Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai berperang
Hari minggu tiba, hari yang di nanti sekaligus yang membuatku deg degan. Bagaimana tidak? siang ini aku di ajak jalan sama Adit, tapi juga sama mamanya. Tak tahu mau di ajak kemana. Kami akan mulai saling mengenal. Sejujurnya aku takut dia akan menolak, tapi aku akan berusaha melakukan yang terbaik.
Aku memilih baju yang tak terlalu formal, dres panjang warna mint yang senada dengan jilbabnya. tak lupa kardigan warna army menjadi pelengkap. Sesederhana itu lah aku. Terserah nanti bagaimana tanggapan mamanya Adit, yang pasti aku hanya ingin jadi diriku sendiri, tak akan memaksakan apapun.
Tepat pukul setengah sembilan Adit datang menjemput. Dia datang dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Sangat kontras dengan aku yang agak pucat karena gugup.
" Kalian mau kemana". Tanya ayah ketika Adit meminta ijin untuk membawa kita pergi jalan.
" Aku mau ajak dia ke rumah boleh kan yah? mau aku kenalkan sama mamaku".
Ayah belum menjawab, dia masih mengamati wajah Adit seperti mencari sesuatu yang aku tak tahu apa itu.
" Kamu mau kenalkan dia sama orang tuamu? Kamu yakin? ".
" InsyaAllah yakin yah".
" Ya sudah ayah ijinkan, yang penting jaga dia baik baik".
" Baik yah... Terima kasih".
Kami pin pergi meninggalkan rumah ku. Aku seperti akan pergi bertempur, padahal hanya bertemu orang tuanya Adit.
" Dit... aku.... penampilan ku kayak gini apa nggak masalah? *.Aku bertanya pada Adit yang sedang mengendarai mobil menuju rumahnya.
" Emang kenapa? biasanya juga gini kan".
" Maksudku apa orang tua kamu nanti bakal suka".
" Seperti apapun kamu., aku suka kamu yang sederhana. Kalau masalah mereka, biarlah mau menilai seperti apa nanti. Yang penting hatimu cantik, dan tunjukan itu".
"Aku gugup nih Dit"..
" tenang saja ..Biasa aja deh Ra. ". " Mama ku santai kok orangnya".
" Tetep aja gugup. Ntar kalo dia nggak suka aku gimana? ".
" Pikirin ntar, yang penting sekarang kamu coba deh ambil hati dia".
Aku menghirup nafas dalam kemudian aku hembuskan berlahan. Ku ulangi beberapa kali hingga hati ini menjadi agak tenang. Ku ucapkan Bismillah dalam hati agar hatiku kuat menghadapinya.
Setelah memakan waktu hampir satu jam, akhirnya kami sampai di depan rumah Adit. Rumah besar dua lantai yang di cat dengan warna putih bersih, menambah kemewahannya. Aku menatap halamannya yang luas dan di tumbuhi berbagai tanaman bunga yang indah. ' lihat ini... baru juga sampai depan rumah, udah kontras banget sama keadaan rumahku yang sangat sederhana. Gimana aku bisa biasa aja coba' Aku berargumen dalam hati.
" Di rumah ada siapa aja Dit? ".
" Semua orang rumah ada. Meraka lagi ngumpul pengen lahat kamu".
" Ada siapa saja? ".
" Mama papa sama adek ku doang kok".
" Beneran? ".
" Ya emang ada siapa lagi? lagian paling bentar lagi adekku juga pergi kok. Biasanya gitu. Kalo nggak malah udah pergi sama teman teman nya".
Aku masih diam mematung memandangi rumah besar itu dengan seksama. Aku berusaha menerawang jauh ke dalam rumah. Berharap di dalam sana ada kehangatan, bukan dinding tembok tinggi yang dingin.
" Ayo Ra masuk".
Adit mengajakku kedalam, memaksaku kembali ke dunia nyata.
Sungguh betapa di dalam hati ini, genderang perang seperti sedang di tabuh. Detak kannya serasa begitu keras terdengar di telinga. Seolah menjadi irama yang mengiringi langkah kaki ku yang berlahan melewati halaman yang luas menuju rumah.
" Assalamu'alaikum". ucap ku dan Adit kompak.
" Wa'alaikum salam*. Jawab suara tegas yang terdengar dari dalam rumah.
"Eh.. udah dateng". Jawab seorang ibu setengah baya membuka pintu dari dalam. Dia mengamati ku dari ujung kepala sampai ujung kali. Tatapan itu sangat tajam seolah ingin menguliti ku yang hanya bisa berdiri mematung. " Ayo... mari masuk". Anaknya pada akhirnya.
Setelah memasuki ruang tamu, suasana berbeda di sini terlihat jelas kemewahannya. Dengan cat abu abu yang lebih mendominasi.
Di salah satu sofa terlihat seorang lelaki yang tengah duduk sambil menikmati kopinya. Hatiku semakin berisik tak menentu.
" Kalian sudah datang? ". Tanyanya sopan. Sapaannya lebih dah dari pada yang tadi membukakan pintu. Kali ini tatapannya lebih ramah tanpa ada sorotan yang menguliti seperti tadi.
"Ayo mari duduk".
