Aarav Elias Kayler terbangun di sebuah dunia yang tak dikenal, tanpa ingatan apapun tentang dirinya. Semua yang dia tahu adalah bahwa dunia ini dipenuhi dengan sihir, dan dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Ketika mencoba menggunakan sihir, tak ada hasil yang muncul, membuatnya merasa terjebak dalam kebingungannya.
Namun, tak lama setelahnya, Aarav menemukan sebuah rumah tua yang misterius, yang mengarah pada sebuah kejadian tak terduga yang mengubah segalanya. Di dunia yang penuh dengan rahasia dan kekuatan yang belum ia pahami, Aarav harus menghadapi takdir yang tersembunyi di balik masa lalunya yang terlupakan.
Dengan tekad untuk menguasai dunia sihir dan meraih kekuatan yang selama ini hilang, Aarav harus menavigasi sebuah dunia yang penuh dengan bahaya, misteri, dan konflik. Apakah dia akan menemukan jalan menuju kekuasaannya, atau justru terjerumus dalam kekuatan yang tak dapat ia kendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Tawarannya Ditolak
Siang hari di kota Fortuner, di sebuah rumah yang cukup besar. Aarav dan Nuril ada di dalam rumah itu, mereka duduk di dalam, pakaian yang mereka kenakan sopan, walaupun pakaian Aarav tertutup dengan jubah sihir yang ia kenakan.
Sementara itu di depan mereka, seorang pria duduk dengan pakaian sederhana, pakaiannya biasa saat menyambut Aarav dan Nuril yang datang.
Makanan dan minuman dihidangkan di atas meja, seolah menyuruh Aarav dan Nuril untuk segera memakan hidangan yang telah dihidangkan.
"Tuan Aarav, bagaimana tawaran saya?!" tanya pria itu dengan suara berat.
Nuril memandang ke Aarav yang tengah berpikir keras, "Bagaimana ya, sebenernya bisa saja. Tapi, apa anda benar-benar yakin dengan saya?!" tanya Aarav balik dengan bahasa yang lebih formal dan sopan dari biasanya.
Pria itu tersenyum, "Tentu, saya di sini sebagai kepala desa. Sangat percaya dengan kemampuan tuan, terlebih tuan juga satu-satunya penyihir tingkat S di desa ini!!" puji kepala desa.
"Ditambah, banyak warga desa yang setuju setelah tuan menolong beberapa warga desa!!" seru kepala desa.
Aarav menggaruk kepalanya, tangan Nuril mencubit Aarav dengan pelan, lalu membisikkan sesuatu kepadanya, "Udah, terima aja. Hitung-hitung kamu dapet pengalaman!!" ujar Nuril pelan.
Aarav menghela napas, "Tapi, pak. Sebagai apa itu? Rangers desa, itu sulit!!" bantah Aarav lagi.
"Tuan, Rangers itu mudah. Tuan hanya perlu menegakkan hukum dan keadilan di desa Fortuner ini," ucap kepala desa yang terus meyakinkan Aarav.
Aarav tersenyum kecil, "Iya, tapi aku tidak ingin terkekang di desa ini. Mungkin suatu hari aku harus pergi, dan saat pergi pasti posisi rangers akan terbengkalai!!" seru Aarav yang terus mencoba menghindar.
Kepala desa menghela napas panjang, "Baiklah, tuan tidak perlu jadi rangers. Tapi, saat warga membutuhkan bantuan tuan harus bisa membantunya!!" tawaran lain darinya.
Tawaran itu terdengar cukup menarik bagi Aarav, "Setuju, aku tidak perlu jadi rangers secara formal. Tapi, saat warga butuh bantuan mereka bisa mencariku!!" ucap Aarav yang akhirnya sepakat.
Kepala desa itu tersenyum lega, "Akhirnya, kalau begitu. Nikmati hidangan itu dulu, dan setelah itu kalian baru boleh pulang!!" seru kepala desa.
Aarav dan Nuril menikmati hidangan yang telah dihidangkan tersebut, mereka menikmatinya. Setelah selesai makan, Aarav dan Nuril langsung pergi dari kediaman kepala desa.
Saat berjalan pulang, Nuril terus mengoceh soal tawaran jadi rangers itu, "Astaga, Aarav. Harusnya tadi kamu terima!!! Kesempatan sekali seumur hidup loh!!" ucap Nuril.
Aarav memandang ke Nuril, "Udah ku bilang, aku nggak mau terkekang sama tugas!!" seru Aarav yang sekali lagi harus menjelaskan kehendaknya itu.
Nuril tak habis pikir dengan pilihan Aarav itu, "Aarav, itu tawaran sekali seumur hidup loh!!" ucap Nuril lagi.
Aarav tersenyum kecil, dia menutup mulut Nuril dengan tangannya, lalu langsung menggendong Nuril di punggungnya.
