NovelToon NovelToon
White Dream With You?

White Dream With You?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri / Horror Thriller-Horror / Horor / Spiritual / Romantis
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: Cokocha

Judul: White Dream With You

Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Memulai awal yang damai

Hari pertama semester genap di Surabaya selalu membawa atmosfer yang khas. Udara pagi yang lembap perlahan mulai memanas seiring naiknya matahari, bercampur dengan aroma kertas baru dan sisa-sisa hujan semalam. Bagi kebanyakan siswa SMK Pamasta, hari ini hanyalah awal dari rutinitas akademis biasa. Namun, bagiku, melangkah masuk ke gerbang sekolah hari ini terasa seperti memasuki dunia yang benar-benar baru, dunia yang tidak lagi didefinisikan oleh ketakutan irasional, melainkan oleh realitas yang jujur.

Aku berjalan menyusuri koridor gedung B, tempat di mana kelas-kelas jurusan Akuntansi berada. Suara riuh rendah percakapan langsung menyambut telingaku begitu aku mendekati pintu kelas 10 AKL 1. Seperti biasanya, kelas ini didominasi oleh suara para siswi yang sedang bertukar cerita liburan. Di jurusan Akuntansi Keuangan Lembaga, keberadaan siswa laki-laki adalah sebuah anomali statistik.

Saat aku melangkah masuk, aku langsung melihat Bagas. Ia duduk di barisan belakang, tampak mencolok di tengah lautan siswi perempuan. Wajahnya terlihat lega begitu melihatku datang; solidaritas sesama minoritas gender di kelas ini memang selalu kuat di antara kami.

"Akhirnya kau datang, Dra," sapa Bagas sambil menggeser tasnya agar aku bisa duduk di sebelahnya. "Kalau kau telat sedikit lagi, aku mungkin sudah mati kebosanan mendengarkan cerita tentang drama Korea dan diskon skincare dari meja depan."

Aku tersenyum tipis sambil meletakkan tasku. "Setidaknya itu topik yang normal, Gas. Jauh lebih baik daripada mendengarkan bisikan hantu atau rencana jahat kepala sekolah."

Di meja seberang kami, Netta sedang meraut pensil sketsanya. Ia menoleh dan tersenyum. "Pagi, Sarendra. Pagi, Bagas. Jangan terlalu mengeluh, setidaknya kelas kita wangi parfum, bukan bau kabel terbakar seperti di gedung sebelah."

"Gedung sebelah" yang dimaksud Netta adalah blok jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), tempat di mana Vema dan Nadin berada. Sebuah dunia yang sangat kontras dengan kelas kami.

Pelajaran pertama dimulai. Bu Ida masuk membawa tumpukan buku besar. Suara kapur tulis yang bergesekan dengan papan hitam dan penjelasan tentang siklus akuntansi dagang mengisi pagi itu. Aku mencatat setiap materi dengan tekun. Dulu, aku mencatat untuk mencari pola kejahatan; kini, aku mencatat untuk masa depanku sendiri. Sesekali aku melirik jam dinding, menantikan bel istirahat berbunyi. Bukan karena aku lapar, tapi karena ada seseorang di gedung seberang yang ingin kutemui.

Bel istirahat akhirnya berbunyi nyaring.

"Mau ke kantin?" tawar Bagas sambil merenggangkan otot-ototnya yang kaku.

"Kalian duluan saja," jawabku sambil membereskan buku. "Aku ada urusan sebentar."

Bagas dan Netta saling bertukar pandang penuh arti, lalu Netta terkekeh pelan. "Urusan di blok TKJ, ya? Ya sudah, salam buat Nadin dan Vema."

Aku berjalan keluar kelas, menyeberangi lapangan upacara menuju gedung C. Suasana di sini berubah drastis. Jika koridor Akuntansi didominasi suara tawa perempuan, koridor TKJ penuh dengan suara berat laki-laki yang sedang membahas game online atau komponen PC. Di sinilah letak keunikan Vema dan Nadin; mereka bertahan sebagai minoritas perempuan di tengah dominasi laki-laki, sebuah bukti ketangguhan mental mereka.

