"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu tenang
Perlahan, dunia Andersen menggelap. Bukan karena peluru musuh, melainkan karena rasa lelah yang luar biasa setelah melewati siklus kematian yang tak berujung.
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui sela gorden rumah sakit, menyinari butiran debu yang menari di udara. Andersen mengerjapkan mata, merasakan kesadarannya kembali secara perlahan.
Sensasi pertama yang ia rasakan bukanlah rasa sakit, melainkan sebuah keheningan yang asing. Tidak ada suara ledakan, tidak ada jeritan.
Ia menarik napas panjang—napas yang terasa nyata, tanpa rasa sesak dari kematian sebelumnya.
Andersen tersentak kecil, menyadari bahwa ia tidak terbangun di parkiran basement atau di tepi danau hitam milik sosok abu-abu itu. Putaran neraka itu seolah telah terhenti.
Saat ia mencoba mengangkat tubuhnya yang terasa seberat timah, Seila yang tadinya terjaga dalam kantuk langsung tersentak. Dengan gerakan lembut dan penuh kehati-hatian, ia memegang punggung Andersen, membantunya untuk bersandar pada tumpukan bantal.
"Pelan-pelan, Andersen..." bisik Seila. Suaranya serak, sisa dari tangisan dan ketegangan semalam.
Kali ini, Andersen benar-benar berhasil selamat.
Namun, saat Andersen mencoba menyeimbangkan posisinya, sebuah kengerian dingin merayap di dadanya. Ia menoleh ke arah sisi kiri tubuhnya.
Lengan kirinya terbaring kaku di atas seprai putih, terbungkus perban tebal yang menyembul dari balik pakaian rumah sakit. Ia mencoba memerintahkan jemarinya untuk bergerak, namun tidak ada respon. Kosong. Mati rasa yang luar biasa serius menyelimuti seluruh bahu hingga ujung kukunya, seolah lengan itu bukan lagi bagian dari dirinya.
"Karena kamu sudah sadar, aku akan memanggilkan Dokter dulu, ya? Tunggu sebentar," ucap Seila. Ia memberikan senyum kecil yang dipaksakan untuk menenangkan Andersen sebelum bergegas keluar ruangan.
Begitu pintu tertutup rapat dan menyisakan kesunyian, Andersen segera menyingkap selimutnya dengan tangan kanan yang masih berfungsi. Ia menatap risau ke arah lengan kirinya. Perban itu tampak sedikit rembes oleh cairan kemerahan. Ia mencoba mencubit kulit lengannya atasnya, namun sarafnya benar-benar bungkam.
Tiga peluru yang menembus bahunya bukan sekadar luka biasa. Saraf-saraf di sana seolah telah diputus paksa. Andersen menyandarkan kepalanya ke dinding dingin di belakangnya, menatap langit-langit kamar dengan napas tertahan.
Ia selamat dari kematian, namun harga yang harus dibayar untuk "Keberuntungan" kali ini terasa begitu nyata dan menetap di tubuhnya.
Pintu kayu jati ruangan itu terbuka dengan denting engsel yang halus.
Bukan Dokter yang masuk, melainkan seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam yang sangat kaku, tipikal pria yang menghabiskan seluruh hidupnya dalam birokrasi atau operasi senyap. Ia tidak segera mendekati ranjang, melainkan berdiri sejenak di ambang pintu.
"Sepertinya kamu sudah sadar," suaranya berat. Ia melangkah mendekat, namun tetap menjaga jarak profesional.
"Maafkan aku... aku terlalu lalai dalam menjaga kedua anak itu. Aku tidak mengira mereka akan melangkah sejauh ini dengan mengutus tentara bayaran demi menciptakan ketegangan politik."
Ia terdiam sejenak, menatap keluar jendela rumah sakit yang menampilkan pemandangan kota yang sedang tidak stabil.
"Ketegangan yang mereka hasilkan cukup tinggi. Saat ini, intelijen dari berbagai lembaga negara asing mulai mengendus dan mencurigai siapa dalang sebenarnya di balik pertumpahan darah di mal itu."
"Masalah diplomatik ini mungkin bisa kuselesaikan dalam waktu dekat. Namun, satu hal yang terus mengusik pikiranku... bagaimana bisa pasukan khusus internasional itu menembus perbatasan dan masuk ke dalam negeri ini semudah mereka berjalan di taman?...
Ia kemudian menatap Andersen dengan tatapan yang sulit dibaca. "Karena kejadian berdarah ini, kebijakan darurat telah diambil.
