NovelToon NovelToon
Nightshade

Nightshade

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Komedi
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Bisquit D Kairifz

Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.

Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”

Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.


PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa lalu Grim Reaper

CHAPTER 20

7 tahun yang lalu.

Riot, yang baru saja menginjak usia 15 tahun, baru saja menyelesaikan pekerjaan di sawah. Dengan dua sabit sawah tergenggam erat di tangannya, ia berjalan dengan langkah yang penuh semangat dan wajah yang terpancar keceriaan.

Sendirian, ia menghuni sebuah gubuk kecil yang sederhana. Orang tuanya telah meninggalkannya ketika ia baru berusia 10 tahun. Di desa kecil yang hanya dipenuhi hamparan sawah itu, Riot bertahan hidup dengan membantu warga sekitar dalam pekerjaan pertanian, demi mendapatkan makanan sehari-hari.

Meskipun tanpa kasih sayang orang tua, Riot dikenal sebagai anak yang selalu ceria dan penuh semangat. Namun, pada hari itu, suasana di desa mulai terasa berbeda — ada sesuatu yang aneh yang mengganggu kedamaian biasa.

Sebuah truk besar muncul dengan simbol wanita buta yang khas terpampang di badan mobilnya. Ya, itu adalah kendaraan dari organisasi Justice. Tapi mengapa mereka datang ke desa terpencil yang hanya punya sawah sebagai sumber mata pencaharian?

Penasaran dan sedikit waspada, Riot segera bersembunyi di balik batang pohon besar untuk mengamati gerakan mereka. Ia melihat dua anggota Justice sedang membujuk bahkan memaksa beberapa warga desa untuk masuk ke dalam truk.

Tak seorang pun tahu tujuan mereka membawa warga desa pergi. Setelah semua orang masuk, kedua anggota itu juga melangkah ke dalam kabin truk.

Tanpa berpikir panjang, Riot memutuskan untuk mengikuti mereka — dengan cara menyelinap ke atas bodi truk yang tertutup rapat.

Dengan berlari secepat mungkin sebelum mesin truk mulai menyala, akhirnya ia berhasil memanjat ke atas truk tepat saat kendaraan itu mulai bergerak perlahan.

Segera ia menjatuhkan tubuh dan berbaring tiarap erat.

"Untung saja, tidak ketahuan..." ujarnya sambil menghembuskan napas lega.

Tak ada yang menyadari keberadaannya di atas truk. Dari dalam bagian belakang truk, terdengar suara-suara warga desa yang terkesan gelisah — mereka sama sekali tidak tahu akan dibawa kemana.

Tiba-tiba, seorang warga desa tiba-tiba pingsan tanpa sebab yang jelas. Tak lama kemudian, orang lain pun mengikuti, hingga akhirnya semua orang di dalam truk pingsan sepenuhnya. Rupanya, ada gas penidur yang tidak terlihat telah menyebar di dalam ruang belakang truk.

Sementara itu, Riot yang berada di atas truk masih tidak tahu apa-apa — baik tentang tujuan perjalanan truk ini maupun nasib warga desa yang telah pingsan.

Tak lama kemudian, truk memasuki kawasan kota dan berbelok ke arah sebuah bangunan yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia besar: sebuah gudang tersembunyi di bawah tanah.

Saat truk berhenti, tandanya mereka telah tiba di tujuan. Riot dengan cepat melompat turun dan bersembunyi di balik tumpukan kotak sampah yang ada di sekitar lokasi.

"Ayo, buka pintunya!" seru salah satu anggota Justice yang keluar dari gedung.

"Sepertinya semuanya sudah pingsan total," sahut anggota lainnya.

Semua anggota yang ada di lokasi itu segera bekerja sama membawa warga desa keluar satu per satu, hingga akhirnya semua orang dipindahkan ke dalam gedung.

Riot mengikuti mereka diam-diam, bergerak dengan sangat hati-hati di belakang salah satu anggota Justice, hingga akhirnya sampai di depan pintu masuk gudang bawah tanah itu.

Apa yang dilihatnya membuatnya terkejut tak berdaya. Di dalam gudang, banyak meja disusun rapi dengan orang-orang yang masih tertidur di atasnya. Beberapa meja kosong tampaknya disiapkan khusus untuk warga desa yang baru saja dibawa.

