menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 20
Satu minggu telah berlalu sejak insiden soda blueberry yang menghebohkan ruangan OSIS. Pagi itu, suasana kelas 3-1 sudah tampak hidup.
Sasha, Yudas, dan Lily terlihat sedang berkumpul dan mengobrol santai di dekat meja Aria. Pemilik meja itu sendiri, sang Ketua OSIS, sedang tidak ada di tempat karena harus menghadiri rapat koordinasi pagi.
Tiba-tiba, Indah muncul di ambang pintu. Namun, ada yang berbeda dengan penampilannya kali ini.
Alih-alih mengenakan jas almamater kebanggaan sekolah yang rapi, Indah mengenakan sebuah *hoodie* berwarna abu-abu *oversized* yang menutupi seragam putihnya.
"Pagi semuanya!" sapa Indah sambil melangkah masuk dengan ragu.
Sasha yang sedang bersandar di meja langsung menegakkan tubuhnya.
Matanya menyipit menatap penampilan temannya itu. "Hoi, Indah. Kenapa kau memakai baju hangat di cuaca yang mulai gerah begini? Kau mau ikut audisi *rapper* atau bagaimana?"
Yudas dan Lily ikut menoleh, menatap Indah dengan penuh tanya. "Iya, Indah. Kenapa memakai *hoodie*? Kau sedang sakit?" tanya Lily cemas.
Indah menggaruk pipinya dengan wajah bersemu merah karena malu. "Anu... jas sekolahku kemarin kena tumpahan jus dan belum kering setelah dicuci. Daripada aku hanya memakai kemeja putih tipis dan terlihat tidak rapi, aku pikir lebih baik memakai *hoodie* sekalian."
Lily memiringkan kepalanya, tampak ragu. "Tapi Indah, bukannya memakai pakaian bebas di atas seragam itu melanggar aturan kedisiplinan sekolah? Apalagi Aria sedang sensitif soal aturan belakangan ini."
Indah makin salah tingkah, ia menarik-narik tali *hoodie*-nya. "Aku tahu, Lily. Aku benar-benar bingung tadi pagi. Tapi sungguh, hanya kali ini saja aku memakainya, janji!"
Sasha tertawa meremehkan sambil menyeringai tengil. "Halah, alasan saja kau. Bilang saja kau ingin terlihat keren seperti anak jalanan agar tidak terus-menerus disebut juara kelas yang membosankan, kan? Lihat saja, sebentar lagi kau pasti akan mulai membolos pelajaran juga!" ejek Sasha yang disambut tawa oleh Yudas dan Lily.
Di tengah candaan itu, Kael masuk ke kelas dengan gaya yang tak kalah heboh.
Ternyata, Kael juga mengenakan *hoodie* hitam. Memang sudah hampir seminggu ini pemakaian *hoodie* sedang menjadi tren rahasia di antara murid-murid sebagai bentuk pemberontakan kecil.
"Pagi kelas idola!" teriak Kael, lalu ia berhenti tepat di depan Indah. Matanya membelalak. "Wah, Indah! Kau juga ikut aliran *Hoodie Pride*? Kita samaan! Ternyata selera kita memang sehati!"
Indah tertawa melihat antusiasme Kael. "Kebetulan saja, Kael!"
"Tapi menurutku ada yang kurang," ujar Kael sambil memutar tubuh Indah. "Kalau mau pakai *hoodie*, gayanya harus totalitas!" Lily yang terbawa suasana ikut membantu membetulkan posisi tudung *hoodie* Indah agar terlihat lebih "estetik".
Kael merogoh tasnya, mengeluarkan kacamata hitam dan sebuah *headset* besar, lalu memakaikannya kepada Indah. "Nah, sekarang gaya metal!" seru Kael.
Indah pun berpose dengan jari membentuk simbol metal, membuat seisi kelas meledak dalam tawa.
Namun tak lama, Indah melepas semuanya sambil tertawa geli. "Tidak, ini benar-benar tidak cocok denganku!"
Setelah tawa mereda, Kael meminjam buku catatan bahasa Inggris milik Yudas dan segera melesat keluar.
Tak lama setelah kepergian Kael, Raka masuk ke kelas dengan wajah serius seperti biasa. Ia langsung menatap Indah.
"Ternyata benar gosip yang beredar, kau memakai *hoodie* hari ini," ucap Raka .
Indah tersentak. "Eh? Kak Raka tahu dari mana?"
"Katanya ada siswi teladan yang memakai pakaian yang sama dengan Kael, jadi aku penasaran dan langsung ke sini," jawab Raka sambil menghela napas.
Indah tersenyum canggung. "Maaf, Kak. Hanyalah kali ini saja, besok aku kembali rapi."
Sasha yang sejak tadi memperhatikan, menyela dengan nada protes. "Hei, Wakil Ketua, Kalau kau bisa mendatangi Indah hanya karena satu *hoodie*, kenapa kau tidak menegur Kael? Dia sudah hampir seminggu berpakaian seperti preman pasar dan kau membiarkannya saja. Tidak adil, kan?"
