NovelToon NovelToon
Story Of Hazel Lyra Raven

Story Of Hazel Lyra Raven

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Dark Romance / Mafia / Time Travel / Reinkarnasi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:940
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.

Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??

kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!


Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar

Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 12

[Sekarang - Kantor Kepolisian Pusat Wilayah Lavender]

Langit udah mulai redup, cahaya sore menembus kaca besar ruangan itu. Magnus berdiri di depan meja, ponsel nempel di telinganya, ekspresinya datar tapi nada suaranya… tuh, udah kerasa capek tapi lega.

> “Ratchet. Kau denger suaraku?”

“Magnus?! Jangan bilang”

“Tenang. Kami nemuin Lyra.”

Dari sisi lain, suara kursi kebanting dan langkah cepat langsung terdengar.

> “APA?!”

“Dia baik-baik aja, cuma sedikit kotor, kelaparan, dan… yah, kayak abis kabur dari kebun binatang terbakar.”

Paul yang duduk di samping Ratchet langsung ngelepas napas panjang.

> “ASTAGA hidupku balik lagi.”

“Tahan euforianya, Paul,” potong Ratchet. “Magnus, di mana dia sekarang?”

Magnus ngerapihin sarung tangannya, pandangan ngarah ke ruang tunggu di luar kaca di situ Lyra duduk di sofa empuk, diselimutin, rambut putihnya berantakan, tapi matanya masih nyala penuh rasa ingin tahu.

Di tangannya ada cokelat panas yang udah tinggal setengah.

> “Dia ada di pusat Lavender. Udah saya amankan di ruang rehabilitasi sementara. Polisi lokal kira dia korban penculikan.”

“Itu… tidak salah.”

“Sayangnya iya.” Magnus narik napas dalam, sedikit nahan senyum tipis. “Dia nyasar, diteror, terus nyaris diculik lagi. Gadis kecilmu punya bakat bikin jantung orang kerja lembur.”

Ratchet langsung berdiri, ngeraih jaketnya.

> “Saya berangkat sekarang juga.”

“Jangan buru-buru, cuaca masih hujan deras di rute tengah. Biarkan dia istirahat dulu.”

Paul ikut nyerobot ke speaker.

> “Gue bisa berangkat duluan! Sekalian bawain baju ganti!”

“Kalau kamu berangkat sendiri, kemungkinan besar kamu juga bakal nyasar ke pulau lain.”

“...ya, ada benarnya sih.”

Magnus akhirnya matiin panggilan, tapi sebelum itu dia sempat nambah satu kalimat datar tapi hangat:

> “Dan, Ratchet… dia sempat bilang nama kalian sebelum ketiduran. Jadi, ya dia tahu kalian nyari dia.”

 

Magnus berbalik, ngelihat Lyra yang udah setengah rebahan di sofa, selimutnya naik sampai dagu.

Senyum kecil muncul di wajah dinginnya.

> “Kau benar-benar bikin semua sibuk, ya, Nona Raven.”

Lyra ngedongak, suaranya serak tapi lembut:

> “Magnus… aku boleh nelfon rumah gak?”

“Tunggu sampai kau makan dan tidur dulu. Baru aku izinkan.”

“Hehe… baik, Kapten Polisi Serius.”

Magnus cuma geleng, ngambil secarik formulir buat laporan.

 

 

[Malam itu Rumah Keluarga Raven, Kota Pusat]

Rintik hujan di luar rumah masih belum berhenti. Lampu-lampu di ruang tamu redup, cuma nyala satu di dekat meja Ratchet.

Paul berdiri di sebelah jendela, ngetik-ngetik ponsel dengan ekspresi tegang tapi lega.

> “Dia beneran ketemu, Pak. Magnus sendiri yang nelpon. Katanya Lyra aman di pusat Lavender.”

Ratchet yang masih pakai kacamata baca ngelihat ke arah anaknya.

> “Aman... tapi jauh.”

“Dua hari perjalanan darat, lewat jalur pegunungan barat.”

“Kau yakin mau nyetir sepanjang itu?”

Paul nyengir kecil.

> “Kalo nyetir buat nyamperin adik sendiri, dua hari juga gak berasa, Pak.”

Ratchet ngelipet surat laporan dari Magnus, nyelipin di map merah.

