Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Kaffara Sakit
Satu hari tanpa Kaffara, ternyata menjadi siksaan yang tak pernah dibayangkan oleh Daviko. Rumah besarnya yang biasanya hangat oleh aroma bayi kini terasa seperti makam. Sunyi, dingin, dan asing.
Setiap kali ia melewati kamar bawah, ia secara refleks menoleh, berharap melihat Saliha di sana. Namun yang ada hanyalah kekosongan yang menyesakkan.
Sore itu, kegelisahan Daviko memuncak. Ia memacu mobilnya menuju kediaman Bu Ratna. Pikirannya dipenuhi bayangan Kaffara yang mungkin sedang merindukannya. Namun, setibanya di sana, ia justru dihadang oleh dinding keangkuhan.
"Kaffara sedang tidur pulas, Dav. Jangan diganggu dulu. Dia baru saja tenang setelah mencoba susu formula impor yang Tari beli," ucap Bu Ratna dengan nada datar, berdiri kokoh di ambang pintu seolah Daviko adalah orang asing.
"Aku papanya, Bu. Aku hanya ingin melihat anakku sebentar saja. Satu hari ini aku tidak bisa tenang," protes Daviko dengan rahang mengeras.
Tari tiba-tiba muncul di belakang ibunya, menyilangkan tangan di dada dengan senyum sinis. "Mas Daviko pulang saja. Mas kan sibuk di kesatuan. Biar Kaffara kami yang urus. Dia aman di tangan kami, lebih baik daripada di tangan wanita pengkhianat itu."
Daviko pulang dengan kemarahan yang tertahan di ujung lidah. Namun, instingnya sebagai seorang ayah mengatakan ada yang tidak beres.
Benar saja, dua hari kemudian, ia kembali mendatangi rumah itu. Ia tidak peduli lagi pada sopan santun, ia menerobos masuk.
Saat itulah, seorang asisten rumah tangga di sana setelah didesak Daviko, akhirnya bicara dengan suara gemetar karena ia takut pada Bu Ratna.
"Den Kaffara sudah dibawa ke Rumah Sakit Anak sejak kemarin sore, Pak. Beliau demam tinggi dan terus memuntahkan semua susunya," bisik ART itu cepat-cepat.
Dunia Daviko seolah runtuh seketika. "Apa? Kenapa kalian tidak memberi tahu saya sejak awal?" teriak Daviko hingga suaranya menggelegar di ruang tamu. Tanpa menunggu jawaban, ia berlari menuju mobilnya, memacu kendaraan itu seperti orang kesetanan di tengah kemacetan kota.
Di Rumah Sakit Anak, suasana bangsal perawatan kelas utama terasa sangat tegang. Kabar mengenai Kaffara yang tumbang rupanya sudah sampai ke telinga Mama Davira dan Papa Arkaffa di luar kota. Tanpa membuang waktu, pasangan itu langsung memacu mobilnya menuju rumah sakit.
Begitu sampai di rumah sakit dan pintu ruang perawatan terbuka, pemandangan memilukan menyambut mereka. Kaffara, bayi kecil yang seharusnya ceria, kini terbaring lemah dengan selang infus menempel di tangan mungilnya. Wajahnya pucat, matanya sayu, dan ia sesekali merintih kecil, suara rintihan yang sangat dikenali Daviko sebagai panggilan untuk Saliha.
"Jelaskan pada Mama, Daviko! Kenapa anak sehat seperti Kaffara bisa berakhir di tempat tidur rumah sakit ini?" Suara Mama Davira meninggi. Matanya yang biasa lembut kini berkilat karena amarah dan kesedihan yang mendalam.
Daviko tertunduk lesu di samping ranjang anaknya. Dengan suara parau, ia menceritakan segalanya. Tentang bagaimana ia dipaksa memberikan Kaffara kepada mantan mertuanya, dan bagaimana ia mengusir Saliha karena terikat kontrak yang sudah habis.
"Kamu bodoh, Daviko!" sentak Mama Davira. "Kamu membiarkan ego keluarga mantan istrimu menghancurkan nyawa anakmu? Kamu tahu Kaffara tidak bisa lepas dari ASI dan dekapan Saliha! Dia masih buruh ASI. Di mana akal sehatmu sebagai seorang Papa?"
