Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Cambuk Politik
Lantai marmer Gedung Dewan Partai terasa sepekat es di bawah sepatu kulit Arkananta. Cahaya lampu neon yang terlalu putih di lorong itu memantul pada dinding kayu jati, menciptakan suasana interogasi yang menyesakkan. Arkan berjalan dengan punggung tegak, mengabaikan denyut panas di tulang rusuknya yang merupakan sisa absorbsi dari kecemasan Nayara saat menembus barisan wartawan di luar tadi. Di belakangnya, Bayu berjalan dengan langkah cepat, menggenggam map kulit hitam yang berisi berkas pembelaan yang kemungkinan besar tidak akan pernah didengar.
"Lapor Tuan Muda, Ketua Dewan Etik telah berada di koordinat internal. Subjek Erlangga terdeteksi meninggalkan ruangan lima menit lalu dengan indikasi ketenangan yang tidak wajar," bisik Bayu, suaranya teredam oleh kesunyian lorong yang menekan.
Arkan tidak berhenti. Ia hanya mengunci rahangnya hingga otot pipinya berkedut. "Erlangga tidak sedang dalam fase tenang, Bayu. Dia sedang melakukan selebrasi atas residu darah yang ia ciptakan melalui fitnah unit panti tersebut. Dia sedang menguji apakah integritas Iron Bone Marrow saya dapat mengalami fraktur akibat selembar surat sanksi."
"Bagaimana dengan status Nona Nayara? Dia berada dalam ruang isolasi tunggu. Personel keamanan melakukan penyitaan terhadap perangkat komunikasi dan instrumen tajam," tanya Bayu cemas.
"Pertahankan dia di posisi tersebut. Nayara memiliki instrumen tasbihnya. Selama ia menggenggam material panti itu, kedaulatan batinnya melampaui seluruh personel di gedung ini. Fokus pada prosedur interogasi. Jangan biarkan terjadi kebocoran keraguan dalam pernyataan Anda," Arkan berhenti tepat di depan pintu jati raksasa.
Pintu itu terbuka dengan suara dentum logam yang berat. Di dalam, lima pria tua dengan setelan jas gelap duduk di balik meja melingkar yang tinggi, memandang Arkan seolah-olah ia adalah noda di atas kain putih partai. Di tengah meja, sebuah mikrofon perak berdiri kaku, siap menangkap setiap getaran suara yang mungkin menunjukkan ketakutan.
"Ambil posisi, Arkananta. Durasi kami terbatas. Massa di eksterior gedung melakukan eskalasi tuntutan klarifikasi atas indikasi pencucian uang oleh istri Anda melalui yayasan panti asuhan Cahaya Sauh," ucap Ketua Dewan Etik, suaranya kering dan dingin seperti suara batu yang bergesekan.
Arkan duduk dengan tenang. Ia meletakkan tangannya di atas meja, memperlihatkan buku jari yang memutih namun tidak gemetar sedikit pun. "Parameter data apa yang Anda perlukan? Seluruh logistik aliran dana telah diserahkan. Entitas panti tersebut adalah aset herediter keluarga Nayara, jauh sebelum inisiasi hubungan kami."
"Masalahnya bukan pada validitas data, Arkan. Masalahnya adalah persepsi publik. Erlangga telah mendistribusikan visualisasi istri Anda sebagai praktisi metafisika gelap di Desa Sunyi. Partai menolak terafiliasi dengan figur yang membawa stigma klenik dan degradasi kasta Terra," sahut anggota dewan lainnya dengan nada menghina.
"Jadi, Dewan Etik saat ini melakukan operasional berdasarkan algoritma media sosial, bukan pada konstitusi partai?" tanya Arkan, suaranya rendah namun mengandung tekanan Void Energy yang membuat suhu ruangan terasa turun beberapa derajat.
"Jaga protokol bicara Anda! Kami di sini untuk melakukan preservasi terhadap karier politik Anda. Pilihannya biner: Terbitkan pernyataan cerai hari ini, atau kami lakukan terminasi hak politik dan pembekuan logistik Empire Group di sektor Forgotten Zone," Ketua Dewan Etik memukul meja dengan palu kayu.