Raka menoleh ke arah Sasha, lalu mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat lelah.
"Memangnya kau pikir Kael itu manusia yang mau mendengarkan perkataan orang lain? Dia itu spesies berbeda. Mau ditegur seribu kali pun, dia akan tetap semaunya sendiri. Aku sudah menyerah padanya."
Mendengar pengakuan jujur dari sang Wakil Ketua OSIS yang biasanya kaku itu, Sasha, Yudas, dan Indah hanya bisa terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali tertawa bersama, memahami bahwa Kael memang berada di luar jangkauan logika hukum sekolah.
----
Di sudut bangunan sekolah yang jarang dilewati, terdapat sebuah ruang kelas kosong yang terbengkalai.
Pintu kayunya yang berat tertutup rapat, sementara tirai jendela yang usang sengaja ditarik hingga menciptakan suasana gelap dan rahasia di dalam sana.
Di tengah ruangan, Sasha, Yudas, dan Kael duduk melingkar dengan cahaya temaram yang entah berasal dari mana.
Tanpa mereka sadari, Pak Bambang, seorang guru senior yang sedang berpatroli, melihat bayangan di balik kaca jendela yang gelap.
Ia melangkah perlahan, menempelkan telinganya ke pintu dengan perasaan curiga yang mendalam.
"Dari sekian banyak, mungkin hanya bentuk yang ini yang paling mantap, bukan?" suara Kael terdengar berbisik namun penuh antusiasme dari dalam.
"Tidak mungkin," sahut Yudas dengan nada yang sangat serius. "Ukuran itu yang paling penting. Selagi ukurannya besar, sisanya hanya tinggal mengikuti saja. Kepuasan itu datang dari besarnya."
Pak Bambang mengerutkan dahi, detak jantungnya meningkat mendengar pembicaraan murid-muridnya yang terdengar sangat ambigu.
"Dan juga," sela Sasha dengan suara rendah yang terdengar haus akan sesuatu. "Jangan lupakan seberapa putihnya benda itu. Ada sentuhan warna pink juga di sana... benar-benar terlihat lezat. Aku sudah tidak sabar ingin merasakannya."
Mendengar kata-kata 'putih', 'pink', dan 'lezat', Pak Bambang menarik kesimpulan yang salah.
Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis, bergumam pelan bahwa ia pun pernah muda dan memiliki gairah yang sama. Namun, sebagai guru, ia harus bertindak.
Dengan gerakan dramatis, ia membuka pintu tersebut dengan lebar.
"Nah! Apa yang sedang kalian lakukan di kegelapan begini, wahai anak mud—"
Kalimat Pak Bambang terhenti seketika. Matanya membelalak, mulutnya menganga lebar.
Di atas meja tua di tengah ruangan, bukan sesuatu yang tidak senonoh yang ia temukan, melainkan sebuah **Kue Tart Raksasa** yang sangat mewah dengan lapisan krim putih yang tebal, hiasan stroberi pink yang segar, dan cokelat yang melimpah.
Kael sedang memegang ponselnya dengan posisi siap memotret dari sudut terbaik.
Suasana menjadi hening seketika. Sasha, Yudas, dan Kael membeku menatap guru mereka yang tiba-tiba masuk dengan wajah penuh prasangka.
---
Sepuluh menit kemudian, suasana berubah menjadi drama yang sangat memalukan. Di koridor depan ruang guru, di bawah tatapan murid-murid lain yang lewat,
Sasha, Yudas, dan Kael berdiri berjajar. Mereka dihukum mengangkat satu kaki dan memegang telinga masing-masing karena menyelundupkan makanan dari luar sekolah secara ilegal.
"Sialan... Bagaimana bisa kita ketahuan secepat ini?" gerutu Sasha dengan wajah memerah karena malu. Ia melirik tajam ke arah Yudas. "Ini salahmu, Yudas! Kau yang bertugas memantau situasi! Kenapa kau bisa terlihat oleh orang lain saat membawa kardus kue itu?"
Yudas mendengus, mencoba menjaga keseimbangan kakinya yang mulai gemetar. "Mana mungkin aku ketahuan?! Aku sudah mengambilnya dari kurir paket dengan sangat pelan dan hati-hati! Ini salah Kael yang dari tadi berisik sekali mengomentari ukuran stroberinya!"
Kael tidak terima, ia hampir terjatuh saat mencoba membalas. "Kenapa harus aku?! Kalian berdua juga ikut-ikutan berdebat soal warna krimnya! Aku hanya ingin mengambil foto estetik sebelum kita melahapnya!"
"Diam kalian berdua! Gara-gara kue itu, reputasiku sebagai berandalan kelas hancur karena dihukum dengan cara konyol begini!" potong Sasha sambil memberikan tatapan membunuh.
Mereka terus berdebat satu sama lain, saling menyalahkan di bawah terik matahari koridor, sementara kue impian mereka kini entah berada di mana, meninggalkan rasa lapar dan malu yang tak tertahankan.
Bersambung...