NovelToon NovelToon
Lingkaran Cahaya Yang Terlupakan

Lingkaran Cahaya Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / TKP / Iblis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

*"Di dalam kedalaman tanah yang menyelimuti kota Manado, ada sebuah ruang bawah tanah yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang telah 'dipanggil'. Lima belas wanita berjubah hitam berdiri melingkari lingkaran cahaya emas yang bersinar seperti darah yang baru saja mengering. Setiap malam, mereka menyanyikan doa yang tak dikenal manusia, memanggil sesuatu yang seharusnya tetap tertidur di dalam kegelapan.

Sevira, seorang dokter muda yang baru saja pindah ke Manado untuk mengobati warga miskin, tidak menyadari bahwa rumah yang dia sewa dulunya adalah bagian dari kompleks gereja kuno itu. Saat dia mulai menemukan jejak-jejak aneh – kain hitam yang tersangkut di pagar, suara nyanyian yang terdengar di malam hari, dan wajah-wajah menyakitkan yang muncul di cermin saat malam hujan – dia terjerumus ke dalam rahasia yang telah menyiksa keluarga keluarganya selama berabad-abad.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAPAT MALAM DI RUMAH BELAKANG

Kembali ke rumah sudah sore hari. Udara terasa semakin berat, dan angin membawa suara bisikan yang semakin jelas – seperti ratusan orang yang sedang berbicara sekaligus di telingaku. Kalung Batu Hati Desa di leherku terasa semakin hangat, seolah merespons energi yang datang dari arah gua di atas bukit.

“Aku akan memeriksa halaman belakang,” katanya Kapten Hasan dengan hati-hati mengambil senter dari meja. “Ada sesuatu yang tidak beres aku merasakan ada banyak orang di sana tapi tidak bisa melihat mereka.”

Aku mengangguk dan mengikuti dia keluar ke halaman belakang yang penuh rerumputan tinggi. Saat kita mendekati sudut paling dalam halaman, aku melihat bahwa rerumputan telah ditebang rata membentuk lingkaran besar di tanah. Di tengah lingkaran itu, tanah sudah digali dalam dan ada simbol yang sama dengan yang selalu kukenal dibuat dengan tanah liat merah yang masih basah.

Bau darah dan bunga kamboja muncul dengan sangat kuat sampai membuatku merasa pusing. Dari balik pepohonan tinggi di sekeliling halaman, muncul bayangan banyak wanita yang mengenakan jubah hitam – mereka berdiri diam melingkari lingkaran, wajah mereka tidak terlihat tapi aku bisa merasakan tatapan mereka yang menyala menyala.

“Sevira,” suara Bu Siti terdengar dari tengah kelompok itu. Dia keluar dari barisan dengan langkah yang lambat, wajahnya sekarang sudah kembali normal tapi matanya masih menunjukkan rasa sakit yang dalam. “Kita sudah menunggu kamu.”

 

Kita mendekati kelompok wanita dengan hati-hati. Setiap langkah membuat tanah bergetar dengan lembut, dan aku bisa mendengar suara gemuruh dari bawah kaki kita – seolah sesuatu yang besar sedang bergerak di bawah tanah.

“Kamu sudah tahu segalanya bukan?” tanya Bu Siti dengan suara yang lembut. “Tentang perjanjian, tentang pengorbanan, tentang apa yang harus kamu lakukan malam esok.”

Aku mengangguk. “Aku tahu. Dan aku akan melakukan apa yang harus kulakukan. Tapi aku tidak akan membiarkan lagi orang lain harus mengorbankan diri sendiri. Aku akan menjadi Pembawa Cahaya dan mengakhiri semua ini secara permanen.”

Wanita berjubah hitam itu mulai berbisik satu sama lain, suara mereka seperti daun yang bergoyang di angin. Kemudian salah satu dari mereka wanita tua yang kudengar di perpustakaan keluar dari barisan dan mendekat padaku. “Kamu tidak mengerti apa yang kamu lakukan, anak muda,” katanya dengan suara yang penuh kekuatan. “Menjadi Pembawa Cahaya bukan hanya menyerahkan sebagian jiwamu itu berarti kamu harus tinggal di antara dua dunia selamanya, tidak pernah benar-benar hidup atau mati.”

Dia menjelaskan bahwa sebelumnya ada seseorang yang mencoba menjadi Pembawa Cahaya leluhur Kapten Hasan yang sama dengan yang ada di foto buku sejarah. Dia berhasil menjadi jembatan antara dua dunia tapi akhirnya terjebak dan tidak bisa kembali ke dunia ini atau pergi ke dunia lain. Dia sekarang tinggal di bawah tanah sebagai penjaga yang tidak pernah bisa beristirahat.

“Kita tidak ingin kamu mengalami hal yang sama,” lanjutnya menyentuh tanganku dengan tangan yang dingin. “Kita sudah kehilangan banyak orang yang kita cintai. Kita tidak bisa kehilangan kamu juga.”

