NovelToon NovelToon
Second Wife

Second Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / CEO / Janda / Selingkuh / Aliansi Pernikahan / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:248
Nilai: 5
Nama Author: yulia puspitaningrum

Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.

Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.

Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.

Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.

penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Maaf.....

“Maaf…”

Mata Alyssa melebar. Ia spontan menoleh, menatap Brayen yang masih memandang lurus ke depan, seolah kata itu terlepas begitu saja tanpa sengaja.

“Apa aku salah dengar…?” lirih Alyssa sambil menelan ludah kasar.

“Ehem…” Brayen berdehem pelan. Alih-alih memberi kejelasan, suara itu justru membuat dahi Alyssa semakin berkerut dalam.

“Aku minta maaf, ucapanku sudah keterlaluan saat berbicara denganmu tadi.”

Brayen berhenti sejenak, berusaha tetap tenang dan terlihat dingin di hadapan Alyssa, meski jantungnya kini berdetak begitu kencang karena rasa gugup yang melanda hatinya.

“Kamu tahu, aku tidak bermaksud begitu. Aku tidak mengenalmu, jadi wajar bukan kalau aku curiga padamu.”

Alyssa mengangguk pelan. Dadanya memang sempat perih oleh tuduhan Brayen, tapi entah kenapa ia tak pernah benar-benar bisa menyalahkan Brayen.

Hening kembali menyelimuti mereka. Beberapa detik terasa begitu panjang.

 Brayen menghela napas lalu mengalihkan pandangannya, menatap wajah Alyssa.

“Aku pikir kamu sama dengan wanita yang dikenalkan mama padaku… wanita yang hanya menginginkan uang dan kekayaan yang aku miliki untuk kesenangan mereka sendiri. Aku tidak pernah mengira kalau kamu menerima tawaran mama karena ibumu. Jika aku tahu… mungkin aku tidak akan menyalahkan mu… aku…” Suaranya menggantung, ragu untuk meneruskan.

Alyssa ikut mengalihkan pandangan, lalu menatap Brayen dalam-dalam.

“Tidak usah diteruskan, Kak. Aku tahu apa yang ingin Kakak katakan. Aku sama sekali tidak menyalahkan Kakak.”

Brayen tertegun, matanya membesar mendengar apa yang Alyssa katakan.

“Kamu memanggil aku apa tadi…? Kakak?”

“Iya, karena umur Kakak lebih tua dariku.”

“Dari mana kamu tahu umurku?” tanya Brayen penasaran.

“Em… dari Tante Lita. Dia menyerahkan biodata Kakak kepadaku.”

Brayen mendengus kesal.

"Bisa-bisanya Mama sampai menyerahkan biodata, memangnya aku tidak laku." gerutunya dalam hati.

“Cepat makanlah, nanti keburu dingin.” Brayen menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi roda. Matanya menatap langit-langit rumah sakit yang putih, pucat, sama tak berwarnanya dengan hari-harinya.

“Kakak sudah makan?”

“Hemm…” jawabnya singkat tanpa menoleh.

“Kenapa masih diam?” tanya Brayen, meski ia tak melihat Alyssa, ia tahu gadis itu belum menyentuh makanannya.

“Aku tidak nafsu makan. Bagaimana aku bisa makan dengan tenang sedangkan ibuku belum sadar sampai sekarang,” lirih Alyssa sambil menunduk sendu.

Brayen terdiam. Ingatannya melayang pada pada hari-hari ketika Maudy pergi tanpa kabar. Ia juga seperti Alyssa.... tak mau makan, mengurung diri, menjauh dari dunia luar.

Ia menyerah hanya karena tak tega melihat ibunya terus menangis.

Sampai sekarang pun emosinya sering meledak, merusak apa saja di sekitarnya, lalu kembali termenung meratapi Maudy.

Ia tak pantas memberi nasihat, karena dirinya sendiri pun belum sembuh.

“Terserah kamu saja,” ucapnya akhirnya, datar.

“Tapi mungkin Bela akan kecewa, karena nasi itu pemberian darinya.”

Alyssa tersenyum miris. Terlalu banyak ia berpikir sampai mengira makanan itu dari Brayen.

