Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Skenario Dipercepat
"Itulah harganya, Bianca! Kau ingin keabadian dan kecantikan tanpa cela, tapi kau juga jadi ibu? Kau serakah!" bentak Lora, suaranya bergetar hebat hingga memicu retakan kecil di sudut cermin.
"Dunia tidak bekerja seperti keinginanmu tapi kekuasaanku. Pilihlah: Menjadi dewi yang dipuja sepanjang masa, atau menjadi manusia biasa yang menua, keriput, dan mati demi seorang anak yang belum tentu akan membalas budimu saat kau membusuk nanti. Sekarang, tidurlah!"
Bayangan Lora perlahan memudar, meninggalkan Bianca yang sedang mencerna segala konsekuensi.
Bianca merenggangkan tubuhnya di atas sprei sutra yang kusut. Sinar matahari Paris menerobos masuk melalui celah gorden, terasa menyengat di matanya yang masih sedikit sembap.
"Lora..." panggilnya dengan suara serak khas orang bangun tidur. Ia menatap pantulan dirinya yang berantakan namun tetap tampak luar biasa cantik di cermin meja rias.
"Kau bisa sulap tidak?"
Permukaan cermin itu beriak lembut, seolah-olah ada batu yang jatuh ke dalam air tenang. Sosok Lora muncul perlahan, duduk dengan anggun di dalam dimensi cermin, menatap Bianca dengan tatapan meremehkan.
"Sulap? Kau menghina kekuatanku dengan menyebutnya trik murahan seperti itu, Bianca?" desis Lora. "Aku penguasa kegelapan, bukan pemain sirkus yang mengeluarkan kelinci dari topi. Apa yang kau inginkan?"
Bianca bangkit dari ranjang, berjalan mendekati cermin dengan langkah gontai. "Aku ingin semua bukti fisik tentang kehadiranku di hotel bersama Mateo semalam lenyap. Rekaman CCTV, daftar tamu, hingga memori pelayan yang membawakan wine ke kamar. Aku tahu Hernan punya informan, dan aku ingin pria tua itu merasa gila karena mencari bukti yang tidak ada."
Lora tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan belati pada perak.
"Itu bukan sulap, sayangku. Itu adalah distorsi kenyataan. Aku bisa menghapusnya seolah-olah kau tidak pernah menginjakkan kaki di sana. Tapi ingat, setiap celah yang kututup di dunia nyata, akan membuka celah baru di jiwamu. Kau akan menjadi semakin jauh dari kata 'manusia'."
Lora mengibaskan tangannya di dalam cermin, dan seketika Bianca merasakan sensasi dingin yang merambat dari ujung kakinya ke seluruh ruangan.
"Selesai. Hernan tidak akan menemukan apa pun kecuali rekaman koridor yang kosong. Sekarang, mandi dan bersiaplah. Bukankah hari ini kau ingin melihat bagaimana 'cinta sejati' Hernan mulai menghancurkan hidupnya sendiri?"
"Aku lapar, Lora. berikan aku hidangan hangat menggugah selera dan secangkir teh hangat. Ayolah.... memesan atau memasak sendiri terlalu lama." Bianca memohon dengan penuh harap.
Lora mendengus pelan, seolah tidak percaya ia baru saja diperintah menjadi pelayan pribadi. Namun, riak di permukaan cermin itu kembali berguncang.
"Kau mulai terbiasa memerintahku, Bianca. Tapi baiklah... tubuh fana itu memang butuh bahan bakar agar tetap terlihat segar di mata pria-pria kaya itu," gumam Lora.
Dalam sekejap, aroma harum rempah dan uap panas memenuhi ruangan. Di atas meja bundar dekat jendela yang menghadap ke arah jalanan Paris, sebuah mangkuk porselen putih telah mengepulkan uap. Di dalamnya terdapat kaldu bening yang kaya akan aroma jahe dan irisan daging tipis yang lembut—sup hangat yang sempurna untuk menenangkan perut setelah malam yang panjang. Di sampingnya, secangkir teh Earl Grey dengan uap yang menari-nari mengeluarkan aroma bergamot yang menenangkan.
Bianca duduk dengan anggun, membiarkan uap hangat itu membelai wajahnya sebelum mulai menyuap.
