NovelToon NovelToon
Om Benny, I Love You

Om Benny, I Love You

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan rahasia / CEO / Romantis / Cinta Terlarang / Nikah Kontrak
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: chiisan kasih

Pernikahan rahasia. Ciuman terlarang. CEO dingin yang jatuh pada gadis tomboy.
Benny, seorang CEO yang anti wanita dan memilih hidup sendiri, terpaksa menikah dengan Cessa—putri sahabatnya yang berusia delapan belas tahun. Pernikahan mereka dimulai sebagai kontrak penuh aturan: tanpa cinta, tanpa sentuhan, tanpa perasaan.
Namun satu ciuman menghancurkan segalanya.
Tinggal serumah membuat batasan runtuh, kecemburuan tumbuh, dan hasrat berubah menjadi dosa. Saat Cessa mencintai tanpa ragu, Benny justru berperang dengan prinsip, moral, dan ketakutan terbesarnya: jatuh cinta pada wanita yang seharusnya tak boleh ia miliki.
Ini bukan kisah cinta yang aman.
Ini kisah tentang memilih perasaan… atau menghancurkan hidup sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiisan kasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Aku Pulang, Karena Aku Memilih”

Pagi itu terasa terlalu tenang.

Cessa duduk di tepi ranjang kamar nenek, menatap koper kecil yang sudah tertutup rapi. Tidak banyak barang. Ia tidak berniat pindah setidaknya belum. Tapi koper itu bukan simbol pergi.

Itu simbol kesiapan.

Nenek berdiri di ambang pintu, memperhatikannya tanpa berkata apa-apa.

“Nek,” ucap Cessa akhirnya, “kalau seseorang berubah… apa itu cukup untuk memulai lagi?”

Nenek tersenyum lembut. “Memulai lagi tidak butuh perubahan. Itu butuh keberanian untuk bertahan setelah tahu risikonya.”

Cessa mengangguk.

Ia mengambil ponsel.

Nama Ben ada di layar—belum dibuka sejak semalam. Bukan karena ia menghindar. Tapi karena ia ingin memastikan satu hal:

keputusannya hari ini tidak lahir dari rindu, rasa bersalah, atau tekanan.

Melainkan dari dirinya sendiri.

Di kantor, Benny berdiri di depan jendela ruang kerjanya.

Kota terbentang luas, tapi pikirannya terpusat pada satu hal:

hari ini.

Ia tidak tahu apakah Cessa akan datang.

Ia tidak tahu apakah semua usaha ini cukup.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak mencoba mengendalikan hasil.

Ia hanya siap menerima.

Sekretarisnya masuk pelan. “Pak, ada rapat dewan direksi jam sepuluh.”

“Aku tahu,” jawab Benny. “Aku akan datang.”

Sekretaris ragu. “Pak… isu tentang Anda dan Diana masih dibicarakan.”

Benny menoleh. “Biarkan.”

“Apa kita tidak perlu klarifikasi tambahan?”

“Tidak,” kata Benny tenang. “Hari ini aku tidak akan sembunyi.”

Rapat dewan berlangsung tegang.

Beberapa wajah serius. Beberapa dingin. Beberapa terang-terangan tidak setuju dengan keputusan Benny mengurangi kendali operasional.

“Ini tidak rasional,” ujar salah satu direktur. “Anda mempertaruhkan stabilitas perusahaan demi urusan personal.”

Benny duduk tegak. “Saya justru mengamankan perusahaan.”

“Dengan cara apa?” desak yang lain.

“Dengan memastikan CEO-nya tidak hidup setengah-setengah,” jawab Benny mantap. “Keputusan saya bukan impulsif. Ini koreksi.”

Hening.

“Jika ini dianggap kelemahan,” lanjut Benny, “maka saya siap menerima konsekuensinya.”

Beberapa orang saling berpandangan.

Dan di sudut ruangan—

Diana duduk sebagai pengamat.

Wajahnya datar. Tapi matanya tajam.

“Menarik,” ucap Diana akhirnya. “Anda mengorbankan kendali untuk integritas.”

Benny menatapnya. “Saya memilih hidup yang jujur.”

Diana tersenyum tipis. “Mari kita lihat… apakah dunia mengizinkannya.”

Saat rapat berakhir, Benny keluar ruangan dengan langkah mantap.

Ia tidak menoleh. Tidak mencari siapa pun.

Namun di lobby gedung—

ia melihat Cessa.

Berdiri. Tenang. Dengan koper kecil di sampingnya.

Benny berhenti berjalan.

Waktu seolah melambat.

Cessa menatapnya. Tidak tersenyum. Tidak menangis. Tapi matanya jernih—tanpa ragu.

“Ben,” panggilnya pelan.

Benny mendekat. Setiap langkah terasa seperti ujian.

