Delaney Harper ditinggalkan oleh tunangannya tepat di hari pernikahan mereka. Rumor perselingkuhannya menyebar dengan cepat, membuat ayah Delaney murka. Namun, ibu tirinya memiliki rencana lain.
Ia memaksa Delaney menikah dengan seorang pria yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Seorang pria bernama Callum Westwood.
Callum Westwood, CEO Westwood Corp, adalah sosok yang hampir tidak Delaney kenal, tetapi reputasinya dikenal oleh semua orang. Dingin. Kejam. Tak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Dan ironisnya… dia adalah tetangga Delaney, hanya dua blok dari rumahnya—meski mereka belum pernah sekalipun berbicara.
Selain menyelamatkan Delaney dari skandal kehamilan di luar nikah, pernikahan itu ternyata merupakan cara Callum untuk membayar sebuah hutang besar dari masa lalu. Hutang yang ia tanggung sejak sepuluh tahun lalu dan ia simpan rapat-rapat sebagai rahasia.
Namun, apa sebenarnya yang terjadi sepuluh tahun lalu?
Dan bagaimana nasib pernikahan tanpa cinta ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
“Kamu beneran mau pakai ojek? Nggak nunggu Papa dulu?”
Gelengan Delanay menjawab Clara yang tengah menata makanan. Sedari tiga puluh menit yang lalu, keduanya memang asyik masak berdua. Katakanlah ini masak bersama ibu mertua. Dan Delanay cukup senang karena Clara orangnya asyik.
“Aku harus ke tempat klien dulu, Ma. Sekitar jam setengah 7, jadi lebih baik pakai ojol aja,” kata Delanay. Dia juga tidak ingin merepotkan Papa Ethan.
“Ah, begitu.”
Meletakkan semangkuk sup, Delanay kembali ke dapur. Menerima uluran piring dari Mbak Nunung.
“Emang kamu nggak ada niat berhenti kerja, Sayang?” tanya Clara lagi.
Delanay menggeleng. Jujur.
“Belum kepikiran, Ma.”
Sebenarnya, Delanay sudah berpikir untuk membeli saham investasi, mungkin di usia 40 tahun nanti. Namun, dengan keadaan sekarang, dia harus berpikir ulang jika ingin bekerja selama itu.
Anaknya tidak mungkin ditinggal. Begitu anak ini lahir, setidaknya Delanay harus bisa mengurusnya sampai dia bisa mandiri. Toh, di luar sana, banyak kejadian anak menjadi tidak terurus lantaran orang tuanya sibuk kerja. Mereka jadi melarikan diri ke jalan yang salah. Dan Delanay pastikan dia tidak ingin anaknya menjadi seperti itu.
“Kalau gitu cuti, Nak.” Sebuah suara menyahut dari pintu masuk dapur.
Delanay bisa menemukan Ethan datang. Pria paruh baya yang masih tampak gagah dan tampan di usia senjanya itu tersenyum pada sang menantu.
“Cuti?”
“Iya cuti. Kamu sedang hamil setidaknya cuti selama 1 tahun, tidak apa-apa kan? Papa juga yakin, Elara pasti akan mengizinkanmu,” terang pria yang berjalan mendekati Clara, mengecup lembut pipi sang istri.
“Ish main sosor aja!” omel Clara sambil menyikut perut suaminya.
Ethan terkekeh. “Aku sudah wangi, Yang.”
Sementara Delanay? Hanya bisa melongo.
Pertama, melihat kemesraan pasangan itu membuat Delanay blushing. Malu, sekaligus iri. Andaikan dia bisa begitu. Lalu yang kedua, Delanay jelas terkejut mendengar Ethan yang menyuruhnya cuti selama setahun.
Tolong garis bawahi, ketik dengan huruf kapital, dan cetak dengan huruf tebal. CUTI selama SETAHUN. Memangnya Delanay bosnya? Dia yang hanya bawahan, kacung, rakyat jelata, disuruh cuti selama satu tahun? Bangkrut iya.
