Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Setelah salat subuh, Dian tak lagi mampu memejamkan mata. Ada rasa hangat yang perlahan merayapi dadanya—rindu yang tak ia sangka masih begitu kuat pada sosok suaminya. Meski lelah oleh hari-hari panjang yang ia jalani sendiri, kenangan tentang Andi tetap hadir, menyisakan harap kecil yang diam-diam ia peluk dalam hatinya.
Dian pun sudah menyiapkan pakaian Naya—baju baru yang dibelikan oleh ibunya. Dengan hati hangat, ia merapikan pakaian itu, membayangkan betapa senangnya Naya saat mengenakannya nanti. Meski sederhana, momen kecil ini memberi Dian rasa lega dan kebahagiaan yang tulus.
Dian sengaja tak memberitahu Andi, merencanakan sebuah kejutan kecil untuk suaminya. Dalam angan-angannya, ia, Naya, dan dirinya sendiri akan berjalan-jalan menikmati Batam, melupakan sejenak penat dan masalah, hanya menikmati kebersamaan sederhana yang hangat.
Pukul 7 pagi, mereka sudah siap turun untuk sarapan. Naya dan Jelita bangun lebih dulu, bergandengan tangan sambil bernyanyi riang. Sinta sibuk mengabadikan momen kebersamaan kedua anak itu dengan kameranya, sementara Dian dan Dea hanya bisa tertawa melihat tingkah polos dan lucu mereka.
“Ibu mau telur,” ucap Naya polos.
“Ibu ambilkan ya, Nak. Adek Jelita mau apa biar ibu ambilkan?” tanya Dian sambil menoleh ke Jelita.
Namun Jelita hanya menggeleng pelan, menandakan ia belum lapar atau belum ingin makan.
Setelah sarapan, mereka bersiap menuju pelabuhan untuk menaiki kapal pagi ke Batam.
Di dalam kapal, Sinta membuka percakapan, “Dian, nanti aku yang antar ya. Naya titip dulu sama aku, boleh?” ucapnya lembut, penuh perhatian.
“Loh, kenapa Sin? Jangan Aku takut, Dea nanti malah kerepotan,” jawab Dian,sedikit heran.
“Nggak, kali ini boleh ya. Nurut sama aku, aku mau nunjukin sesuatu ke kamu,” lanjut Sinta dengan nada meyakinkan.
“Ada apa, Sin? Hmmm, baiklah, aku nurut aja,” sahut Dian, masih sedikit penasaran.
Selama perjalanan di kapal, baik Dian maupun Sinta lebih banyak terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Sesampainya di pelabuhan, mereka semua segera turun dari kapal. Sinta membawa beberapa barang karena Jelita ingin digendong. Sus Dea membantu, sementara Dian menggendong Naya dengan satu tas di bahunya.
“Ayo cepat, Pak Muin sudah nunggu di depan,” ujar Sinta sambil melangkah lebih dulu.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah Sinta, perasaan Dian terasa campur aduk. Ada haru yang perlahan menyusup ke dadanya—bayangan bertemu kembali dengan suaminya membuat hatinya berdebar, penuh rindu dan harapan.
Sinta akhirnya memecah keheningan di dalam mobil.
“Pak, nanti saya pakai mobil putih. Saya mau keluar sebentar. Bapak kan ke kantor Mas Hendra, tolong sampaikan ya, Pak,” ucap Sinta tenang.
“Iya, Mbak Sinta. Aman. Kita langsung pulang sekarang,” jawab Pak Muin sambil menatap jalan di depan.
Sebelum waktu makan siang tiba, Dian dan Sinta sudah melaju entah ke mana. Dian sendiri tidak tahu tujuan mereka; ia hanya menuruti apa yang dikatakan sahabatnya sejak di kapal tadi.
Namun, satu kalimat Sinta terus terngiang di kepalanya, membuat hatinya gelisah dan penuh tanya.
“Siap tidak siap, kamu harus siap, Ian.”
Sesampainya di Batam Center, Dian mengernyit heran.
“Sin, kok kita ke sini? Di sini rame banget, banyak karyawan PT lagi istirahat makan siang,” ujarnya pelan.
Namun Sinta tak menanggapi. Ia hanya tersenyum tipis, lalu menyodorkan masker ke tangan Dian.
“Udah, kita turun dulu,” katanya singkat.
Dian akhirnya memilih diam. Tanpa bertanya lagi, ia mengikuti langkah Sinta hingga mereka berhenti di salah satu meja.
Sinta kemudian menatap Dian serius dan berkata pelan,
“Ian, kalau nanti kamu melihat sesuatu, aku harap kamu bisa menahan diri dulu. Sabar ya… setelah itu, aku akan jelaskan semuanya.”
Hampir sepuluh menit mereka menunggu, hingga akhirnya sosok yang ditunggu muncul.
