"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.
BLAMM!!
Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.
"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.
Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.
Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.
Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?
Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah
Heru menunggu di teras vila bersiap akan mengantar Aya segera ke rumah Haura setelah berganti pakaian dan mengambil barang-barangnya. Rama hanya bisa menatap Aya yang terburu-buru--dalam diam.
Niatnya memperbaiki situasi, menghangatkan hubungan, membangun kepercayaan, pupus sudah. Akhirnya ia mengalah, saat Aya berkata dengan tegas akan pulang ke rumah uminya sore itu juga..
Ia kecewa, Rama tahu. Ia marah, sudah jelas Rama merasakannya beberapa hari terakhir ini. Dan Rama hanya bisa merutuki diri yang masih tenggelam dengan rasa bersalah dan rasa tak tega pada Amel. Manusia macam apa dirinya?
"Aya, aku tahu kamu sudah lelah dengan janjiku. Tapi, kali ini aku masih berharap kamu mau menungguku menyelesaikan semuanya dengan Amel."
Aya hanya diam, tapi ia mendengar jelas setiap kata yang keluar dari mulut Rama. Tangannya bergerak cepat mengumpulkan barang.
"Tolong jangan buru-buru mengurus ke KUA. Kasih aku kesempatan, pernikahan kita baru saja diketahui orang-orang. Bagaimana nanti kalau mereka tahu kita sudah akan berpisah secepat ini? "
Tangan Aya terhenti. Matanya menatap tajam pada Rama yang duduk di sisi ranjang dengan tatapan sendu padanya.
"Kamu masih memikirkan omongan orang dan reputasi keluargamu daripada hancurnya hati umi dan keluargaku? " tanya Aya dengan mata memerah menahan tangis.
"Bukan begitu, aku juga mencemaskan nama baik keluarga mu. Maafkan aku sudah membuat kekacauan ini."
Rama mendekat, dan mencoba memeluk Aya dari belakang. Aya buru-buru menepis dan berjalan cepat keluar kamar setelah selesai berkemas.
Rama masih berdiri terpaku di kamar, memandang nanar punggung Aya yang makin menjauh.
Ia berjalan keluar, melihat mobil yang kini sudah menjauh pergi, berselisih dengan mobil orang tuanya yang baru sampai untuk menjemputnya. Malam ini ia juga akan kembali ke rumah. Reservasi tambahan sehari terpaksa dibatalkan.
Mobil terparkir di teras vila, semua yang ada di mobil keluar menghampiri Rama.
"Akhirnya Aya langsung pulang? " tanya Jaka
Rama mengangguk, wajahnya penuh gurat kekecewaan.
"Ya sudah, jangan dipaksakan. Kamu lekas berkemas. Kami tunggu sambil istirahat."
Rama berjalan dengan langkah gontai ke kamarnya. Jaka, Raka dan Harum duduk di sofa ruang tengah. Harum masih murung setelah perseteruannya dengan Haura tadi.
"Mama terlalu impulsif tadi, harusnya biarkan bu Haura. Bicara seperlunya hanya pamit, " tegur Jaka dengan nada lembut.
"Mama sedih, Rama disikapi dingin seperti itu. Makanya mama klarifikasi. Ini memang nggak sepenuhnya salah Rama, Pa. Mama harus bela Rama."
"Mereka nggak peduli itu, yang mereka tahu Rama yang mengabaikan perasaan Aya. Sementara, jangan komunikasi dulu dengan mereka. Tahan-tahan diri ya, jangan hubungi Aya dulu."
Harum hanya diam. Ia tak sempat meminta maaf langsung pada Aya. Aya buru-buru minta kembali ke villa. Ia menyesal sudah membuat bu Haura menangis.
***
"Terima kasih, Pak Heru."
Heru mengangguk, dan menginjak pedal gas. Mobil menderu, meninggalkan jejak di jalan bertanah depan rumahnya yang sederhana.
"Assalamu'alaikum, " sapanya sambil membuka pintu.
Haura tak terlihat di ruang tamu ataupun ruanh tengah. Ida ada di dapur membuat sesuatu.
"Tante, umi mana? " tanya Aya pada adik bungsu uminya.
"Di kamar, Ya. Katanya pusing, Tante bikinkan madu hangat."
Aya ke kamar uminya. Haura tengah berbaring diranjangnya dengan mata terpejam. Aya meletakkan tas barangnya di sisi lemari, berjalan perlahan mendekat ke kasur.
Wajah Haura nampak sedikit memucat, Aya meletakkan punggung tangannya di kening Haura.
"Agak panas, apa masuk angin? " gumam Aya lirih.
Ida datang membawa gelas air madu hangat.
"Kak, bangun dulu. Mumpung hangat, " panggil ida sambil menggerakkan pundak Haura.
Haura terkesiap pelan, matanya mengerjap.
Ia menatap Aya yang sudah berdiri sambil tersenyum di samping Ida.
"Kamu sudah sampai, Nak? " tanyanya lirih.
Aya membantu Haura duduk bersandar di kasur.
