NovelToon NovelToon
Lumpuh

Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: Vermilion Indiee

Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.

Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 11 - Mimpi Buruk

Alex berakhir dijemput oleh polisi setelah ada warga yang melaporkan keberadaan. Dan Alex tidak lagi melawan ataupun mencoba lari dari hukumannya. Sejak awal, dia tidak pernah berniat kabur dari hukumannya.

Hanya ingin menundanya beberapa saat demi bertemu putrinya yang tidak pernah datang menemuinya.

Alex siap dibenci putrinya, tapi Alexa telah benar - benar memaafkan ayahnya.

"Kamu nggak perlu lihat seperti apa Ayah berakhir, ya," bisik Alex pada Alexa.

Alexa mengangguk kecil. Dia juga tidak akan pernah sanggup menyaksikan saat ayahnya du3ksekusi. Yang ingin dia lihat tentang ayahnya untuk terakhir kalinya hanyalah hubungan mereka yang baik. Lebih dekat dari belasan tahun lalu.

Senyum Alex terukir. Tak bisa menutupi rasa bersalahnya, tapi ketulusannya terlihat.

Alexa membalas dengan senyum kecil, ada luka—tapi meyakinkan ayahnya kalau dia akan baik - baik saja dan hidup dengan lebih baik ke depannya. Tidak janji—dia ingin berusaha.

"Ayah!" panggil Alexa saat melihat ayahnya mau masuk ke mobil polisi.

Alex berhenti dan menoleh memandang putrinya sambil mengangkat alis. Wajahnya bertanya, "kenapa?" tanpa bicara.

"Ayo jadi keluarga lagi di kehidupan lain," katanya dengan mata berkaca - kaca, tapi senyumnya benar - benar lebar.

Hening.

Tak ada satu pun orang yang menyaksikan itu yang percaya bahwa Alexa masih menginginkan Alex - lah yang menjadi ayahnya untuk kehidupan berikutnya. Luka yang Alex tinggalkan untuk putrinya terlalu besar.

Tapi Alexa tidak kapok.

"Oke. Ayah akan menghabiskan seratus tahun bersama kamu dengan penuh kasih sayang." Kini suara Alex yang terdengar bergetar menahan tangis.

Alexa mengangguk mantap dan mengacungkan jempolnya—kemudian melambaikan tangannya.

Polisi akhirnya membawa Alex pergi dari sana, meninggalkan Alexa yang terus melambai sampai mobil itu benar - benar tidak terlihat oleh matanya. Senyumnya tidak pudar bahkan setelah mobil yang membawa ayahnya pergi berlalu.

Beberapa tetangganya mendekatinya dan memeluk Alexa meski tak Alexa balas.

"Kamu kalau butuh apa - apa, jangan sungkan minta ke kami ya, Alexa." Mereka berusaha menenangkan.

"Pasti, Pak, Bu. Terima kasih," ungkap Alexa, "kalau begitu, aku pulang dulu sebelum hujan." Alexa kemudian berlari sambil melambaikan tangannya pada semua tetangganya.

Sejujurnya, dia lemah, butuh sandaran tapi Alexa takut merepotkan. Keyakinannya masih penuh kalau dia masih sanggup memikul semuanya meskipun sendiri.

Kecepatan ritme langkahnya memelan—belum lega sepenuhnya. Perpisahan dengan ayahnya terlalu menyakitkan meskipun semuanya sudah kosong - kosong di antara mereka, Alexa belum berdamai dengan takdirnya sendiri.

Hujan turun mengguyur bumi. Alih - alih menghindar, Alexa membiarkan tubuhnya basah.

"Ibu sudah tidak merasakan sakit," gumamnya pelan mencoba membujuk dirinya sendiri bahwa semua kejadian itu—tidak selalu tentang hal buruk.

"Ayah juga tidak akan menyakiti siapa pun lagi," lanjutnya berhenti tepat di jembatan di mana di bawahnya ada sungai yang arusnya sangat besar.

Sesaat, dia memandang ke bawah. Terus mencoba memikirkan hal baik dari setiap kejadian yang menimpanya selama ini. Berharap semua itu tidak menggoyahkannya dari pertahanan hidupnya yang harus tetap berjalan.

Tapi tak bisa dipungkiri bahwa kini Alexa tidak memiliki siapa pun lagi. Bahkan di dunia yang seluas itu—Alexa kehilangan dirinya sendiri.

Senyum kecilnya kembali terukir, namun dia menangis. Semuanya sudah selesai. Tak ada yang bisa Alexa ubah, walaupun banyak yang masih bisa dia usahakan untuk yang lebih baik ke depannya.

Alexa kembali melangkah menuju kontrakannya. Satu - satunya tempat teraman saat ini baginya.

Namun baru melibat gang menuju kontrakannya, kepala Alexa terasa berkunang - kunang, tubuhnya menggigil dan nafasnya sesak. Seketika itu juga, dia ambruk di jalan—kehilangan kesadaran.