Kalau hanya bangkrut, Delanay tidak khawatir. Justru dia akan khawatir ketika Clara dan Ethan memberinya tumpangan hidup. See? Dia tidak ingin disebut sebagai menantu tak tau diri.
“Nanti cutinya pas mau lahiran aja, Pa.”
Ethan menatap Delanay lekat. Wajahnya yang sama persis Callum, namun versi yang lebih dewasa, cukup membuat Delanay grogi. “Kenapa harus nunggu mau lahiran? Kamu bisa cuti dari sekarang. Jangan khawatir tidak ada kerjaan di sini, kamu tinggal temani Mamamu di rumah seharian. Ya kan, Sayang?”
“Setuju,” jawab Clara cepat.
Mereka bertiga sudah duduk di kursi masing-masing. Tapi belum ada yang berinisiatif mengambil makanan. Mereka sibuk mengobrol dengan Delanay.
“Eng, nanti kupikir lagi, Pa.”
Di sini Delanay agak berbohong. Dia memang akan memikirkan saran Ethan. Namun Delanay pikir, dia tidak akan menyetujui saran tersebut.
Harapannya saat ini, bekerja untuk menabung. Setelah itu Delanay akan hidup mandiri. Entah dimanapun tempatnya.
Mungkin, bagi Clara dan Ethan yang belum mengetahui perihal kontrak pernikahan, mereka pasti berpikir Callum dan Delanay akan selamanya saling mengikat. Sayang, perceraian itu ada di ujung pernikahan Delanay. Kata Callum, satu tahun sampai anak Delanay tercukupi hidupnya. But, Delanay tidak akan menunggu selama itu.
“Ya udah, yuk, sarapan dulu. Udah jam 6, nanti kamu terlambat,” kata Clara.
Delanay lantas mengangguk. Sigap membalik piringnya.
Selagi menunggu Clara melayani Ethan, wanita itu melirik kursi di sebelah kursi Clara. Itu kursi yang semalam Callum duduki, saat mereka makan malam.
Pria itu tidak pulang dari tadi malam. Sepertinya dia menginap di apartemen dan tidak akan kembali ke sini. Perjanjian mereka mulai berlaku sejak Delanay mendapat salinan file dari Rayhan. File kontrak yang kini tersimpan di ponsel Delanay.
“Ma, apa Kak Callum—”
“Lho, Den. Aden datang?”
Delanay buru-buru menoleh ke arah Mbak Nunung yang berdiri di depan Callum. Mereka nyaris saling bertabrakan di pintu dapur.
Dan seperti merasa ada yang mengawasinya, Callum menoleh pada Delanay. Mukanya tetap datar.
“Hm. Aku mau numpang makan di sini. Di apartemen nggak ada makanan,” balas pria yang pagi ini masih mengenakan kaus hitam dan celana training senada.
Mbak Nunung mengangguk. Ia lantas minggir. Membiarkan sang tuan muda masuk.
Callum kemudian mendekat ke meja makan. Duduk di sebelah Clara.
“Tumben?” tanya Ethan. Nadanya penasaran tapi wajahnya biasa saja.
“Malas masak,” jelas Callum. Dia menunggu Mbak Nunung yang tadi berjalan kembali ke konter dapur. Mengambilkan peralatan makan lagi. Sesekali Callum mengamati Delanay yang menyendok sup ayam.
“Biasanya juga order?” Kali ini Clara yang buka suara.
“Malas.”
Clara menghela napas. Anak laki-lakinya itu benar-benar membuatnya pasrah. Hampir semua yang ada pada Callum, adalah gen Ethan. Ketampanan, kepintaran, bentuk tubuh, juga kelakuan yang terkadang hanya bicara satu-dua kata. Persis robot, kaku dan datar.
“Silakan, Den.” Mbak Nunung meletakkan piring dan sendok ke depan Callum.
Pria itu cuma memandangnya sebentar. Kemudian menatap Delanay yang juga menatap padanya.
“Apa?” Mata Delanay bertanya demikian.
“Ambilkan,” titah pria itu. Terdengar datar bin arogan.
Delanay lekas menaruh kembali sendoknya. Tangan mungil itu meraih piring Callum dan mulai mengisinya dengan nasi.
