NovelToon NovelToon
BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Di Ambang Batas Kesabaran

BAB 9: Di Ambang Batas Kesabaran

Lampu neon putih di lorong Rumah Sakit Internasional Jakarta terasa menyilaukan mata Rangga yang sudah terjaga selama lebih dari tiga puluh jam. Aroma karbol dan obat-obatan yang tajam merasuk ke indranya, menciptakan rasa mual yang terus ia tekan. Arini sudah berada di dalam ruang gawat darurat selama tiga jam terakhir setelah ambulans yang membawa mereka tiba dengan raungan sirine yang memecah malam.

Rangga duduk di kursi tunggu kayu yang keras, kepalanya bersandar di dinding semen yang dingin. Jas mahalnya sudah ia campakkan entah di mana, kemeja hitamnya kusut dan masih menyisakan bercak air hujan yang mulai mengering. Tangannya yang gemetar terkepal kuat di atas lutut. Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan lambat yang menyayat hatinya.

"Pak Rangga?"

Seorang dokter pria paruh baya dengan kacamata bertengger di hidungnya keluar dari ruang tindakan. Itu Dokter Bram, salah satu onkolog terbaik yang merupakan kenalan lama perusahaan keluarga Rangga.

Rangga langsung berdiri tegak, hampir saja ia tersungkur karena kakinya yang lemas. "Dokter, bagaimana Arini? Dia baik-baik saja, kan?"

Dokter Bram menghela napas panjang, sebuah isyarat yang selalu ditakuti oleh setiap keluarga pasien. Ia memberi isyarat agar Rangga mengikutinya ke ruang konsultasi yang lebih privat.

Begitu pintu tertutup, keheningan di ruangan itu terasa begitu menyesakkan.

"Duduklah, Rangga. Kamu terlihat sangat kacau," ujar Dokter Bram pelan.

"Jangan pedulikan aku, Dok. Katakan saja apa yang terjadi pada Arini!" tuntut Rangga, suaranya parau dan penuh tekanan.

Dokter Bram membuka sebuah folder hasil pemindaian yang baru saja keluar. "Jujur saja, Rangga... kondisi Arini jauh lebih buruk dari perkiraanku saat terakhir kali aku melihat rekam medisnya tiga bulan lalu. Keputusannya untuk menghentikan pengobatan selama tiga bulan terakhir adalah bencana. Sel kankernya tidak hanya menetap, mereka menyebar dengan agresif. Ada metastase ke paru-paru dan sebagian kecil mulai menyerang area tulang belakangnya."

Rangga merasa seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu mendadak hilang. Dadanya terasa sesak, kepalanya berdenyut hebat—sebuah rasa pusing yang membuatnya ingin pingsan. "Apa artinya itu, Dok? Jangan gunakan bahasa medis padaku."

"Artinya, Arini sedang menanggung rasa sakit yang luar biasa setiap detiknya. Itu sebabnya dia sering mengeluh pusing dan mual hebat. Secara medis, peluangnya mengecil secara drastis dibandingkan tiga bulan lalu. Kita tidak lagi berbicara tentang 'kesembuhan total', melainkan tentang 'memperpanjang sisa waktu' dan meningkatkan kualitas hidupnya agar dia tidak terlalu menderita."

Rangga memukul meja Dokter Bram dengan kepalan tangannya, membuat beberapa kertas berhamburan. "Tidak! Aku membawa dia ke sini bukan untuk mendengar soal memperpanjang waktu! Aku punya uang, Dok. Berapa pun. Kirim dia ke Singapura, ke Jerman, atau ke Amerika. Lakukan apa saja, tapi jangan katakan padaku kalau dia tidak bisa sembuh!"

Dokter Bram menatap Rangga dengan tatapan iba. "Uang bisa membeli peralatan terbaik, Rangga. Tapi uang tidak bisa memaksa tubuh yang sudah hancur untuk pulih dengan cepat. Arini sangat lemah. Tubuhnya mungkin tidak akan kuat menerima dosis kemoterapi yang lebih keras. Kita harus mulai dengan perawatan paliatif dan penguatan fisik terlebih dahulu sebelum mencoba tindakan agresif lainnya."

Rangga tertunduk. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi meja kayu itu. Ia merasa gagal. Keberhasilannya menjadi manajer, kekayaan yang ia kumpulkan, semuanya terasa seperti sampah jika ia tidak bisa menyelamatkan satu-satunya wanita yang ia cintai.

"Aku yang salah, Dok..." bisik Rangga. "Seharusnya aku tidak membiarkan dia pergi. Seharusnya aku mencari dia lebih keras sejak hari pertama."

"Penyesalan tidak akan mengubah sel kanker, Rangga. Yang dibutuhkan Arini sekarang adalah kamu yang kuat. Dia butuh alasan untuk tetap bertahan hidup, karena secara mental, dia sudah menyerah," ujar Dokter Bram tegas.

