NovelToon NovelToon
Satu Rasa Yang Tak Pergi

Satu Rasa Yang Tak Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Yatim Piatu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Seri ke-satu

Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ice cream vanilla

Suara riuh anak-anak yang tertawa memenuhi ruang permainan. Musik dari mesin-mesin arcade berbaur dengan denting koin dan lampu warna-warni yang terus berkedip. Setelah puas menangis di rumah, kini Clara berdiri di depan pintu masuk Timezone, mengeratkan tas kecilnya sambil menatap ke dalam. Tempat itu tidak banyak berubah. Bahkan aroma plastik baru dan karamel dari popcorn masih sama seperti dulu.

Langkah kakinya terasa berat saat ia melangkah masuk. Meskipun menyakitkan, hari ulang tahunnya hari ini terasa tak lengkap tanpa mengenang Noel. Dan Timezone adalah tempat mereka menghabiskan begitu banyak sore dan malam, tertawa seperti dunia tidak akan pernah berubah.

Tangannya menyentuh salah satu mesin dance battle di pojok. Mesin itu berdiri kokoh, persis seperti lima tahun lalu tempat pertama Noel memaksanya menari meski Clara bersikeras tidak bisa.

“Ayo dong, Clara. Kalau kamu kalah, aku beliin es krim dua.”

“Aku gak bisa, Noeelll.”

“Itu alasan klasik. Kalau kamu bisa jatuh dari sepeda dengan gaya elegan, kamu pasti bisa joget.”

Clara menutup matanya sejenak. Senyum kecil mengembang di bibirnya senyum yang pahit. Ia bisa mendengar lagi suara tawa Noel, khas dan renyah, memantul di dinding ingatannya.

Ia berjalan perlahan ke lorong bagian belakang, ke tempat mesin permainan lempar bola berada. Di sinilah Noel pernah menumpuk semua hadiah yang mereka menangkan dan menyusunnya seperti benteng kecil.

“Selamat ulang tahun, Clara.”

“Hah? Lah ini boneka tikus semua!”

“Tikus juga butuh rumah. Kamu yang bilang suka yang kecil dan imut, kan?”

Tawanya dulu menggelegar di tempat itu. Kini, gema itu hanya tinggal bayang. Clara menunduk, mengusap sudut matanya sebelum airmatanya benar-benar jatuh. Ia duduk di bangku panjang dekat dinding, tempat biasa mereka makan es krim setelah bermain.

“Kamu ulang tahun, bukan berarti kamu harus bayar semua, tahu.”

“Nanti uangmu aku ganti ya .”

“Kamu pikir aku ngajak kamu jalan buat bikin kamu mikirin uang? Hm?”

Satu sudut bibir Clara terangkat, lalu turun kembali. Rasanya menyesakkan. Ia bisa mengingat wajah Noel saat itu, yang menatapnya seolah tak ada yang lebih penting dari kebahagiaan Clara sendiri. Seolah dunia akan baik-baik saja selama mereka bersama.

Ia menatap ke sekeliling. Anak-anak berlarian, orang tua menunggu di sudut, pasangan muda bermain ice hockey sambil tertawa. Dunia tetap berputar. Tapi Clara merasa seolah ia ditinggalkan di satu ruang kosong, yang penuh kenangan namun tak bisa disentuh lagi.

Tiba-tiba, sebuah suara terdengar dari arah mesin capit boneka.

“Eh, kak! Boneka ini lucu ya!”

Anak kecil memegang boneka tikus berwarna biru muda, persis seperti yang dulu pernah Noel menangkan untuk Clara.

Clara menatap anak itu, lalu boneka itu, dan senyumnya mengembang tipis.

“Lucu banget,” katanya pelan.

Ia bangkit dari bangku dan berjalan ke arah penjual es cream.

“Satu cone rasa vanilla,” katanya pada kasir

Es krim itu sampai di tangannya. Clara menatapnya sesaat, lalu menjilat pelan, membiarkan rasa manis itu menyapu lidahnya.

Tiba-tiba ia teringat…

Hari itu, saat ulang tahunnya yang ke-17, Noel memberinya es krim sambil berkata.

