NovelToon NovelToon
Perempuan Desa Yang Selalu Dihina

Perempuan Desa Yang Selalu Dihina

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Nur silawati

"Amelia kita sudah menikah, ingat perjanjian kita jika pernikahan ini hanya sementara. Aku menikahimu karena terpaksa.. jangan berharap banyak dari pernikahan ini. Aku pun tidak akan menyentuhnya."ucap Rudi.
Amelia gadis berasal dari desa kidul, bertemu dengan Rudi pria asal ibukota,ia seorang kontraktor yang sedang membangun jalanan di desa Amelia.
Amelia terpaksa menerima lamaran Rudi karena ingin melunasi hutang kedua orang tuanya.
Rudi terpaksa menikahi Amelia karena tunangannya Sarah hilang entah ke mana menjelang 1 minggu pernikahan mereka.
Sementara undangan sudah menyebar kemana-mana.
Untuk menutupi aib keluarga Rudi memilih Amelia untuk ia nikahi.
"Apapun persyaratannya aku terima yang terpenting uang yang kamu janjikan harus tepati..." jawab Amelia tegas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur silawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15. Gaji pertama

" Tring..."Amelia cepat-cepat membuka aplikasi setelah  mendapatkan notifikasi.

Benar saja gaji menulisnya sudah turun. Amelia kaget ia menutup mulutnya sangking syok dengan yang tertera di menu pembayaran.

"Haa...! 500$? Banyak banget.. apa aku tidak salah lihat aku mendapatkan gaji sebesar 500$."Amelia mengucek matanya berkali-kali memastikan nominal yang tertera di layar ponsel.

"Iya benar tidak salah, alhamdulillahirobbilalamin."ucapnya sebagai rasa syukur. Amelia langsung melakukan penarikan ke rekening yang sudah tertera di aplikasi.

Dollar hari ini lumayan melambung tinggi. Amelia menarik dollar dengan harga 1 dolar Tujuh belas ribu, rupiah yang masuk ke rekeningnya sebesar delapan juta lima ratus rupiah..

"Aku mau ngajak Asih untuk menarik uang di ATM.. sekalian traktir Asih makan." Gumam Amelia.

"Bude..! Aku mau ke ATM sebentar, gaji novel ku sudah turun. Aku ngajak Asih sekalian Kami ingin makan di luar, Bude nitip apa?"tanya Lia, sambil siap-siap mau mengajak Asih pergi ke ATM.

"Alhamdulillah ternyata menulis itu benar-benar ada gajinya? Ngapain kamu repot-repot cari kerjaan nduk. Sudah di rumah saja sambil menulis. Jangan boros-boros uangnya disimpan, buat masa depan. Apalagi minggu depan kita mau pulang kampung, semua transportasi kamu yang nanggung. Sudah pasti jumlah uang yang kamu keluarkan sangat banyak. Bude tidak usah dibelikan apa-apa kamu dan  Asih saja." Gendis tidak berani minta lebih dari keponakannya.

Amelia sudah banyak membantu kebutuhan  Gendis selama ini.

"Tidak boleh menolak wajib memilih.. ini perintah keponakan dan tidak boleh dibantah Bude harus memilih makanan kesukaan Bude."  Lia memaksa budenya untuk memilih.

"Baiklah kalau kamu maksa, bude minta dibelikan martabak bangka ketan hitam." Martabak memang makanan kesukaan Bude Gendis dari jaman dulu sampai sekarang.

Makanan legendaris itu tidak lekang oleh waktu. Walaupun banyak makanan yang kekinian yang  sedang viral.

Gendis tetap menyukai martabak makanan terfavorit.

"Assalamualaikum Asih.."ucap salam Amelia.

"Waalaikumsalam, ada nak Lia. Mau ngajak kasih main? "Tanya mahmudah ibunya  Asih

"Iya Bulik mau minta ditemenin  pergi ke ATM sebentar, boleh tidak Bulik?"tanya Lia.

"Silahkan nak Lia."tak lama  Asih keluar dari dalam kamarnya.

"Ada apa Lia?"tanya  Asih ia yang habis membuat lamaran kerja untuk melamar pekerjaan sebagai office girls di kantor bosnya Astina.

"Kamu sibuk tidak? Aku mau minta ditemenin ke ATM? Novelku sudah gajian, kamu mau beli apa boleh pilih bebas." Asih ikut bahagia mendengar novelnya Lia sudah dibayarkan.

"Ayo aku temenin, aku belum pernah seumur hidupku melihat uang keluar dari mesin."jawab Asih.

Setelah berpamitan pada Bude  Gendis dan ibunya kasih. Keduanya pergi meninggalkan rumah sederhana itu, dengan mengendarai sepeda motor milik almarhum Pakdenya Lia

20 menit berkendaraan mereka sampai di gardu ATM. Yang menyediakan berbagai macam mesin ATM, dari berbagai bank.

