Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
“Beruntung sekali kamu bisa diterima di sekolah ini,” ujar Bu Mikayla dengan suara lembutnya yang mengalir seperti embun pagi, membawa ketenangan yang membuat semua pendengarnya tak berani berpaling.
“Untuk masuk Draco High School, tidak cukup hanya dengan keberuntungan. Mereka menuntut usaha keras, terutama di bidang akademik. Di sini, hanya yang terpilih yang bisa bertahan.”
Dia menatap tajam, seolah ingin menanamkan pesan itu dalam-dalam ke setiap jiwa yang mendengarnya.
“Benar, Bu,” jawabnya dengan nada yang menyimpan rahasia dan teka-teki yang belum terungkap.
“Aku tahu, keberuntungan ini bukan sekadar kebetulan.” Kata-katanya menggantung, mengundang pertanyaan dan rasa penasaran yang membakar.
Apa sebenarnya yang tersembunyi di balik senyum dan ketenangan itu?
Tak terasa, langkah kaki mereka melangkah menuju kelas IPA yang kelak akan menjadi tempat Aurora menorehkan cerita baru dalam hidupnya.
Pintu kelas terbuka, dan pandangan anak-anak langsung tertuju tajam, penuh rasa penasaran dan bisik-bisik yang nyaris terdengar mengiris keheningan pagi itu.
“Assalamualaikum wr.wb. Selamat pagi, anak-anak,” suara Bu Mikayla mengalun lembut namun tegas, mengiringi senyum hangat yang menyelimuti wajahnya.
“Waalaikumsalam wr.wb. Selamat pagi, Bu Guru,” jawab mereka serempak, nada yang tulus namun tak bisa menyembunyikan sedikit ketegangan.
Hari itu, ruang kelas seolah menjadi panggung bagi Aurora. “Hari ini kita kedatangan murid baru. Silakan, perkenalkan dirimu,” Bu Mikayla mempersilakan, matanya penuh perhatian.
Sementara udara dipenuhi campuran harap dan gugup yang menggelayut dalam setiap detik.
...****************...
Aurora melangkah maju, senyum polos dan ramahnya tersungging seperti cahaya pagi yang menenangkan. "Hallo semuanya, selamat pagi. Perkenalkan, namaku Aurora Bellazena Har—"
Namun sebelum kalimatnya tuntas, sebuah suara tajam memotong udara tenang di ruangan itu.
Seorang gadis dengan tatapan penuh sindiran menatap lurus ke arahnya. "Har apa? Mimpi ya kamu mau masuk keluarga Harvey? Percaya diri banget sih!" ejek Anjani, nadanya menusuk bagai duri tajam.
Aurora membalas dengan tatapan dingin yang membeku, memilih diam dan menolak terjerat oleh hinaan itu. Namun, api kemarahan justru menyala dalam diri Bu Mikayla.
Suaranya menggelegar, memecah keheningan yang sempat mencengkeram ruangan. "Anjani! Jaga bicara kamu! Apakah pantas kamu berbicara seperti itu pada orang yang bahkan baru kamu kenal?" tegur Bu Mikayla dengan tegas, menegakkan kewibawaan sebagai guru sekaligus pelindung yang tak tergoyahkan.
Kata-kata itu menggema di antara mereka, membangun ketegangan yang menebal, seolah menyatakan bahwa pertempuran tak hanya terjadi di dunia, tapi juga di hati dan harga diri setiap orang.
Anjani mundur pelan, lalu kembali duduk dengan wajah berkerut penuh kekesalan. "Ini semua karena Aurora... awas saja," gumamnya, suara penuh dendam, masih panas oleh amarah karena dimarahi guru di depan seluruh teman sekelasnya.
Bu Mikayla menoleh lembut ke arah Aurora, bibirnya tersungging senyum penuh pengertian. "Silakan, lanjutkan perkenalan mu, Aurora."
Aurora mengangguk pelan, suaranya tenang namun ada sedikit getir di dalamnya. Kali ini ia tak lagi menyebutkan marga di namanya, seolah ingin menghapus jejak yang pernah membuatnya jadi sasaran.
Setelah perkenalan usai, Bu Mikayla mempersilakan Aurora duduk di kursi kosong paling belakang, bersebelahan dengan siswi berkacamata yang tak banyak bicara, seakan menjadi satu-satunya teman di tengah badai yang melingkupi Aurora.
Aurora melangkah tenang menuju kursinya, melewati tatapan tajam Anjani yang seolah ingin melahapnya hidup-hidup.