"Makanlah dengan tenang. Sambil kau menikmati sarapanmu, aku sudah mulai menyeleksi daftar pria yang kau minta semalam. Ada seorang kolektor seni dari Zurich—tampan, sangat bugar, kekayaannya tidak akan habis tujuh turunan, dan yang paling penting... catatan medisnya sebersih berlian. Dia akan tiba di Paris sore ini."
Bianca menyesap tehnya perlahan, merasakan hangatnya menjalar hingga ke dada. "Bagus. Simpan dulu informasinya. Pria Swiss itu lusa saja, hari ini Elias Thorne. Aku ingin menikmati ketenangan ini sebelum badai bernama Hernan kembali ke Paris."
Lora tertawa kecil, suara khasnya yang beradu seperti dentingan kristal memenuhi ruangan yang sunyi itu.
"Enam bulan yang sia-sia karena kau terlalu banyak menangis," desis Lora dari balik cermin. "Sisa satu setengah tahun ini akan menjadi panggung sandiwaramu. Setelah Hernan membuangmu demi wanita masa lalunya itu, dunia akan menjadi taman bermainmu, Bianca."
Lora mendekat, wajahnya yang pucat dan abadi terpantul di permukaan kaca, seolah-olah ia sedang berbisik langsung ke telinga Bianca.
"Dan Ngomong-ngomong... aku ingin merasakan bagaimana stamina pria di dunia ini berdasar suku dan ras. seru bukan?"
"Suku dan ras? Pilihan yang cerdas. Mengapa harus puas dengan satu menu jika kau bisa mencicipi seluruh hidangan dunia? Pria Nordik yang dingin seperti es, pria Mediterania dengan gairah yang membakar, atau pangeran-pangeran dari Timur. Setiap gairah baru yang mereka berikan padamu adalah nutrisi bagi kecantikan abadi ini."
Bianca menyesap kaldu hangatnya, matanya berkilat penuh ambisi. Bayangan dirinya yang menangis di masa lalu kini terasa seperti mimpi buruk yang konyol.
"Pergilah, Bianca. Biarkan Hernan terjebak dalam pernikahan 'suci' yang membosankan dengan mantannya. Sementara itu, kau akan menjelajahi setiap sudut bumi, berpindah dari pelukan satu pria perkasa ke pria kaya lainnya. Kau tidak akan menua dan rapuh. Kau akan menjadi ratu tanpa mahkota yang paling diinginkan di dunia."
Lora berhenti sejenak, senyumnya menjadi lebih tajam.
"Lagipula, bukankah itu tujuan kita? Memastikan kau menikmati setiap detik kebebasanmu sebelum maut sempat menyadarinya. Aku sudah mulai menyusun rute perjalananmu setelah 'perpisahan' tragis itu nanti. Zurich, Milan, Dubai... ke mana pun kakimu ingin melangkah, akan selalu ada pria yang siap membukakan pintu untukmu."
Bianca tersenyum puas. "Tepat sekali, Lora. Aku ingin mereka memujaku, memberikan dunianya padaku, lalu aku akan pergi sebelum mereka sempat bosan. Tidak ada komitmen, hanya kenikmatan."
"Bisa kau percepat? mungkin satu-dua bulan, mantan kekasih Hernan kembali?."
"Kau mulai tidak sabar, ya? Bagus. Aku suka ambisimu yang membara ini," sahut Lora. Riak di permukaan cermin semakin kuat, menunjukkan visi samar tentang seorang wanita berambut panjang yang sedang duduk di sebuah kafe di sudut kota lain.
"Satu setengah tahun memang terlalu lama untuk menyaksikan sebuah drama basi. Aku bisa menarik benang takdir itu, Bianca. Aku akan membisikkan kegelisahan ke dalam mimpi Hernan, dan aku akan menciptakan 'kebetulan-kebetulan' yang memaksa wanita itu kembali ke Paris lebih cepat dari seharusnya."
Lora mencondongkan tubuhnya, matanya yang gelap mengunci tatapan Bianca.
"Satu bulan... itu waktu yang cukup untuk membuat Hernan merasa kau semakin tak terkendali, sehingga saat mantan kekasihnya muncul, dia akan merasa wanita itu adalah 'penyelamat'. Dia akan berlari ke pelukan masa lalunya dengan rasa bersyukur, tanpa tahu bahwa itu adalah awal dari kebangkrutannya."
gmn laki mau menghargai
Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?