_oOo_

"AYAH!" teriak Alexa kencang—terbangun.

Saat itu, pandangannya langsung bertemu dengan ibu pemilik kontrakan yang sedang duduk di hadapannya dengan sebaskom air dingin di tangannya. Dia tampak terkejut karena teriakan Alexa.

"Kamu mimpi buruk?" tanyanya lembut.

Alexa sadar kalau tubuhnya kurang sehat. Dia juga tidak sedang terbaring di kontrakannya, membuatnya ingat kalau semalam dia pingsan.

"I - iya, Buk. Maaf mengagetkan," ungkap Alexa.

Ibu kontrakan tersenyum dan mengangguk kecil, meletakkan baskom di tangannya di atas meja kemudian memijit kaki Alexa pelan.

"Kamu sudah pingsan semalaman. Suhu tubuh kamu tinggi banget loh. Kenapa hujan - hujanan?"

"S - saya pulang sebentar kemarin, Buk." Alexa menjawab sekenanya.

Dia kemudian memandang ke jam dinding yang menunjukkkan pukul 05.30 pagi. Siapa sangka dia akan pingsan selama itu. Untunglah yang menolong adalah orang yang dikenalnya dengan cukup baik.

"Makan dulu, ya. Habis itu minum obat." Ibu kontrakan bangkit untuk mengambilkan Alexa makanan.

Alexa memegang dadanya. Jantungnya berdegup sangat kencang karena mimpi buruk yang di alaminya. Meski tidak menyaksikan langsung proses eksekusi ayahnya, Alexa justru mendapatkan mimpi itu seolah - olah nyata.

Melihat bagaimana ayahnya dit3mbak m4ti oleh petugas, teriakan ayahnya yang berubah menjadi rintihan karena rasa sakit kemudian berhenti.

Itu terlalu menakutkan.

"Nak, makan dulu." Ibu Kontrakan kembali dengan membawakan nampak berisi makanan, segelas air dan juga obat.

"Tidak usah repot - repot, Buk." Alexa merasa tak enak karena telah merepotkan.

"Nggak repot kok. Makan, minum obat laku istirahat lagi."

"Saya sudah baikan kok, Buk. Saya mau langsung berangkat kerja saja setelah makan." Alexa mulai menikmati makanan itu.

"Kamu yakin?"

"Nggak apa - apa, Bu. Saya kerjanya juga cuman duduk di meja kasir," bohongnya.

Memang makanan itu asanya hambar karena kondisi tubuhnya tidak sehat. Tapi demi menghargai orang yang telah menolongnya, Alexa memaksa makanan itu untuk tertelan. Jangankan untuk makan, dia bahkan tidak ingin hidup hari itu.

Setelah selesai, Alexa meminta izin untuk kembali ke unit kontrakannya dengan membawa empat tablet obat warung yang diberikan Sang Ibu Kontrakan.

"Kalau ada apa - apa, kabari Ibuk, ya?"

Alexa mengangguk senang masih ada orang yang mengkhawatirkannya.

Dia langsung mengempaskan diri di atas kasur ketika sampai di kontrakannya. Bayang - bayang mimpi buruk yang dialaminya itu terus menghantuinya membuatnya beberapa kali memukuli kepalanya agar melupakan itu.

Tapi gagal.

Yang terjadi justru, Alexa langsung mengambil minum dan menelan obat pemberian ibu kontrakan itu empat - empatnya sekaligus. Dia tahu efeknya akan cukup buruk, tapi ada harapan itu bisa menenangkannya.

"Mungkin... sebaiknya aku mandi dan berangkat bekerja," gumamnya bangkit ke kamar mandi.

Seperti biasa, Alexa berusaha menyibukkan diri untuk melupakan masalahnya sesaat. Hanya saat itu dia merasa tenang dari tekanan yang di alaminya.

Tepat pukul 07.00, Alexa sudah siap berangkat bekerja. Dia memilih berjalan kaki menuju kafe yang akan membutuhkan waktu sekitar setengah jam lebih.

Selama perjalanan, hatinya terus mengoceh seolah dia sedang berbicara pada dirinya sendiri—membujuk agar tidak memikirkan mimpi itu. Meyakinkan bahwa kejadian yang dialami ayahnya ketika eksekusi itu, tidak seburuk mimpinya.

"Alexa."

Alexa memandang orang yang sudah berdiri di depan kafe dengan pakaian tertutupnya. Dari itu saja, Alexa sudah bisa menebak siapa itu.

"Kamu nggak puas bikin aku menderita?" tanya Alexa langsung sinis.

Entah kenapa, dia justru meluapkan emosinya pasa Steven karena awalnya Steven yang melaporkan ayahnya ke polisi. [ ]

1
Irnawati Asnawi
😍😍😍
Irnawati Asnawi
setiven yang ngomong aku yang dek dekan, 😍😍😍
Vermilion Indiee: Wkwk... aku juga🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!