" Badan umi agak demam, umi makan tadi? " tanya Aya lirih.
Haura menggeleng. Ida menyodorkan gelas berisi madu hangat.
"Umimu kepikiran Kamu terus Aya sejak Rama ke sini cerita semua. Gimana umi bisa selera makan? "
"Di sana cuma makan kue aja, lumayan lah, " tambah Haura.
"Maaf ya Umi, Aya nggak tahu bang Rama ke sini. Mungkin dia didesak orangtuanya juga. Perempuan itu memang menelpon bang Rama terus beberapa kali."
"Kamu pernah ketemu dia? "
Aya menggeleng. "Cuma lihat di media sosialnya aja, Mi. Ketemu langsung belum pernah."
"Apa pekerjaannya?"
"Dia model lokal tante, memang sudah lama dekat sama abang. Dan mereka sebenarnya belum putus waktu Aya sama bang Rama menikah."
"Orang tua Rama tahu? "
Aya mengangguk.
"Kenapa mereka diam saja? "
"Karena, rencana mereka akan gagal kalau mereka cerita. Kita pasti menolak kan? "
"Aya juga terpaksa menerima tawaran pernikahan itu karena mendesak dengan situasi bu Harum. Makanya Aya berat mensyiarkan pernikahan itu. Selain karena kerjaan, karena status hubungan mereka masih belum jelas. Akhirnya Aya juga hanya pelarian, untuk membantu kesembuhan bu Harum."
"Kalau begitu, senin besok kamu ke KUA saja. Urus perceraian segera, jangan terikat lagi dengan mereka, " titah Haura.
"Umi.. nggak mungkin, nama baik keluarga kita jelas kena imbasnya. Baru juga kita resepsi kan? "
Haura menghela nafas berat. Ia jengah dengan ketidakpastian ini.
"Bang Rama masih bujuk Aya tadi. Aya ngerti, Mi. Bang Rama nggak bisa menyelesaikan karena perempuan itu masih di luar negri. Mereka sudah sepakat ketemu setelah perempuan itu kembali. Kita tunggu saja dulu hasilnya, ya. Aya akan jalani status istrinya dulu seperti biasa. Yang penting Aya tinggal di sini. "
"Umi nggak tahan lihat kamu begini, Aya."
"Umii.. Aya bisa kok. Sudah hampir tiga bulan Aya menjalaninya."
Haura akhirnya hanya bisa terdiam. Keputusan memang ada di tangan Aya. Bagaimanapun itu kehidupannya sendiri karena sudah menikah dan lepas dari tanggung jawabnya.
***
DUA HARI KEMUDIAN.
Aya melangkah santai memasuki ruang departemen Keuangan. Beberapa karyawan menatapnya bingung. Mereka pikir Aya masih cuti menikah dan bulan madu keluar kota atau bahkan keluar negri. Tapi nyatanya dia datang seperti hari kerja biasa.
Aya menyalakan ipad. Mengambil berkas dilaci dan mulai bekerja seperti biasa.
Karyawan berdatangan satu persatu, termasuk Mila. Semua menatap Aya sama--heran.
"Kamu nggak honeymoon, ya? " tanya Arif yang menatapnya bingung dengan staf lain.
"Males, Kak."
Mereka melongo mendengar jawaban singkat Aya. Dan akhirnya paham dengan klarifikasi Aya beberapa waktu lalu, kalau mereka menikah memang mendadak, tak ada dasar cinta dalam pernikahan itu.
Hari bergulir cepat. Tak ada pembahasan basa basi soal pernikahannya. Rapat departemen berjalan biasa. Mereka kembali ke meja masing-masing, setelah melewati prosesi pertemuan dengan suara Mila yang oktafnya naik turun. Evaluasi, teguran dan arahan tegas yang membuat staf gugup.
Jam dinding menunjuk angka sebelas. Interkom di mejanya berbunyi.
"Halo, bidang keuangan, " sapanya.
"Kak, ada tamu. Perempuan, katanya kenalan Kak Aya."
"Namanya siapa? " tanya Aya heran. Seingatnya tak ada janji dengan siapapun hari itu.
"Nggak mau kasih tau, Kak. Cuma minta kakak segera ketemu dia di lobi."
"Oke, sebentar aku turun."
Aya mengembalikan gagang telpon ke tempat nya.
"Feni, aku ke lobi sebentar ya. Ada yang cari, " pamit Aya.
Feni mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
Aya melangkah menuju lift, menyapa staf umum yang baru keluar dari sana.
Sesampainya di lobi, beberapa karyawan berbisik sambil melihat ke arah seorang wanita dengan penampilan agak mencolok.
"Itu kak, yang cari. Kata teman-teman perempuan itu model lokal. Namanya siapa tadi? "
"Amel, " sahut rekannya.
Aya mengangguk, menghela nafas dan berjalan pelan menuju wanita itu.
"Assalamu'alaikum, " sapanya.
Wanita itu berbalik, menatapnya beberapa detik. Lalu...
PLAK! PLAK!
.
.