NovelToon NovelToon
Aku, Kamu, Dan Takdir

Aku, Kamu, Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Kisah cinta masa kecil / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Persahabatan / Berbaikan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita Karimah

Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.

Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9 Dipertemukan

“Tak semua pertemuan direncanakan oleh manusia, sebagian diatur Allah agar hati belajar jujur pada dirinya sendiri.”

—Aldivano Athariz—

Langit sore itu menggantung rendah, warnanya seperti kain sutra yang ditarik pelan dari biru ke jingga. Di teras rumah keluarga Cendana, Aldivano berdiri tegak. Tangannya terlipat rapi di depan tubuh, wajahnya tenang—namun di balik ketenangan itu, dadanya berdegup seperti ombak yang memukul karang berulang kali.

Ia tahu, pertemuan ini tidak sederhana.

Draven duduk di kursi kayu dengan punggung tegap. Diamnya seperti gunung—tak bergerak, namun menyimpan kekuatan. Tatapannya lurus, tajam, seperti cahaya yang menembus kabut.

Calvin berdiri di antara mereka, seperti jembatan yang menahan dua tebing agar tidak runtuh bersamaan.

“Aldivano,” ucap Draven akhirnya. Suaranya rendah, tenang, namun berat. “Duduk.”

Aldivano melangkah dan duduk. Gerakannya terukur, seperti seseorang yang sadar setiap langkahnya sedang dinilai.

Beberapa detik berlalu dalam sunyi. Sunyi yang terasa seperti udara sebelum hujan—menekan, menunggu pecah.

“Aku dengar kamu dekat dengan adikku,” kata Draven tanpa basa-basi.

Aldivano mengangguk pelan. “Saya tidak akan menyangkal.”

Nada suaranya jujur. Tidak berusaha memperindah, tidak pula merendah berlebihan. Seperti cermin yang memantulkan apa adanya.

Draven menyandarkan punggung, menautkan jemari. “Jelaskan.”

Aldivano menarik napas. Dalam-dalam. Seperti seseorang yang hendak menyelam, memastikan dadanya cukup udara.

“Saya menyukai Celine,” katanya. “Namun saya tidak pernah berniat mengganggu fokus hidupnya. Saya menjaga jarak, karena saya tahu… perasaan bukan sesuatu yang boleh dipaksakan.”

Draven menatapnya lama. Tatapan itu seperti hujan gerimis—tidak deras, tapi membuat dingin meresap perlahan.

“Lalu apa niatmu?” tanya Draven.

Aldivano menjawab tanpa ragu, “Menjaga. Sampai dia siap. Atau sampai Allah memutuskan sebaliknya.”

Kalimat itu jatuh seperti batu kecil ke danau tenang—menimbulkan riak, tapi bukan kerusakan.

Draven terdiam. Lama.

“Banyak lelaki bisa bicara,” katanya akhirnya. “Sedikit yang bisa menahan diri.”

Ia berdiri. Langkahnya mendekati Aldivano perlahan, seperti singa yang tidak perlu berlari untuk menunjukkan kuasa.

“Jika suatu hari kau melukai adikku,” lanjutnya, “aku tidak akan bicara lagi sehalus ini.”

Aldivano ikut berdiri. Ia menatap Draven lurus. Tidak menantang, tidak gentar.

“Jika suatu hari saya melukai Celine,” katanya tenang, “saya pantas menerima apa pun yang Kak Draven berikan.”

Keheningan kembali turun.

Lalu—Draven tersenyum tipis. Sangat tipis. Seperti cahaya yang lolos di sela awan.

“Itu jawaban yang ingin kudengar.”

Calvin menghembuskan napas lega, seperti orang yang baru sadar dadanya sempat terkunci.

Hari-Hari Celine yang Berlari

Sementara itu, hari-hari Celine bergerak cepat. Terlalu cepat.

Pagi dimulai dengan kamera ponsel menyala. Celine berdiri di depan rak buku, menjelaskan materi dengan suara lembut dan senyum hangat. Sebagai selebgram pendidikan, ia terbiasa berbicara seolah ribuan pasang mata sedang menatapnya—dan memang benar.

Namun di balik layar, Celine sering menarik napas panjang. Seperti pelari yang terus dipacu tanpa jeda.

Selesai merekam, ia berlari ke kampus. Rapat BEM menunggunya. Bulan Ramadhan semakin dekat, dan agenda kegiatan menumpuk seperti awan yang saling bertabrakan di langit.