Tepat saat itu, Bu Ratna dan Tari masuk ke ruangan dengan wajah yang berpura-pura sedih. "Oalah, Jeng Davira sudah datang. Tidak perlu khawatir berlebihan, ini hanya proses adaptasi susu formula saja...."
"Adaptasi susu formula sampai cucu saya kritis bagini?" Mama Davira berdiri, menghadapi Bu Ratna dengan martabat yang luar biasa.
"Bu Ratna, Anda jangan melampaui batas! Anda membawa Kaffara secara paksa hanya untuk menunjukkan kuasa Anda, tanpa memikirkan keselamatan bayi ini!"
"Tungu dulu Jeng, kami punya hak mengasuh. Dia cucu kandung saya, anak dari Amara!" balas Bu Ratna tidak mau kalah.
Mama Davira mendekat, menatap mata Bu Ratna dengan sangat tajam. "Kami juga punya hak atas cucu kami karena dia darah daging putra kami! Jangan menggunakan nama almarhumah Amara untuk membenarkan tindakan ceroboh Anda. Lihat anak ini! Dia tidak butuh susu mahal, dia butuh ibunya! Ibu susunya, Saliha!"
Tari mencoba menyela, "Tapi Saliha itu hanya pura-pura tulus, Tante...."
"Diam kamu, Tari!" bentak Mama Davira, membuat Tari seketika bungkam. "Aku tahu siapa yang sebenarnya tulus dan siapa yang hanya ingin cari muka di sini."
Di tengah perdebatan panas itu, Mama Davira perlahan terduduk di kursi tunggu. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak setiap kali melihat Kaffara yang tidak berdaya.
Mengingat Saliha. Ingatannya tiba-tiba melompat jauh ke masa puluhan tahun yang lalu, saat ia sendiri berada di posisi yang sangat hina.
Mama Davira teringat siapa dirinya sebenarnya. Ia bukanlah wanita ningrat sejak lahir. Ia adalah seorang bayi malang yang dibuang di tumpukan sampah, sebelum akhirnya dipungut oleh orang tua suaminya.
Ia tumbuh sebagai anak pungut, selalu merasa tidak pantas, hingga akhirnya ia jatuh cinta pada Arkaffa, kakak angkatnya sendiri. Lika-liku hidup yang penuh hinaan dan penolakan itulah yang membuatnya bisa merasakan apa yang Saliha rasakan saat ini.
"Saliha... kamu di mana, Nak? Nasibmu hampir sama denganku, selalu dianggap sampah oleh mereka yang merasa terhormat," batin Mama Davira pilu.
Ia menatap Daviko yang sedang menggenggam tangan kecil Kaffara. "Daviko," panggilnya dengan suara bergetar.
"Temukan Saliha. Mama tidak peduli bagaimana caranya. Gunakan semua jaringanmu, gunakan pangkatmu jika perlu. Cucu Mama sedang meregang nyawa karena merindukan dekapan dan ASI wanita itu. Jangan biarkan dendam masa lalumu membunuh masa depan anakmu sendiri."
Papa Arkaffa mengangguk setuju, berdiri di samping istrinya dengan wajah tegas. "Dav, ini perintah. Cari dia sampai ketemu!"
Daviko berdiri dengan langkah goyah. Ia merasa sangat kecil di hadapan kedua orang tuanya. Ia segera mengambil ponselnya, mencoba menghubungi nomor Saliha untuk ke sekian kalinya, namun tetap tidak aktif. Ia baru sadar, Saliha telah memutus semua akses komunikasi karena ia sendiri yang telah memutus semua akses kasih sayang di rumah itu.
"Aku akan mencarinya, Ma. Aku akan cari ke mana pun," bisik Daviko dengan nada penuh penyesalan.
Di atas ranjang, Kaffara kembali merintih pelan. Suaranya hampir habis karena terlalu banyak menangis. Bayi itu tidak tahu bahwa saat ini, wanita yang dirindukannya sedang berada di dalam bus menuju Yogyakarta.
Keadaan di rumah sakit itu benar-benar mencekam, sebuah keluarga besar yang hancur oleh ego, sementara nyawa kecil di tengah-tengah mereka sedang berjuang melawan kekosongan yang ditinggalkan oleh Saliha.
semangat ya😚