> “Kita berangkat besok pagi. Aku udah kirim izin ke rumah sakit Medika. Aidil dan Loen bisa handle sementara.”

“Oke. Aku siapin mobil dan bahan bakar, jam enam udah di garasi.”

Mereka berdua diam sebentar. Suara hujan jadi satu-satunya hal yang kedengeran.

Ratchet akhirnya buka suara pelan, nadanya agak serak:

> “Kau tahu... dia pasti ketakutan di sana.”

“Iya,” jawab Paul, nada suaranya turun. “Tapi... Lyra bukan tipe yang gampang nyerah.”

Ratchet angkat wajah, matanya nyipit dikit tapi senyumnya lembut.

> “Dia emang anak yang keras kepala. Pasti turunan ibunya.”

Paul ketawa kecil.

“Atau bapaknya yang hobinya kerja sampe lupa waktu.”

Mereka berdua ketawa pelan. Tapi senyum itu cuma bertahan sebentar

karena dalam hati, dua-duanya sadar: Lavender bukan kota biasa. Wilayah itu masih di bawah pengawasan langsung Magnus, dan laporan terakhir… menyebut adanya aktivitas kriminal berat.

Ratchet akhirnya berdiri, ngeraih mantel panjangnya.

> “Tidur dulu, besok perjalanan panjang.”

“Baik, Pak.”

 

[Sementara itu Lavender, jam 11 malam]

Magnus duduk di ruang laporan. Di depannya, map berisi hasil identifikasi sidik jari dari lokasi bar tempat Lyra ditemukan.

Tangannya berhenti di satu halaman.

Logo hitam kecil di pojok kertas itu…

sebuah simbol berbentuk roda gigi dengan garis silang merah.

Magnus nggumam pelan, hampir seperti ke diri sendiri:

> “...DJD.”

 

[Pagi Hari - Penginapan Lavender]

Udara pagi masih lembab. Kabut tipis melayang di jendela, sinar matahari susah menembus kaca yang mulai berembun.

Di meja depan, Magnus berdiri tegak, seragamnya masih rapi meski matanya jelas kurang tidur. Tangannya melipat di dada, sementara dua polisi di belakangnya berjaga.

Dari arah tangga, langkah pelan terdengar.

Itu Lyra. Rambut putihnya masih acak, sweater kebesaran yang dikasih pihak penginapan menggantung di bahunya. Dia jalan pelan, masih sedikit limbung tapi udah sadar penuh.

> “Kau akhirnya bangun.”

Suara Magnus datar.

Lyra berhenti di ujung anak tangga, lalu nyengir tipis, “Iya… kayaknya aku ketiduran di tempat yang salah ya.”

Magnus cuma ngelirik dikit, matanya biru tajam di bawah cahaya redup.

> “Kau beruntung aku yang nemuin. Kalau yang lain”

"ku udah lenyap?” potong Lyra cepat, nadanya ringan tapi tatapannya waspada.

Magnus mendengus kecil, gak menjawab. Dia cuma ngelangkah ke arah dapur, ngambil dua cangkir kopi, lalu naro satu di depan Lyra.

> “Minum. Kau kelihatan masih gemetar.”

Lyra duduk di kursi kayu tua itu, ngeraih cangkir.

> “Kau ini selalu seserius itu ya, Pak Polisi?”

“Aku bukan ‘Pak Polisi’. Aku komandannya Paul.”

“Oh… jadi bosnya kakakku?”

“Secara teknis, iya.”

Lyra cengengesan dikit, “Pantesan sama-sama nyebelin.”

Magnus ngangkat alis, tapi gak marah. Malah matanya keliatan kayak nahan tawa kecil yang gak keluar-keluar.

> “Mulutmu sama kayak dia. Tapi... keberanianmu beda.”

“Keberanian?” Lyra miring kepala.

“Kau lompat ke truk malam-malam di tengah pengejaran. Itu bukan keberuntungan. Itu nekat.”

Lyra nyengir lagi, “Aku belajar dari hidup, Komandan. Kadang... satu-satunya cara kabur dari bahaya adalah lompat dulu, mikir belakangan.”

Magnus bener-bener pengen komentar, tapi sebelum dia sempat ngomong, salah satu polisi nyelonong masuk bawa map laporan.

