Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.
Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 SWMU
Pagi menyapa Mansion Mahendra dengan sisa-sisa aroma hujan yang segar. Namun, di dalam kamar Nadia, udara terasa berbeda. Saat Nadia membuka matanya, sisi tempat tidur di sebelahnya sudah kosong. Bramantya sudah tidak ada di sana. Hanya ada lekukan di bantal dan seprai yang masih sedikit hangat, menandakan pria itu baru saja pergi beberapa saat sebelum matahari benar-benar naik.
Nadia berbaring diam, menatap langit-langit kamar. Anehnya, ia tidak merasa ketakutan seperti pagi-pagi sebelumnya. Justru ada perasaan hampa yang menyusup ke dadanya saat menyadari ia terbangun sendirian. Ia menghirup napas dalam-dalam, dan seketika itu juga, aromanya menyergap.
Aroma cendana yang menenangkan, dipadukan dengan wangi tembakau mahal yang samar dan sisa-sisa sabun maskulin yang tajam. Aroma Bramantya.
Wangi itu seolah tertinggal di bantal, di selimut, bahkan di kulit Nadia sendiri setelah pelukan semalam. Nadia memejamkan mata, menarik selimut itu hingga menutupi hidungnya, dan menghirup aroma itu sekali lagi. Tanpa ia sadari, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Bukan karena takut, melainkan karena sebuah keterikatan yang mulai tumbuh secara tidak wajar.
"Kenapa aku merindukan bau ini?" bisik Nadia pada dirinya sendiri.
Ia merasa jijik dengan pikirannya sendiri. Pria itu adalah orang yang mengurungnya, orang yang memberikan obat tidur padanya, dan orang yang mengawasinya lewat cermin dua arah. Namun, ia tidak bisa membohongi tubuhnya. Tubuhnya merasa aman saat aroma itu ada di sekitarnya. Seolah-olah wangi maskulin itu adalah benteng yang memisahkannya dari dunia luar yang kejam dan penuh kenangan menyakitkan tentang kematian orang tuanya.
Nadia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Saat ia melewati meja rias, ia berhenti sejenak. Ia menatap cermin itu—cermin yang ia tahu adalah jendela bagi mata Bramantya. Alih-alih merasa marah, Nadia justru merasa ingin diperhatikan. Ia menyentuh tanda merah di lehernya yang kini mulai memudar, lalu dengan gerakan perlahan, ia membuka kancing teratas gaun tidurnya, membiarkan bahunya sedikit terekspos.
Ia merasa seperti sedang menari di atas jurang. Ia ingin tahu apakah Bramantya sedang melihatnya sekarang. Apakah wangi yang tertinggal di kamarnya ini adalah cara Bramantya menandai wilayahnya?
Setelah mandi, Nadia turun untuk sarapan. Di ruang makan, Bramantya sudah berada di sana, sedang memeriksa beberapa dokumen di tablet digitalnya. Ia mengenakan kemeja biru navy yang sangat pas, dan saat Nadia mendekat, aroma yang sama kembali menyambutnya. Kali ini lebih segar, lebih hidup.
"Selamat pagi, Nadia," sapa Bramantya tanpa menoleh. "Kau tidur lebih lama pagi ini. Aku harap mimpimu tidak mengganggumu lagi."
Nadia duduk di tempat biasanya, namun kali ini ia merasa magnet pria itu menariknya untuk duduk lebih dekat. "Paman... terima kasih untuk semalam."
Bramantya meletakkan tabletnya dan menatap Nadia. Matanya menyapu wajah Nadia dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa sedikit pening. "Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang pelindung."
"Wangi Paman..." Nadia menggantung kalimatnya, merasa malu sekaligus tertantang. "Wangi Paman tertinggal di seluruh kamarku."
Bramantya menyandarkan punggungnya ke kursi, sebuah senyum tipis—hampir menyerupai seringai kemenangan—muncul di bibirnya. "Apakah wangi itu mengganggumu? Jika kau tidak suka, aku bisa menyuruh pelayan untuk mengganti semua seprai dan menyemprotkan pengharum ruangan yang lain."
"Tidak!" jawab Nadia terlalu cepat. Ia segera berdehem untuk menutupi kegugupannya. "Maksudku... tidak perlu. Aku sudah terbiasa."
"Terbiasa adalah awal dari keterikatan, Nadia," ucap Bramantya dengan suara yang rendah dan menggoda. "Dan keterikatan adalah awal dari kepatuhan."
Pria itu bangkit dan berjalan memutari meja. Ia berhenti tepat di belakang Nadia, seperti yang ia lakukan saat jamuan makan malam sebelumnya. Namun kali ini, alih-alih merasa terancam, Nadia merasa tubuhnya mendambakan kedekatan itu. Saat Bramantya membungkuk untuk membisikkan sesuatu, aroma maskulin itu terasa menyesakkan, memenuhi paru-paru Nadia hingga ia sulit berpikir jernih.
