NovelToon NovelToon
Queen VS King

Queen VS King

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: lee_jmjnfxjk

Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.

Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.

Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20.Tubuh yang Lebih Dulu Tahu

Rivena selalu percaya bahwa tubuh hanyalah alat—sesuatu yang bisa dikendalikan selama pikiran tetap dingin. Namun pagi-pagi belakangan ini, tubuhnya seperti berkhianat.

Perutnya terasa begah, bukan sakit, tapi tidak nyaman. Seolah ada sesuatu yang mengisi ruang yang seharusnya kosong. Ia terbangun dengan rasa mual yang datang tanpa alasan, terutama saat matahari baru naik. Aroma kopi—yang biasanya jadi penopang hari—kini membuatnya memalingkan wajah.

Ia menatap cermin lebih lama dari biasanya.

Wajahnya tetap sama: rapi, terkontrol, tanpa tanda retak. Tapi kelelahan datang terlalu cepat. Langkahnya lebih lambat. Napasnya terasa lebih pendek, seperti tubuhnya sedang meminta izin untuk berhenti—sesuatu yang tidak pernah ia izinkan sebelumnya.

“Ini konyol,” gumamnya suatu pagi, sambil menekan perutnya sendiri. “Aku hanya kurang tidur.”

Namun tubuh tidak berbohong.

Dan Rivena mulai takut pada kebenaran yang belum berani ia sebutkan.

 

Di sisi lain Imperion, Varrendra berdiri di koridor terbuka, bahunya sejajar dengan Selvina. Tidak ada sentuhan. Tidak ada janji. Hanya jarak yang terlalu dekat untuk sekadar rekan, dan terlalu jauh untuk disebut kekasih.

Mereka berbicara pelan—tentang rapat fraksi, tentang celah aturan, tentang langkah-langkah kecil yang harus diambil dengan hati-hati. Tapi bahasa tubuh mereka berkata lebih jujur daripada kata.

Selvina tidak lagi bersikap defensif saat Varrendra mendekat.

Varrendra tidak lagi menjaga nada dingin ketika berbicara padanya.

Anak buah mereka memperhatikan.

“Sejak kapan mereka satu ritme?” bisik seseorang.

“Harusnya musuh,” sahut yang lain. “Tapi lihat cara dia menoleh tiap Selvina bicara.”

Kecurigaan tumbuh. Bukan karena bukti, tapi karena perubahan—dan perubahan selalu mengancam keseimbangan.

Selvina merasakannya. Tatapan-tatapan itu. Bisik-bisik yang berhenti saat ia lewat.

“Kita terlalu terlihat,” katanya pelan suatu sore.

Varrendra mengangguk. “Aku tahu.”

“Lalu kenapa kau tetap di sini?” tanya Selvina.

Varrendra tidak langsung menjawab. “Karena untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sendirian saat berpikir.”

Jawaban itu jujur. Terlalu jujur.

Dan itu yang paling berbahaya.

 

Rivena duduk di ruang tamunya malam itu, lampu redup, tangan gemetar di atas lutut. Gevano berdiri di dekat jendela, seperti biasa—tidak menguasai ruang, hanya memastikan ia ada.

“Kau pucat,” katanya.

“Aku hanya lelah.”

Gevano menoleh. Tatapannya tidak mendesak, tapi penuh perhatian. “Ini bukan lelah biasa.”

Rivena tertawa kecil, getir. “Sejak kapan kau jadi ahli tubuhku?”

“Sejak aku memperhatikannya,” jawab Gevano sederhana.

Ia duduk di samping Rivena, menjaga jarak. “Aku tidak pergi ke mana-mana,” lanjutnya. “Apa pun yang kau rasakan—aku di sini.”

Rivena memejamkan mata. Kata-kata itu seharusnya netral. Tapi entah kenapa, dadanya menghangat.

“Kau terlalu setia,” katanya, setengah mengejek.

Gevano tersenyum tipis. “Aku tahu.”

“Dan kau akan selalu jatuh ke hati yang sama?” Rivena menoleh, menantang.

“Jika itu hatimu,” jawab Gevano pelan, “aku tidak keberatan.”

Keheningan menutup mereka—bukan canggung, tapi berat oleh hal-hal yang belum berani diucapkan.

 

Beberapa hari kemudian, Rivena berdiri di lorong rumah sakit dengan tangan terlipat. Ia menyindir dirinya sendiri sepanjang jalan ke sana—menyebut tubuhnya dramatis, pikirannya berlebihan. Ini hanya stres, katanya. Ini hanya efek tekanan.

