"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."
Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).
Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.
Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Mundur Satu Langkah
Malam semakin larut. Hujan di luar belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, justru semakin deras mengguyur atap rumah, menciptakan irama monoton yang memekakkan telinga. Namun, kebisingan hujan itu tidak sebanding dengan keheningan mencekam yang terjadi di dalam rumah.
Setelah mandi dan sholat Isya di kamarnya yang terkunci, Hannah akhirnya keluar. Ia masih mengenakan mukena atasan putih, sementara bawahannya adalah kain sarung batik yang nyaman. Wajahnya segar terkena air wudhu, namun matanya bengkak dan merah.
Akbar, yang sejak tadi duduk di sofa ruang tengah sambil menatap laptop yang layarnya sudah gelap (ia tidak benar-benar bekerja), langsung menegakkan punggungnya saat mendengar suara pintu terbuka.
"Dek?" panggil Akbar lembut, berharap 'mode diam' istrinya sudah berakhir.
Hannah tidak menjawab. Ia berjalan lurus menuju lemari pakaian lemari tempat mereka menyatukan pakaian beberapa hari lalu demi sandiwara di depan orang tua.
Dengan gerakan cepat dan sedikit kasar, Hannah mulai mengeluarkan kemeja-kemeja kerja Akbar dari gantungan. Ia menumpuknya di lengan kiri. Lalu ia mengambil kaos-kaos santai suaminya yang terlipat rapi di rak, menumpuknya lagi hingga tinggi menutupi dagu.
Akbar terbelalak. Ia bangkit dari sofa dan berjalan cepat menghampiri istrinya.
"Lho, Dek? Mau dibawa ke mana baju-baju Mas?" tanya Akbar bingung, tangannya terulur hendak membantu memegang tumpukan baju yang hampir jatuh itu.
Hannah menggeser tubuhnya, menolak bantuan itu.
"Mau Hannah balikin ke kamar depan," jawab Hannah datar, tanpa menatap mata Akbar. "Umi sama Abah kan sudah pulang. Sandiwaranya sudah selesai."
Kalimat itu menghantam dada Akbar lebih keras daripada beton proyek. Sandiwara. Jadi selama beberapa hari ini, kedekatan mereka, tawa mereka, tidur satu kamar (meski beda selimut) itu... bagi Hannah hanya sandiwara?
"Tapi..." Akbar menelan ludah, mencoba menahan rasa kecewa yang mendadak naik ke tenggorokan. "Kenapa harus dipindah sekarang? Malam-malam begini? Kita kan sudah nyaman satu kamar, Dek. Mas pikir..."
"Hannah nggak nyaman," potong Hannah cepat. Kebohongan itu terasa pahit di lidahnya, tapi ia harus mengatakannya.
Jika ia terus satu kamar dengan Akbar, melihat wajah damai suaminya saat tidur, Hannah takut ia akan semakin jatuh cinta. Dan jika ia semakin cinta, rasa sakit saat mimpi itu menjadi kenyataan saat Akbar meninggalkannya demi wanita lain akan semakin menghancurkan. Lebih baik ia mundur sekarang. Membangun benteng lagi sebelum terluka.
"Hannah mau fokus belajar, Mas. Kalau ada Mas di kamar, Hannah nggak bisa konsentrasi. Hannah keganggu suara ketikan laptop Mas, suara napas Mas... Hannah butuh ruang sendiri," Hannah mencerocoskan alasan-alasan yang tidak masuk akal.
Akbar terdiam. Ia menatap istrinya lekat-lekat. Ia tahu Hannah berbohong. Hannah tidak pernah terganggu sebelumnya. Bahkan Hannah pernah bilang suara ketikan laptop Akbar seperti musik pengantar tidur.
Akbar menarik napas panjang, beristighfar dalam hati berkali-kali. Sabar, Akbar. Dia istrimu. Dia masih muda. Emosinya masih labil. Pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Oke," ucap Akbar akhirnya. Suaranya tenang, sangat tenang, meski matanya menyiratkan kepedihan. "Kalau itu mau kamu. Kalau itu membuatmu lebih nyaman belajar dan istirahat, Mas ngalah."
Akbar mengambil alih tumpukan baju dari tangan Hannah. "Biar Mas yang bawa. Berat."
Kali ini Hannah membiarkannya.
Akbar membawa baju-bajunya keluar dari kamar Hannah, menyeberangi lorong, dan masuk kembali ke "kamar bujangan"-nya yang dingin dan sepi. Hannah mengekor di belakang membawa bantal dan guling milik Akbar, lalu meletakkannya di atas kasur kamar depan.
Proses pemindahan itu berlangsung cepat dan sunyi. Dalam sepuluh menit, jejak-jejak Akbar di kamar Hannah sudah bersih. Kamar itu kembali menjadi wilayah otoritas tunggal Hannah.
