Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Cokro segera menutup sambungan teleponnya, hatinya benar-benar geram melihat tingkah mantan istrinya ya dinilainya sudah melampaui batas.
Mobil sudah melaju kencang, Rahang Cokro mengeras, jemarinya mencengkeram setir lebih kuat. Kali ini ia tidak langsung pulang, namun membelokkan arah ke sekolah Mahesa.
Ia tidak ingin menunggu. Tidak ingin berspekulasi. Ia ingin memastikan sendiri.
Beberapa menit kemudian mobilnya berhenti di halaman sekolah. Langkahnya lebar dan tegas saat memasuki ruang administrasi. Beberapa guru yang mengenalnya hanya sempat menyapa singkat sebelum menyadari ekspresinya yang tidak biasa.
“Saya ingin bertemu kepala sekolah,” ucapnya lugas.
Tak butuh waktu lama sampai ia dipersilakan masuk. Di ruangan itu, Cokro menahan emosinya sekuat mungkin. “Tadi siang ada seseorang bernama Rani datang dan menemui anak saya, Mahesa. Atas izin siapa?”
Kepala sekolah terlihat sedikit terkejut. “Beliau mengaku sebagai orang tua. Namanya memang tercantum di data lama sebagai ibu kandung.”
Kalimat itu membuat dada Cokro naik turun menahan amarah.
“Mulai hari ini,” suaranya rendah namun tegas, “tidak ada siapa pun yang boleh menemui anak saya tanpa persetujuan tertulis dari saya atau istri saya. Termasuk dia.”
Ia tidak berteriak. Tapi setiap katanya jelas.
“Saya tidak ingin anak saya dijadikan arena masalah orang dewasa.”
Ruangan itu mendadak sunyi. Setelah administrasi diperbarui dan pihak sekolah meminta maaf, Cokro keluar dengan langkah yang masih berat. Ia tahu satu hal sekarang Rani tidak datang tanpa persiapan.
Dan ini tidak akan berhenti hanya dengan satu peringatan. Di dalam mobil, ponselnya bergetar. Dan kelihatannya satu pesan masuk.
Dari Rani.
“Kamu nggak bisa larang aku untuk dekat dengan anakku sendiri, Mas.”
Tatapan Cokro berubah dingin, tangannya mencengkeram benda pipi itu dengan keras. "Rupanya dia mengancam ku?" gumamnya pelan.
Layar handphone itu masih menyala dan tak lama kemudian pesan kedua mulai muncul.
"Aku hanya ingin hakku, dan jangan sampai aku mengambil hakku dengan cara lain."
Cokro semakin memanas, matanya merah padam melihat isi chat yang kedua kali itu. Hak, kalimat itu jatuh seolah kesalahan ada di pihak Cokro.
"Hak," gumam Cokro pelan. "Apa tidak salah."
Ia tidak langsung membalas. Ia tahu Rani. Jika ditanggapi dalam keadaan emosi, perempuan itu justru akan merasa menang. Jari-jarinya sempat bergerak di atas layar, lalu berhenti. Dihapus. Ditahan.
Akhirnya ia mengetik singkat.
"Jangan libatkan anak-anak." pesan itu terkirim dengan cepat.
Beberapa detik kemudian balasan datang. "Aku tidak melibatkan mereka. Aku hanya ingin anakku tahu siapa ibunya."
Rahang Cokro kembali mengeras. Bukan karena kalimat itu sepenuhnya salah, tapi karena caranya. Datang diam-diam. Berbicara tanpa kesepakatan. Menyusup lewat celah.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. Situasi ini tidak lagi bisa diselesaikan dengan peringatan lisan. Jika Rani benar-benar ingin menuntut hak sebagai ibu kandung, maka semuanya harus dibicarakan secara terbuka—bukan lewat kunjungan sepihak.
Ponsel itu ia letakkan di sampingnya. Mesin mobil kembali dinyalakan. Kali ini ia benar-benar pulang.
Bukan sebagai pria yang tersulut emosi. Tapi sebagai ayah yang harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Dan untuk pertama kalinya, Cokro menyadari, ini mungkin bukan lagi soal masa lalu yang belum selesai, tapi ini bisa menjadi perebutan jika tidak segera diatasi.