"Kenapa juga aku harus kecewa, memangnya aku siapa." batinnya sambil menggeleng pelan, nyaris menertawakan kebodohannya sendiri.

“Baiklah, karena ini pemberian dari Bela, aku akan memakannya,” ucap Alyssa dengan nada dibuat bersemangat.

Ia membuka kotak makan itu dan mulai menyuap perlahan.

“Jadi kalau aku yang memberikannya kamu tidak mau memakannya begitu?”

“Uhuk…!” Alyssa tersedak. Matanya spontan beralih menatap Brayen yang kini menatapnya tajam.

“Apa aku berkata seperti itu?” tanya Alyssa panik.

“Aku tidak bermaksud menyinggung Kakak.”

“Ya… secara tidak langsung kamu memang sudah mengatakan hal itu.”

“Maaf… aku tidak bermaksud begitu.” Suara Alyssa kembali melemah, senyumnya meredup. Wajah yang tadi cerah kini mendung lagi.

Brayen tercekat. Dadanya terasa nyeri melihat perubahan itu, seolah ada sesuatu yang menyengat tepat di jantungnya.

"Kenapa kamu gampang sekali bersedih... Sudahlah aku tidak menyalahkan mu cepat habiskan. Aku tidak ingin mama datang dan mengira aku tidak membujuk mu makan."

Alyssa tersenyum lebar, ia segera menghabiskan makanan dihadapannya. Tak lama Lita datang membawakan minuman untuk mereka.

"Kenapa kamu tidak ikut makan juga Brayen?" tanya Lita penasaran.

"Aku tidak lapar, lagi pula bagaimana aku bisa makan kalau nasinya hanya ada satu." Lita tersenyum penuh arti kemudian ia duduk disamping putranya dan berbisik ditelinga anak laki lakinya itu.

"Lalu kenapa kamu hanya membeli satu, mama pikir kamu sengaja ingin makan sepiring berdua dengan Alyssa." sorot Mata Brayen berubah tajam, ia menatap ibunya penuh ancaman.

"Aku tidak memiliki niat seperti itu, asal mama tau saja makanan itu dari bela bukan dariku. Jadi mama tidak perlu berpikir yang tidak tidak." ucap Brayen pelan agar Alyssa tidak mendengar apa yang ia katakan, bagaimanapun ia tidak ingin membuat wanita itu bersedih lagi.

Senyum di wajah Lita hilang seketika ia pikir anaknya sudah luluh dan mau membuka hati untuk Alyssa namun ternyata ia salah.

Anaknya tetap saja dingin dan menutup hatinya rapat rapat agar tidak ada orang yang berhasil masuk kedalam sana.

"Jadi ini semua hanya harapan mama saja. Tapi tidak masalah, mama yakin cepat atau lambat kamu akan luluh. Dan satu hal lagi yang perlu kamu tau, mama sudah menyuruh orang untuk mengurus berkas pernikahan kalian. Satu Minggu dari sekarang kalian akan menikah, jangan berharap untuk menolak karena kamu sudah berjanji pada mama untuk menerima pernikahan ini."

Mata Brayen melebar, rahangnya mengeras sementara tangannya terkepal dengan erat.

Ia memang sudah setuju untuk menikah namun ia tidak menyangka sang ibu tidak memberikannya waktu untuk menenangkan dirinya.

"Sialan." dengus Brayen langsung meninggalkan tempat itu dengan kursi rodanya.

"Ada apa Tante kenapa kak Brayen pergi?" tanya Alyssa penasaran pasalnya sebelum pergi wajah Brayen terlihat tidak baik, tersimpan kemarahan dari balik sorot matanya.

"Tidak apa, dia hanya butuh waktu menenangkan dirinya. Nando, Aldi tolong kalian ikuti tuan muda kalian, jangan biarkan sesuatu terjadi padanya. Jika tidak kalian akan menanggung akibatnya.!" perintah Lita pada anak buah yang ia tugaskan untuk menjaga Alyssa.

"Baik nyonya." ucap kedua bodyguardnya itu sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka dan mengikuti Brayen dari kejauhan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!