Arkan merasakan sensasi panas yang menusuk di dadanya. Itu bukan emosinya sendiri. Itu adalah resonansi dari Nayara yang sedang dihina oleh para penjaga di ruang tunggu. Ia bisa merasakan batin istrinya yang berteriak menahan martabat yang diinjak-injak. Arkan terbatuk kecil, merasakan rasa logam darah di gusinya karena ia menahan amarah yang begitu kuat.
"Saya menolak prosedur perceraian tersebut. Jika Anda memutuskan untuk melakukan eliminasi hak politik saya hanya karena saya mempertahankan integritas terhadap istri saya, silakan eksekusi. Kursi jabatan ini tidak memiliki nilai tukar jika harus dibayar dengan martabat Nayara," Arkan berdiri, suaranya mengguncang keheningan ruang sidang.
"Anda mengalami disfungsi logika, Arkan! Anda mengorbankan akumulasi karier sepuluh tahun demi satu subjek panti?" Ketua Dewan Etik berteriak, wajahnya memerah.
"Saya tidak melakukan pengorbanan. Saya sedang melakukan penyelamatan terhadap martabat partai ini dari kepemimpinan yang pengecut," Arkan melangkah menuju pintu. "Silakan aktifkan cambuk politik Anda. Saya akan menerima dampaknya tanpa rintihan."
Di luar ruangan, Arkan menemukan Nayara sedang berdiri di antara dua penjaga bertubuh besar. Tubuh Nayara tegak, namun tangannya meremas butiran tasbih kayu hingga terdengar bunyi krek yang halus—retakan baru karena tekanan batin yang ekstrem. Saat mata mereka bertemu, Arkan bisa melihat pantulan rasa sakit yang ia serap tadi di mata abu-abu istrinya.
"Apakah mereka telah menetapkan keputusan final?" tanya Nayara pelan, suaranya bergetar namun matanya tetap dingin menatap para penjaga.
"Mereka memilih jalur pengecut, Nayara. Dan saya memilih untuk tetap dalam status suami Anda," Arkan mengambil tangan Nayara, mengabaikan tatapan sinis dari orang-orang di lorong. "Ayo lakukan evakuasi. Gedung ini memiliki kadar polusi moral yang terlalu tinggi bagi kita."
"Arkan... terdeteksi perdarahan pada sela kuku Anda," bisik Nayara saat melihat tetesan darah halus—akibat aktivasi Iron Bone Marrow yang dipaksa menahan emosi meledak.
"Ini adalah biaya minimal untuk sebuah integritas. Jangan melakukan kontak visual dengan mereka. Pertahankan postur permaisuri Anda," Arkan membimbingnya keluar, meskipun ia tahu bahwa di luar sana, sanksi resmi telah menantinya seperti cambuk yang siap merobek punggungnya secara administratif.
Langkah mereka tertahan di lobi utama oleh barisan petugas keamanan berpakaian seragam hitam yang membentuk blokade manusia. Di tangan komandan penjaga, sebuah map merah berstempel segel perak Dewan Etik disodorkan dengan kasar ke dada Arkananta. Itu adalah surat sanksi resmi, sebuah cambuk administratif yang bertujuan melucuti segala otoritas publik yang dimiliki Arkan dalam sekejap mata.
"Tuan Arkananta, atas instruksi dewan, mulai detik ini seluruh akses Anda ke fasilitas pemerintahan dan infrastruktur partai dibekukan. Anda dilarang melakukan aktivitas manajerial atas nama Empire Group hingga Sidang Etik tahap dua menetapkan status perkawinan Anda," ucap komandan itu dengan suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh para wartawan di balik pintu kaca.
Arkan tidak menyentuh map itu. Ia membiarkannya jatuh ke lantai marmer yang dingin. "Informasikan kepada mereka, pembekuan akses fisik tidak akan pernah mampu menghentikan kebenaran yang saya bawa. Anda bisa menyita logistik, namun integritas tidak memiliki tombol terminasi."
Nayara merasakan suhu tubuh Arkan menurun drastis. Melalui genggaman tangan mereka, ia bisa merasakan denyut nadi suaminya yang melambat secara tidak wajar—sebuah pertahanan Void Energy untuk menelan penghinaan ini tanpa meledak. Nayara maju selangkah, menatap komandan penjaga itu dengan mata abu-abunya yang tajam, membuat pria berbadan besar itu sedikit mundur karena tekanan intuisi yang tidak biasa.