Seakan Sorot mata itu bisa menembus kulit,dan menusuk jauh ke dalam jiwa. Namun, Aurora tetap berdiri teguh tanpa sepatah kata, ia hari ini tak ingin membuat keributan apalagi hari pertamanya masuk ke sekolah.
Hari ini, ia memilih diam enggan membuang energi untuk pertarungan yang bisa menunggu lain waktu.
...****************...
"Hai, aku Aurora," sapanya ramah, tangan mungilnya terulur penuh harap ke arah teman sebangkunya.
Namun, tangan itu hanya diam terpaku di udara. Siswi berkacamata itu menatap tangan Aurora dengan dingin, lalu membalik pandangannya ke depan sambil menggeser kacamatanya tanpa sedikit pun senyum mengembang.
"Aku Seina," jawabnya singkat, nyaris seperti perintah yang tak perlu dibalas.
Seina—anak yang selalu dikenal sebagai kutu buku sejati, sosok yang nyaris tak punya teman selain tumpukan buku dan halaman-halaman perpustakaan yang setia menemaninya.
Dia bukan sekadar pendiam, dia membungkus dirinya dengan dinding kebisuan dan jarak, menolak disentuh oleh dunia luar yang terlalu riuh dan penuh keramaian.
Dalam kesendirian itu, ia merasa aman, bebas dari gaduh perasaan yang tak pernah dia mau, serta dari hiruk-pikuk yang tak dia pedulikan.
Dunia Seina hanyalah buku-buku yang memberinya kehangatan, sementara manusia hanyalah bayang-bayang yang harus ia hindari.
Aurora menarik tangannya kikuk, dia menggaruk kepalanya canggung, dalam hati berkata, ' terserahlah.' sambil mengangkat bahunya acuh.
...****************...
Siang ini, udara di luar sekolah terasa panas. Semua murid sekolah DHS berhamburan keluar untuk menuju kantin dimana makan siang mereka sudah di sediakan oleh pihak sekolah sebagai salah satu fasilitas mewah yang di berikan.
"Kamu tidak ke kantin, Seina?" tanya Aurora, dia suka sifat Seina yang tenang dan tak banyak bicara.
Aurora menopang dagu dengan mata fokus pada sosok Seina yang tampak acuh dengan sekitar sebab ia sibuk pada buku-bukunya.
"Aku makan siang paling akhir," jawabnya singkat,
dia melirik Aurora sedikit sebelum akhirnya kembali fokus pada tumpukkan buku yang pagi tadi dia ambil dari perpustakaan sekolah.
"Boleh aku bertanya, Seina?" mata Aurora menatap tegas Seina.
"Katakan saja! Aku dengar," balas Seina yakin tanpa melirik sedikitpun.
"Seina Assegaf, kau tidak lupa padaku, kan?" bisik Aurora dengan sinis.
Seina tersenyum tipis, dia membenarkan letak kacamatanya dengan gerakan pelan, perlahan.
Gadis cantik yang mendapatkan julukan kutu buku itu menoleh menatap Aurora dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kalian berdua!" seseorang bersuara dari balik pintu sebelum sempat Seina menjawab.
Keduanya kembali diam, tak bersuara seolah obrolan keduanya tadi hanya sebuah perkenalan kecil tanpa arti.
"Aku Aurora dan dia Seina, jadi panggil sesuai nama, apa kamu paham?" Aurora bertanya sinis dengan mata menatap kejam tanpa ampun pada sosok dua gadis di depan pintu.
"Lalu? Apa kami harus memanggil kamu Nona besar begitu?" balasnya sinis.
Aurora hanya diam, tak merespon dia hanya menatap dalam kebisuan yang membungkam keduanya dengan telak.
"Sudahlah, kalian harus segera ke kantin sekarang!" setelah mengatakan itu, keduanya berlalu meninggalkan Aurora dan Seina kembali di dalam kelas.
Tidak ada kecanggungan, justru rasa berbeda terasa aneh di antara keduanya. Seina hanya melirik tanpa mengucapkan apapun.
Suara kursi di dorong kebelakang mengalihkan fokus Seina dari buku, gadis itu memandang Aurora dengan tenang.
"Mau ke kantin atau tetap di sini?" tanya Aurora, dia bukan sekedar bertanya. Namun, teka-teki di setiap kata seperti kode yang harus lawannya pahami.
"Iya, aku akan meletakkan ini dulu," jawab Seina.
Aurora hanya diam, tak ada respon berarti dari setiap tatapan dia pada Seina yang sibuk.
selalu d berikan kesehatan😄