NovelToon NovelToon
Jodoh Kedua Ibuku

Jodoh Kedua Ibuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Keluarga / Wanita perkasa / Cinta Terlarang / Konflik etika
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lujuu Banget

"Maaf Nan, gue enggak bisa."

Devi Zaruna menggeleng dengan pelan yang berhasil membuat Agnan Frendo kehilangan kata-kata yang dari tadi sudah dia siapkan.

Keheningan menyelimuti kedua insan yang saling mencintai itu, ini bukan permasalahan cinta beda agama atau cinta yang tidak direstui.

"Bukankah cinta tidak harus memiliki?"

Devi Zaruna, wanita cantik pekerja keras dengan rahang tegas serta tatapan tajam layaknya wanita pertama dengan beban di pundak yang harus dia pikul. Jatuh cinta merupakan kebahagiaan untuknya tetapi apa yang terjadi jika dia harus berkoban untuk cintanya itu demi ibunya?

"Kebahagiaan ibu paling penting."

Devi dan Agnan sudah menjalin hubungan selama tiga tahun tetapi hubungan itu harus kandas ketika ibunya juga menjalin hubungan dengan ayah Agnan.

Bagaimana kelanjutan kisah cinta Devi serta hubungannya dengan Agnan? apakah ibu Devi akan menikah dengan ayah Agnan atau malah Devi yang menikah dengan Agnan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lujuu Banget, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kalung Pemberian Herry

"Untungnya ... bumi terus berputar ... Untungnya ...."

Yaya terus-terusan mengulang lagu yang sedang viral mungkin Devi sudah seratus kali mendengarnya hanya dalam setengah hari, semua orang memutar lagu tersebut seakan mengatakan kepada dirinya jika hidup harus berjalan.

Devi akui lirik lagu tersebut mewakili perasaannya juga, bumi terus bergerak tanpa mempedulikan perasaan seseorang, waktu terus berlalu tanpa menunggu seseorang dan itu yang sedang Devi lakukan.

Beberapa hari ini semua berjalan seperti biasa, bekerja lalu pulang tidur di kost, tidak ada yang spesial selain sesekali Devi merindukan pria itu. Sejak keberangkatan Agnan ke Jepang, Devi tidak pernah mendengar kabar pria itu lagi.

"Capek banget," keluh Devi meletakan dokumen ke atas kepalanya.

Yaya melirik Devi lalu tertawa pelan, biasanya dia yang sering melakukan hal itu tetapi sekarang malah berpindah kepada Devi, Yaya yakin yang capek itu bukan tubuhnya tetapi jiwa wanita itu.

"Semangat yok, lihat tu dari tadi manager ngelirik ke arah sini terus," bisik Yaya seraya menyenggol lengan Devi.

Devi menghela napas panjang, dia memakai kacamata lalu fokus kembali. Jika bisa memilih dia ingin tidur saja.

"Devi!" panggil Herry keluar dari ruangannya.

Devi langsung mengangkat kepala, pria itu memberi isyarat agar Devi mengikuti pria itu membuat Devi melirik Yaya tetapi tidak ada instruksi lebih lanjut lagi sehingga Devi terpaksa pergi sendiri.

"Fiks, udah pasti pak Herry suka sama Devi," monolog Yaya melihat kepergian dua orang itu, "cocok sih."

Devi berupaya menyeimbangkan langkah kaki Herry agar dia tidak tertinggal. Sama seperti biasa, Devi tidak memiliki pertanyaan mau ke mana mereka atau ada keperluan apa karena Herry pasti menyuruhnya menunggu saja.

Kaki Devi melangkah turun dari mobil, sekarang mereka kembali berhenti di sebuah Mall dan seperti biasa otak Devi harus bekerja menebak apa yang akan mereka lakukan.

"Tolong pilih untuk dihadiahkan ke istri klien, dia suka yang simpel dan berwarna sedikit gelap tetapi tetap elegan," jelas Herry.

Devi menatap semua perhiasan yang ada di hadapan, dia meminta pramuniaga mengeluarkan tiga kalung. Devi menatapnya secara seksama lalu akhirnya jatuh ke kalung berwarna merah.

"Ini bagus," ujar Devi.

Herry mengangguk, dia meminta pramuniaga mengemasi tiga kalung tersebut membuat Devi melongo, serius tiga? Apa Herry tidak bercanda?

"Antara hitam dan pink ini, Yaya suka yang mana?"

"Hah?"

Herry tidak mengulangi ucapannya membuat Devi langsung salah tingkah, dia langsung mengatakan jika Yaya menyukai warna pink dan diangguki oleh Herry.

