Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 "Perpustakaan Mension"
Hujan belum berhenti ketika jam pelajaran bergulir menuju siang.
Ia hanya berubah bentuk—dari deras menjadi rintik yang konsisten, seperti ketukan jari di permukaan kaca yang lupa berhenti. Langit masih kelabu, tapi tidak lagi berat. Cahaya matahari menyelinap malu-malu di sela awan, menciptakan pantulan pucat di halaman sekolah yang basah.
Cherrin duduk di bangkunya sejak sepuluh menit lalu.
Buku catatan terbuka.
Pulpen ada di tangannya.
Namun halaman itu tetap kosong.
Kata-kata tidak datang.
Pikirannya masih tertinggal di lorong lantai dua—di depan pintu ruang OSIS—pada tatapan yang terlalu tenang untuk situasi yang terlalu bising.
Zivaniel.
Nada suaranya.
Cara ia berdiri setengah langkah di depan Cherrin.
Dan kalimat itu.
“Gangguan itu urusan gue.”
Cherrin menghembuskan napas perlahan, lalu menunduk, berusaha memaksa pikirannya kembali ke tugas sejarah yang harus dikumpulkan lusa.
Makalah.
Referensi minimal lima buku.
Tema: Perkembangan Struktur Sosial pada Era Kolonial.
Perpustakaan sekolah jelas tidak cukup.
Dan entah bagaimana—tanpa Cherrin sadari sepenuhnya—nama itu muncul di kepalanya.
Perpustakaan Mansion.
Gedung tua yang berdiri tak jauh dari Mension Keluarga De Luca. Terlalu sunyi. Terlalu besar. Terlalu… intimidatif.
Tapi koleksi bukunya lengkap.
Dan hari ini, Cherrin butuh sunyi.
Ia memutuskan pulang sore itu, ia langsung berjalan menuju ke arah sayap kiri Mension de Luca. Tidak ada Varla sore itu, ia aman dari perkataan menyakitkan wanita itu.
Cat hitamnya tampak indah di beberapa sudut, memperlihatkan keindahan sebuah ruangan besar. Jalan setapak menuju bangunan utama masih basah, memantulkan bayangan pepohonan tinggi yang menjulang di kanan-kiri.
Cherrin melangkah pelan.
Sepatunya meninggalkan jejak samar di permukaan batu.
Udara di sekitar Mansion terasa berbeda—lebih dingin, lebih tenang, seperti dunia yang tidak terburu-buru. Suara hujan di kejauhan nyaris lenyap, tergantikan oleh desir angin yang menyentuh dedaunan besar.
Pintu kayu utama perpustakaan terbuka.
Tidak lebar.
Cukup untuk satu orang masuk.
Cherrin mendorongnya perlahan.
Engselnya berdecit lirih.
Aroma buku lama langsung menyambut—bau kertas tua, kayu lembap, dan debu yang bersih. Ruangan itu luas, langit-langitnya tinggi, dengan jendela-jendela besar di sisi kiri yang membiarkan cahaya abu-abu masuk tanpa perlu lampu.
Rak-rak buku menjulang, tersusun rapi hingga hampir menyentuh langit-langit.
Sunyi.
Tidak kosong.
Tapi sunyi yang hidup.
Cherrin melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati.
Suara pintu itu—klik kecil—terdengar terlalu jelas di ruangan sebesar ini.
Ia menelan ludah.
Lalu berjalan.
Setiap langkahnya teredam oleh karpet berwarna cokelat gelap yang membentang di antara rak-rak.
Ia menarik napas.
Tenang.
Di sini, tidak ada tatapan.
Tidak ada bisikan.
Tidak ada nama yang disebut-sebut.
Hanya buku.
Dan waktu yang berjalan lambat.
Rak sejarah kolonial berada di sayap timur.
Cherrin tahu itu karena papan petunjuk kayu yang tergantung di ujung lorong, tulisannya dibuat dengan gaya lama, sedikit miring, namun masih jelas terbaca.
Ia menyusuri rak demi rak.
Jarinya menyentuh punggung buku, membaca judul-judul yang dicetak dengan huruf emas yang beberapa mulai pudar.
Beberapa buku terlalu tinggi.