"Anda melakukan eksekusi perintah dari orang-orang yang merasa terancam oleh keberadaan seorang gadis panti. Tidakkah itu memicu beban pada seragam Anda?" tanya Nayara, suaranya tenang namun menghujam.
"Nayara, cukup. Jangan membuang energi batin Anda untuk subjek yang telinganya telah terisi logam Erlangga," Arkan menarik lembut pundak Nayara, melindunginya dengan jas hitamnya yang lebar.
Mereka keluar menuju area parkir bawah tanah melalui jalur evakuasi yang sempit dan berdebu. Di sana, Bayu sudah menunggu di dalam mobil dengan mesin yang menyala. Suasana di dalam kendaraan itu terasa sangat pekat. Tidak ada musik, hanya suara deru napas Arkan yang terasa berat dan manual, seolah paru-parunya sedang menanggung beban ribuan ton beton High Tower.
"Tuan Muda, akun perbankan operasional untuk proyek Desa Sunyi telah memasuki status terkunci. Nyonya Besar melakukan eksekusi ancaman secara total. Terjadi defisit dana untuk alokasi upah pekerja panti periode minggu depan," lapor Bayu dengan suara bergetar.
Nayara menoleh ke arah Arkan yang memejamkan mata, kepalanya bersandar pada jok kulit yang dingin. "Arkan, ini adalah malfungsi akibat keberadaan saya. Jika saya tidak membiarkan visualisasi saya tereksploitasi di hutan, Anda tidak akan kehilangan seluruh otoritas ini."
"Analisis Anda keliru, Nayara," Arkan membuka mata, menatap langit-langit mobil dengan pandangan kosong yang menyakitkan. "Saya tidak kehilangan aset. Saya justru sedang melakukan eliminasi terhadap residu sampah yang menghambat pergerakan saya. Mereka berasumsi sedang melakukan pencambukan, padahal mereka sedang memutuskan rantai kepalsuan yang mengikat saya."
"Namun bagaimana dengan nasib panti? Ibu Fatimah dan unit anak-anak... mereka akan mengalami krisis logistik akibat keputusan ini," suara Nayara melemah, jemarinya meraba butiran tasbih yang kini terasa kasar karena retakan-retakan halus baru.
Arkan menegakkan duduknya, meskipun tulang punggungnya terasa seperti ditarik paksa. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah jam tangan perak cadangan yang ia simpan. "Bayu, arahkan unit kendaraan ke zona periferi Astinapura. Kita akan melakukan kunjungan klandestin ke panti malam ini. Kita tidak memerlukan likuiditas partai untuk menghidupi keluarga sendiri. Saya masih memiliki cadangan privat yang tidak terdeteksi Dewan Etik."
"Namun terdapat risiko tinggi, Tuan. Jika terdeteksi melakukan pelanggaran isolasi menuju panti, mereka akan mengonstruksi narasi konsolidasi kekuatan gelap," sela Bayu.
"Biarkan mereka melakukan spekulasi. Malam ini, saya bukan subjek politik yang sedang disidang. Saya hanyalah seorang pria yang merindukan aroma kayu bakar yang jujur," Arkan menggenggam tangan Nayara lagi, kali ini lebih lembut. "Kita kembali ke akar sebentar, Nayara. Saya memerlukan aroma melati panti untuk menetralisir residu racun dari gedung tadi."
Nayara terdiam, matanya berkaca-kaca namun ia menolak untuk menumpahkannya. Di tengah "cambuk politik" yang sedang menyiksa posisi mereka, Arkan justru memilih untuk kembali ke akar, ke tempat di mana martabat tidak diukur dengan segel perak atau kursi jabatan, melainkan dengan seberapa kuat seseorang bertahan di samping pasangannya saat badai fitnah mencoba merobek segalanya.
Mobil meluncur menembus kegelapan Astinapura, meninggalkan kerlap-kerlip lampu High Tower yang tampak seperti mata monster yang kecewa karena mangsanya menolak untuk hancur. Di dalam kabin yang sunyi itu, sholawat lirih mulai terdengar dari bibir Nayara, menjadi satu-satunya pelindung yang tersisa saat dunia di luar sana sedang bersiap untuk menghapus nama mereka dari sejarah kekuasaan.