Benar saja, warga desa segera diletakkan di atas meja-meja kosong itu. Riot bergerak lebih dekat dan bersembunyi di balik tumpukan kotak kayu yang ada di sudut ruangan.

Matanya yang tajam menangkap pemandangan mengerikan yang tidak seharusnya dilihat oleh seorang anak seusianya: sebuah ruang kosong di tengah gudang, di mana seorang manusia sedang dipaksa memakan gumpalan zat yang berwarna hitam dan ungu .

Saat zat itu masuk ke dalam mulut orang tersebut, ia tiba-tiba bertindak aneh dan kemudian tubuhnya hancur berkeping-keping dalam sekejap. "Yang ini gagal lagi ya," ucap salah satu anggota Justice dengan nada acuh tak acuh.

Gagal. Kata itu menjadi jawaban bagi semua pertanyaan di benak Riot. Banyak manusia yang dikumpulkan bukan untuk hal lain selain sebagai bahan eksperimen. Di masa di mana monster benar-benar ada di dunia, rupanya organisasi Justice sedang mencoba mengubah manusia menjadi makhluk buas melalui eksperimen tersebut.

Riot terduduk tak bergerak, tubuhnya gemetar hebat seolah-olah sedang menyaksikan neraka langsung. Dan memang benar — di dalam ruang kosong yang ia pantau, muncul sebuah makhluk yang menyerupai monster berukuran besar seperti beruang. Semua yang dilihatnya membuktikan bahwa Justice benar-benar sedang mengubah manusia menjadi monster.

Kemarahan besar meluap dari dalam dirinya. Meskipun tubuhnya masih gemetar, ia dengan kuat menggenggam kedua sabit sawah yang ternyata masih ia bawa.

Dengan susah payah ia berdiri, namun tidak sengaja menyenggol tumpukan kotak di belakangnya. Beberapa kotak di atas pun jatuh dengan suara keras yang menggema di dalam gudang.

Suara itu membuat semua anggota Justice menoleh ke arahnya — Riot ketahuan. Mereka menganggapnya hanya seorang anak kecil yang tidak sengaja masuk ke dalam area rahasia mereka.

Tiga anggota Justice bergerak perlahan mendekatinya, berniat menangkapnya dan menjadikannya bahan eksperimen berikutnya.

Namun, siapa sangka — mata Riot tiba-tiba menjadi sangat tajam dan penuh amukan, membuat mereka sedikit terkejut dan merasa takut dengan tatapan yang mengancam itu.

Lebih mengejutkan lagi, energi berwarna merah tua pekat mulai menyelimuti tubuhnya. Meskipun masih belum stabil, energi itu merambat ke kedua sabit sawah di tangannya, mengubahnya menjadi sepasang senjata ninja kama yang mengkilap dengan bentuk yang unik.

Dari dalam kemarahan yang membara, sang anak berusia 15 tahun berhasil melahirkan kekuatan yang dikenal sebagai Ten.

Energi merah tua yang besar mengelilinginya, rambutnya yang berwarna sama dengan energi itu berkibar liar. Riot melangkah perlahan ke depan.

"AAAAAAAAAAAA!!!" teriaknya dengan suara memecah kedamaian. "BRENGESEK!!!!" Ia melompat dengan cepat ke arah salah satu anggota Justice yang paling dekat dengannya.

Hanya satu kata yang mengisi benaknya saat itu: "Tidak bisa dimaafkan." Tanpa ragu sedikit pun, ia menghabisi nyawa anggota itu dengan gerakan cepat kamanya.

Namun yang anehnya, Riot tidak merasa takut — malahan ia tersenyum seolah menikmati setiap detiknya.

Dengan gerakan yang masih amatiran namun penuh kekerasan, ia langsung menghadapi anggota Justice yang kedua. Orang itu berteriak kaget saat melihat Riot melompat tepat di atasnya, dengan senyuman mematikan di wajahnya.

Tanpa basa-basi, Riot menusukkan kedua kama ke dalam kepala orang itu dan dengan cepat mencabutnya.

"HAHAHAHAHAHAHA!!!" tertawanya dengan suara yang menggema dan penuh kegilaan.

Anggota lainnya segera mengambil senjata api — mereka tidak bisa menggunakan Ten, dan kini terpaksa melawan seorang bocah 15 tahun yang bisa mengendalikan kekuatan tersebut dan tidak segan membunuh.