"Eh!!" seru Nuril yang kaget.
"Diem, kamu cerewet kalau lagi capek!!" seru Aarav seolah itu sudah menjadi rutinitas Nuril.
Nuril digendong Aarav, dia menutup wajahnya di pundak Aarav, "Lain kali kamu nggak boleh gendong aku," seru Nuril sambil menahan malu.
"Ya ya ya, udah tiga kali kamu bilang gini!!" seru Aarav yang sudah sering mendengarnya.
Aarav menggendong tubuh Nuril di belakang punggungnya, dia harus menggendong seorang perempuan yang suasana hatinya sedang berantakan. Aarav selalu saja tahu, apa yang menyebabkan Nuril cerewet setiap harinya, yaitu karena lelah.
Sementara itu, jauh dari desa Fortuner. Paman Joseh tengah berjalan sambil makan sebuah anggur yang ia dapatkan di pasar tadi.
"Spel Choy, sudah beberapa hari berjalan. Tapi, tempatnya masih cukup jauh!!" seru paman Joseh yang kelelahan.
Saat berjalan, paman Joseh tiba-tiba ingat salah satu mantra sihir yang akan membantunya menuju Spel Choy dengan lebih cepat.
Paman Joseh berdiri, dia membaca sebuah mantra yang cukup panjang. Mantra selesai dibacanya, secara kasat mata memang idak terlihat apapun yang berubah. Namun, di dalam diri paman Joseh stamina dan kecepatan berjalannya meningkat.
"Cuman bertahan dua hari, aku harus bergegas!!" seru paman Joseh.
Paman Joseh langsung berjalan cepat melewati desa, menurut peta yang tadi dia baca. Paman Joseh harus melewati sebuah sungai yang cukup besar untuk tiba di perbatasan Spel Choy.
Dengan cepat, paman Joseh langsung keluar dari desa. Dia berjalan melewati daerah pertanian, kanan kiranya hanya hamparan sawah yang sangat luas nan berwarna hijau yang indah.
Tak sampai sore hari, paman Joseh tiba di sebuah hutan. Sebelum masuk ke dalam, dia berhenti sejenak, paman Joseh berpikir untuk lewat hutan atau berputar mencari jalan yang lain saja.
Beberapa detik berjalan, paman Joseh membulatkan tekadnya. Tangan kanannya menggenggam gagang pedang Savier untuk jaga-jaga, dan paman Joseh langsung kembali berjalan masuk ke dalam hutan yang lebat dan gelap itu.
Di dalam hutan, kanan kiri, depan, dan belakang paman Joseh hanyalah semak-semak dan juga pepohonan yang rindang. Namun langkah paman Joseh semakin cepat, dia ingin segera tiba di Spel Choy sebelum fajar terbenam.
Dan benar saja, malam belum tiba, tapi paman Joseh sudah keluar dari dalam hutan. Dia kelaur, dan langsung melihat sebuah desa kecil.
"Masih harus menyebrang tiga desa lagi, lalu sebuah sungai besar!!" seru paman Joseh. Dia mulai kembali melangkah.
Paman Joseh melangkah dengan cukup cepat karena mantra sihir yang tadi ia baca, saat berada di dalam desa. Paman Joseh behenti sejenak, dia mencoba kembali memakai mantra kecepatan yang sama saat dia membunuh kedua penyihir itu.
"Hanya 30 detik, tapi seharusnya cukup cepat untuk membawaku sampai ke Spel Choy!!" ujarnya lirih.
Paman Joseh lalu membaca mantranya, saat mantra selesai dibaca. Kaki paman Joseh melangkah, sebuah langkah kecil itu berubah menjadi larian dengan cepat, saking cepatnya tubuh paman Joseh sampai tidak terlihat, dan angin yang diakibatkan larian paman Joseh baru tiba saat dia sudah jauh.
Mantra habis, malam belum tiba, tapi paman Joseh sudah berdiri tepat di mulut sungai yang lumayan besar itu.
"Sudah kuduga, mantranya seharusnya kugunakan sejak awal!!" ujar paman Joseh.
Paman Joseh terdiam sejenak saat melihat tepi sungai dengan tepi lainnya yang berjarak cukup jauh, "Terlalu jauh," ujar paman Joseh.
"Jika aku berenang, maka aku akan mati!!" seru paman Joseh.
Paman Joseh memikirkan mantra sihir yang bisa ia gunakan untuk menyeberangi sungai yang cukup besar itu, beberapa menit berpikir mengenai mantra, akhirnya paman Joseh teringat sebuah manta yang akan berguna.
Paman Joseh membaca mantranya, dan langsung. Air di sungai itu terbelah menjadi dua bagian, dua sisi, dan sebuah jalan setapak tercipta karena sihir ini.
"Dua menit, aku harus bergegas!!!" seru paman Joseh sambil berlari menyeberangi sungai.
Bersambung...