Aneska Maheswari ratu bisnis kelas kakap yang di bunuh oleh rekan bisnisnya tapi dengan anehnya jiwanya masuk pada gadis desa yang di buang oleh keluarganya kemudian di paksa menikahi seorang pria lumpuh menggantikan adik tirinya .
Mampukah aneska membalaskan semua dendam dan menjalani kehidupan gadis buangan tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 . Devisi Pemasaran
Setelah merger perusahaan disetujui, rapat telah diadakan, dan keputusan tentang penggabungan perusahaan Kusumawardani dengan Pranoto resmi ditetapkan, Raline pun segera terjun ke divisi pemasaran—seperti yang pernah ia katakan kepada Raka waktu itu. Tentunya, semua itu atas izin Pranoto, dengan bantuan langsung dari Raka.
Ceklek.
Pintu ruang rapat divisi pemasaran terbuka di ujung barisan kursi. Di kursi pertama, tempat duduk ketua divisi, Farel telah duduk lebih dulu. Tatapannya tajam, penuh ketidaksenangan saat melihat Raline melangkah masuk.
“Kenapa kamu ada di sini?” ucap Farel dingin.
“Apa Papa tidak memberitahumu jika mulai hari ini aku akan ikut bergabung di divisi pemasaran untuk mengatur rencana agar memenangkan tender perusahaan? Apalagi Papa bilang saat ini kamu sedang menyusun strategi untuk memenangkan tender Grup TC, bukan? Tender besar yang diidamkan semua orang. Bahkan saingan kita adalah Dirgantara Global Industries—perusahaan tempat Ratu Bisnis bekerja saat Anes masih hidup. Walaupun sekarang digantikan oleh Kenzo dan Celine, mereka berhasil menunjukkan kemampuan dan kecakapan mereka karena memenangkan tender besar beberapa bulan yang lalu,” jelas Raline dengan suara tenang namun tegas.
Farel menyeringai tipis. “Lalu kamu berpikir dengan kamu bergabung di sini kita punya peluang besar untuk mengalahkan Dirgantara—perusahaan yang sudah dijuluki perusahaan dengan seribu keberuntungan itu?” ucapnya sinis. “Sudahlah, jangan mengada-ada. Perempuan kampung sepertimu tidak mungkin bisa menyaingi kecerdasan Kenzo yang jelas-jelas dilatih oleh Ratu Bisnis seperti Anes. Aku saja yang sudah kuliah dan bergelar tidak mampu menyaingi mereka.”
Nada Farel makin merendahkan. “Urus saja perusahaan papamu itu. Jangan ganggu pekerjaanku. Saran wanita kampung sepertimu tidak dibutuhkan di sini.”
Namun Raline tidak bergerak pergi. Sebaliknya, ia melangkah maju dan langsung duduk, meraih beberapa map yang sedang mereka bahas. Tangannya membuka dokumen demi dokumen dengan ekspresi serius, seolah benar-benar memahami setiap angka dan strategi yang tertulis di dalamnya.
Ia lalu mengangkat wajahnya. “Tidak usah hiraukan perkataan Farel. Sekarang lanjutkan presentasi kalian supaya aku bisa menilainya,” ucap Raline memberi perintah.
Para karyawan saling pandang, lalu tanpa sadar menoleh ke arah Farel, ragu.
“Cih... apa yang mau kamu nilai!” ucap Farel kesal, namun akhirnya ia memberi isyarat agar presentasi dilanjutkan.
Dalam batinnya, Farel mencibir. Baiklah, jika kamu memang seingin itu, akan aku permalukan di depan karyawanku.
Namun seiring berjalannya presentasi, ekspresi Raline tetap fokus. Matanya mengikuti setiap slide, setiap grafik, setiap proyeksi pasar. Sesekali ia mencatat, sesekali mengangguk, seolah benar-benar berada di dunia yang ia pahami.
Begitu karyawan itu selesai mempresentasikan, Raline langsung angkat bicara.
“Ada beberapa kesalahan dalam penulisan nama perusahaan, tanda titik koma, dan beberapa nama yang tercantum di sini. Saya ingin kalian lebih hati-hati dan memperbaiki itu semua, karena kesalahan kecil bisa saja menjadi penghalang kemenangan kita. Saya juga ingin detail perencanaan dibuat sejelas mungkin agar perusahaan TC mampu membayangkan bagaimana rencana kita yang terperinci dan bisa mempertimbangkan kita nantinya,” ucap Raline dengan suara tegas namun terukur.