Aku melihat ke arah Kapten Hasan yang wajahnya penuh dengan kekhawatiran. Aku tahu dia khawatir tentangku, tapi aku juga tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan desa dan semua orang yang tinggal di sini.

“Saya sudah membuat keputusan,” kataku dengan suara yang tegas. “Aku akan melakukan ini. Dan aku tahu bahwa leluhur kamu tidak sendirian dia memiliki teman-teman di bawah tanah yang selalu menemani dia. Itu bukan hukuman itu adalah pengorbanan yang dia lakukan dengan sukarela karena cinta.”

Saat aku berbicara, kalung di leherku mulai bersinar dengan cahaya merah yang terang. Dari dalam tanah terdengar suara nyanyian yang indah suara leluhur Kapten Hasan yang sedang menyanyi lagu yang sama dengan yang kita kenal. Aku melihat bayangannya muncul di atas lingkaran, wajahnya penuh dengan kedamaian dan senyum yang lembut.

“Hanya dengan cinta kita bisa menemukan jalan keluar,” katanya dengan suara yang terdengar seperti angin melalui pepohonan. “Saya tidak merasa kesepian atau menderita. Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan untuk melindungi orang yang saya cintai. Dan sekarang sudah waktunya untuk kamu melanjutkan apa yang saya mulai.”

Kapten Hasan menangis melihat leluhurnya. Dia berjalan ke depan dan merentangkan tangannya ke arah bayangan itu. “Aku mengerti sekarang,” katanya dengan suara yang meratap. “Aku mengerti mengapa kamu melakukan itu. Dan aku akan membantu Sevira untuk menyelesaikan semua ini.”

Kelompok wanita berjubah hitam itu mulai bergerak, menyusun diri menjadi bentuk lingkaran yang lebih besar di sekitar kita. Mereka mulai menyanyi lagu yang sama dengan yang selalu kudengar, tapi kali ini nada mereka penuh dengan harapan bukan lagi kesedihan.

 

Saat nyanyian mereka semakin kuat, tanah di tengah lingkaran mulai terbuka perlahan. Lubang yang muncul jauh lebih besar dari yang kudengar sebelumnya, dan dari dalamnya keluar cahaya emas yang menyilaukan. Aku bisa melihat lorong yang panjang mengarah ke bawah tanah lorong yang sama dengan yang kudengar di mimpiku beberapa hari yang lalu.

“Waktunya sudah dekat,” ujar Bu Siti menyampingiku. “Malam esok saat bulan purnama mencapai titik tertingginya, pintu akan terbuka lebar selama sepuluh menit. Itulah saat yang kamu miliki untuk melakukan ritual dan menjadi Pembawa Cahaya.”

Dia memberikan aku sebuah ember kecil berisi tanah liat merah dari tengah lingkaran. “Gunakan ini untuk membuat simbol di dahimu saat ritual dimulai. Ini akan membantu kamu terhubung dengan kekuatan dari bawah tanah.”

Saat aku menerima ember itu, aku merasakan sentuhan dingin menyentuh pundakku nenekku lagi. Dia muncul dengan wajah yang penuh cinta dan bangga. “Kamu telah tumbuh menjadi wanita yang kuat, cucu,” katanya menyentuh dahiku dengan lembut. “Ibumu akan sangat bangga padamu.”

Kemudian ada suara tembakan yang keras yang terdengar dari arah jalan depan rumah. Kita semua berbalik dan melihat beberapa pria yang mengenakan jas gelap sedang berlari ke arah kita dengan senapan yang sudah siap ditembakkan. Di depan mereka ada seorang pria yang wajahnya aku kenal ayahku yang sudah hilang selama delapan tahun.

“Sevira, jauhilah dari mereka!” teriak ayahku dengan suara yang penuh kegelisahan. “Mereka bukanlah orang yang kamu pikirkan mereka ingin membuka pintu dan menggunakan kekuatan dari bawah tanah untuk menguasai desa!”

Wanita berjubah hitam itu mulai bersiap diri, tangan mereka mulai menyala dengan cahaya merah samar. Kapten Hasan menarik senapannya dan berdiri di sisiku, siap melindungiku jika perlu.

Aku melihat ke arah ayahku yang sedang berlari dengan cepat, kemudian ke arah lorong yang terbuka di tanah dengan cahaya emas yang menyala terang. Malam esok akan datang dengan sangat cepat, dan sekarang aku tidak hanya harus menghadapi tantangan untuk menjadi Pembawa Cahaya tapi juga harus melindungi desa dari mereka yang ingin menggunakan kekuatan itu untuk tujuan yang jahat.

Tanah di bawah kaki kita mulai bergetar dengan lebih kuat, dan dari dalam lorong terdengar suara orang berteriak yang semakin keras. Pintu sudah mulai terbuka sedikit demi sedikit, dan tidak ada yang bisa menghentikannya lagi.

1
grandi
bau yang gak enak
grandi
cepat
grandi
aku suka tentang sejarah 👍
grandi
hujan 👍
Dewi Kartika
mantap thor
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!