“Kita perlu pembagian takjil,” kata salah satu anggota.

“Dan kajian rutin,” sambung yang lain.

Celine mencatat cepat. Tangannya bergerak seperti jarum jam—tepat, tanpa berhenti.

Namun di sela kesibukan itu, ia tetap berhenti ketika azan berkumandang. Bersama Reina, Alya, dan Nadhifa, ia menuju musala kampus.

Mereka berwudu bersama. Air mengalir di tangan seperti penghapus lelah.

“Capek ya?” bisik Alya.

Celine tersenyum. “Capek yang bikin tenang.”

Mereka salat berjamaah. Dalam sujud, Celine merasa dunia mengecil—seperti ruangan luas yang tiba-tiba menyisakan satu titik: dirinya dan Allah.

Lingkungan yang Menjaga

Sore itu, mereka duduk di taman kampus. Angin berembus lembut, seperti tangan ibu yang mengusap rambut.

“Aku bersyukur punya kalian,” ucap Celine tiba-tiba.

Reina menoleh. “Kenapa mendadak?”

“Karena lingkungan itu penting,” jawab Celine. “Kalau salah lingkungan, kita bisa ikut terbakar.”

Nadhifa mengangguk. “Seperti hadits itu.”

Celine tersenyum, lalu mengutip dengan suara pelan, seolah takut mengganggu angin:

“Rasulullah ﷺ bersabda,

Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi bisa memberimu minyak wangi, atau setidaknya kau mencium bau harum darinya. Sedangkan pandai besi bisa membakar pakaianmu, atau kau mencium bau tidak sedap darinya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Kata-kata itu melayang di udara, seperti aroma wangi yang tak terlihat tapi terasa.

“Aku merasa kalian seperti penjual minyak wangi,” lanjut Celine. “Tanpa sadar, aku ikut harum.”

Alya terkekeh. “Berarti kita harus konsisten ya.”

Beberapa hari kemudian, kampus semakin sibuk. Kabar kedatangan rombongan study tour dari beberapa sekolah membuat agenda padat.

Celine ditunjuk sebagai koordinator penyambutan.

Ia berdiri di aula, mengarahkan panitia. Suaranya tegas namun lembut, seperti sungai yang mengalir di antara batu-batu.

Namun di sela kesibukan itu, pikirannya sering melayang. Ada nama yang muncul tanpa diundang. Ada wajah yang datang seperti bayangan senja—tidak jelas, tapi selalu ada.

Aldivano.

Ia tak tahu sejak kapan, namun jarak yang ia jaga justru membuat kehadiran itu terasa lebih nyata. Seperti bintang yang tampak lebih terang ketika langit gelap.

Dua Dunia yang Berjalan Sejajar

Malam itu, Aldivano berdiri di balkon kantornya. Kota terhampar di bawah, lampu-lampu seperti kunang-kunang yang tersesat.

Ia teringat pertemuannya dengan Draven. Kata-kata lelaki itu masih terngiang.

Menjaga.

Ia menatap ponselnya. Ada notifikasi unggahan baru—Celine. Senyumnya di layar seperti cahaya kecil di tengah gelap.

Aldivano tersenyum samar.

Ia tidak mendekat. Tidak menjauh. Ia memilih berdiri di jarak yang Allah izinkan.

Seperti seseorang yang menunggu matahari terbit—tanpa memaksa malam pergi.

Cinta bukan selalu tentang memiliki.

Kadang ia hadir sebagai niat yang dijaga,

seperti api kecil yang ditutupi telapak tangan—

agar tetap menyala tanpa membakar.

Lingkungan, sahabat, dan niat yang lurus

adalah pagar-pagar halus

yang menjaga hati tetap pada jalurnya.

Dan di antara diam dan niat,

Allah selalu bekerja—

lebih teliti dari rencana manusia.

***

Pagi itu, kampus terasa seperti sarang lebah yang baru diguncang. Suara langkah kaki bersahutan, panitia hilir mudik, dan spanduk penyambutan terpasang rapi di sepanjang lorong utama. Udara dipenuhi aroma semangat dan gugup, seperti campuran kopi pahit dan harapan yang manis.

Hari ini, rombongan study tour dari beberapa sekolah akan datang.

Celine berdiri di tengah aula, clipboard di tangan, matanya menyapu setiap sudut ruangan. Posturnya tegak, sikapnya tenang—namun di balik ketenangan itu, pikirannya bekerja seperti mesin yang tak boleh berhenti.