Gevano menemaninya, langkahnya tenang, tangannya sesekali terangkat seolah ingin menahan—lalu diturunkan lagi.

“Kalau hasilnya biasa saja,” ujar Rivena kering, “aku akan menertawakan diriku sendiri.”

“Dan kalau tidak?” tanya Gevano.

Rivena mengangkat bahu. “Aku akan tetap menertawakan diri sendiri.”

Mereka duduk di ruang tunggu. Bau antiseptik membuat Rivena menelan ludah. Perutnya kembali terasa begah. Mual itu datang lagi—lebih kuat.

Saat dokter menyebut namanya, Rivena berdiri terlalu cepat. Dunia berputar sesaat.

Beberapa menit kemudian, mereka duduk berhadapan dengan hasil pemeriksaan.

Dokter tersenyum sopan. “Usianya masih sangat awal. Sekitar satu bulan.”

Rivena mengerjap. “Satu bulan… apa?”

Gevano menahan napas.

“Kehamilan,” jawab dokter lembut.

Kata itu jatuh seperti benda asing di ruangan.

Hamil.

Rivena tertawa—pendek, tidak percaya. “Itu tidak masuk akal.”

“Gejalanya sesuai,” lanjut dokter. “Mual pagi, kelelahan, sensitivitas bau. Tubuh Anda sudah memberi sinyal.”

Rivena menunduk. Tangannya bergerak refleks ke perutnya—gerakan kecil, naluriah, yang bahkan tidak ia sadari.

Gevano menatapnya, matanya berkabut. “Rivena…”

“Tidak,” potong Rivena cepat. “Jangan dulu.”

Ia berdiri, menarik napas panjang. “Ini… tidak boleh diketahui.”

Dokter mengangguk mengerti. “Kami menjaga kerahasiaan.”

Keluar dari ruangan itu, langkah Rivena terasa asing. Seolah tubuhnya kini membawa rahasia yang terlalu besar untuk dunia yang masih menuntut kendali.

Di lorong sepi, ia berhenti.

“Varrendra tidak boleh tahu,” katanya tegas, tanpa menoleh.

Gevano mengangguk. “Aku mengerti.”

“Dia harus fokus,” lanjut Rivena, suaranya bergetar untuk pertama kali. “Pada sekolahnya. Pada hidupnya. Aku tidak akan membebaninya dengan ini.”

Gevano mendekat setengah langkah—cukup untuk ada, tidak cukup untuk menekan. “Dan kau?”

Rivena menutup mata. “Aku akan mengurusnya.”

Saat ia membuka mata, ada sesuatu yang baru di sana—bukan kelemahan, tapi keputusan.

Untuk pertama kalinya, Rivena tidak memilih strategi terbaik bagi sistem.

Ia memilih yang paling sunyi.

Paling berat.

Dan paling manusiawi.

Tubuhnya sudah tahu lebih dulu.

Sekarang, giliran Rivena belajar

bagaimana caranya

melindungi sesuatu

tanpa menghancurkan yang lain.

-bersambung-

1
Mercy ley
makasih raisa
Mercy ley
kapal ku karam kah..
Mercy ley
fakta yg menyakitkan yahh ikut tersindir
Mercy ley
aaa sedihh
Mercy ley
agak nyess baca nya.. apalagi tiap ngeliat si king ini bareng nadira
Mercy ley
akan badai yg baru permulaan ini
Mercy ley
aku pun siap
Mercy ley
semangat Selvina..
Mercy ley
welcome to the world babyy..
Mercy ley
aku akan tunggu apapun yg akan terjadi..
Mercy ley
cerita nya fresh bgtt.. chemistry character nya berasa terhubung semua guys..asikk dan menyenangkan banget di jamin kalian suka..nyess nya dapet jg, pokoknya harus di baca.. soalnya aku udh kecintaan sama novel novel karyanya si authorr A inii..jgn lupa baca karya karya dia yg lainn karena gacorr semua lohh..
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
Mercy ley
huftt betull..
Mercy ley
rasanya aku kayak lagi chatan sama seseorang..
Mercy ley
aww..setujuu bgtt si authorr 🤗
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍
Mercy ley
kata kata mereka bikin nyess
Mercy ley
jujur kita sama..kita udh tau kemungkinannya akan terjadi tapi masih ngerasa kayak denial🥲
Mercy ley
namanya jg ibu hamil, udh turutin aja sebelum terjadi perang dunia kedua..
Mercy ley
siapakah kira kira entitas ini?
Mercy ley
Selvina di sayang bgt nih sama Bu rivenna
Mercy ley
aku ga suka kakak ini🥲
Mercy ley: itu cuma jokes kok my author 🤗
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!