"Sudah semua?" tanya Akbar saat Hannah meletakkan jam beker milik suaminya di nakas.
Hannah mengangguk, masih menunduk menatap ujung jari kakinya. "Sudah, Mas. Makasih."
Hannah berbalik badan, hendak kembali ke kamarnya.
"Tunggu, Dek," panggil Akbar.
Langkah Hannah terhenti di ambang pintu.
"Mas nggak tahu apa yang terjadi sama kamu seharian ini," Akbar memulai, suaranya terdengar lelah namun tulus. "Mungkin Mas ada salah ngomong, atau Mas kurang peka. Atau mungkin ada masalah di kampus yang kamu belum siap cerita."
Akbar berjalan mendekat, berdiri satu langkah di belakang Hannah. Ia tidak menyentuh istrinya, menghormati jarak yang Hannah minta.
"Mas cuma mau bilang... pintu kamar Mas selalu terbuka. Kapanpun kamu butuh teman cerita, butuh bantuan tugas, atau cuma butuh ditemani diam... ketuk saja. Mas nggak akan ke mana-mana. Mas tetap suamimu, baik kita satu kamar atau pisah kamar."
Bahu Hannah bergetar. Pertahanannya nyaris runtuh mendengar kelembutan itu. Ia ingin berbalik, memeluk Akbar, dan menceritakan mimpi bodohnya. Tapi rasa takut dan gengsi menahannya tetap di tempat.
"Maafin Hannah, Mas," cicit Hannah dengan suara serak. "Hannah cuma lagi capek."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Hannah setengah berlari menuju kamarnya. Ia masuk, menutup pintu, dan memutar kuncinya.
Klik.
Suara kunci itu terdengar seperti vonis hakim yang memisahkan mereka.
Akbar berdiri sendirian di lorong yang remang-remang. Ia menatap pintu kamar Hannah yang tertutup rapat. Hatinya terasa kosong. Padahal baru kemarin mereka sarapan sambil tertawa, dan sekarang mereka kembali menjadi dua orang asing di bawah satu atap.
Akbar mengusap wajahnya kasar. Ia berjalan ke dapur. Di meja makan, tergeletak kotak martabak manis keju yang ia pesan tadi sore. Sudah dingin. Lemaknya sudah membeku.
Dengan sabar, Akbar memanaskan beberapa potong martabak itu di teflon dengan api kecil agar kembali hangat. Ia menyeduh segelas susu cokelat panas.
Ia membawa piring berisi martabak hangat dan segelas susu itu ke depan pintu kamar Hannah. Ia meletakkannya di lantai, tepat di depan pintu.
Akbar mengambil secarik kertas sticky note dan pulpen dari saku kemejanya, lalu menulis pesan singkat:
”Jangan tidur dengan perut kosong. Nanti maag-mu kambuh. Habiskan ya, Dek. Maaf kalau Mas belum bisa jadi suami yang kamu harapkan. Mimpi indah.”
Akbar menempelkan kertas itu di gelas susu. Lalu ia mengetuk pintu kamar Hannah dua kali. Pelan.
Tok. Tok.
"Mas taruh martabak di depan pintu. Dimakan ya," ucap Akbar dari luar.
Setelah itu, Akbar masuk ke kamarnya sendiri dan menutup pintu.
Di dalam kamar, Hannah yang sedang meringkuk di balik selimut mendengar suara ketukan dan pesan itu. Ia menunggu beberapa saat sampai ia yakin Akbar sudah pergi.
Perlahan, Hannah membuka pintu kamarnya sedikit. Ia melihat piring martabak yang masih mengepulkan asap tipis dan segelas susu cokelat.
Air mata Hannah tumpah lagi. Ia mengambil nampan itu, membawanya masuk, dan kembali mengunci pintu.
Sambil memakan martabak yang manis itu, Hannah menangis sesenggukan. Rasa manis martabak itu bercampur dengan rasa asin air matanya.
"Mas Akbar bodoh..." isak Hannah di sela kunyahannya. "Kenapa Mas baik banget sih? Kalau Mas baik begini, Hannah makin takut kehilangan Mas..."
Malam itu, Hannah menghukum dirinya sendiri dengan kerinduan yang ia ciptakan, sementara di kamar sebelah, Akbar menghabiskan malam dengan sholat sunnah, mendoakan agar hati istrinya dilembutkan dan kabut yang menyelimuti rumah tangganya segera berlalu.
Keduanya sama-sama tidak bisa tidur, terpisah oleh dinding tembok dan dinding ego, namun disatukan oleh doa yang sama: Semoga esok lebih baik.
Lanjut lagi? 🤭