Satu jam kemudian, Arini dipindahkan ke ruang VVIP di lantai tujuh. Kamar itu sangat luas, dengan fasilitas lengkap dan jendela besar yang menyuguhkan pemandangan kerlap-kerlip lampu Jakarta. Namun, bagi Arini, kamar mewah ini terasa seperti penjara emas.

Arini membuka matanya perlahan. Efek obat penenang membuatnya merasa melayang. Ia melihat Rangga duduk di samping ranjangnya, sedang menggenggam tangannya dengan sangat erat, seolah-olah jika Rangga melepaskannya, Arini akan jatuh ke dalam jurang kegelapan.

"Rangga..." panggil Arini lirih.

Rangga langsung tersentak dari lamunannya. Ia segera menghapus air matanya dan memasang senyum paling tulus yang ia miliki. "Iya, Sayang. Aku di sini. Kamu haus? Atau ada yang sakit?"

Arini menggeleng. Ia menatap selang infus dan mesin monitor di sekelilingnya. "Ini pasti mahal banget, Ga. Jangan buang-buang uang kamu. Aku tahu... aku tahu aku sudah nggak ada harapan."

"Hush! Jangan bicara begitu!" Rangga mencium kening Arini lama sekali. "Uangku nggak ada habisnya, Rin. Perusahaan memberiku bonus besar. Kamu jangan pikirkan itu. Fokus saja untuk makan dan istirahat. Dokter Bram bilang kamu harus kuat supaya kita bisa mulai pengobatan baru."

Arini tersenyum getir. Ia tahu Rangga sedang berbohong. Ia bisa melihat luka dan keputusasaan di mata laki-laki itu meskipun bibirnya tersenyum.

"Kamu selalu jadi pembohong yang buruk, Rangga."

Rangga terdiam. Ia menatap Arini dengan tatapan yang dalam. "Biarkan aku berbohong jika itu bisa membuatmu tetap di sini satu hari lagi, Rin. Aku nggak sanggup kalau harus kehilangan kamu lagi. Tiga bulan kemarin itu neraka buat aku. Jangan paksa aku masuk ke neraka itu lagi."

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Ibu Sarah berdiri di sana. Wajahnya tampak pucat dan cemas, namun tetap ada sisa-sisa keangkuhan di balik sorot matanya. Rangga segera berdiri, memosisikan dirinya di depan Arini seolah-olah ia adalah pelindung yang siap menerkam siapa pun.

"Mau apa lagi, Ma?" tanya Rangga dengan suara dingin yang menusuk.

Ibu Sarah melangkah masuk, ia melihat Arini yang terbaring lemah. Ada kilatan rasa bersalah di mata wanita itu saat melihat kondisi Arini yang jauh lebih parah dari terakhir kali ia lihat.

"Rangga, Mama hanya ingin—"

"Keluar," potong Rangga singkat. "Mama sudah melakukan cukup banyak. Mama sudah menyembunyikannya, membiarkan penyakitnya menyebar tanpa perawatan yang layak hanya demi ambisi Mama. Jika Mama masih punya hati, tolong jangan tunjukkan wajah Mama di depan Arini sekarang."

"Rangga, Mama ibumu!"

"Dan Arini adalah hidupku!" teriak Rangga, membuat Arini tersentak di ranjangnya. Rangga segera menurunkan suaranya, namun nadanya tetap penuh amarah. "Jika Mama tidak keluar sekarang, aku akan meminta keamanan rumah sakit untuk mengusir Mama. Dan jangan harap Mama bisa bertemu denganku lagi selamanya."

Ibu Sarah terpaku. Ia menatap putranya yang kini telah benar-benar berubah. Rangga bukan lagi anak penurut yang bisa ia kendalikan. Cinta Rangga pada Arini telah mengubahnya menjadi pria yang tidak mengenal rasa takut, bahkan pada ibunya sendiri.

Dengan bahu yang merosot, Ibu Sarah berbalik dan keluar dari ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Suasana kembali sunyi. Rangga kembali duduk di samping Arini, ia mengatur napasnya yang memburu.

"Ga... jangan berantem sama Mama..." bisik Arini.

"Dia bukan Mamaku kalau dia menyakitimu, Rin," jawab Rangga sambil mengelus pipi Arini. "Tidur ya? Aku akan di sini. Aku akan jaga kamu. Nggak akan ada yang berani menyentuhmu lagi."

Arini menutup matanya, merasakan perlindungan Rangga yang begitu posesif namun menenangkan. Di tengah rasa pusing yang terus berdenyut di kepalanya, Arini membisikkan doa kecil dalam hati. Tuhan, jika memang waktuku harus habis, berikan aku kekuatan untuk tidak membuat laki-laki ini hancur lebih dalam lagi.

Malam itu, Rangga tidak memejamkan mata sedikit pun. Ia terus menatap gerakan naik turun dada Arini yang lemah, memastikan bahwa wanita itu masih bernapas. Ia tahu, di hari-hari mendatang, akan ada badai yang lebih besar. Namun, selama tangan Arini masih dalam genggamannya, Rangga siap menghadapi akhir dunia sekalipun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!