> “Tuan Magnus, hasil penyisiran semalam... kami nemu residu mesiu dan serpihan logam aneh. Bukan dari senjata biasa.”

Magnus ngeringkas laporan itu cepat.

Lyra yang penasaran ikut ngintip sedikit.

> “Itu... dari senjata siapa?”

“Kau gak perlu tahu,” jawab Magnus singkat, tapi nadanya agak lebih serius dari sebelumnya.

Dia berdiri lagi, ngerapihin sarung tangan dan nyiapin radio di sabuknya.

> “Aku akan ke TKP sebentar. Kau tetap di sini. Jangan keluar sampai aku bilang aman.”

Lyra menggigit bibir, “Aku bukan anak kecil, tahu.”

Magnus berbalik sebentar, tatapannya tegas.

> “Di Lavender, bahkan orang dewasa bisa hilang tanpa jejak. Kau tetap di sini.”

Langkahnya berat tapi pasti waktu keluar.

Begitu pintu penginapan tertutup, Lyra ngelihat ke luar jendela

kabut mulai naik lagi dari lembah.

Dan di balik kabut itu... ada bayangan hitam kecil, kayak seseorang berdiri diam, memperhatikan dari jauh.

[Sore Hari - Lavender District, Taman Kantor Pusat]

Langit sore itu berwarna oranye lembut. Udara di Lavender jauh lebih bersih dari kota pusat; wangi bunga liar bercampur tanah lembab setelah hujan semalam.

Di depan kantor polisi pusat yang bangunannya kuno tapi megah, ada taman kecil rerumputan lembut, beberapa pohon maple, dan satu ayunan tua yang berderit pelan tiap angin lewat.

Di sanalah Lyra duduk.

Rambut putihnya tergerai lembut, ditiup angin sore, sweater abu yang kebesaran bikin dia kelihatan makin mungil.

Di pangkuannya, seekor kelinci cokelat muda sedang tidur dengan damai.

> “Lucu banget sih kamu,” gumam Lyra pelan sambil ngelus bulu halusnya. “Kalau kamu ngomong, mungkin kamu bakal bilang ‘jangan sedih, Lyra’, ya?”

Dia nyengir kecil, lalu nyenggol ayunan dikit, bikin dirinya pelan berayun maju mundur.

Entah kenapa, sore itu hatinya damai banget kayak semua kejadian semalam cuma mimpi kabur yang gak nyata.

Gak ada darah. Gak ada ancaman. Gak ada tatapan dingin Magnus.

Cuma langit oranye, rumput lembut, dan seekor kelinci manis.

Dari jauh, dua polisi yang jaga cuma senyum kecil liat pemandangan itu.

> “Gak nyangka itu gadis yang tadi malem dikejar mafia,” bisik salah satu.

“Heh, lihat dia sekarang. Kayak anak TK yang kabur dari naptime.”

Mereka ngakak kecil, tapi pelan, gak mau ganggu.

Ayunan terus berayun.

Lyra menatap langit, matanya berkilau kena sinar sore.

> “Hidup tuh lucu, ya,” gumamnya lagi. “Baru semalem hampir diculik, sekarang malah disuruh main sama kelinci.”

Seekor kelinci lain datang melompat dari semak, Lyra langsung turun dan duduk di tanah, ngelilingin diri dengan rumput dan hewan-hewan kecil itu.

Tangannya lembut, tiap kali dia elus kepala kelinci, mereka gak kabur, malah nyender.

Ada aura tenang dari Lyra hangat, kayak rumah buat siapa aja yang tersesat.

Tapi dari arah belakang taman, ada sosok tinggi yang memperhatikan diam-diam.

Seragam biru tua, bahu lebar, tangan bersilang di dada.

Magnus.

Dia gak nyapa, cuma berdiri di pinggir taman, matanya nyempil di balik kacamata hitam.

Dari ekspresinya, keliatan dia antara kagum dan... gak ngerti.

Cewek yang semalem nekat lompat ke truk, sekarang lagi duduk main sama kelinci.

Kayak dua dunia beda dalam satu tubuh.

> “Apa dia selalu... seaneh itu?” tanya salah satu bawahannya pelan.

“Lebih tepatnya... unpredictable,” jawab Magnus pendek, tapi matanya gak lepas dari Lyra.

