Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sanglas (19)
Pagi itu, suasana di gubuk Han Jia tidak lagi terlihat seperti gubuk pengasingan, melainkan lebih mirip ruang kelas darurat yang kacau. Di atas meja kayu yang pincang, Han Jia telah menyusun beberapa butir Padi Baja ungu mutasi semalam dan beberapa botol cairan berwarna-warni.
Feng Shura duduk tegak di atas kursi kecil, memegang sebuah papan kayu dan arang. Ekspresinya lebih tegang daripada saat ia harus menghadapi serbuan sepuluh ribu pemanah.
"Baiklah, Murid Magang Shura," Han Jia memulai sambil mondar-mandir dengan penggaris kayu di tangannya. "Pelajaran pertama adalah memahami bahwa segala sesuatu di dunia ini terdiri dari... emmm... bagian-bagian kecil yang tidak terlihat. Kita sebut saja 'butiran inti'."
Han Jia menggerutu dalam hati. 'Butiran inti? Serius, Elena? Kau menyebut atom dengan sebutan butiran inti? Othor benar-benar membuat IQ-ku merosot ke level prasejarah!'
"Butiran inti..." Shura menulis dengan kaku di atas papan kayu. "Apakah itu sejenis jin kecil yang membangun benda-benda, Profesor?"
"Bukan jin, Otot Besar!" Han Jia membentak, membuat Shura terlonjak. "Ini adalah materi! Segala sesuatu punya... emmm... punya sifat yang berbeda. Contohnya, Padi Baja ungu itu. Dia berubah warna karena dia baru saja menyerap... eh... menyerap sari petir yang sangat kuat."
"Sari petir?" Shura mengernyitkan dahi. "Berarti jika aku memakannya, aku bisa mengeluarkan petir dari tanganku?"
"Tentu saja tidak! Tubuhmu akan mengalami... emmm... kelebihan beban tenaga dan kau bisa meledak seperti petasan!" Han Jia menarik napas dalam-dalam. "Hera! Tolong bantu aku menjelaskan konsep 'Konduktivitas' tanpa menyebut kata itu!"
Hera muncul, kali ini mengenakan topi toga hologram yang terlihat sangat lucu. "Baik, Profesor. Tuan Shura, bayangkan petir itu seperti air yang mengalir. Ada benda yang seperti selokan (bisa dialiri air), dan ada benda yang seperti dinding (menahan air). Logika ini disebut... emmm... cara benda menghantarkan rasa pedas."
Shura mengangguk-angguk dengan wajah serius. "Jadi, ziraku adalah selokan petir, itu sebabnya kemarin aku hampir terpanggang?"
"Tepat sekali! Kau mulai punya... emmm... punya sambungan otak yang benar!" Han Jia memuji dengan nada sarkastik.
Namun, kedamaian pelajaran itu terganggu saat sensor di mata Han Jia menangkap sinyal aneh dari arah pagar listrik.
"Profesor, deteksi pergerakan di sektor timur. Kali ini bukan massa yang besar, hanya satu individu. Tapi tingkat kelincahannya melampaui rata-rata. Ini adalah... emmm... pengintai tingkat tinggi," lapor Hera.
Han Jia tersenyum miring. Sepertinya kaisar mereka yang sombong itu mulai mengirim "ahli" setelah tentara bayarannya gagal total.
"Pelajaran praktis, Shura! Ada hama yang mencoba masuk ke laboratorium kita. Mari kita lihat apakah kau bisa menggunakan... emmm... menggunakan pengetahuan barumu."
Di batas ladang, sesosok bayangan ramping berpakaian hitam ketat bergerak dengan sangat anggun. Ia adalah seorang wanita cantik dengan mata rubah yang tajam mata-mata elit kekaisaran yang dikirim khusus untuk menggoda atau membunuh pemilik ladang ini.
Si mata-mata itu berhenti di depan pagar tak terlihat. Ia melihat Han Jia dan Shura berjalan keluar.
"Oh, seorang jenderal besar yang gagah sedang diperbudak oleh gadis kecil?" suara si wanita itu sangat merdu dan menggoda, ia sengaja menurunkan sedikit kerah bajunya saat menatap Shura. "Tuan yang tampan, kenapa kau mau tinggal di tempat kumuh ini? Kembalilah bersamaku ke istana, aku akan memberimu kenikmatan yang lebih baik daripada mencangkul tanah hitam ini."
Shura menatap wanita itu datar. Jika itu Shura yang dulu, mungkin dia akan waspada atau merasa canggung. Tapi Shura yang sekarang...
"Nona," Shura bicara dengan nada sangat serius, hampir seperti sedang berpidato. "Jangan mendekat. Area di depanmu itu mengandung... emmm... mengandung aliran selokan petir yang sangat padat. Jika kau melangkah lagi, struktur 'butiran inti' di tubuhmu akan mengalami kekacauan rasa pedas."
Si mata-mata terpaku. "Hah? Apa yang kau bicarakan?"
Han Jia yang berdiri di belakang Shura hampir saja meledak tertawa. "Bagus, Shura! Gunakan istilahnya dengan benar!"
"Kau... kau sudah gila ya?" Si mata-mata menatap Shura dengan kasihan. "Gadis ini pasti sudah merusak otakmu dengan sihir. Kemarilah, biarkan aku menyelamatkanmu—"
Wanita itu melangkah maju dengan percaya diri.
CETARRRR! ZAPPP!
"AAAKKKHHHH!!"
Wanita cantik itu terpental, berguling-guling di tanah dengan rambut yang mendadak mekar seperti kembang api. Pakaian hitam ketatnya mengeluarkan asap, dan wajah cantiknya kini cemong terkena debu.
Han Jia berjalan mendekat, menunduk menatap si mata-mata yang masih gemetaran. "Maaf ya, Nona Rubah. Di ladang ini, kecantikanmu tidak punya... emmm... tidak punya daya tahan terhadap kejutan listrik. Shura, tugasmu! Seret dia ke kandang ayam, kita akan menggunakannya sebagai... emmm... sebagai subjek percobaan untuk pupuk baru kita!"
Shura mengangguk patuh. "Siap, Profesor! Akan segera saya pindahkan butiran-butiran intinya ke kandang ayam!"
Han Jia menghela napas panjang, menatap langit. "Othor... lihat muridku. Dia mulai bicara aneh sepertiku. Sepertinya sebentar lagi seisi kekaisaran ini akan butuh urut lidah massal."
(ye lah ye lah suka suka kau)