Ia lalu berdiri. “Baiklah, kalau begitu sampai di sini rapat kita. Terima kasih atas kerja keras kalian semua. Jika ada kesulitan, kalian bisa menghubungi saya langsung. Saya pastikan saya akan membimbing kalian, sama seperti didikan Ratu Bisnis yang telah meninggal itu.”
Ucapan itu membuat Farel melotot tajam.
“Apa maksudmu? Mereka semua bahkan jauh lebih pintar dibandingkan dirimu. Jangan berlagak seperti bos di sini! Ketua divisi pemasaran di sini adalah aku,” ucap Farel tak terima.
“Oh iya, maafkan aku, adik ipar,” balas Raline sambil tersenyum tipis. “Tapi Papa Pranoto sendiri yang bilang jika kamu perlu bimbinganku agar tidak menghabiskan uang perusahaan lagi karena kerugian yang kamu perbuat.”
Ia lalu berbalik dan melangkah keluar ruangan, diikuti para karyawan. Namun begitu pintu ruang rapat terbuka, langkah Raline terhenti mendadak.
Ia terkejut melihat Raka berdiri di sana, duduk di kursi rodanya.
“Mas Raka?” ucapnya refleks.
Para karyawan juga terlonjak kaget. Mereka langsung menyapa hormat.
“Tuan Raka,” ucap mereka sambil menunduk, lalu berlalu.
Raka menekan tombol penggerak kursi rodanya dan masuk ke dalam ruang rapat.
“Bersikap baiklah kepada kakak iparmu, karena mulai sekarang bukan hanya dia yang turun langsung ke divisi pemasaran, tapi juga denganku,” ucap Raka.
Farel langsung gelagapan. “Kakak akan kembali ke kantor lagi?”
“Ya... untuk mendampingi istriku,” jawab Raka singkat.
Ia lalu menggenggam tangan Raline dan mengajaknya keluar dari ruang rapat.
Raline benar-benar tidak menyangka apa yang baru saja ia dengar. Raka mengakuinya, membelanya, dan bahkan akan membantunya.
____
Di paviliun tua yang berada di belakang mansion, Arumi mengurung diri di kamar sempit yang dipenuhi debu dan barang-barang lama. Ia hanya beralaskan tikar tipis, bantal usang, dan selimut seadanya. Di sudut ruangan itu, Arumi meringkuk, menelungkupkan wajahnya, menangis tanpa suara yang jelas, seolah seluruh luka di dunia sedang menekan dadanya sekaligus.
Ia tak mau keluar sedikit pun, meski mamanya telah berkali-kali membujuknya dari balik pintu.
“Arumi, sayang… keluar, Nak… Mama mohon…” suara Maya terdengar lirih, penuh kekhawatiran.
Namun tak ada jawaban.
Hendra dan Maya semakin kebingungan dengan perubahan putri kesayangan mereka. Keduanya saling berpandangan, wajah mereka dipenuhi kecemasan dan keputusasaan.
“Ada apa sebenarnya dengan Arumi?” gumam Hendra gusar.
Hingga akhirnya, setelah kehabisan cara, Hendra bersiap mendobrak pintu kamar itu.
Namun tepat saat itu—
Arumi tiba-tiba membuka pintu dan berlari tergesa ke arah toilet sambil menutup mulutnya.
“Arumi…” ucap Maya, langsung mengikuti anaknya ke pintu toilet.
“Huek… huek… huek…”
Suara muntah Arumi menggema di ruangan kecil itu.
“Arumi… Arumi, kamu kenapa, sayang?” Maya memanggil panik, lalu menoleh ke arah Hendra. “Mas, Arumi kenapa?” ucapnya dengan suara gemetar.
Arumi keluar dari dalam toilet dengan wajah pucat pasi, bibirnya bergetar, dan matanya sembap serta kosong, seolah jiwanya telah ditinggalkan tubuhnya.
“Arumi… Arumi, ada apa denganmu?” tanya Maya sambil memeluk anaknya erat.
“Maa…” ucap Arumi lirih, menatap kosong ke arah ibunya.
“Ada apa?” ucap Maya, suaranya mulai bergetar.
Arumi perlahan membuka kepalan tangannya. Terpampang jelas di sana hasil test pack yang menunjukkan bahwa ia hamil.
“Arumi…” ucap Maya terkejut, matanya membelalak menatap benda itu.
“Apa-apaan ini?! Kenapa kamu bisa hamil?!” ucap Hendra, mengambil lalu melemparkan hasil test pack itu ke lantai dengan penuh amarah dan menatap Arumi tajam.
.
.
.
💐💐💐Bersambung 💐💐💐
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semuanya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat aku nantikan 🥰❤