“Kakak mau pakai lauk apa?” tanya wanita itu. Dia belum tau selera makan Callum, sepenuhnya.
“Samakan dengan punyamu.”
Baiklah, Delanay dengan cekatan menambahkan sup, sate sapi, dan beberapa gorengan. Begitu selesai, dia menaruhnya ke depan Callum yang dengan sigap mengangkat sendok. Makan dengan lahap. Tak lupa dia sendiri menarik mangkuk sambal.
Really? Sedari tadi kelakuan Callum membuat kedua orang tuanya melongo.
Mereka saling pandang. Takjub dengan kejadian langka di depannya.
Callum memang pria yang suka memaksa. Namun dia tidak pernah menyuruh orang lain mengambilkan isi piringnya, kecuali waktu kecil, itupun pada Mbak Nunung. Clara bahkan tidak pernah.
Diam-diam, Clara mengulum senyum. Pria kecilnya itu mulai kembali ke masa lalu.
“Oh ya, Call. Kamu berangkat kerja jam berapa?”
“Jam 7.”
“Nggak bisa jam setengah 7 aja?” tanya Clara lagi. Dia melirik Delanay yang berhenti mengunyah, lalu wanita dengan dua anak itu mengedipkan mata.
“Nggak bisa,” tandas Callum cepat.
“Kenapa?”
“Aku berangkat setelah karyawan.” Itu jadwal paten Callum. Jadi dia bisa menghitung siapa saja pekerja yang terlambat atau bolos.
Clara pura-pura mendesah kecewa. “Yah, padahal Mama mau minta tolong ke kamu. Kalau bisa kamu anterin Delanay buat ketemu kliennya. Kasihan dia harus cari ojek dulu. Tapi karena kamu nggak bisa, Mama minta tolong Sean aja deh. Kayaknya dia bakal seneng berang—”
“Aku aja,” serobot Callum. Berubah pikiran.
Sontak, seringai Clara tercetak jelas. Sementara Ethan hanya bisa menggeleng, takjub dengan kelakuan sang istri.
“Beneran?” desak Clara. “Tadi bilangnya nggak bisa? Kalau emang nggak bisa, nggak usah dipaksa, Call. Mama mending telpon Sean aja, dia—”
Entah sengaja atau tidak, sendok dan piring Callum berdenting kasar. Dia menatap tajam wajah ibunya, tau betul kalau wanita itu berusaha menutupi seringai. Tapi Callum hanya masa bodoh. Dia memilih berkata, “Mama nggak perlu panggil Sean. Aku bisa antar Delanay.”
“Bagus deh kalau gitu.”
Dan di sarapan pagi ini, jantung Delanay berdegup kencang. Benarkah dia akan diantar Callum?
Seolah wish list Delanay, ‘diantar suami berangkat kerja’, bisa terkabul berkat pria itu. Dan ini kedua kalinya Delanay semobil dengan Callum yang mengenakan setelan kerja lengkap. Saking gugupnya, selama di mobil, dia diam. Tak berani bicara sedikit pun.
“Di mana?”
“Hah? Apa?” Delanay kaget mendengar pertanyaan Callum yang terkesan tiba-tiba.
“Di mana rumah klien mu?” tanya Callum datar. Menahan sabar.
“Dekat Kota Tua.”
Porsche Callum lantas menerobos keramaian. Selama di perjalanan, pria itu sedikitnya sebanyak tiga kali melirik Delanay yang tiba-tiba berubah diam. Di ruangan yang bergerak itu rasanya canggung. Bahkan setelah mengatakan tujuannya, Delanay tidak berkata apapun.
“Navi,” ucap Callum tiba-tiba.
Delanay menatap pria yang mengemudikan setir itu. “Maksud, Kakak?”
“Nanti malam pakailah gaun Navi.”
Lho? Bukannya Callum bilang tidak ada dresscode? Apa ini dadakan?
mantap thor😂
jadi pingin cepet2 ngliat mereka ke pesta🥰
makin seeruuu nih🥰
seruuu banget thor😄
callum kok dingin ky es balok banget sih