Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlindungan dari Suami
Langit membentang biru pucat, ketika Jenara dan rombongan kecil itu tiba di tepi sawah. Embun masih menggantung di ujung-ujung daun padi yang hijau muda. Petak-petak sawah terbentang seperti hamparan kain zamrud.
Namun keindahan itu ternodai oleh jejak gigitan kecil di sana-sini. Beberapa batang padi tampak compang-camping, daun berlubang dan terpotong tidak rata.
Di antara rumpun-rumpun itu, belasan ekor belalang meloncat-loncat. Sayap mereka berkilau hijau kecokelatan. Sebagian hinggap dengan santai, seolah tak merasa bersalah atas kerusakan yang mereka tinggalkan.
“Itu dia,” gumam salah satu bapak petani yang mendampingi Jenara. "Hama kecil yang membuat kami pusing tujuh keliling.”
Lima orang ibu-ibu, termasuk Rasmi, berdiri di pematang sawah dengan tangan terlipat. Wajah mereka memancarkan campuran rasa ingin tahu dan skeptis. Mereka ingin melihat sendiri, apakah Jenara sanggup melakukan apa yang telah ia ucapkan dengan lantang di hadapan seluruh warga.
Dua bapak itu menuruni pematang lebih dulu. Lumpur sawah yang lembek menyambut telapak kaki mereka.
Salah satu dari mereka membawa jaring kecil yang dibuat dari kain tipis yang diikat pada lingkaran bambu. Yang lain hanya membawa caping dan sebuah keranjang anyaman.
“Kami akan menunjukkan caranya,” kata bapak yang lebih tinggi.
Ia bergerak perlahan, mendekati rumpun padi tempat dua ekor belalang sedang hinggap. Dengan gerakan cepat, pria itu menutupkan jaring ke arah daun, lalu menggesernya ke bawah. Seekor belalang terperangkap, menggelepar kecil sebelum akhirnya diam ketika ia memasukkan ke keranjang.
Bapak yang satunya lagi menggunakan cara berbeda. Ia mengayunkan capingnya dengan cekatan, menekan rumpun padi dari satu sisi sehingga belalang yang terkejut meloncat ke arah berlawanan. Dalam sekejap, tangannya yang terlatih menangkap belalang di udara.
Ibu-ibu di atas pematang pun berseru kagum.
Dalam waktu singkat, beberapa belalang sudah terkumpul di dalam keranjang. Sayap-sayap tipis mereka berdesir halus ketika saling bertubrukan.
“Apa kau sudah siap, Jenara?” tanya salah satu bapak itu sambil menoleh pada Jenara. "Harus bergerak cepat dan jangan ragu."
Jenara mengangguk meski jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.
Lumpur sawah, serangga meloncat, tatapan banyak orang—semua itu bukan dunia yang akrab baginya. Namun ia telah berjanji. Dan lebih dari itu, ia telah memilih untuk berdiri di hadapan desa ini, bukan bersembunyi di balik ketakutan.
“Saya siap menangkap belalang,” jawab Jenara.
Ia menggulung sedikit kain bawahnya, agar tak terlalu berat bila terkena lumpur. Dengan hati-hati, Jenara menuruni pematang. Lumpur dingin menyentuh telapak kakinya, membuat Jenara sedikit meringis. Namun, ia tetap melangkah.
Belalang-belalang itu tampak lebih besar saat dilihat dari dekat. Sayapnya tembus cahaya, kakinya panjang dengan duri kecil. Seekor hinggap tak jauh dari Jenara, pada daun padi yang sudah berlubang.
Jenara mendekat perlahan. Sambil mengingat gerakan bapak tadi, tangan Jenara terulur.
Satu detik...dua detik.
Belalang itu hampir meloncat, tetapi tangan Jenara lebih cepat. Ia meraih tubuh kecil itu sebelum sempat terbang tinggi. Seekor belalang kini ada dalam genggamannya, kakinya bergerak-gerak kecil mencoba lepas.
Tanpa sadar, senyum lebar merekah di wajah Jenara.
“Yeay! Aku berhasil!” serunya dengan napas tersengal dan mata berbinar.
Ibu-ibu di pematang saling pandang. Rasmi yang sejak tadi memasang wajah meremehkan, terperanjat. Ia tak menyangka Jenara benar-benar bisa menangkap serangga itu.
