NovelToon NovelToon
Legenda Naga Terkutuk

Legenda Naga Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Perperangan / Fantasi
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: Amateurss

Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

foto keluarga

"Permisi... Apakah ini benar rumah Nenek Joa dan Tuan Lukas?" Suara cempreng seorang anak kecil terdengar dari balik pintu, diikuti ketukan yang beruntun.

"Iya... siapa itu?" sahut Joa sembari mengeringkan tangannya dan membuka pintu.

Di hadapannya berdiri seorang bocah laki-laki dengan rambut pirang yang rapi dan mata biru jernih. Usianya tampak sedikit lebih tua dari Luce. Bocah itu berdiri tegak sambil memegang sebuah keranjang anyaman yang berisi berbagai jenis makanan lezat.

"Dari keluarga besar Grand Cadenza," ujar bocah pirang itu dengan sopan sembari menyodorkan keranjang di tangannya kepada Joa.

Joa terpaku sejenak, lalu tersenyum hangat menerima pemberian itu. "Oh... terima kasih banyak, Anak Manis. Tapi, ada apa ini? Tiba-tiba sekali..."

"Tidak tahu, Nek. Katanya untuk peringatan lima puluh tahun," jawab si bocah dengan polos.

"Oh begitu... perayaan besar, ya?" Joa mengangguk-angguk paham. "Sebentar, kau tahu Tuan Robert, pemimpin Grand Cadenza, kan? Bisakah kau sampaikan surat terima kasih dariku padanya nanti?" tanya Joa sembari bergegas mencari pena dan secarik kertas untuk menulis pesan singkat.

"Iya... itu Ayah saya," jawab bocah pirang itu santai.

Pernyataan itu membuat gerakan tangan Joa terhenti. Ia menoleh dengan tatapan sedikit terkejut. "Eh? Aku bahkan tidak tahu kalau Robert sudah punya anak sebesar ini..." gumam Joa takjub, lalu kembali melanjutkan goresan penanya dengan senyum yang kian lebar.

Luce kecil tetap diam di posisinya, memeluk buku besar milik ibunya dengan erat sembari menatap bocah pirang itu dalam diam. Merasa diperhatikan, bocah pirang itu menoleh ke arah Luce. Pandangan mereka bertemu sejenak di ambang pintu.

"Apa?" tanya bocah pirang itu, sedikit bingung ditatap sedemikian rupa.

"Rambutmu... kok kuning?" tanya Luce polos.

Bocah itu mengerutkan kening, lalu menjawab asal, "Ya memang kuning dari sananya. Siapa namamu?"

"Luce..." jawab Luce kecil sembari menjulurkan tangan kecilnya dengan ragu.

Bocah pirang itu menjabat tangan Luce, meski gerakannya tampak agak kikuk. "Kenny," ujarnya singkat. Ia kemudian melongok ke dalam rumah sejenak. "Rumahmu di sini?"

Luce mengangguk pelan. Tak lama kemudian, Nenek Joa kembali muncul dengan sepucuk surat yang baru saja selesai ditulisnya.

"Ini, Nak. Tolong sampaikan terima kasih kami kepada ayahmu, ya," ujar Joa hangat. Kenny mengangguk sopan dan menerima surat itu dengan sigap.

Sebelum berbalik pergi, Kenny menatap Luce kembali. "Besok aku main ke sini, boleh?"

Mata Luce sedikit membulat, lalu ia mengangguk setuju.

"Ya sudah... sampai besok, ya!" seru Kenny kecil sembari melambaikan tangan, melangkah pergi meninggalkan pekarangan rumah kayu itu.

Nenek Joa menutup kembali pintu rumahnya, lalu membawa keranjang pemberian keluarga Grand Cadenza itu ke atas meja di tengah ruangan. Ia menoleh ke arah Luce dengan senyum penuh arti.

"Lihat... arti mimpimu jadi nyata, kan, Nak Luce? Dengan begini, kita tidak perlu repot memasak untuk dua hari ke depan," ujarnya lembut sembari mulai mengeluarkan isi keranjang. Ada roti yang masih tercium aromanya, buah-buahan segar, dan potongan daging kering yang tampak lezat.

Mata kecil Luce membulat sempurna melihat tumpukan makanan itu. "Wah... iya, Nek! Keren!" serunya berbinar sembari segera mendekat ke meja.

"Ayo, sarapan dulu!" ajak Joa. Beberapa saat kemudian, nenek dan cucu itu duduk berdampingan, menikmati sarapan pagi yang terasa lebih enak dari biasanya di meja kayu mereka yang sederhana.

Di tengah makan, Luce kecil meletakkan buku besar milik ibunya di atas meja. Joa menghentikan makannya sejenak, mengambil buku itu, lalu mengusap sampulnya dengan penuh kasih sayang.

"Lain kali, kalau kau bermimpi aneh lagi, beri tahu Nenek, ya. Kita cari tahu artinya bersama-sama lagi," ujarnya sembari tertawa tulus. "Tapi, supaya bukunya tidak rusak atau kotor, biar Nenek yang simpan."