“Nggak semua hari ulang tahun harus ramai. Kadang yang kamu butuh cuma satu rasa manis, dan orang yang nggak akan pergi meski semuanya berubah.”

Matanya memanas. Ia melangkah keluar dari tempat itu, meninggalkan suara tawa dan lampu-lampu. Langit sore mulai turun. Udara mulai dingin.

Clara menarik napas dalam sebelum melangkah keluar dari Timezone. Matanya masih sembab, meski ia sudah berusaha menyeka air matanya dengan tisu yang kini remuk di genggaman. Kenangan itu masih berputar di benaknya tawa Noel, es krim rasa vanilla, jemari hangat yang mengikat tali sepatunya. Dunia seolah berjalan lebih lambat hari ini. Ulang tahun yang biasanya penuh tawa, kini terasa begitu sunyi.

Begitu keluar dari gedung itu, Clara mendongak sejenak. Langit Jakarta mendung, seolah turut merasakan hampa di dadanya. Ia menghembuskan napas pelan dan melangkah menuju halte, hendak pulang.

Namun langkahnya terhenti.

“Clara Ayudita?”

Suara itu terdengar asing, namun menyebut namanya dengan yakin.

Clara menoleh. Seorang pria berdiri tak jauh dari pintu keluar Timezone, mengenakan Kaos abu-abu dan celana jeans. Rambutnya sedikit acak, wajahnya bersih namun teduh. Matanya menatap Clara dengan raut yang sulit ditebak antara heran, senang, dan nostalgia.

“Maaf, apa kita kenal?” tanya Clara sopan, sedikit bingung.

Pria itu tersenyum, matanya menyipit karena senyumannya begitu lebar. “Aku Natan. Natan Adithama. Kakak kelasmu dulu waktu SMA.”

Clara mengerutkan kening, mencoba mengais ingatan. Nama itu… terdengar samar tapi familiar. Dan setelah beberapa detik, wajah itu perlahan-lahan tertempel dalam memorinya. Sosok kakak kelas yang dulu sering jadi pengisi acara pensi sekolah, yang pernah mengajaknya untuk masuk ke OSIS. Meski tidak terlalu akrab, Clara cukup ingat.

“Oh…” Clara sedikit tersenyum, kikuk. “Kak Natan… iya, aku ingat sekarang. Maaf tadi agak lupa.”

“Gak papa. Udah lama banget juga.” Natan menyodorkan tangan ramah. “Aku gak nyangka ketemu kamu di sini. Sendirian?”

Clara mengangguk pelan. “Iya… cuma jalan-jalan sebentar.”

Natan melirik ke arah Timezone lalu kembali menatap Clara. “Masih suka main di sana? Dulu aku sering lihat kamu sama… siapa ya, cowok rambut agak panjang…”

Clara menunduk, senyumnya memudar. “Noel.”

Natan mengangguk pelan. “Iya, Noel… Maaf, aku gak bermaksud” ucap natan yang seakan memahami raut wajah Clara yang tiba-tiba berubah.

“Gak apa-apa,” potong Clara cepat. Suaranya sedikit gemetar. “Hari ini… ulang tahunku. Dan aku cuma pengen… jalan-jalan aja sebentar.”

Natan menatap Clara dengan ekspresi yang berubah lembut. Ada jeda sesaat sebelum ia bicara lagi. “Selamat ulang tahun, Clara.”

Clara tersenyum tipis, kali ini tak bisa menyembunyikan kesedihannya. “Terima kasih…”

Angin sore berembus pelan, menerbangkan helai rambut Clara. Natan tak berkata apa-apa untuk beberapa saat, membiarkan Clara menikmati ruangnya. Tapi sorot mata pria itu tak lepas dari wajahnya yang tampak rapuh.

“Kalau kamu gak keberatan,” ucap Natan akhirnya, “boleh aku traktir Dessert? Anggap aja ini hadiah ulang tahunmu.”

Clara terdiam. Tawaran itu sederhana, tapi berat untuknya. Tapi di balik luka, ia juga tahu… ia butuh teman, ia lelah harus selalu menyendiri. Mungkin sekaranglah saatnya ia membuka diri untuk dunia luar.

