali ini bukan ciuman yang membara, melainkan ciuman yang sangat lambat, manis, dan penuh janji. Kate bisa merasakan kasih sayang yang tulus mengalir dari sentuhan Alarick. Ia merasa begitu dicintai, begitu dijaga, hingga ketakutan akan kehilangan Alarick justru semakin memuncak di dadanya.
Ia mengeratkan pelukannya di leher Alarick, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu. "Jangan pernah pergi lagi, Al. Meskipun seluruh dunia menentang kita, jangan pernah lepaskan tanganku."
"Aku tidak akan pernah melepaskannya, Putri Genius-ku," bisik Alarick.
Malam itu mereka tertidur di depan perapian, saling berpelukan erat. Kate benar-benar tidak ingin kehilangan momen ini. Di dalam hatinya, ia berjanji akan melawan siapa pun termasuk Victoria demi mempertahankan pria yang baru saja kembali ke pelukannya ini.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading😍😍😍