Ia harus berjinjit.
Beberapa terlalu berat.
Ia harus menggesernya perlahan agar tidak menjatuhkan yang lain.
Waktu berlalu tanpa ia sadari.
Ia sudah mengambil tiga buku tebal dan menumpuknya di meja baca dekat jendela.
Masih kurang dua.
Cherrin kembali berdiri, melangkah lebih dalam ke lorong rak yang lebih sempit.
Di sinilah rak-raknya paling tinggi.
Dan paling sunyi.
Ia berhenti di depan satu rak.
Judul yang ia cari ada di baris paling atas.
Terlalu atas.
Cherrin menghela napas, lalu berdiri di ujung jari.
Ujung sepatunya sedikit terangkat.
Jarinya menyentuh punggung buku itu—nyaris—tapi belum cukup.
Ia mencoba lagi.
Sedikit lagi.
“Ah—”
Buku itu bergeser.
Namun bukan turun ke tangannya.
Melainkan miring.
Cherrin refleks menarik tangannya—
dan pada saat yang sama—
ada tangan lain yang lebih dulu menahan buku itu.
Gerakannya cepat.
Tenang.
Buku itu tidak jatuh.
Tidak bersuara.
Cherrin membeku.
Jarak di antara mereka—
terlalu dekat.
Ia mencium aroma yang sangat familiar.
Bukan parfum menyengat.
Lebih seperti sabun bersih dan kertas.
Ia tahu itu.
Sebelum ia sempat mundur—
seseorang di belakangnya mencondongkan tubuh sedikit ke depan untuk meletakkan buku itu kembali ke posisi semula.
Dan dalam gerakan yang terlalu sempit—
terlalu dekat—
terlalu tidak terkoordinasi—
bibir itu—
menyentuh.
Singkat.
Nyaris tidak terasa.
Namun nyata.
Cherrin terhenyak.
Ia menoleh cepat—
dan dunia seolah berhenti tepat di sana.
Zivaniel berdiri di belakangnya.
Sangat dekat.
Terlalu dekat.
Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Cherrin.
Mata mereka bertemu.
Zivaniel membeku lebih dulu.
Matanya melebar sedikit—sangat sedikit—namun cukup bagi Cherrin untuk menyadarinya.
Wajahnya tetap tenang.
Namun napasnya tertahan.
Cherrin mundur satu langkah terlalu cepat.
Tumitnya hampir tersandung karpet.
Zivaniel refleks mengulurkan tangan, menahan siku Cherrin agar tidak jatuh.
Sentuhan itu singkat.
Namun membuat jantung Cherrin berdentum lebih keras.
“Maaf,” ucap Zivaniel cepat.
Nada suaranya rendah.
Tidak defensif.
Tidak bercanda.
Murni refleks.
Cherrin menelan ludah.
Wajahnya terasa panas.
“Aku—” suaranya serak. “Aku nggak tau ada orang.”
Zivaniel menarik tangannya kembali, memberi jarak.
“Harusnya aku yang bilang,” jawabnya. “Aku kira perpustakaan ini kosong.”
Sunyi kembali turun di antara mereka.
Hanya suara halaman buku yang sedikit bergeser karena angin dari jendela.
Cherrin menunduk.
Pipinya memanas.
Ia masih bisa merasakan—
itu—
sentuhan yang terlalu cepat untuk disebut ciuman.
Tapi terlalu nyata untuk diabaikan.
Zivaniel berdehem pelan.
“Kamu… nyari buku?” tanyanya akhirnya.
Pertanyaan bodoh.
Namun itu satu-satunya hal netral yang bisa ia ucapkan.
Cherrin mengangguk cepat. “Iya. Tugas sejarah.”
Zivaniel melirik rak di atas kepala mereka.
“Yang tadi?” tanyanya.
Cherrin mengangguk lagi.
Zivaniel meraih buku itu dengan mudah.
Satu gerakan.
Tanpa berjinjit.
Tanpa ragu.
Ia menyerahkannya pada Cherrin dengan dua tangan.
“Ini.”
Jari mereka hampir bersentuhan lagi.
Namun kali ini, Cherrin sudah siap.
Ia mengambil buku itu cepat.