Joa kemudian memasukkan buku itu ke dalam keranjang oval anyaman kayu, keranjang yang baru saja dibawa oleh Kenny, dan meletakkannya dengan hati-hati di atas lemari tinggi. Luce kecil mengangguk bersemangat, tawanya yang polos menyatu dengan kehangatan pagi itu saat mereka melanjutkan sarapan bersama.

...****************...

Luce tersentak bangun saat embusan angin dingin menerjang masuk melalui jendela yang lupa ia tutup. Sambil menggigil, ia segera beranjak untuk menutup daun jendela itu.

Kesadarannya perlahan terkumpul, ia baru menyadari bahwa dirinya sempat jatuh tertidur di tengah rasa putus asa semalam.

"Ah, sial... aku ketiduran, ya?" gumamnya lirih pada kesunyian ruangan.

Ia menatap ke luar jendela. Semburat jingga samar mulai mengintip di ufuk timur, menandakan fajar akan segera tiba. Luce terdiam sejenak di atas tumpukan jeraminya, mencoba merajut kembali kepingan ingatannya. Tiba-tiba, jantungnya berdegup kencang. Mimpi tadi terasa begitu nyata, ia seolah baru saja melihat kembali tangan keriput Nenek Joa meletakkan buku itu.

Luce segera terperanjat. Dengan cekatan, ia menyusun beberapa kotak kayu dan kursi agar bisa menggapai bagian atas lemari tua yang tinggi itu. Namun, saat kepalanya berhasil melongok ke atas, ia hanya mendesah kecewa. Kosong. Hanya ada lapisan debu tebal yang menyambutnya.

Dengan bahu merosot, ia turun dan kembali terduduk di tumpukan jerami.

"Hah... di mana sebenarnya benda itu?" gumam Luce frustrasi.

Ia memejamkan mata, memeras otaknya untuk mengingat detik-detik terakhir saat ia menyaksikan buku tersebut. Kalimat sang nenek kembali terngiang di kepalanya seperti bisikan gaib.

"Wadah kayu oval... aman, tidak rusak, tidak kotor..."

Luce mengulang kalimat itu berkali-kali seperti sebuah mantra. Ia mulai kembali mondar-mandir dengan gelisah, masuk ke kamar mendiang neneknya, menggeledah kamar orang tuanya, lalu kembali lagi ke ruang tengah. Matanya menyisir setiap inci ruangan, mencari benda dengan spesifikasi yang persis seperti dalam ingatannya.

Namun, ia tetap tidak menemukan apa-apa. Hasilnya masih nihil.

Luce menggeram frustrasi. Ia mengacak rambutnya kasar, lalu kembali menjatuhkan diri di kasur jerami nya. Sambil menyandarkan punggungnya yang letih, pandangannya kembali tertambat pada foto lama yang tertempel di dinding kayu.

"Nek... di mana kau menaruh bukunya?" bisiknya memelas pada potret sang nenek. "Temanku mengalami mimpi buruk. Aku harus membantunya... aku butuh buku itu."

Ia memperhatikan foto itu, nenek dengan senyum lebarnya, ibu yang sedang dipeluk dari belakang oleh ayah, dirinya yang sedang didalam perut ibunya, kertasnya yang mulai menguning, bingkai kayu oval nya yang tidak rata.

!!

Luce melesat dari ranjang jeraminya, ia menyambar foto itu, dan memperhatikannya dari jarak yang sangat dekat. Ternyata, di sisi bingkai kayu oval itu terdapat sebuah engsel tua yang samar. Dengan tangan gemetar, Luce mencongkel engsel tersebut.

​Begitu bingkai foto yang ternyata dibuat dari bekas keranjang kayu itu terbuka, tampak buku penerjemah mimpi milik mendiang ibunya, membuat Luce nyaris bersorak bahagia.

1
MnyneSan
haishh slime pincang loh 🤭
MnyneSan
sumpah serasa masuk ke cerita waktu baca, aku pasti ketawa ngik ngok kalo disana🤣
MnyneSan
segila itu ya padahal cuma kotoran🤭tapi mengingat kata terkutuk udah pantas sih😅bisa aja deh authornya
MnyneSan
duh kok tiba-tiba bauu, ya?
MnyneSan
semangat thor
Amateurss: siap kakak 🙏
total 1 replies
MnyneSan
Aku suka gaya penulisan rapi dan tidak pasaran ini
MnyneSan
kalo pencampuran sama goblin berarti ayahnya goblin kan? atau ayah nya juga campuran atau emang wujud goblinnya itu kayak manusia gitu(tp hijau)?
Amateurss: masih terus di bab 6 , hehehe 😁
total 1 replies
anggita
ikut dukung ng👍like sama iklan☝saja.
Amateurss: terimakasih kala🙏🙏
total 1 replies
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏, pemula
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏🙏..masih pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!