Lyra akhirnya nyadar, nengok ke arah Magnus dan ngelambai kecil, senyum manis banget, kayak anak kecil yang nemu gurunya di taman.

> “Hey, Komandan Batu!” serunya.

Magnus ngehela napas pelan. “Komandan... batu?”

“Karena mukamu selalu keras kayak nisan. Tapi, kamu liat nih...” Lyra ngangkat kelinci kecil itu “...lucu kan?”

Magnus mendekat pelan, masih dengan langkah teratur kayak biasa.

Dia jongkok di depan Lyra, dan tanpa sadar jemarinya sempat nyentuh kepala kelinci itu juga.

> “...Lembut,” katanya pelan.

“Tuh kan, kamu masih punya sisi manusia juga,” kata Lyra, nyengir nakal.

Magnus gak jawab. Tapi untuk pertama kalinya, di bawah sinar senja yang mulai meredup,

senyum kecil cuma setipis garis muncul di wajah dinginnya.

Dan Lyra, tanpa sadar, merasa aneh banget.

Hatinya... kayak tenang. Tapi juga berdebar.

 

 

[Sore Menjelang Malam - Lavender Square]

Setelah main sama kelinci sampe langit berubah ungu lembut, Lyra ngerasa perutnya mulai bernyanyi.

Dia bangkit dari ayunan, ngebenerin rambut putihnya yang berantakan dan jalan ke arah gerbang depan. Magnus yang lagi ngobrol sama bawahannya langsung noleh.

> “Kau mau ke mana, Hazel Raven?”

“Mau... ngemil.”

“Sendiri?”

“Aku bukan anak 5 tahun, Tuan Polisi Batu.”

Magnus nahan napas. Dari nada suaranya sih tegas, tapi tatapannya sedikit khawatir.

> “Baiklah. Tapi aku ikut.”

“Ikut tapi jangan ngomel, ya. Aku cuma mau jajan.”

Dan akhirnya dua manusia beda dunia itu jalan bareng ke Lavender Square, semacam area pasar malam kecil dengan lampu gantung, bau roti panggang, dan musik dari toko kue.

 

[Lavender Bakery Toko Kue Kecil di Pojok Jalan]

Begitu masuk, aroma cokelat nyerbu.

Lyra langsung nyorot matanya ke etalase penuh brownies, tart mini, dan susu kemasan kaca.

> “Waaah... surga cokelat!” serunya sambil nempel ke kaca kayak anak kecil ngeliat es krim.

Pelayan toko sampai senyum.

Magnus? Cuma berdiri di belakang, tangan di saku, keliatan kayak bodyguard elegan yang nyesel kenapa dia setuju ikut.

Lyra: “Aku ambil... hmm… brownies hazelnut, double choco, dark fudge, red velvet, tiramisu, mint, almond, sama marshmallow.”

Magnus: “Itu… delapan?”

Lyra (serius banget): “Delapan adalah angka keberuntungan, Tuan Polisi Batu.”

Magnus: “Kau yakin itu bukan angka ‘diabetes’?”

Pelayan ngakak kecil.

> “Dan... dua susu, yang dingin ya.”

“Kau mau makan itu semua sendirian?”

“Enggak kok, setengah buat aku, setengah buat... aku juga.”

“…” Magnus cuma ngelus pelipis.

Mereka duduk di pojokan dekat jendela.

Lampu gantung di atas meja nyala lembut, hujan tipis mulai turun di luar klasik banget.

Lyra buka satu brownies, gigit pelan, terus matanya langsung bersinar kayak lampu natal.

> “Magnus! Coba ini!”

“Aku sedang bertugas, bukan mencicipi"

Lyra nyodorin potongan brownies ke depan mulutnya.

“Coba dulu, baru protes.”

Magnus, dengan segala kehormatannya sebagai manusia disiplin, akhirnya nyerah.

Dia gigit dikit, diem… terus ngunyah pelan.

> “...Tidak buruk.”

“Tuh kan! Aku aja bilang itu bisa nyembuhin hati yang dingin!”

“Aku tidak dingin.”

“Kamu bahkan punya nama tengah ‘Es Batu’. Ngaku aja.”

Lyra ketawa kecil, lalu lanjut makan.