Aku berdiri di dekat pilar, menunggu di depan kelas 10 TKJ 2. Tak lama kemudian, pintu terbuka.

Sekelompok siswa laki-laki keluar dengan riuh, diikuti oleh Nadin yang sedang memegang laptopnya erat-erat, dan di belakangnya, Vema.

Penampilan Vema dengan rambut pendeknya tampak sangat menyatu dengan lingkungan TKJ yang sedikit "keras" dan teknikal. Namun, begitu matanya menangkap sosokku yang berdiri di kejauhan, raut wajahnya yang serius langsung melunak. Senyum tipis terukir di bibirnya.

"Menunggu lama?" tanya Vema saat ia menghampiriku.

"Baru lima menit," jawabku. "Kelasmu terlihat... intens."

"Begitulah TKJ," Vema mengangkat bahu ringan. "Bau motherboard panas dan perdebatan soal sistem operasi. Nadin tadi hampir melempar mouse ke arah ketua kelas karena tidak sengaja memutuskan koneksi server lokal."

Kami berdua tertawa kecil, lalu berjalan beriringan menuju perpustakaan. Kami menghindari kantin yang terlalu ramai. Perpustakaan sekolah yang sunyi dan beraroma buku tua kini menjadi tempat suaka baru bagi kami. Kami memilih meja di sudut belakang, dekat rak ensiklopedia yang jarang disentuh siswa lain.

Vema membuka kotak bekalnya—dua potong roti isi selai kacang. Ia menyodorkan satu potong padaku. "Ibu yang buat. Beliau memaksaku membawakan satu untukmu."

Aku menerima roti itu dengan perasaan hangat yang menjalar di dada. "Sampaikan terima kasihku pada Ibumu. Beliau sangat perhatian."

Kami makan dalam diam sejenak, menikmati ketenangan di antara deretan buku. Sinar matahari siang menembus jendela kaca yang berdebu, menyinari wajah Vema yang tampak damai.

"Dra," panggil Vema pelan.

"Ya?"

"Rasanya aneh, ya. Kita berada di kelas yang berbeda, jurusan yang berbeda, dikelilingi orang-orang yang berbeda. Kamu dengan ketertiban Akuntansi, aku dengan kekacauan kabel TKJ. Tapi entah kenapa, aku merasa kita tetap terhubung."

Aku menatap matanya yang cokelat gelap. "Dalam akuntansi, ada prinsip matching concept. Pendapatan dan beban harus dipertemukan dalam periode yang sama agar laporan menjadi valid. Mungkin kita seperti itu. Berbeda pos, tapi saling melengkapi dalam satu siklus cerita."

Vema tertawa renyah, menggelengkan kepalanya. "Kamu dan analogi akuntansimu itu... tidak pernah berubah. Tapi aku suka."

"Dan aku suka caramu bertahan di kelas TKJ," balasku jujur. "Tidak mudah menjadi perempuan di sana, kan?"

"Sama sulitnya dengan menjadi laki-laki di kelas AKL, kurasa," Vema menatapku lekat. "Kita berdua sama-sama minoritas yang mencoba bertahan di tempat yang mungkin tidak sepenuhnya memahami kita. Mungkin itu sebabnya kita cocok."

Kata-kata itu sederhana, namun memiliki resonansi yang kuat. Kami bukan hanya disatukan oleh trauma masa lalu, tapi juga oleh pemahaman mendalam tentang posisi kami di dunia sosial sekolah ini.

Sore harinya, langit Surabaya mendadak berubah kelabu. Awan hitam bergulung cepat, disusul oleh hujan deras yang mengguyur kota tanpa peringatan.

Bel pulang sekolah berbunyi di tengah gemuruh suara hujan yang menghantam atap seng selasar.

Aku berdiri di lobi utama, menunggu hujan sedikit reda. Sebagian besar siswa berlarian menerobos hujan menuju gerbang, atau berdesakan menunggu jemputan.

"Sarendra!"