Riot terus menyerang tanpa henti. Ia terkena tembakan di tangan, dan saat sedikit lengah, sebuah pukulan keras dari orang dewasa menumbuk wajahnya, membuatnya terpental ke udara. Kemudian sebuah tendangan kuat tepat mengenai perutnya, membuatnya terjatuh dan memuntahkan darah. Namun tak lama kemudian, ia kembali berdiri dengan tekad yang masih membara.

"Tidak bisa dimaafkan," ucapnya dengan suara pelan namun penuh ancaman, sambil menatap orang yang baru saja menendangnya.

"A-apaan kau...?" orang itu berkata dengan gemetar, melihat tatapan Riot yang seperti malaikat maut.

Segera Riot melesat ke depan dan menusukkan kama dari arah dada kanan hingga melintasi dada kiri. Anggota Justice lainnya terus menembakiinya secara sembarangan.

Karena belum memiliki pengalaman bertarung yang cukup, Riot dengan mudah terkena tembakan di perut, kaki, dan lengan. Ia berjalan dengan sempoyongan, hingga akhirnya tubuhnya tak mampu lagi menahan beban dan ia pingsan terjatuh di lantai.

Para anggota Justice yang tersisa merasa lega dan senang — padahal mereka hanya berhasil mengalahkan seorang bocah. Saat salah satu dari mereka maju dan menyodorkan senjata ke arah kepala Riot, berniat membunuhnya tuntas...

Tiba-tiba, kedua lengannya terpotong dengan sangat cepat. Di sisinya berdiri seorang pemuda berusia sekitar 17 tahun dengan rambut putih bersih dan mata hitam yang tajam, memegang sebuah katana yang mengkilap.

"Susah banget ya?" ujarnya sambil dengan santai menebas orang yang telah kehilangan lengannya. "Padahal hanya melawan seorang bocah kecil." Ia memberikan senyuman khasnya yang tampak santai namun penuh kejam.

"S-s-siapa kau?!" teriak salah satu anggota Justice dengan suara gemetar ketakutan.

"Aku? Aku adalah Mochizuki Kai!" Tanpa berlama-lama, ia melesat ke depan dan langsung menusukkan ujung katana ke dada orang yang bertanya itu.

Hanya tersisa tiga anggota Justice, yang semua sudah terparah ketakutan. Mereka menembak secara acak, namun Kai dengan mudah menebas semua peluru dan menghabisi mereka satu per satu.

Setelah itu, ia mengibaskan katana untuk membersihkan noda darah yang menempel. Kemudian ia menoleh ke arah Riot dan dengan lembut menggendongnya.

Ketika Riot akhirnya sadarkan diri, ia berada di sebuah rumah terbengkalai yang sebagian sudah hancur. Ia segera berdiri dan melihat Kai yang baru saja datang untuk menjenguknya.

"Siapa nama mu?" tanya Kai dengan senyuman hangat di wajahnya.

Riot terkejut dan seolah-olah lupa sebagian dari apa yang terjadi sebelum ia pingsan. Tanpa berpikir panjang, ia menjawab dengan suara yang masih sedikit lemah: "Namaku Riot."

 

Kembali di dalam mobil.

Shun yang mendengar cerita itu terkejut sepenuhnya. Betapa luar biasa dan mengerikannya — di usia yang begitu muda, Riot sudah mampu membunuh manusia tanpa sedikit pun ragu.

"Aku tidak pernah menceritakan masa lalu ku kepada siapapun, bahkan kepada Kai," ucap Riot dengan nada yang tenang dan datar. "Aku juga tidak pernah memberitahukan padanya apa yang sebenarnya terjadi di dalam gudang itu."

"Aku hanya memberitahu dia tentang bagian di mana aku bertarung dengan anggota Justice," lanjutnya.

Shun terdiam sejenak, berpikir dalam hati. Wajar saja jika Kai kemudian memberi Riot julukan yang sangat terkenal...

Grim Reaper.

1
Panda
kak itu ngasih tag komedi bikin sendiri?
boyy
semngatt thorr,gw lagi nabung crta lu,poko ny ku lnjutt truss smpe nanti crta lu rmee,jngn ptah smngattt torr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!