Brownies satu, dua, tiga... delapan.

Susu habis dua.

Magnus masih belum bisa ngerti gimana cewek sekecil itu bisa ngabisin semua tanpa kelihatan kekenyangan.

Pas Lyra bayar, Magnus udah siap ngeluarin dompet, tapi

> “Udah, aku traktir diriku sendiri. Kamu kan belum gajian minggu ini,” kata Lyra sambil senyum.

“Kau tahu dari mana?”

“Kamu keliatan banget dari cara liat harga brownies tadi.”

Magnus: “Aku... tidak liat harga brownies.”

Lyra: “Yah, tapi tatapanmu kayak kalkulator.”

Pelayan nyengir lebar, nahan ketawa.

Lyra jalan keluar duluan sambil ngelindungin brownies terakhir di tangannya dari gerimis.

Magnus akhirnya nyusul, dan tanpa sadar liat punggung Lyra di bawah payung warna pastel itu, yang kecil tapi berani,

dia ngerasa aneh.

Ada sesuatu yang hangat di dada.

Bukan cuma karena brownies.

> “Kau benar-benar... aneh,” gumamnya.

“Dan kau... terlalu kaku,” jawab Lyra tanpa nengok.

 

 

[Masih di Lavender Square -Jalan Pulang]

Magnus dan Lyra jalan santai di sepanjang trotoar batu, lampu-lampu toko udah mulai nyala, orang-orang berlalu-lalang.

Lyra sibuk ngunyah sisa brownies terakhir, sementara Magnus… well, mulai jadi pusat perhatian tanpa dia niat.

Beberapa cewek di kafe sebelah langsung bisik-bisik.

> “Eh itu bukan Magnus? Yang dari Markas Utama?”

“Iya, iya! Komandan itu! Dengar-dengar dia yang ngatur ekspedisi ke utara minggu lalu!”

“Astaga… lebih ganteng di dunia nyata.”

“Dia senyum gak sih kalo sama rakyat biasa?”

“Kayaknya nggak, dia lebih kayak... senyum di dalam hati.”

Lyra ngelirik ke arah suara-suara itu dan langsung manggut kecil.

> “Wow, Tuan Polisi Batu ternyata seleb.”

Magnus: “Aku hanya menjalankan tugas.”

> “Ya, tugas memecahkan hati warga sekitar, kali.”

Dia cuma ngerespons dengan side-eye of death yang sayangnya malah bikin orang-orang di sekitar tambah terpesona.

Kayak… gimana bisa seseorang terlihat marah tapi tetap fotogenik?

Dan parahnya, ada dua gadis yang tiba-tiba nyamperin.

Salah satunya bawa buku catatan, satunya lagi nyodorin pena.

> “E-excuse me, Tuan Magnus! Boleh minta tanda tangan?”

“Dan mungkin... foto juga?”

Magnus sempat terdiam.

Lyra berdiri di sampingnya, tangannya masih megang kertas bungkus brownies, ngeliat kayak lagi nonton drama komedi real-time.

> “Aku sedang tidak dalam acara publik,” kata Magnus datar.

“Oh! Maaf! Tapi... boleh satu foto aja?”

“Tidak.”

“O-oh, baiklah…”

Para penggemarnya mundur, sedikit kecewa tapi masih senyum lebar karena “diliatin langsung oleh Magnus Ellion.”

Lyra ngakak pelan, lalu nyeletuk,

> “Kamu tuh kayak idol yang lupa punya fans.”

“Aku tidak meminta mereka jadi fans.”

“Justru itu yang bikin mereka makin ngefans.”

“...”

“Tenang aja, aku gak akan minta tanda tangan, paling cuma… brownies sisa.”

Magnus ngelirik tajam, tapi Lyra malah pura-pura fokus nyedot sisa susu dari botol kaca.

> “Apa?” tanya Magnus akhirnya.

“Ngga apa-apa, cuma lucu aja ngeliat kamu panik tapi pura-pura cool.”

“Aku tidak panik.”

“Sure. Mata kamu aja udah pindah ke mode defense.”

Dan anehnya, Magnus gak jawab.

Cuma jalan lebih cepat sambil tangannya masuk ke saku jaket. Tapi pipinya agak merah tipis entah karena angin malam atau komentar Lyra yang kena sasaran.