Ia mengangguk pelan. “Boleh.”

Natan tersenyum, dan mereka berjalan bersama menyusuri pelataran mall. Untuk pertama kalinya hari itu, langkah Clara tak terasa seberat sebelumnya.

Satu demi satu suapan dessert cokelat masuk ke mulut mereka. Clara hanya mengambil sedikit, padahal rasanya manis dan lembut, tapi entah kenapa tenggorokannya terasa sempit. Natan memperhatikan dengan seksama, sebelum akhirnya membuka suara.

“Sekarang kamu kuliah?” tanyanya dengan nada ringan.

Clara mengangguk kecil. “Iya. Di Universitas Jakarta. Jurusan Sastra.”

Natan tampak terkesan. “Wah, universitas ternama itu. Kamu dapat beasiswa?”

Clara mengangguk lagi. “Iya. Full beasiswa.”

“Hebat banget kamu, Clara,” puji Natan tulus, senyum hangatnya tak pernah lepas. “Lalu, selain kuliah?”

“Kerja di toko buku dekat kampus. Jaga kasir,” jawab Clara singkat. Suaranya tetap datar, tapi tidak kaku. Ia hanya memang belum terbiasa membuka diri pada orang lain, apalagi setelah semua yang ia alami.

Natan mengangguk pelan, lalu menyesap kopi di depannya. “Kamu suka buku, ya?”

Clara tersenyum kecil. “Iya, dari kecil.”

Natan ikut tersenyum, lalu mengganti posisi duduknya, sedikit condong ke depan.

“Aku baru kembali dari London minggu lalu,” katanya pelan.

Clara menoleh. “Kamu kuliah di sana?”

“Iya. Empat tahun. Bisnis dan komunikasi. Sekarang aku mulai bantu Ayah di perusahaan.”

“Perusahaan keluarga?” tanya Clara sekilas penasaran.

Natan mengangguk. “Perusahaan ekspor-impor barang elektronik. Tapi aku tertarik buka cabang digitalnya. Dunia sekarang kan beda.”

Clara hanya menjawab dengan anggukan pelan.

Setelah beberapa detik hening, Natan menatap Clara dalam-dalam dan berkata, “Kalau kamu mau, aku bisa tawarkan posisi part-time di kantor. Nggak harus langsung full time kok. Gajinya pasti jauh lebih baik dari kasir toko buku.”

Clara terdiam sesaat, matanya menatap sisa Kue coklat yang hampir habis di piring kecilnya. Ia tahu tawaran itu sangat menguntungkan. Tapi bukan itu masalahnya.

“Rasanya tidak enak karena kita baru bertemu” ucapnya pelan. “Dan… aku lebih nyaman di tempat sekarang."

Natan tersenyum mengerti. “Nggak apa-apa. Aku ngerti, kok. Kalau suatu saat kamu berubah pikiran, tawaran itu tetap berlaku.”

Clara menatapnya sejenak, lalu mengangguk sambil tersenyum tipis. “Makasih, ya kak Natan. Aku hargai itu.”

Mereka kembali tenggelam dalam keheningan, tapi kali ini bukan karena canggung. Hanya dua orang lama yang kembali bersilangan dalam hidup, duduk di tengah kenangan, sambil menyusun ulang perasaan masing-masing.

1
falea sezi
bkin Clara g menye Thor bikin dia move on dan bahagiain diri sendiri jual. rmh tinggal. tempat lain biar bebas dr. keluarga toxic
falea sezi
lupain Noel. Clara laki. yg bisanya manut bapak nya itu g bs mandiri
falea sezi
move on Clara qm. berhak bahagia dengan nathan lupain. masa. lalu
falea sezi
pasti Noel cwok lemah plin plan g cocok ma Clara moga aja nathan bisa bkin Clara. move on lahh males liat Clara gini kesannya kayak menye menye
Una.: tenang ya kak clara orang yang kuat, terimakasih sudah baca 🤗
total 1 replies
falea sezi
move on Clara siapa tau Noel mu ngilang karena di jodohkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!