“Terima kasih,” ucapnya lirih.
Zivaniel mengangguk.
Lalu hening lagi.
Lebih canggung dari sebelumnya.
“Kamu sering ke sini?” tanya Cherrin tiba-tiba, lebih untuk mengisi keheningan daripada rasa ingin tahu.
“Kadang,” jawab Zivaniel. “Kalau butuh tenang.”
Cherrin tersenyum kecil.
“Iya,” gumamnya. “Tempatnya…”
“Sunyi,” sambung Zivaniel.
Mata mereka bertemu sebentar.
Lalu sama-sama mengalihkan pandangan.
Cherrin memeluk buku di dadanya.
Jantungnya masih belum kembali ke ritme normal.
Zivaniel berdekhem. "Kamu, udah nggak takut lagi kalau pergi sendirian?" Zivaniel mengusap hidungnya menghilangkan salah tingkahnya.
Cherrin menggelengkan kepalanya. "Udah nggak. Makasih ya, Niel. Semenjak malam itu, kamu bawa aku keluar, aku jadi nggak takut lagi."
Zivaniel menganggukkan kepalanya. "Bagus. Kadang rasa takut itu harus kita lawan."
"Ya. Dan kamu udah buat aku sadar tentang semuanya."
Cherrin terkekeh kecil, sedangkan Zivaniel tersenyum tipis, sebuah senyuman khas dirinya, lalu hening beberapa saat.
"Niel, kasus pembunuhan itu, kayaknya beritanya langsung menghilang deh. Soalnya aku lihat kok beberapa artikel udah nggak membuatnya lagi? Seolah ada seseorang di balik semua itu." Ucap Cherrin, jujur saja ia masih takut saat mengingat kejadian itu, namun ia juga melihat ada suatu kejanggalan yang terjadi.
Zivaniel menarik satu sudut bibirnya ke atas sebuah senyuman miring terbit yang tidak di lihat sedikit pun oleh Cherrin. "Udah, yang penting kamu baik-baik saja. Jangan terlalu memikirkan orang lain." Ucap Zivaniel membuat Cherrin mengerutkan keningnya bingung.
"Niel..."
Zivaniel menoleh. "Kamu udah selesai cari bukunya? Udah mau malam juga, di sini sepi kalau malam." Ucap Zivaniel,
Cherrin tersenyum, ia menganggukkan kepalanya. "Ayo..."
Dan Zivaniel mengambil beberapa buku yang tadi di pilih oleh Cherrin. Ia membawanya, tanpa membiarkan Cherrin yang membawanya.
"Niel, aku bisa bawa sendiri."
"Bukunya berat, Cherrin. Nanti tangan kamu pegel."
Cherrin mendengus. "Nggak ya, cuman bawa buku doang."
"Udah biar aku bawa aja." Ucap Zivaniel kalem dan berjalan terlebih dahulu.
Cherrin tersenyum, entah mengapa hatinya deg deg an.
*
Malam turun perlahan di atas Mansion keluarga de Luca.
Lampu-lampu kristal di ruang utama menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan ke dinding tinggi berlapis kayu gelap. Langit-langit ruangan itu terlalu tinggi untuk sekadar disebut ruang keluarga—lebih mirip aula kecil, tempat suara langkah kaki bisa bergema jika seseorang tidak berhati-hati.
Aroma teh hangat dan hidangan malam bercampur dengan bau kayu tua yang khas.
Ruang itu sudah ramai.
Beberapa sanak keluarga duduk membentuk setengah lingkaran di sofa-sofa empuk berwarna marun. Ada yang berbincang pelan, ada yang tertawa kecil, ada pula yang hanya duduk dengan ekspresi datar, seolah kehadirannya sekadar formalitas.
Nenek Sera duduk di kursi favoritnya—kursi berlengan kayu dengan bantalan tebal—punggungnya tegak meski usia sudah jelas tergambar di garis wajahnya. Di sampingnya, sang suami, De Luca, duduk tenang dengan tongkat kayu tersandar di lututnya.
Di sisi lain ruangan, bibik dan paman Zivaniel sudah lebih dulu datang.
Ratmi.