“Lihat itu, Jenara tidak takut," bisik salah satu ibu.
Jenara memasukkan tangkapannya ke dalam keranjang. Rasa percaya diri mengalir di dadanya. Jika satu bisa, maka yang kedua pun pasti bisa.
Dengan tekad yang membara, Jenara melangkah lagi. Ia menyasar belalang lain yang hinggap di batang padi yang lebih tinggi. Kali ini, Jenara lebih berani.
Namun sebelum jemarinya menyentuh serangga itu, terdengar suara langkah kaki yang tergesa di pematang. Langkah berat itu semakin mendekat.
Detik selanjutnya sebuah tangan kokoh meraih lengan Jenara dan menariknya menjauh. Alhasil, tubuh Jenara terhuyung keluar dari rumpun padi, hampir kehilangan keseimbangan.
“Eh—!” keluh Jenara.
Begitu menoleh, napas Jenara tertahan karena beradu pandang dengan Seran. Tatapan tajam lelaki itu mengarah lurus pada dirinya.
“Jenara, kenapa kau nekat melakukan hal seperti ini?" cecar Seran. "Apa kau tidak peduli dengan keselamatanmu sendiri?”
Jenara tergagap. “Aku hanya menangkap belalang. Tidak akan terjadi apa-apa. Tolong lepaskan aku, aku baru dapat satu belalang. Aku harus mencari lagi.”
Akan tetapi, sebelum Jenara sempat bergerak, dunia mendadak terasa terbalik. Dengan satu gerakan mantap, Seran membungkuk dan mengangkat tubuh sang istri ke dalam gendongannya.
“Seran!” pekik Jenara, wajahnya memerah seketika.
Dengan langkah panjang dan mantap, Seran berjalan keluar dari sawah, meninggalkan lumpur dan rumpun padi yang bergoyang. Dua bapak petani dan para ibu hanya bisa menatap tercengang.
Jenara meronta kecil, malu dan kesal bercampur jadi satu.
“Turunkan aku, Seran! Semua orang melihat!”
Seran tak menjawab. Ia meletakkan Jenara dengan hati-hati di tepi pematang, jauh dari lumpur dan belalang. Lalu, ia menoleh pada tiga anak yang berdiri tak jauh dari situ.
“Giri, Gatra, Gita, temani Ibu pulang ke rumah," titah Seran.
“Baik, Ayah,” jawab mereka bertinga.
“Aku tidak mau!” protes Jenara cepat. “Aku sudah berjanji akan menangkap belalang dan memasaknya.”
Melihat perdebatan itu, Rasmi ikut melangkah maju. “Benar, Seran. Kalau kau menyuruh Jenara pulang, artinya dia sudah kalah dalam tantangan ini. Dia tidak boleh menjadi ketua memasak.”
Suasana menjadi hening. Alih-alih mundur, Seran justru memandang Rasmi dengan sorot tegas.
“Aku yang akan menggantikan Jenara menangkap belalang,” ujarnya mantap. “Aku adalah suami Jenara. Apa ada yang bisa melarangku membantu istriku sendiri?”
Tak ada yang berani membantah. Dua bapak petani saling pandang, sementara ibu-ibu pun terdiam.
Jenara sendiri terperanjat, tak menyangka Seran akan berkata demikian di hadapan semua orang.
Di antara kerumunan itu, Ranisya yang baru saja tiba terdiam kaku. Ia datang dengan harapan melihat Seran memarahi Jenara, mungkin bahkan mempermalukannya. Namun yang ia lihat justru sebaliknya, Seran melindungi Jenara dengan sukarela.
Seran menoleh pada Jenara. Tatapannya kini lebih lembut.
“Pulanglah sekarang. Tunggu aku kembali membawa belalang. Nanti kau bisa memasaknya.”
Jenara menelan ludah. Melihat ketegasan di wajah lelaki itu, ia tidak berani melayangkan protes. Entah mengapa hatinya menghangat ketika mendengar Seran menyebutnya sebagai "istri" di hadapan warga desa.
Akhirnya, dengan langkah pelan dan perasaan tak menentu, ia berjalan bersama 3G meninggalkan sawah. Di belakangnya, Seran mulai turun ke lumpur, mengambil jaring bambu dari tangan salah satu petani. Dengan gerakan cekatan, pria itu menangkap belalang satu per satu untuk menggantikan sang istri.
to, bagaimana dgn triplets?