“Tim konsumsi sudah siap?” tanyanya.

“Siap, Kak,” jawab salah satu panitia.

“Tim dokumentasi?”

“Sudah standby.”

Celine mengangguk. Gerakannya cepat, seperti konduktor yang memastikan setiap nada dimainkan tepat waktu.

Reina, Alya, dan Nadhifa berdiri tak jauh darinya. Mereka saling pandang, lalu tersenyum kecil. Mereka tahu, di balik ketegasan Celine, ada lelah yang disembunyikan rapi.

“Kamu istirahat bentar, Cel,” bisik Reina saat Celine lewat.

“Nanti,” jawab Celine singkat, namun senyumnya hangat. “Setelah semua jalan.”

Seperti biasa—Celine selalu menomorsatukan tanggung jawab.

Rombongan pertama tiba sekitar pukul sembilan. Bus besar berhenti di depan gerbang kampus, pintunya terbuka, dan suara riuh siswa-siswi memenuhi udara. Mereka turun dengan wajah antusias, mata berbinar seperti anak-anak yang baru pertama kali melihat laut.

Celine berdiri di barisan depan panitia penyambutan. Senyumnya terpasang, sikapnya ramah.

“Selamat datang di kampus kami,” ucapnya melalui pengeras suara. “Semoga kunjungan hari ini memberi pengalaman dan inspirasi.”

Tepuk tangan mengalun.

Namun di antara kerumunan itu, ada satu sosok yang tak seharusnya ada di sana—dan justru itulah yang membuat napas Celine tersendat sepersekian detik.

Aldivano.

Ia berdiri sedikit ke belakang, mengenakan kemeja sederhana berwarna gelap. Tangannya terlipat di depan tubuh, sikapnya tenang seperti biasa. Ia datang sebagai perwakilan mitra kampus—pemilik kafe edukasi yang bekerja sama dengan universitas dalam program literasi dan pengembangan minat siswa.

Kehadirannya tidak diumumkan.

Tidak direncanakan.

Dan karena itulah, pertemuan itu terasa seperti kilat di langit cerah—singkat, mengejutkan, namun membekas.

Pandangan mereka bertemu.

Hanya sepersekian detik.

Namun detik itu terasa memanjang, seperti waktu yang ditarik paksa agar hati sempat menyadari sesuatu.

Celine menelan ludah. Dadanya bergetar, seperti senar yang disentuh tiba-tiba.

Aldivano tetap tenang. Namun matanya—yang biasanya teduh—kini menyimpan sesuatu. Bukan kaget, bukan cemas. Lebih seperti rasa syukur yang tak diucapkan.

Seperti seseorang yang menemukan sesuatu yang tak ia cari, tapi diam-diam ia rindukan.

Acara dimulai.

Celine memandu rombongan dari satu gedung ke gedung lain. Ia menjelaskan dengan suara jelas, langkahnya terukur. Namun setiap kali ia berbalik, setiap kali ia berhenti di satu titik—ia sadar akan satu hal:

Aldivano selalu ada di jarak yang sama.

Tidak terlalu dekat.

Tidak terlalu jauh.

Seperti bayangan yang mengikuti tanpa mengganggu cahaya.

Beberapa kali, Celine merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Seperti burung kecil yang terjebak di dada. Ia mencoba mengabaikannya, memfokuskan diri pada penjelasan, pada siswa-siswi yang mengangkat tangan, pada kamera dokumentasi yang sesekali menyorotnya.

Namun rasa itu tetap ada.

Diam.

Mengendap.

Seperti embun di ujung daun—tak terlihat dari jauh, tapi jatuh ketika disentuh.

Di sisi lain, Aldivano menahan diri dengan cara yang hanya ia dan Allah yang tahu. Ia tidak mendekat. Tidak menyapa lebih dulu. Ia menghormati ruang yang Celine jaga.

Namun setiap gerak Celine ia perhatikan—bukan dengan mata lelaki yang ingin memiliki, tapi dengan hati seseorang yang ingin memastikan.

Ia melihat bagaimana Celine tersenyum pada para siswa, seperti matahari yang menghangatkan tanpa memilih. Ia melihat bagaimana Celine mengangguk sabar saat panitia melapor, seperti laut yang menerima sungai-sungai kecil tanpa meluap.

