NovelToon NovelToon
DARI MAFIA JADI CEO

DARI MAFIA JADI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Persahabatan
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 12

"Aan, kunci koordinat kawah Tycho. Aku ingin visual detail sekarang juga!" suara Laras memecah keheningan di anjungan.

Di layar utama, debu bulan beterbangan seperti salju perak. Struktur yang muncul dari perut bulan itu mulai menyingkap bentuk aslinya: sebuah menara transmisi masif yang dikelilingi oleh ribuan unit drone otonom berbentuk kelopak bunga logam. Mereka tidak menyerang Astra Mawar, melainkan berbaris rapi di sekeliling kubah kota, membentuk formasi pelindung.

"Ini bukan senjata ofensif, Laras," Aan mengamati aliran data yang mengalir deras di lengannya. "Ini adalah sistem Interstellar Relay. Arca di bawah kita adalah jantungnya, dan menara di Tycho itu adalah antenanya. Pesan yang Ayahmu kirim sebelum ledakan... itu bukan sekadar pesan perpisahan. Itu adalah protokol jabat tangan dengan entitas yang membangun teknologi ini."

Sinta melangkah maju, jemarinya menyentuh proyeksi hologram menara tersebut. "Aryo selalu bilang dia hanya seorang mekanik. Tapi dia tahu cara memperbaiki hubungan yang rusak. Dia memulihkan jalur komunikasi yang sudah terputus selama ribuan tahun."

Tiba-tiba, sebuah sinyal balasan masuk. Namun, ini bukan dari Bumi. Sinyal itu berasal dari arah Sabuk Asteroid, dari sebuah objek yang bergerak dengan kecepatan yang melampaui hukum fisika manusia.

"Laras, lihat ini!" Aan memperbesar titik cahaya di layar. "Satu kapal... tidak, satu armada kecil. Mereka menggunakan tanda pengenal termal yang identik dengan frekuensi Arca kita. Mereka datang bukan untuk menjajah, tapi untuk menjawab panggilan 'Kunci' yang diaktifkan Aryo."

Laras mengepalkan tangannya. Di bawah sana, di Bumi yang gelap, ia bisa membayangkan Dio dan kawan-kawannya sedang menatap ke langit, melihat Bulan yang kini bersinar dengan cahaya biru yang tak wajar. Mereka mungkin takut, tapi mereka juga memiliki harapan baru di tangan mereka berupa cetak biru yang baru saja ia kirimkan.

"Kita tidak bisa membiarkan Konsorsium mencegat armada ini," ujar Laras tegas. "Aan, arahkan pemancar energi Arca untuk menciptakan koridor vakum. Kita akan menuntun mereka masuk ke orbit Bulan tanpa terdeteksi oleh sisa-sisa radar Leviathan."

"Bagaimana dengan orang-orang di Bumi?" tanya Sinta pelan. "Jika mereka melihat armada asing mendarat di Bulan, ketakutan akan memicu perang yang lebih besar."

Laras menoleh ke arah patung perunggu ayahnya, lalu kembali ke layar yang menampilkan ribuan bengkel kecil di Bumi yang mulai menyala karena generator mandiri. "Itulah tugas kita, Bu. Kita tidak hanya menjaga gerbang. Kita harus menjadi penerjemah antara dua peradaban ini. Kita akan menggunakan jaringan 'Hujan Mawar' milik Paman Aan untuk menyebarkan kebenaran sebelum Konsorsium menyebarkan propaganda ketakutan."

Laras duduk kembali di kursi komandonya, menyalakan mikrofon yang terhubung ke seluruh jaringan radio amatir di Bumi.

"Untuk semua warga Lembah Mawar dan mereka yang berada di kegelapan," suara Laras bergema, tenang namun penuh otoritas. "Nama saya Laras Baskoro. Langit tidak sedang menyerang kita. Langit sedang pulang. Bersiaplah, karena malam ini adalah malam terakhir kita hidup sebagai budak energi. Besok, kita akan belajar terbang."

Di permukaan bulan, menara Tycho mulai berpendar terang, menembakkan berkas cahaya murni ke arah armada yang mendekat, sementara di bawah sana, di sela-sela gang sempit Jakarta hingga pelosok desa, lampu-lampu buatan rakyat mulai menyala satu per satu, membentuk formasi mawar cahaya yang terlihat jelas dari luar angkasa.

Guncangan hebat tiba-tiba melanda anjungan Astra Mawar. Namun, kali ini bukan karena serangan fisik, melainkan karena pergeseran gravitasi yang ekstrem. Di luar kubah, ruang hampa udara seolah melengkung, menciptakan riak visual seperti air yang tenang tertiup angin.