Seluruh siswa warga negara asing, baik yang berada di sekolahmu maupun institusi elit lainnya, akan segera dievakuasi dan dipindahkan ke Belanda. Rencana ini sebenarnya sudah lama matang di atas meja, namun kekacauan semalam mempercepat segalanya."
"Negeri ini sudah berada di titik didih, Andersen. Keadaan sangat kacau dan bau amarah rakyat sudah tercium di jalanan. Tidak butuh waktu lama bagi sejarah untuk berulang... Revolusi akan segera meletus kembali."
"Jadi, inilah garis besarnya," ucapnya sambil merapikan pakaiannya. "Kamu dan beberapa pemuda lokal terpilih akan ikut dievakuasi ke Belanda.
Di sana, kalian akan masuk ke dalam sistem sekolah khusus yang telah kami persiapkan dengan matang. Mungkin beberapa bulan lagi, aku sendiri yang akan mengawal putriku, Seila menuju sekolah barunya, dan kami akan membawamu."
Ia berhenti sejenak, melihat keraguan di wajah Andersen yang masih pucat.
"Jangan membuang energi untuk memikirkan biaya. Aku yang akan menjamin seluruh biaya hidupmu sebagai bentuk rasa terima kasihku, sementara pemerintah Belanda yang akan menanggung penuh beasiswa pendidikanmu."
Andersen menatap lengan kirinya yang masih mati rasa, lalu mendongak. "Kenapa sejauh itu? Mengapa tidak membangun sekolah yang sama bagusnya di sini saja?"
Ayah Seila menghela napas panjang, sebuah senyum tersungging di bibirnya. "Pertanyaan yang cerdas.
Sejujurnya, kami memang ingin membantu negara ini agar memiliki kesempatan untuk maju dalam sektor pendidikan. Kami ingin mencetak pemimpin-pemimpin baru. Tapi..." ia menjeda, suaranya merendah seiring dengan tatapannya yang tertuju pada jendela yang menampilkan hiruk-pikuk kota yang sedang sakit.
"Belum saatnya, Andersen. Negeri ini belum bisa bangkit dari masalah pendidikan dan korupsi sistemis yang telah membayangi mereka sejak lama. Menanam benih unggul di tanah yang sedang terbakar hanya akan membuat benih itu hangus.
Setelah menyelesaikan instruksinya, pria itu melangkah menuju pintu. Membukakan pintu bagi putrinya, Seila, yang sejak tadi menunggu di luar dengan cemas. Ia membisikkan beberapa kata penenang, menyuruh gadis itu segera beristirahat sebelum perjalanan panjang mereka dimulai.
Waktu seolah melesat dalam kabut obat bius dan deru mesin pesawat. Di sore hari yang dingin dan berselimut awan kelabu, Andersen dan Seila akhirnya menginjakkan kaki di lantai marmer Bandara Internasional Schiphol, Belanda.
Udara Eropa yang tajam dan kering segera menyapa paru-paru Andersen, sangat kontras dengan udara tropis yang lembap di tanah airnya.
Mereka bertiga berjalan menembus kerumunan orang yang sibuk—beberapa tampak gelisah menunggu jadwal keberangkatan, sementara yang lain berdiri dengan buket bunga dan papan nama, menantikan reuni yang hangat.
Langkah mereka berakhir di sebuah area parkir eksklusif. Sebuah BMW seri-7 berwarna hitam metalik telah menunggu. Ayah Seila mengambil posisi di balik kemudi, sementara Andersen dan Seila duduk di kursi belakang.
Mobil itu mulai meluncur tenang meninggalkan bandara, membelah jalanan Belanda yang teratur dan dikelilingi oleh kanal-kanal yang memantulkan cahaya temaram sore hari.
Di dalam kabin yang kedap suara, keheningan mulai merayap. Dalam kantuk yang tak tertahankan, tubuhnya perlahan miring. Kepalanya jatuh dengan lembut, bersandar pada bahu kanan Andersen yang masih sehat.
Andersen tertegun. Ia merasakan kehangatan napas Seila dan berat yang pasrah dari kepala gadis itu. Ada aroma samar lavender dari rambutnya.
Dari spion tengah, Andersen sempat menangkap tatapan tajam Ayah Seila yang melirik ke arah mereka. Pria itu terdiam, tidak mengucapkan sepatah kata pun atau menegur, namun sorot matanya mengisyaratkan sesuatu yang sulit diartikan.