Setelah pahlawan terhebat berhasil mengalahkan Raja Iblis, dikhianati manusia. Dituduh berbuat kejahatan dan tak ada yang mempercayai semua yang dikatakan.
Alih-alih demi terciptanya kedamaian dunia, pahlawan bernama Rapphael Vistorness pun membiarkan dirinya ditangkap dan dihukum mati. Siapa sangka, dirinya malah mengulang waktu pada saat pertama dipanggil dari dunia lain.
Karena telah kembali, maka tugas pahlawan bukanlah tanggung jawabnya lagi. Bersantai dan berpetualang di dunia ini, saatnya untuk menikmati kehidupan tanpa beban kepahlawanan. Namun ia tak pernah lupa untuk mencari informasi, siapa dalang atas nasib buruknya dimasa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanto Trisno 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahlawan Baru
Pahlawan terpanggil dari dunia lain, Rent Kuhichi. Merupakan seorang pelajar yang telah mendapatkan anugerah sebagai pahlawan. Baru beberapa hari setelah diangkatnya menjadi seorang pahlawan, ia dididik, dilatih secara maksimal.
Ini adalah hari ketujuh memasuki dunia yang baru. Rent Kuhichi sendiri telah belajar di perpustakaan istana. Kehidupannya terjamin dan makanan diantar secara teratur.
"Tuan Rent, makanan sudah siap," ucap seorang pelayan wanita yang datang menemui pemuda itu. Ia berdiri dengan sopan, sedikit menunduk dan kedua tangannya di letakan di bawah perutnya.
"Ah, baiklah ... saatnya makan, bukan?" Rent berdiri dari duduknya. Lalu menghampiri pelayan tersebut dan memegang tangannya. "Terima kasih."
Namun pelayan itu mundur beberapa langkah. Sebelum akhirnya Rent menangkapnya dalam pelukannya. Karena pelayan itu cukup cantik dan mempesona, membuat pahlawan tersebut tergoda.
Meski baru berusia lima belas tahun, pengalamannya dalam cerita dewasa dan sebagainya telah memasuki level menengah.
Ia beberapa kali menggoda pelayan cantik itu. Namun sang pelayan hanya merasa jijik dengan sikap pemuda itu. Bahkan ingin rasanya pergi dan mengundurkan diri dari pelayan. Namun karena statusnya, ia tidak dapat pergi seperti yang diinginkan.
"Ahh, harum sekali. Wajahmu yang cantik dan dadamu yang besar ini, aku mau semuanya. Malam ini, aku ingin dipeluk olehmu di tempat tidur."
Sang pelayan memejamkan matanya. Rasa jijik semakin membuatnya muak. Namun tidak bisa melawan orang yang dianggap sebagai pahlawan oleh dunia.
Saat makan pun harus disuapi oleh pelayan yang bergantian. Jumlah pelayan di tempatnya ada puluhan orang. Yang bertugas masing-masing melayani makan, minum dan sebagainya.
Hari-hari yang dilewati pahlawan dari dunia lain itu sangat menyenangkan. Bahkan perbuatan buruknya tidak dianggap sebagai pelanggaran. Pihak kerajaan justru memberikan lebih banyak pelayan wanita untuk menyenangkannya.
Namun itu baru awal dari perjalanan panjang Sang Pahlawan. Awalnya ia diperlakukan sangat baik dan dihormati semua orang. Begitu juga yang dialami pahlawan terdahulu, Rapphael Vistorness.
Saat itu pula, menjadi primadona Kerajaan Dunggos. Pada akhirnya, sikap yang dimiliki oleh Rent Kuhichi tidak mencerminkan kepribadian seorang pahlawan.
"Kalian para pelayan, harusnya tunduk padaku. Hingga pada saatnya nanti, sang putri juga harus menjadi milikku," kata Rent menyombongkan diri.
"Baik, Tuan." Begitu rasa patuh para pelayan terhadap majikannya yang seenaknya sendiri. Meski dalam hati menolak. Namun gaji yang diberikan cukup tinggi.
Sebagai pahlawan, tugas utamanya adalah membunuh Raja Iblis. Hingga waktunya ia harus berlatih demi menyiapkan diri untuk bertarung. Kali ini ia dijadwalkan berlatih pedang. Karena pahlawan, senjata utamanya adalah pedang yang merupakan pusaka suci.
"Tuan, saatnya latihan. Instruktur sudah menunggu di lapangan." Seorang pria paruh baya datang menyampaikan pesan. Meminta Rent untuk menjalani jadwal latihan.
"Ah, baik, baik. Nanti aku datang. Sangat malas latihan. Andai saja langsung diberi Pedang Suci. Lebih baik daripada harus latihan."
Meski enggan, Rent tetap mengerjakan apa yang seharusnya dilakukan. Berlatih seperti seharusnya adalah hal biasa. Karena setiap pahlawan pasti perlu berlatih agar menjadi lebih kuat.