Mobil sudah melaju lagi meninggalkan halaman sekolah, kali ini Cokro benar-benar memutuskan untuk pulang, setelah semua urusan yang menyangkut Rani ia selesaikan di sekolah tempat Mahesa.
☘️☘️☘️☘️☘️
Ketika pintu rumah dibuka, suasana di dalam tampak biasa. Mahesa sudah berganti pakaian dan duduk di ruang tengah menonton televisi. Tawa kecil anak itu terdengar ringan, polos.
Dada Cokro menghangat sekaligus terasa sesak.
“Papa!” Mahesa bangkit dan berlari kecil menghampirinya.
Cokro berlutut, memeluk anak itu erat. Lebih erat dari biasanya.
“Tadi ada tante lagi nggak?” tanyanya hati-hati.
Mahesa menggeleng. “Nggak. Cuma tadi siang aja.”
Cokro mengusap rambutnya pelan. “Kalau ada orang asing datang lagi, bilang ke guru ya. Jangan ikut ke mana-mana.”
Mahesa mengangguk tanpa benar-benar mengerti beratnya situasi.
Dari arah dapur, Melati berdiri memperhatikan. Tatapan mereka bertemu. Tidak perlu banyak kata untuk memahami bahwa sesuatu telah berubah.
Setelah Mahesa kembali ke ruang tengah, Cokro mendekat ke arah Melati. “Aku sudah ke sekolah,” ucapnya pelan.
Melati langsung menegakkan tubuhnya. “Apa kata mereka?”
“Namanya masih tercantum sebagai ibu kandung di data lama.” Suara Cokro terdengar terkendali, tapi jelas ada tekanan di sana. “Aku sudah minta mereka batasi akses. Tanpa izin kita, dia nggak boleh ketemu anak-anak.”
Melati menelan ludah. “Dia kirim pesan?”
Cokro mengangguk singkat. “Dia bilang itu haknya.”
Melati menghela napas panjang. “Mas… kalau dia benar-benar mau menuntut haknya secara hukum?”
Pertanyaan itu berat. Tapi harus dihadapi. Cokro menatap istrinya dalam, laku berusaha lebih dekat lagi.
“Kalau dia mau jalur hukum, kita hadapi. Tapi satu hal yang pasti—Mahesa nggak boleh tahu dengan cara seperti ini. Bukan dari orang lain. Bukan sepihak.” Nada suaranya tidak tinggi, tapi penuh ketegasan.
Melati merasakan campuran takut dan lega. Takut pada kemungkinan yang semakin nyata. Lega karena kali ini Cokro berdiri sepenuhnya di sisinya.
“Aku nggak mau kamu stres sendirian lagi,” lanjut Cokro lebih pelan. “Ini bukan cuma masalahmu. Ini tanggung jawabku juga.”
Melati mengangguk kecil. Matanya mulai terasa panas, tapi ia menahannya, ia tidak pernah menyangka jika akan terlibat sedalam ini dengan urusan keluarga kecilnya.
Sementara itu di ruang tengah, Mahesa tertawa lagi karena kartun yang ditontonnya. Suara itu terdengar begitu murni, begitu tidak tahu apa-apa.
Cokro menoleh ke arah suara itu. “Kita harus siap,” katanya lirih. “Kalau suatu hari dia memang harus tahu, kita yang akan jelaskan. Dengan cara yang benar," ucap Cokro menegaskan.
Melati mendekat setengah langkah. “Mas… kalau dia datang lagi?”
Tatapan Cokro mengeras. “Kalau dia datang lagi tanpa izin, itu sudah bukan sekadar kunjungan.”
Kalimatnya menggantung, tapi maknanya jelas. Ini bukan lagi tentang darah melainkan tentang perlindungan jika Rani berkata ia punya hak, begitu juga dengan Cokro yang selama ini sudah membesarkan dengan jerih payahnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Melati melihat sesuatu yang berbeda di mata suaminya.
Bukan sekadar mantan yang terganggu. Melainkan seorang ayah yang siap berperang demi anaknya.
Di luar sana, mungkin Rani sedang menyusun langkah berikutnya. Tapi di dalam rumah ini, benteng itu tidak lagi rapuh.
rumah ini mulai memperkuat bukan hanya oleh Melati seorang diri, tapi juga Cokro.
Bersambung ....