"Mereka sudah sampai," bisik Aan. Matanya yang mekanik menangkap jutaan bit data yang tak mampu diproses komputer biasa. "Laras, mereka tidak menggunakan mesin pendorong. Mereka bergerak dengan melipat ruang menggunakan resonansi yang sama dengan chip di lehermu."

Tiga kapal ramping dengan desain organik—terlihat seperti tulang yang dibalut logam cair keperakan—muncul dari lipatan ruang tepat di depan menara Tycho. Kapal-kapal itu tidak memiliki lubang senjata, hanya susunan kristal yang berpendar lembut.

"Paman, buka saluran komunikasi terbuka. Gunakan bahasa gelombang yang diajarkan Arca," perintah Laras.

Layar di depan mereka tiba-tiba terbelah. Tidak ada wajah alien yang mengerikan, tidak ada monster. Yang muncul adalah sebuah proyeksi geometri kompleks yang terus berubah bentuk, diikuti oleh suara yang terasa seperti getaran langsung di dalam tengkorak mereka.

"Penjaga Generasi Ketiga... Kami menerima sinyal pengorbanan Ksatria Tua. Keseimbangan telah dipulihkan."

Sinta melangkah maju, suaranya bergetar. "Apa maksudmu dengan keseimbangan? Siapa kalian?"

Proyeksi itu berubah menjadi siluet yang menyerupai manusia, namun transparan dan dipenuhi bintik cahaya seperti galaksi mini. "Kami adalah para pemangkas taman yang lama pergi. Teknologi yang kalian sebut Arca adalah benih yang kami titipkan pada nenek moyangmu. Kami kembali karena seseorang akhirnya berani melepaskan ketergantungan pada kehancuran untuk menyelamatkan masa depan."

"Ayahku mati untuk ini," kata Laras, suaranya parau. "Dia menghancurkan sistem di Bumi agar kalian bisa masuk tanpa memicu perang nuklir."

"Dia tidak mati, Penjaga. Dia telah terintegrasi dengan frekuensi dasar sistem ini. Dia adalah bagian dari sandi yang memungkinkan kami mendarat tanpa menghancurkan atmosfer kalian."

Di layar radar, terlihat pergerakan dari Bumi. Sisa-sisa kekuatan Konsorsium, yang masih memiliki beberapa jet tempur bertenaga bahan bakar kimia tua, mencoba meluncur menuju Bulan dalam upaya putus asa untuk mengklaim teknologi asing tersebut.

"Mereka datang," Aan memperingatkan. "Skuadron terakhir Leviathan. Mereka membawa hulu ledak konvensional. Mereka lebih baik menghancurkan Bulan daripada membiarkan kita memimpin perubahan."

Laras menatap siluet cahaya di depannya. "Dapatkah kalian membantu kami menghentikan mereka tanpa pertumpahan darah?"

Proyeksi itu berpendar terang. "Tugas kami bukan berperang, tapi memberi sarana. Gunakan jembatan energi Tycho. Gabungkan dengan frekuensi Mawar Hitam milikmu. Ubah amarah mereka menjadi keheningan."

Laras menutup matanya, meletakkan telapak tangannya pada konsol utama yang terhubung langsung dengan denyut Arca. Ia tidak membayangkan senjata. Ia membayangkan jalanan Lembah Mawar, bau oli motor ayahnya, dan tekad para pemuda panti asuhan.

"Paman Aan, kirimkan sinyal 'Damai Mawar' ke seluruh pilot tempur itu," perintah Laras.

Cahaya biru raksasa memancar dari kawah Tycho, melewati Astra Mawar, dan menyapu armada jet Konsorsium yang sedang meluncur. Bukan ledakan yang terjadi, melainkan fenomena aneh: mesin-mesim jet tersebut melambat secara alami, sistem senjata mereka terkunci secara permanen, dan para pilot di dalamnya tiba-tiba merasakan ketenangan yang luar biasa—sebuah proyeksi memori kolektif tentang Bumi yang hijau dan damai.

"Mereka berbalik arah," Aan menghela napas lega. "Mereka pulang ke Bumi... bukan sebagai musuh, tapi sebagai saksi."

Sinta menggenggam tangan Laras. Di kejauhan, salah satu kapal organik itu mulai mendarat di dermaga Astra Mawar. Pintunya terbuka, mengeluarkan kabut putih yang menyegarkan.

"Laras," bisik Sinta. "Ini adalah awal yang ditakutkan Ayahmu, namun juga yang sangat ia harapkan. Kita tidak lagi hanya menjaga desa. Kita sedang menjaga pintu menuju bintang-bintang."

Laras menatap Bumi yang kini mulai dihiasi bintik-bintik cahaya hijau dari generator mandiri hasil kirimannya. "Ayah sudah menyelesaikan bagiannya. Sekarang, giliran kita membangun taman yang tidak akan pernah layu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!