"Aku boleh masuk Lia?"tanya kasih. Lia menjawab dengan anggukan.

"Boleh !  masuk saja tidak ada yang melarang." Kedua wanita beda status itu masuk ke dalam gardu ATM.

Lia hanya mengambil uang untuk kebutuhan dirinya dan Bude gendis selama satu bulan.

Selebihnya Mau Lia simpan,Lia memiliki banyak rencana yang akan ia realisasi satu persatu.

Salah satunya membeli lahan kosong di sebelah rumah Bude Gendis dan Asih.

rumah Kasih dan Bude Gendis itu, ada sebuah lahan kosong milik kerabat almarhum Suami Gendis.

Bunyi uang dari mesin ATM membuat Kasih terpesona dan terkagum-kagum.

Ia yang memang tidak mengerti dan tidak pernah punya ATM tidak tahu proses pengambilan uang di mesin ATM.

"Wah hebat sekali mesin ini seperti ada manusia di dalamnya. Bisa mengeluarkan uang." Ucap kasih terkagum-kagum..

"Ayo kita  kuliner Kamu mau makan apa saja boleh. Dan ini untukmu, belikan kebutuhan yang urgent di rumahmu." Kasih terharu melihat Amelia memberinya uang 3 lembar berwarna merah, selain itu Amelia juga traktirnya makan.

"Serius ini untuk Aku uangnya? Kamu tidak rugi memberiku uang sebanyak ini? Kalau sudah Beri  aku uang tidak perlu traktir makan." Asih menahan air matanya supaya tidak menetes sangking Harunya.

" Serius..!  simpan uangnya. Sekarang kita  cari kuliner yang terenak, Kamu  mau makan apa sih?" Yang ada di pikiran  Asih hanya pecel lele. Makanan kesukaannya.

"Kalau aku disuruh milih, maunya makan pecel lele, Semua terserah kamu mau makan apa, aku ikut. Aku pemakan segalanya jadi kamu tidak usah ragu mengajakku makan apa saja semuanya aku suka."jawab kasih, Amelia tertawa mendengar jawaban temennya itu yang sangat jujur..

Akhirnya Kedua wanita beda status itu memutuskan untuk makan di warung tenda pecel lele.

"Lele 2 Pakde.. nasinya uduk."ucap Lia.

Lia sedang fokus membaca komentar para pembaca di cerbung.

" Heii..! Janda miskin, ngapain kamu di warung tenda? Memangnya punya uang beli pecel lele?."Lia mendongak menatap ke arah sumber suara yang sangat tidak asing di telinganya.

Yaitu suara Rudi mantan suaminya.

"Ada dong Mas?? Kan dapat pesangon dari bapak."jawab kamila sambil mengejek.

Lia menatap Kamila tajam, lalu menghampirinya.

"Aku tidak pernah mengusik mu, kamu yang mulai mengusikku.  aku kasih tahu kamu, aku pemakan manusia, Jika ada yang mengusikku akan aku habiskan. Statusmu yang banci kaleng akan aku bongkar. Sangat mudah sekali bagiku untuk membuka aibmu sehingga kamu gagal menjadi Nyonya Rudi.. Aku tidak pernah takut dengan perempuan jadi-jadian sepertimu."Amelia dengan nada pelan tapi membuat merinding di pendengaran..

Lia kembali duduk di tempatnya semula dan melanjutkan membaca komentar para pembaca ceritanya.

Setelah mendapat bisikan dari Amelia, Kamila berubah drastis wajahnya menjadi pucat seperti tidak memiliki darah yang mengalir..

"Kamu kenapa sayang? Wajahmu pucat sekali? Bicara apa  janda Miskin itu??" Rudi sangat perhatian sekali dengan kekasihnya. selain perhatian, Rudi sangat khawatir jika Kamila dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.

"Tidak ngomong apa-apa.. tapi aku jadi bad mood mau makan di sini, selera makanku hilang seketika. Ayo kita pindah cari tempat makan yang lain."Kamila naik  keatas motor Rudi.

" Janda Miskin aku sudah mengajukan surat gugatan cerai, segera kamu tandatangani." Ucap Rudi sebelum pergi.

"Dengan senang hati akan aku Tanda tangani, terima kasih sudah menjatuhkan talak pada ku.." jawab Amelia, tatapannya tidak teralihkan deri layar ponsel.

Rudi segera menyusul kekasihnya sambil menatap tajam Amelia yang sibuk dengan ponselnya.

"Lia Mereka sudah pergi, ayo kita makan."dengan kepergian Rudi dan kekasihnya. Orderan pecel lele sudah dihidangkan di depan kedua wanita beda status itu.