"Warna hitam untukmu," ujar Herry.

Devi hanya menurut, mereka kembali masuk ke dalam mobil dan bergerak menuju perusahaan, sepanjang perjalanan otak Devi terus bergerak memikirkan kejadian tadi, ada apa Herry bertanya mengenai kesukaan Yaya?

"Cepat banget, tadi ke mana?" Yaya menyenggol lengan Devi sengaja menggoda wanita itu membuat Devi langsung memberikan lirikan tajam.

"Lo keknya bahagia banget kalo gue sama pak Herry."

"Iya dong, kalian tu cocok banget," ujar Yaya dengan mata berbinar, Devi menggeleng mendengar ucapan Yaya.

"Jadi Lo mendukung siapa? Gue sama Agnan atau ...."

Yaya sejenak diam, dia tampak berpikir lalu frustasi sendiri, "Lo sama Agnan sih tapi ... Udahlah jangan bahas Agnan dulu. Hati gue sakit."

"Pacar Agnan siapa sih, Lo atau gue kok malah Lo yang sakit hati?"

Yaya memberikan lirikan sinis kepada Devi, apakah Devi berpura-pura tidak tau jika dia merupakan saksi hidup cinta mereka? Dia yang paling antusias pada hubungan dua orang itu, jadi kalo ada masalah seperti ini dia juga yang paling sakit.

"Fokus aja, o ya nanti lembur ya, temani gue."

Yaya mengangguk, dua orang itu kembali fokus bekerja sampai tidak terasa beberapa rekan berpamitan pulang duluan dan dibalas anggukan oleh Devi dan Yaya.

"Masih lembur?"

"Eh, manager. Masih, ada beberapa dokumen yang harus diperiksa karena besok sudah diserahkan ke klien," jawab Devi dan dibalas anggukan oleh manager.

Wanita itu juga berpamitan untuk pulang duluan, meninggalkan Yaya dan Devi. Setelah semua pulang, Devi mengeluarkan kotak perhiasan pemberian Herry tadi.

"Anjir! Bagus banget, dapat darimana?" tanya Yaya mengambil kotak perhiasan kalung yang berwarna pink.

Devi mengangguk setuju, warna hitam juga bagus.

"Ini pemberian pak Herry."

"DEMI APA? KOK BISA?"

Devi mengangkat bahu tanda tidak tahu, "gue menemani pak Herry membeli perhiasan buat klien lalu pak Herry ngasih kita berdua ini."

"Apa gue bilang, pak Herry suka sama Lo!"

Devi lagi dan lagi menghela napas saat mendengar ucapan Yaya yang terus membahas dirinya dan pak Herry.

"Lo tau? Tadi pak Herry nanya Lo suka warna apa. Jadi gue nikah aja pink."

Yaya sedikit terkejut mendengar cerita Devi yang sedikit terdengar aneh, untuk apa Herry menanyakan warna kesukaannya?

"Itu kode! Ini 'kan warnanya dua, hitam dan pink jadi pak Herry sengaja nanya gitu biar enggak terlalu jelas kalo dia tertarik sama Lo. Misal gini, kalo gue suka warna hitam otomatis warna pink buat Lo begitu sebaliknya, udah ketebak," ujar Yaya dengan sangat pede.

Devi tidak pernah bisa menebak jalan pikiran dari Yaya yang di luar nalar, bisa-bisanya dia berpikir seperti itu, pantas saja wanita itu sering di ghosting.

"Terserah Lo deh," ucap Devi akhirnya, dia kehilangan kata-kata membalas ucapan Yaya. Ditambah ucapan Yaya bisa mempengaruhi pikiran sucinya.

Gara-gara Yaya dia jadi berpikir jika Herry memang menyukainya, untuk berbicara empat mata dengan Herry, Devi takut jika dibilang kege-eran atau dibilang sok cantik karena itu Devi belum berani berbicara dengan Herry. Semuanya masih abu-abu.

"Kalo udah gini jelas, atasan mana sih yang mau ngasih barang mahal tanpa ada maksud tertentu."

"Udah, tanyain aja udah!" lanjut Yaya lagi, ingin rasanya Devi memukul kepala Yaya dengan dokumen-dokumen tebal ini, bisa-bisanya dia berpikir begitu.

"Udah! Pusing gue!"

"Yee ... Ayo gue temani!" Yaya berdiri membuat Devi melototkan mata.

Yang benar aja! Yaya sepertinya memang gila!

...***...

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!