Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 - Geng Motor Misterius
Rangga terkejut sekali. Dia tidak menyangka nama kakaknya akan muncul, parahnya Firza menjadi selingkuhan istrinya Pak Alun. Rasanya Rangga sulit mencerna semua ini.
"Kau nggak bercanda kan, Jo? Kau mengerjaiku ya?" timpal Rangga.
"Aku memang suka bercanda, Ga. Tapi kali ini aku serius. Aku sudah memastikan ada hubungan spesial di antara Winda dan Firza. Ayo kita ketemu di markasku," kata Joshua.
"Oke. Aku akan menemuimu sekarang!" ujar Rangga. Pembicaraan berhenti di sana. Dia segera menaiki motornya.
"Sekarang kita mau kemana?" tanya Beben yang juga siap menjalankan motor.
"Kau kembali saja ke kantor, Ben. Aku ada urusan pribadi sebentar." Rangga berlalu begitu saja dengan motornya.
Beben lantas menurut saja. Dia pergi memisah dari Rangga dan kembali ke kantor.
Di waktu yang sama, pikiran Rangga berkecamuk. Dia tentu memikirkan informasi yang baru dirinya dengar tentang Firza. Lelaki yang tidak lain adalah kakak kandungnya sendiri.
Hubungan Rangga dan Firza tidak begitu baik sejak keduanya masih kecil. Sekarang hubungan mereka memburuk setelah ibu mereka meninggal. Firza pergi meninggalkan Rangga begitu saja dan tak peduli dengan tanggung jawabnya sebagai kakak tertua.
'Selingkuh dengan istrinya Pak Alun? Bagaimana bisa? Bukankah Bu Winda sudah agak tua? Ini sulit sekali dipercaya. Dari semua wanita, kenapa harus Bu Winda?' batin Rangga sembari serius mengendarai motor.
Siang itu matahari bersinar terik, menyilaukan mata dan membuat aspal tampak berkilau panas. Rangga melaju dengan pikiran yang masih kacau. Bayangan Firza dan Winda terus berputar di kepalanya, membuat fokusnya sedikit terpecah.
Tiba-tiba... Wroooom!
Suara knalpot keras memecah konsentrasinya. Satu motor melesat cepat dari kanan, memotong jalannya. Disusul dua lagi dari belakang. Dalam hitungan detik, enam motor mengelilinginya.
Rangga menyipitkan mata. Mereka semua memakai jaket hitam polos dan helm gelap. Tanpa emblem. Tanpa tanda pengenal.
“Seriusan ini?” gumamnya.
Salah satu dari mereka tiba-tiba menyenggol setangnya.
Brak!
Motor Rangga oleng, tapi dia sigap menahan keseimbangan. Refleksnya bekerja cepat. Ia menarik gas, berusaha keluar dari kepungan. Namun dua motor langsung memblokir jalur depan.
Formasi mereka rapi. Terorganisir. Ini jelas bukan kebetulan. Salah satu pengendara di belakang mengangkat tangannya, memberi isyarat. Seketika dua motor di sampingnya mendekat lebih rapat.
Sreeet!
Sebuah rantai besi dilempar ke arah ban depan Rangga. Mata Rangga membelalak. Ia memiringkan motor dengan gerakan cepat, rantai itu menghantam aspal tepat di samping rodanya. Kalau sedikit saja terlambat, dia pasti sudah jatuh terguling di tengah jalan raya yang ramai.
“Kurang ajar!” desisnya.
Tanpa pikir panjang, Rangga menurunkan gigi dan membelok tajam ke kiri, masuk ke jalan alternatif yang lebih sempit. Ban motornya berdecit keras.
Geng misterius itu langsung mengejar. Raungan knalpot bersahut-sahutan di bawah terik matahari. Warga yang berada di pinggir jalan menoleh kaget melihat iring-iringan motor melaju brutal.
Rangga berdiri sedikit dari jok, tubuhnya condong ke depan. Ia melewati tukang sayur yang hampir menyeberang, lalu menikung tajam di pertigaan. Salah satu motor di belakang kehilangan kendali saat mencoba mengikuti tikungan.
Gedebuk!
Satu orang tumbang, tapi empat lainnya masih membuntuti. Salah satu dari mereka menyusul dari kanan. Pengendaranya mengayunkan kaki, mencoba menendang Rangga.
Bug!
Motor Rangga terguncang. Hampir saja dia menyenggol gerobak bakso di pinggir jalan. Ia mengatupkan rahang, emosinya memuncak.
Tiba-tiba Rangga mengerem mendadak sepersekian detik, lalu langsung menarik gas lagi. Motor di belakangnya tidak sempat mengantisipasi.
Brak!
Tabrakan kecil tak terhindarkan. Pengendara itu oleng dan jatuh tergelincir di aspal panas. Kini tinggal dua.
Di depan terlihat jalan raya besar dengan lalu lintas padat. Rangga mengambil keputusan cepat. Ia menerobos keluar gang tepat saat lampu lalu lintas berubah hijau.
Tiiiin! Tiiiin!
Klakson mobil bersahutan. Ia menyelip di antara kendaraan dengan presisi nekat. Dua motor misterius itu mencoba mengejar, tapi arus kendaraan siang hari terlalu padat.
Satu terhalang bus kota. Yang lain hampir terserempet mobil box dan terpaksa mengerem keras. Rangga tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia terus melaju, berpindah jalur beberapa kali hingga yakin mereka tak lagi terlihat di spionnya.
Beberapa menit kemudian, ia memperlambat motor di bawah flyover. Keringat bercampur panas siang membasahi pelipisnya. Dadanya naik turun cepat.
Ini bukan sekadar geng motor iseng. Mereka jelas ingin menjatuhkannya.
Rangga menatap kosong ke jalanan yang sibuk di depannya. “Siapa yang mengirim kalian?” gumamnya pelan.
...____...
*Untuk dua hari ini satu chapter per hari dulu ya guys. Aku lagi ada acara kawinan keluarga.
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