"Wah makan besar ini.. lumayan perbaikan gizi, Terima kasih ya Lia. Semoga rezekimu berlimpah, dan semakin berkah, yang membaca ceritamu semakin banyak.." ucap kasih,  sambil menyuapkan makanan ke mulutnya..

Lia  menggangguk keduanya menikmati pecel lele dengan hati yang riang.

"Mas bungkus ya 6, lele tiga ayam tiga, ayamnya paha semua." Ucap Amelia.

Kasih menatap Amelia dengan tatapan bingung.

" Tahu tempe pakai mbak??" Tanya penjual pecel lele.

"Pakai lengkap pokoknya nasinya nasi uduk."jawab Amilia.

"Kamu pesan lele dan ayam banyak sekali untuk siapa? Jangan bilang kamu mau membawakan makanan untuk mantan mertuamu?"tanya kasih penuh curiga..

Lia mengibaskan tangannya, sambil meneguk teh tawar hangat yang disediakan oleh penjual pecel lele.

"Ngawur kamu.! Ngapain aku membawakan makanan untuk keluarga toxic itu.. pecel lele dan ayam ini, untuk keluargamu dan untuk budeku. Setelah kita selesai makan, temenin aku membeli martabak untuk Bude, nanti kamu aku beli juga." Kasih melongo mulutnya mangap  untuk saja lalat tidak hinggap di sana.

"Masya Allah ini serius?? Kamu membelikan keluargaku juga pecel lele, dan martabak? Kamu kok baik sekali Lia..!" Lia tersenyum dan menggangguk.

Lia dengan tulus membelikan makanan untuk keluarga Asih.

Ia pernah merasakan di posisi Asih waktu di desa, tidak pernah menikmati makanan enak. Jangankan makan menu ikan dan ayam, ada nasi saja sudah bersyukur.

Lia dan kedua adiknya  sering makan nasi pakai garam.. Atau pakai terasi itu sudah sangat nikmat bagi mereka bertiga. Saat gagal panen.

" serius. Aku hanya ingin berbagi saja dengan adik-adikmu dan kedua orang tuamu. Bentuk rasa syukur atas rezeki yang dianugerahkan oleh Allah padaku. Suatu saat kamu juga akan sukses Asih. Kita akan sama-sama melamar di kantor bosnya Asti."keduanya melanjutkan makan.

Setelah selesai makan Lia membayar semua makanan yang ia pesan.

Lalu mereka pergi menuju penjual martabak bangka pesanan Bude Gendis.

Lia pua memesan dengan rasa yang sama untuk keluarga Asih.

"Lia Kamu traktir aku banyak sekali? Yang mengajarimu menulis Astina?" Lia tersenyum dan mengangguk.

"Jatah untuk Astina sudah aku siapkan, insya Allah sebelum aku pulang kampung kita akan bertemu dengan Astina, sambil melamar pekerjaan." Kasih mengangguk tanda mengerti.

Ia Tidak enak saja menikmati uang Amelia sementara ia tidak melakukan apa-apa. Membaca cerita Amelia saja ia tidak bisa, karena terhalang ponsel. Ia tidak memiliki ponsel yang bisa mendownload aplikasi pembacaan novel gratis itu.

"Aku tidak bisa membaca novel mu untuk saat ini. Tapi aku mendoakan dengan tulus semoga pembaca mu banyak dan rezekimu semakin berlimpah."  Ucap kasih.

"Tidak apa-apa. Suatu saat kamu akan bisa membaca ceritaku, dan terima kasih untuk doanya." Setelah pesan martabak selesai keduanya pulang.

Di jalan mereka bertemu dengan Rudi dan Kamila.

Bedanya sekarang kamila diam tidak mengeluarkan kata-kata pedas untuk menghina Amelia lagi.

Rudi yang mulutnya sangat pedas menghina Amelia.

"Rudi mulutnya seperti perempuan lemes,lama-lama.. pengen aku kasih cabe rasa-rasanya, sok kegantengan..."Ucap Kasih.

"Biarkan saja manusia itu tidak penting untukku. Kita akan lihat kehidupan yang akan datang, apakah ia masih sombong setelah mengetahui Siapa pacarnya." Amelia yang sudah sakit hati, akan menceritakan siapa Kamila.

"Dunia sangat sempit sekali, dimana-mana ada bertemu mereka." Ujar Asih.

Sepanjang jalan hati Amelia sangat bahagia. Honor novelnya sudah Ia kirim sebagian pada ibu dan bapaknya di kampung, dan ia bisa berbagi dengan budenya dan keluarga kasih.

1
Sella Rahmantoni
selamat membaca buku baruku teman-teman semoga suka🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!