***

[Malam hari - Penginapan Lavender, kamar tamu lantai dua]

Hujan tipis mulai turun, aroma tanah basah nyampur sama wangi cokelat brownies yang masih nempel di tangan Lyra.

Dia duduk di jendela, nonton cahaya lampu kota tua yang redup. Magnus baru balik dari markas bawahannya, masih dengan jas panjang khas polisi pusat.

Tapi... aneh.

Begitu dia buka pintu penginapan, penjaga meja depan langsung panic mode.

> “T-Tuan Magnus! Ada paket lagi datang! Dan... surat juga, uh, banyak sekali”

“Berapa banyak?”

“Hmm... kalau dihitung... sekitar dua kardus penuh?”

Magnus cuma berdiri diam di situ, cape banget tapi mukanya tetep datar kayak udah pasrah sama hidup.

> “Letakkan di ruang depan. Aku akan periksa nanti.”

“B-baik, Tuan.”

Lyra ngintip dari tangga, bawa selimut di pundak, rambut putihnya acak-acakan karena baru bangun dari nap.

> “Kardus? Kamu buka toko roti rahasia?”

Magnus ngangkat alis tipis.

> “Itu... surat dari warga.”

“Warga yang ‘kebetulan’ ngasih parfum, bunga, dan tunggu, itu boneka rajut bentuk kamu?”

Lyra jongkok di depan salah satu paket dan liat isi kardusnya.

Ada surat dengan pita merah muda dan tulisan tangan yang uh sangat ekspresif:

> “Untuk Tuan Magnus, terima kasih sudah menjaga Lavender tetap aman. Kalau capek, datanglah ke toko kami, kami siap memijat pundak Anda. Dengan cinta, Milena & kawan-kawan 💕”

Lyra langsung teriak ketawa, “HAHAHA AMPUUUN—‘memijat pundak Anda’?? Normeen, kamu dicintai satu kota, gila sih ini.”

Magnus: “Itu... tidak relevan.”

Lyra (masih ngakak): “Relevan banget! Nih, surat satunya... hmm, ada pita ungu—oh! Ini dari toko bunga.”

Dia baca keras-keras,

> “Semoga harimu seindah kelopak lavender yang mekar di bawah cahaya matamu.”

Lyra berhenti baca, terus nengok pelan ke Magnus.

> “Bro… mereka ngarang puisi buat kamu. Gratis.”

Magnus mendesah, lehernya merah sedikit, tapi masih berusaha tampak tenang.

> “Kau terlalu berisik, Lyra.”

“Aku cuma kagum, Tuan Polisi Pujaan Lavender.”

“Jangan panggil aku itu.”

“Terlambat. Udah aku daftarin di hatiku.”

Magnus deadpan, “...Kau mau kubiarkan menulis laporan pelanggaran lalu lintas untuk menebus ucapan itu?”

> “Kalau laporannya diisi pakai cokelat cair, mungkin aku mau.”

 

Beberapa menit kemudian, Lyra malah bantuin Magnus buka semua paket itu, sambil ngerumpi kayak dua orang paling beda dunia si misterius cool officer dan cewek berambut putih yang entah gimana selalu nyasar tapi hidupnya penuh warna.

Lyra ngeledekin semua surat cinta yang makin aneh ada yang nyelipin foto, ada juga yang ngasih... syal rajut panjang warna pink (Magnus langsung taruh di pojokan tanpa ekspresi).

Pas Magnus akhirnya duduk di kursi, Lyra masih nyengir.

> “Kamu tuh kayak magnet. Tapi magnetnya diem.”

“Aku tidak berusaha menarik siapa pun.”

“Yah, itu justru masalahnya semakin kamu diem, makin banyak yang mau deket. Dunia ini aneh banget ya?”

Magnus ngelirik pelan, “…termasuk kau.”

“Heh, aku? Aku cuma nyari brownies tambahan.”

Dan malam itu berakhir dengan Lyra ketiduran di sofa, dikelilingi surat cinta Magnus yang belum sempat dirapikan.

Magnus sempat menatap sebentar, ekspresinya nggak terbaca antara geli, bingung, dan mungkin… sedikit hangat.

 

1
AEERA♤
bacaa woee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!