Sinta perlahan mengangkat tangannya, menunjuk ke arah meja di sudut ruangan. Dian menoleh mengikuti arah tunjukannya. Seketika tubuhnya menegang. Dadanya terasa sesak ketika matanya menangkap pemandangan itu—Andi, suaminya, duduk berhadapan dengan seorang perempuan. Terlihat akrab. Terlalu akrab.
Amarah Dian langsung memuncak. Tanpa berpikir panjang, ia hendak bangkit untuk menghampiri mereka. Namun dengan cepat Sinta meraih lengannya, menahan geraknya.
“Ian… kamu ingat janji kita tadi,” bisik Sinta tegas namun lembut.
“Tapi, Sin… itu Andi. Dia sama wanita lain,” suara Dian bergetar, nyaris tak terdengar.
Sinta menatap sahabatnya dengan sorot mata yang penuh pengertian. “Aku paham, Ian. Makanya dari awal aku sudah bilang ke kamu—kamu harus siap.”
Dian menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Dadanya terasa sesak, kepalanya penuh, namun ia memaksa dirinya untuk tetap duduk. Perlahan emosinya mereda, meski tak sepenuhnya pergi. Tanpa bisa ditahan, bulir-bulir hangat akhirnya jatuh dari sudut matanya, satu demi satu.
Sinta tidak banyak bicara. Ia hanya menggenggam tangan Dian erat, lalu berbisik pelan,
“Menangislah, Dian. Habis ini, tidak ada tangisan lagi.”
Lalu Dian berbisik lirih, “Sin, tolong fotokan. Aku mau telepon Andi.”
Tanpa banyak tanya, Sinta langsung mengeluarkan ponselnya. Kamera diarahkan, jemarinya siap. Dian menarik napas panjang, lalu menekan layar. Sekali… tak diangkat. Dua kali… tetap sunyi. Pada panggilan ketiga, akhirnya tersambung.
“Ya, Dian. Ada apa lagi?” suara Andi terdengar malas, seolah terganggu.
Dian menggenggam ponsel erat, berusaha keras menahan getaran di dadanya.
“Ayah… aku sama Naya sudah di Batam. Baru saja sampai,” ucapnya setenang mungkin.
“Hah?” Andi terdiam sesaat, lalu suaranya meninggi. “Kok nggak kasih tahu dulu sih, Ian? Kamu ini nggak mikir ya? Naya masih kecil dibawa jalan jauh,” katanya dengan nada emosi.
Dian tersenyum pahit. Matanya menatap lurus ke arah meja seberang—wajah Andi kini pucat pasi, namun tangan perempuan di sampingnya masih bergelayut manja, seakan tak terjadi apa-apa.
“Bang, nggak ada yang salah,” jawab Dian, suaranya mulai bergetar tapi tetap terjaga. “Kami rindu sama kamu. Apalagi Naya, dia rindu ayahnya. Apa kamu nggak rindu sama kami?”
Sinta yang menyaksikan adegan itu dari kejauhan merasa mual. Dadanya sesak melihat kepura-puraan di depan mata.
“Sekarang kalian di mana?” tanya Andi cepat, suaranya menurun. “Biar Arif yang jemput. Aku lagi sibuk kerja.”
“Gak perlu, Yah,” potong Dian lembut namun tegas. “Nanti aku sama Naya langsung ke rumah Arif aja. Kami tunggu ayah di sana ya. Udah dulu ya.”
Tanpa memberi kesempatan Andi menjawab, Dian menutup panggilan. Tangannya bergetar, tapi wajahnya justru tampak lebih tenang—tenang yang lahir setelah kebenaran akhirnya berdiri di depan mata.
POV Andi
“Sial…” Andi mengacak rambutnya dengan kasar, wajahnya tegang.
“Kenapa sih nggak ngabarin dulu, Dian?” gerutunya kesal.
Di sampingnya, Tasya justru tersenyum miring.
“Bagus dong, sayang,” katanya ringan. “Jadi aku bisa lihat langsung istri kampungmu itu.”
Ucapan itu membuat kepala Andi makin pening. Aduh, ini malah nambah masalah aja, batinnya jengkel. Ia tahu situasi sudah tidak terkendali, dan kalau dibiarkan bisa semakin runyam.
Tanpa berpikir panjang, Andi langsung meraih ponselnya dan menghubungi ibunya. Ia memberi tahu bahwa Dian dan Naya sudah berada di Batam.
Belum sempat ia menjelaskan panjang lebar, suara Bu Minah di seberang sana sudah meninggi.
“Dasar menantu bodoh!” hardiknya penuh emosi. “Bukannya nurut aja di sana, malah datang ke sini. Mau apa coba?”
Andi memejamkan mata sesaat. Masalah ini benar-benar mulai lepas dari kendalinya.
“Kamu tenang saja,” lanjut Bu Minah dengan nada tegas. “Ibu akan minta Arif menjemput mereka. Dan besok, ibu pastikan Dian pulang, Ndi.”