Perempuan itu duduk dengan kaki disilangkan rapi, gaunnya mahal, perhiasannya berkilau, dan senyum tipis yang nyaris tak pernah menyentuh matanya. Di sebelahnya, suaminya hanya sesekali menyesap minuman, memilih diam.
Maxtin bersandar di dekat jendela, punggungnya menempel ke kusen, matanya mengamati ruangan dengan sikap setengah acuh. Varla duduk di sofa dekat meja kecil, memainkan ponselnya, tapi sesekali melirik ke arah tertentu.
Ke arah Cherrin.
Cherrin duduk di sisi Nenek Sera.
Terlalu tegak.
Terlalu kaku.
Tangannya bertumpu di pangkuan, jemarinya saling bertaut erat hingga buku-buku jarinya memucat. Ia mengenakan gaun sederhana—tidak mencolok, tidak berlebihan—namun di ruangan semewah itu, kesederhanaan terasa seperti kesalahan.
Ia menunduk sedikit.
Tidak berani menatap siapa pun terlalu lama.
Dadanya terasa sempit.
Ia tahu malam ini tidak akan mudah.
Ia tahu kehadirannya bukan sesuatu yang disambut oleh semua orang.
Dan ketakutan itu—
terbukti terlalu cepat.
Baru beberapa menit percakapan mengalir ringan, Ratmi akhirnya meletakkan cangkirnya dengan bunyi klik kecil yang terdengar jelas di keheningan sesaat.
Matanya melirik Cherrin.
Dari ujung rambut—
hingga ujung sepatu.
“Jadi…” katanya, suaranya manis tapi tajam, “ini anak manja itu?”
Beberapa kepala menoleh.
Cherrin menelan ludah.
Nenek Sera mengerutkan dahi, tapi belum sempat bicara.
Ratmi melanjutkan, senyumnya mengembang setengah. “Kelihatannya pendiam, ya. Pantes saja. Orang-orang tanpa asal-usul memang biasanya begitu.”
Hening.
Udara seakan membeku.
Cherrin tidak bergerak.
Ia bisa merasakan panas merambat ke wajahnya, namun tubuhnya menolak untuk bereaksi. Kata-kata itu seperti air dingin—menyiram perlahan, meresap, dan membuatnya mati rasa.
Nenek Sera menoleh tajam.
“Ratmi,” tegurnya pelan namun tegas. “Dia cucuku juga.”
Ratmi mendengus kecil, seolah mendengar lelucon. “Mi, jangan salah paham. Saya cuma bicara fakta.”
Ia menggeser duduknya sedikit, lebih menghadap Cherrin.
“Dia anak yatim piatu,” lanjutnya ringan. “Mami—”
“Cukup!”
Suara Nenek Sera memotong tajam.
Tidak keras.
Namun cukup untuk membuat semua orang terdiam.
Tongkat di tangannya diketukkan pelan ke lantai, satu kali.
Ratmi terdiam, tapi bibirnya mengatup kaku.
“Di rumah ini,” kata Nenek Sera, suaranya bergetar tipis oleh emosi yang ditahan, “tidak ada yang berhak merendahkan siapa pun. Terlebih anak yang duduk di sampingku.”
Cherrin menunduk lebih dalam.
Matanya mulai panas.
Namun ia menahannya.
Ratmi menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis. “Baiklah, kalau begitu. Tapi Mami juga harus ingat, nama besar keluarga de Luca bukan mainan.”
De Luca akhirnya angkat suara, nadanya berat. “Nama besar itu justru tercoreng kalau kita lupa cara menjadi manusia.”
Maxtin mengangkat alis.
Varla berhenti memainkan ponselnya.
Ruangan kembali sunyi.
Cherrin duduk diam.
Ia merasa kecil.
Namun untuk pertama kalinya malam itu—
ia juga merasa dilindungi.
Tangan Nenek Sera bergerak pelan, menepuk punggung tangan Cherrin dengan lembut.
Isyarat sederhana.
Namun cukup untuk membuat napas Cherrin sedikit lebih lega.
Di sudut ruangan, tanpa banyak orang sadari—Zivaniel berdiri.
Ia baru saja masuk.
Dan ia mendengar semuanya. Zivaniel bisa tenang karena neneknya pasti membela Cherrin.