Rent Kuhichi berdiri di lapangan latihan, pedang di tangan, siap untuk berlatih. Mengingat dirinya adalah seorang pahlawan terpanggil, maka dia adalah pilihan semua orang. Memang seharusnya berlatih agar menjadi lebih kuat. Sehingga dengan begitu, ia tidak mengecewakan orang yang memanggilnya di dunia ini.
Dia yang telah dipanggil oleh Pendeta Rantao Musbeskus, seorang pendeta yang terkenal di kerajaan, untuk menjadi pahlawan Kerajaan Dunggos. Menjadikan pendeta itu panutan. Juga menuruti semua yang diperintahkan.
"Baiklah, Rent," kata instruktur latihan, seorang pendekar pedang yang berpengalaman. "Hari ini kita akan berlatih teknik dasar pedang. Kamu harus fokus dalam berlatih. Jangan pernah malas dan lengan."
Rent mengangguk, dan instruktur mulai memberikan instruksi. Dia mendengarkan dengan saksama, dan mulai berlatih teknik pedang yang diajarkan. Meski masih dengan rasa malas, tetap harus berlatih.
Dia terpaksa berlatih dengan tekun, mengulang gerakan yang sama berulang kali. Keringat mengalir dari dahinya, tapi latihannya masih belum selesai. Dia tahu bahwa menjadi pahlawan kerajaan bukanlah hal yang mudah, dan dia harus siap untuk menghadapi tantangan.
"Guru Tua, kapan aku bisa berhenti?" keluh Rent. Rasanya bosan mengulang gerakan yang sama berulang kali.
"Gerakanmu masih kaku dan tidak benar. Sekarang, coba saat gerakan itu, kamu lakukan seperti ini dan lakukan dengan benar. Jangan tegang dan tetap fokus pada tujuan."
Instruktur memberikan umpan balik dan saran, membantu Rent memperbaiki tekniknya. Rent mendengarkan dengan saksama, dan terus berlatih. Ada rasa ketidakpuasan namun tetap melakukannya.
Setelah beberapa jam berlatih, instruktur memanggil Rent untuk berhenti. "Kamu telah melakukan dengan baik, Rent," katanya. "Tapi kamu masih perlu banyak berlatih untuk menjadi pahlawan yang sebenarnya."
Rent mengangguk, dan mengambil napas dalam-dalam. Dia tahu bahwa dia masih memiliki banyak yang harus dipelajari, tapi dia siap untuk menghadapi tantangan.
"Tenang saja, aku pasti akan menjalankan tugas pahlawan dengan baik. Sehingga semua orang memuji dan memujaku. Suatu hari nanti, aku akan membunuh Raja Iblis."
Instruktur tersenyum, dan memberikan tepukan pada bahu Rent. "Aku yakin kamu akan menjadi pahlawan yang hebat, Rent. Teruslah berlatih, dan jangan pernah menyerah."
Hari-hari santai yang diharapkan tidak ada lagi. Setiap hari ia akan dipaksa berlatih pedang. Karena terlalu lelah, pada malam harinya ia tidak dapat menikmati hidupnya. Setelah makan, mandi lalu tidur dengan pulas. Begitu hari-hari terus berulang.
Hari berikutnya berbeda dari sebelumnya. Kini ada instruktur baru yang akan mengajarinya. Namun kali ini bukan hanya berpedang.
Rent Kuhichi berdiri di lapangan latihan, pedang di tangan, siap untuk berlatih sihir api. Dia telah mempelajari teknik dasar pedang, dan sekarang saatnya untuk mempelajari sihir.
Instruktur sihir, seorang penyihir yang berpengalaman, memberikan instruksi kepada Rent. "Baiklah, Rent. Hari ini kita akan berlatih sihir api. Kamu harus menggunakan sihir ini untuk menghadapi Raja Iblis."
Rent mengangguk, dan instruktur mulai mengajarkan mantera sihir api. Mantera itu panjang dan rumit, tapi Rent tetap mendengarkan meski ada panduannya di perpustakaan istana.
"Kekuatan api dari segala jenis api yang menyala, datanglah memenuhi panggilanku, elemen api, Bola Api!" Rent mengucapkan mantera itu dengan suara yang jelas dan kuat.
Api mulai muncul di ujung jari Rent, dan dia merasakan kekuatan sihir mengalir melalui tubuhnya. Dia mengarahkan api ke target yang telah disiapkan, dan api itu meledak dengan keras.
"Bagus. Kamu sangat berbakat dalam menggunakan sihir api." Instruktur wanita itu cukup puas dengan hasil latihan. Lalu memberi waktu jeda.
Namun tatapan Rent, tertuju pada tempat yang tidak biasa. Ia melihat instruktur wanita itu dengan tatapan tak biasa. Ia sangat senang berlatih sihir dibandingkan dengan berlatih pedang dari instruktur pria.
Instruktur memberikan ucapan selamat lalu memberi saran, agar bola api memiliki daya hancur lebih kuat. Juga membentuk bola api dalam pikirannya. Juga menghafal mantera untuk teknik api lainnya.
***