“Kamu datang,” katanya lirih.

“Iya,” jawab Cessa. “Aku mau bicara.”

Benny mengangguk. “Ke mana?”

“Ke rumahmu,” jawab Cessa. “Kalau kamu masih mau.”

Jantung Benny berdetak keras. “Aku selalu mau.”

Di mobil, mereka diam.

Bukan diam canggung.

Bukan diam penuh luka.

Diam yang penuh makna.

“Kenapa hari ini?” tanya Benny akhirnya.

Cessa menatap jalanan. “Karena hari ini aku tidak takut lagi.”

Benny menggenggam setir lebih erat. “Takut apa?”

“Takut kehilangan diriku,” jawab Cessa jujur. “Aku sudah menemukannya kembali.”

Benny menelan ludah. “Dan sekarang?”

“Sekarang aku ingin tahu,” Cessa menoleh, “apakah aku bisa bersamamu tanpa menghilang.”

Benny menatapnya penuh kesungguhan. “Aku akan menjaganya.”

“Bukan tugasmu,” koreksi Cessa lembut. “Tugasku sendiri.”

Benny tersenyum kecil. “Benar.”

Rumah itu menyambut mereka dengan sunyi yang familiar.

Cessa berdiri di ruang tengah, menatap sekeliling. Tidak ada perubahan besar. Tapi rasanya… berbeda.

“Aku pulang,” ucap Cessa pelan. Bukan sebagai pengumuman—tapi pengakuan pada dirinya sendiri.

Benny berdiri di hadapannya. “Aku tidak akan bertanya berapa lama.”

Cessa mengangguk. “Dan aku tidak akan pergi tanpa bicara.”

Mereka berdiri berhadapan.

Tidak ada drama.

Tidak ada air mata.

Hanya dua orang yang akhirnya berdiri setara.

“Aku mencintaimu,” kata Benny. Tidak tergesa. Tidak ragu. “Dan aku tidak akan lari lagi.”

Cessa menarik napas dalam. “Aku menerimanya—bukan karena kamu berubah.”

Benny menatapnya penuh perhatian.

“Tapi karena kamu memilih berubah,” lanjut Cessa. “Dan aku memilih tinggal.”

Benny tersenyum—lega, hangat, penuh rasa syukur.

Ia tidak langsung memeluk.

Ia bertanya, “Boleh?”

Cessa mengangguk.

Pelukan itu sederhana. Tidak menggebu. Tidak posesif.

Aman.

Malam itu, mereka duduk berdampingan di sofa.

Cessa membuka koper kecilnya dan mengeluarkan satu benda terakhir—buku catatannya.

“Aku mau kamu baca ini,” katanya.

Benny menerimanya dengan hati-hati.

Di halaman terakhir tertulis:

Aku tidak kembali karena ditunggu.

Aku kembali karena dipilih.

Dan kali ini—aku memilih juga.

Benny menutup buku itu dengan mata berkaca-kaca.

“Terima kasih,” ucapnya lirih.

Cessa tersenyum kecil. “Jangan ucapkan terima kasih. Jalani saja.”

Namun di kejauhan, badai belum sepenuhnya reda.

Di apartemennya, Diana menatap layar laptop dengan sorot mata tajam.

Judul email di depannya membuat sudut bibirnya terangkat tipis.

Audit Internal Khusus – Kepemimpinan Benny Dirgantara

“Bagus,” gumamnya. “Kalau begitu… kita lihat seberapa kuat cintamu saat dunia benar-benar menyerang.”

Ia menutup laptop.

Cessa bersandar di bahu Benny, menatap langit-langit.

“Ben,” katanya pelan.

“Iya?”

“Kalau nanti dunia tidak ramah…”

Benny menoleh. “Aku tetap di sini.”

Cessa tersenyum. “Kalau begitu… aku juga.”

Cessa akhirnya pulang—bukan karena dibujuk,

melainkan karena memilih.

Namun ketika cinta mereka mulai berdiri kokoh,

serangan terakhir dari dunia luar baru saja dimulai.

1
Dwi Winarni Wina
yakin tak pernah normal dekat sm cessa benny😀
Dwi Winarni Wina
pergi yg jauh cessa biar beni kehilanganmu..
Dwi Winarni Wina
aku aja benny suka sama cessa tp gengsinya tinggi mau mengakuimya😀
Dwi Winarni Wina
Si Benny sebenarnya ada perasaan tapi ge ngsinya terlalu tinggi😀
Dwi Winarni Wina
biarkan aja perasaanmu tumbuh Benny...
Dwi Winarni Wina
casse keras kepala banget kekeh pada pilihannya...
Dwi Winarni Wina
cessa nekat ingin tetep menikah sm Benny sahabat baik ayahnya...
Dwi Winarni Wina
berarti pria normal ben, terima aja lamaran cessa😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!