" Iya om... makasih banyak". Aku pun. duduk di sofa yang ada dihadapan papanya Adit. Sangat pelan aku menduduki nya seolah takut menyentuh barang mewah itu.
Adit pun memperkenalkan ku pada mereka. kini kedua arang tua Adit sudah duduk di ruang tamu. Suasana begitu mencekam bagiku. Seolah aku akan diadili karena melakukan sebuah kesalahan.
"Jadi... kapan. kamu kenal Adit? ". Mamanya Adit membuka obrolan. Masih dengan sorotan mata yang tajam. Aku sempat tegang tapi sedetik kemudian aku bisa kembali tenang.
" Sekitar setahun lalu tante.".
" Lama juga ya.... lalu sejauh apa hubungan kalian sekarang? ".
" Belum terlalu jauh tante. Masih dalam pengenalan lebih lanjut".
" Apa kalian pacaran? ".
" tidak om... aku nggak mau pacaran".
" Lalu apa namanya hubungan kalian ini? Adit nggak pernah lho bawa cewek ke rumah. Baru ki ini.".
" Kami emang nggak pacaran pa ma tapi Adit serius sama Amara. Makanya Adit ajak dia kesini biar bisa kenal dulu sama mama papa". Adit telah menjawabnya sebelum aku menjawab.
" Kamu kenal dimana Dit? ". Tanya mama nya dingin.
" Dikenalin teman dulu waktu dia hampir selesai kuliah".
" Lalu sekarang kerja apa? ".
" Designer di salah satu butik tan".
" Benarkah? ". Dia kembali mengamati ku seolah mencari kebenaran.
Aku mengangguk mencoba meyakinkan nya.
Obrolan demi obrolan terus mengalir, menjadi semakin ringan. Aku pun sudah tidak se gugup tadi. Yang ku lihat di sini, bahwa papanya terlihat lebih hangat sedangkan mamanya, seperti ada tembok yang sedang dia coba untuk bangun. Terlihat di tidak begitu suka padaku. Tapi aku mencoba tetap tersenyum, tetap tenang.
Hingga setelah makan siang, aku hendak pulang ketika mamanya mengatakan sesuatu. Saat itu papanya sudah pergi dari ruang maka dan Adit pamit ke kamarnya sebentar.
" Apa ku tahu kalau saya mau menjodohkan Adit dengan seseorang? Dia anak temanku yang jelas bibit bebet bobotnya". pertanyaan itu seperti menusuk tepat di hatiku. Seperti sebuah penolakan yang bisa di baca.
" Saya tahu tan. Adit sudah cerita. Makanya dia pengen saya kesini agar bisa lebih mengenal tante". Jawabku jujur. Walaupun hati ini bergemuruh.
" Bagus kalau begitu, berarti kamu bisa paham posisi dong. Bisa menempatkan diri ".
" Kalau bukan Adit yang minta, saya juga nggak akan ada di sini kok".
" Adit memang bilang kalau kamu itu pilihan dia. Papanya mungkin bisa saja setuju, tapi saya nggak bisa setuju begitu saja"
Aku diam. Mencoba mencerna kata katanya. Mencoba memahami maksud dari perkataan itu.
" Saya tidak mau memaksa Adit, tepi saya juga tidak mau dia bersama orang yang salah. Jadi jangan salahkan saya jika akan tetap mencari yang terbaik untuk nya".
Lagi... kata kata itu masih ku coba untuk pahami.
Ketika itu, Adit sudah kembali datang dan ingin mengantarkan pulang. Sehingga berakhirlah percakapan aku mamanya.
" Yuk Ra... aku antar pulang".
Aku dan mamanya menoleh cepat.
" Iya.. Ayuk... "
" Kalau kamu mau aku merestui kalian, maka tunjukan bahwa kamu layak menjadi menantu di keluarga ini. Kalau tidak aku akan menarik paksa Adit dari sisimu\*.
Mamanya berbisik padaku tepat sebelum Adit membawa ku keluar rumah.
Tubuhku menegang mendengarnya. Seolah kata itu adalah tantangan sekaligus ancaman.
Tapi yang aku tahu bahwa aku harus menyelesaikan perang yang telah ku mulai ini. Apapun yang terjadi nanti, aku tidak akan menyesali apapun.
Aku menoleh pada Adit, menatapnya penuh arti. Seolah bertanya' pantaskah orang ini ki perjuangkan sampai akhir? '.
" Kenapa Ra?.. Kenapa lihatin nya gitu? ".
Aku tersenyum semanis mungkin.
" Tidak apa apa".
Aku meneruskan berjalan menuju mobil Adit untuk kembali pulang.
Tapi Adit tak langsung mengantarkan pulang. Dia membawaku ke taman terlebih dahulu.
" Gimana perasaanmu sekarang Ra? ".
Tanyanya ketika kami sudah duduk di salah satu kursi taman.
" Aku lebih tenang sekarang".
" Syukurlah. Tadinya aku juga takut kalau mama menyakiti hati mu, tapi untungnya ada papa, jadi mama bisa lebih mengontrol diri".
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Mungkin dia tidak menyakiti hatiku. Tapi dia cukup membuatku merasa rendah. Walau begitu, aku tetap akan berjuang sampai Allah memberikan takdir terbaiknya.