Aku menoleh. Vema berlari kecil dari arah koridor TKJ. Jaket almamaternya sedikit basah terkena percikan air.

"Hujannya deras sekali," keluhnya sambil berdiri di sampingku, merapikan rambut pendeknya yang sedikit lepek.

"Iya. Kamu bawa payung?"

"Tidak. Tas laptopku sudah terlalu penuh dengan kabel-kabel praktikum," jawabnya sambil menunjuk tas punggungnya yang tampak berat. "Kamu?"

"Ada payung lipat. Tapi ukurannya kecil." Aku mengeluarkan payung berwarna biru tua dari tasku.

Vema menatap payung itu, lalu menatapku dengan kilatan jahil di matanya. "Cukup untuk dua orang?"

"Secara teknis, tidak. Tapi kalau kita mengabaikan ruang pribadi dan melanggar sedikit norma jarak sosial... mungkin cukup."

Vema tertawa. "Ayo. Aku tidak mau menunggu di sini sampai malam. Nadin sudah dijemput ayahnya tadi."

Aku membuka payung itu. Kami melangkah keluar dari lobi, langsung disambut oleh tirai air yang dingin. Vema merapat ke sisi kiriku, bahunya menempel pada bahuku. Tangan kananku memegang gagang payung tinggi-tinggi, berusaha melindungi kami berdua, meskipun aku tahu sisi kanan seragamku pasti akan basah kuyup.

Kami berjalan menyusuri trotoar yang tergenang air. Aroma tanah basah dan aspal menguar kuat. Langkah kaki kami seirama, sepatu kami memercikkan air di setiap pijakan. Di bawah payung kecil itu, dunia terasa menyempit, hanya menyisakan aku dan Vema.

"Dra," bisik Vema di antara suara hujan.

"Hm?"

"Terima kasih sudah menjadi 'payung' bagiku selama satu semester ini. Melindungiku dari hal-hal yang jauh lebih buruk daripada hujan."

Aku menunduk sedikit untuk melihat wajahnya. "Dan terima kasih sudah menjadi alasan bagiku untuk tetap memegang payung ini, Vem."

Vema tersenyum, wajahnya sedikit merona, entah karena dingin atau karena hal lain. "Minggu depan ada pameran teknologi di aula sekolah. Kelas TKJ akan memamerkan jaringan server mini. Kamu mau datang melihat stan kelasku?"

"Tentu saja. Apa aku perlu tiket khusus?"

"Tidak perlu," Vema menggeleng. "Cukup datang sebagai... seseorang yang spesial bagiku."

Jantungku berdegup kencang, menyaingi suara rintik hujan. Kata-kata itu lebih berarti daripada seribu deklarasi cinta yang dramatis.

"Aku akan datang," janjiku mantap.

Kami sampai di persimpangan jalan menuju rumah Vema. Hujan mulai mereda menjadi gerimis halus. Aku menutup payungku.

"Hati-hati di jalan, Sarendra," ucap Vema. Sebelum berbalik, ia menyentuh lengan atasku sekilas—sebuah sentuhan yang singkat namun meninggalkan jejak hangat yang bertahan lama.

Aku berdiri mematung di persimpangan itu, menatap punggung Vema yang menjauh hingga hilang di balik tikungan gang. Seragam sisi kananku basah kuyup dan dingin, namun hatiku terasa sangat hangat.

Semester genap ini mungkin akan penuh dengan tantangan akademis, perbedaan jurusan, dan dinamika sosial kelas yang berbeda. Namun, mengetahui bahwa ada seseorang di gedung seberang yang menungguku saat jam istirahat, membuat semuanya terasa masuk akal.

Aku membenarkan letak kacamataku, lalu melangkah pulang dengan perasaan ringan. Sarendra, siswa kelas 10 AKL 1, kini memiliki narasi baru untuk ditulis. Bukan tentang hantu atau utang darah, melainkan tentang arsitektur hati yang sedang dibangun perlahan di tengah hujan kota Surabaya.

1
Kustri
alur'a bikin penasaran
ada apa dgn vema
lanjuuut...
cokocha
bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!