"Aku akan pergi ke kantor hingga malam hari," bisik Bramantya. Tangannya mendarat di bahu Nadia, meremasnya dengan lembut. "Aku sudah memerintahkan Bi Inah untuk tidak mengunci pintumu hari ini. Kau boleh berjalan-jalan di dalam mansion, tapi jangan pernah mendekati gerbang utama tanpa penjagaan. Mengerti?"
Nadia hanya bisa mengangguk pelan. Aroma Bramantya seolah membius pikirannya.
Sepanjang hari, Nadia berkeliling mansion. Namun, pikirannya terus kembali pada Bramantya. Ia mendapati dirinya tanpa sengaja masuk ke ruang kerja pria itu saat para pelayan sedang membersihkan lantai bawah. Ruangan itu sangat maskulin, dengan dinding penuh buku dan meja kayu jati yang besar.
Di sana, aroma Bramantya seribu kali lebih kuat. Nadia berjalan mendekati kursi kerja Bramantya. Ia duduk di sana, menyandarkan punggungnya, dan menutup mata. Ia merasa seolah sedang dipeluk oleh pria itu lagi. Ia menyentuh permukaan meja, membayangkan tangan Bramantya yang besar dan kuat pernah berada di sana.
"Apa yang sedang aku lakukan?" gumam Nadia, tersentak oleh kesadarannya sendiri.
Ia melihat sebuah jas hitam milik Bramantya tersampir di sandaran kursi. Dengan gerakan impulsif, Nadia mengambil jas itu dan membenamkan wajahnya di kain mahal tersebut. Ia menghirup aromanya dalam-dalam, membiarkan wangi maskulin itu memenuhi indranya. Ada rasa nyaman yang aneh, rasa memiliki yang tumbuh dari keputusasaan.
Ia merindukan ibunya, ya. Ia merindukan ayahnya, tentu. Namun, kekosongan di hatinya kini mulai diisi oleh sosok Bramantya—monster yang memberinya tempat tinggal, pria yang memberinya rasa aman, dan pemilik aroma yang kini menjadi candu baginya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di koridor. Nadia dengan panik meletakkan jas itu kembali dan keluar dari ruang kerja sebelum ada yang melihatnya. Ia kembali ke kamarnya dengan jantung yang berdegup liar.
Malam harinya, saat makan malam, Bramantya pulang lebih awal. Ia tampak sedikit lelah, namun matanya langsung cerah saat melihat Nadia menunggunya di depan tangga.
"Kau menungguku?" tanya Bramantya, suaranya terdengar hangat.
Nadia tidak menjawab, ia hanya berjalan mendekati Bramantya. Kali ini, ia yang memulai jarak yang sangat dekat. Ia berdiri tepat di depan dada pria itu, menghirup aroma yang sudah ia rindukan seharian.
"Paman memakai parfum yang berbeda?" tanya Nadia lirih.
Bramantya menatap Nadia dengan tatapan yang sangat dalam. Ia menyadari perubahan perilaku keponakannya itu. Ia menyadari bahwa obsesi kecil mulai tumbuh di dalam diri Nadia—persis seperti yang ia rencanakan.
"Sama seperti biasanya, Nadia. Mungkin hanya indra penciumanmu yang mulai mengenali aromaku sebagai bagian dari hidupmu," jawab Bramantya. Ia mengangkat tangan Nadia dan mencium punggung tangannya, matanya tetap terkunci pada mata Nadia.
Nadia merasa kakinya lemas. Wangi maskulin itu benar-benar menyesakkan, namun ia tidak ingin menjauh. Di tengah duka dan kesepian, ia telah menemukan sebuah pelarian dalam diri pria yang mengurungnya. Ia tidak sadar bahwa aroma ini adalah cara Bramantya "menjinakkannya" tanpa perlu menggunakan kekerasan.
Malam itu, saat Bi Inah membawakan susu hangat, Nadia meminumnya dengan sukarela. Ia ingin segera tidur, karena ia tahu, dalam tidurnya, ia mungkin akan kembali merasakan pelukan itu dan menghirup aroma yang kini menjadi dunianya.
Namun, sebelum ia benar-benar terlelap, Nadia sempat berpikir; apakah ini cinta, ataukah ia hanya sedang tenggelam dalam manipulasi yang sangat halus?
Di balik cermin dua arah, Bramantya berdiri memperhatikan Nadia yang mulai tertidur sambil memeluk bantal yang tadi pagi ia gunakan. Bramantya tersenyum gelap.
"Kau sudah terjaring, Nadia Clarissa. Wangiku akan selalu menghantuimu, bahkan jika kau mencoba lari ke ujung dunia sekalipun."
Wangi maskulin itu bukan hanya aroma, tapi adalah rantai yang kini mengikat jiwa Nadia ke dalam Mansion Mahendra selamanya.