Dan di saat itulah, Aldivano semakin yakin:

Perasaannya bukan sekadar kagum.

Ia adalah niat yang ingin dijaga.

Istirahat siang tiba.

Rombongan diarahkan ke aula makan. Panitia mulai longgar, sebagian duduk, sebagian bersandar.

Celine akhirnya menghela napas panjang. Bahunya turun sedikit, seperti beban yang dilepas perlahan.

“Minum,” ucap Alya sambil menyodorkan botol.

“Terima kasih,” jawab Celine.

Ia meneguk air, lalu tanpa sadar menoleh ke arah pintu aula.

Dan di sanalah Aldivano berdiri.

Sendirian.

Seperti seseorang yang menunggu tanpa tahu apa yang ia tunggu.

Langkah Celine terhenti. Hatinya berdebar lagi—kali ini lebih keras, seperti genderang yang dipukul dari dalam.

Reina melihat ke arah yang sama. Matanya menyipit, lalu ia tersenyum samar.

“Cel,” katanya pelan. “Aku cek konsumsi sebentar.”

Alya dan Nadhifa saling pandang, lalu ikut berdiri.

“Iya, kami bantu,” kata Nadhifa cepat.

Dalam hitungan detik, Celine tinggal sendiri.

Dan jarak itu—yang selama ini dijaga—mendadak terasa terlalu luas.

Aldivano melangkah lebih dulu. Pelan. Tidak tergesa.

“Assalamu’alaikum,” ucapnya.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Celine. Suaranya lebih lembut dari biasanya.

Mereka berdiri berhadapan, jaraknya cukup—tidak melanggar batas. Namun udara di antara mereka terasa berbeda. Seperti ruang yang tiba-tiba dipenuhi aroma hujan pertama.

“Maaf,” kata Aldivano. “Aku tidak tahu kamu yang jadi koordinator hari ini.”

Celine tersenyum kecil. “Aku juga tidak tahu kamu akan datang.”

Kejujuran itu meluncur begitu saja.

Beberapa detik sunyi.

“Capek?” tanya Aldivano akhirnya.

Celine mengangguk pelan. “Sedikit. Tapi senang.”

Aldivano menatapnya. “Kamu selalu begitu.”

“Begitu bagaimana?”

“Menaruh senyum di depan, menyimpan lelah di belakang.”

Celine terdiam. Kata-kata itu seperti kaca bening—menunjukkan sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.

“Aku baik-baik saja,” katanya, lebih seperti meyakinkan diri sendiri.

Aldivano tidak membantah. Ia hanya berkata pelan, “Kalau suatu hari kamu ingin bilang tidak baik-baik saja, aku ada.”

Kalimat itu sederhana.

Namun dampaknya seperti batu besar yang jatuh ke danau tenang.

Jantung Celine berdetak tidak karuan.

Ia menunduk, menatap ujung sepatunya. Untuk pertama kalinya, ia merasa takut pada perasaannya sendiri.

Tak lama kemudian, panitia kembali. Suasana terpecah. Percakapan itu berakhir tanpa penutup.

Namun sejak saat itu, Celine tahu—sesuatu telah berubah.

Bukan di luar.

Di dalam.

Seperti arah angin yang bergeser pelan, namun cukup untuk mengubah arah layar.

Sore menjelang. Study tour berakhir dengan lancar. Rombongan pulang, aula kembali lengang.

Celine berdiri di tangga gedung utama, menatap langit yang mulai jingga. Warna senja menyentuh wajahnya, hangat seperti sentuhan yang tak kasatmata.

Ia memegang dadanya perlahan.

Detak itu masih ada.

Berbeda.

Lebih nyata.

Ia tersenyum kecil—senyum yang kali ini tidak ia pahami sepenuhnya.

Dan jauh di bawah tangga, Aldivano melangkah pergi tanpa menoleh. Namun di hatinya, ada doa yang terucap lirih:

Jika pertemuan ini adalah awal, jagalah ia tetap suci.

Jika ia hanya persinggahan, ajarkan aku ikhlas.

Langkah mereka menjauh—

namun takdir, diam-diam, justru semakin mendekat.

1
Nita
Aku terlalu takut untuk mendekat..dan aku terlalu takut untuk menjauh...karena ak jgu Diam-diam mencintaimu..
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...
Nita Karimah: wahhh... siapa nih??
total 1 replies
Ai_Li
Saya mampir kak
Ai_Li: Mampir juga ya kak🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!