Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.
Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Ra... lo... itu tadi siapa?"
Naura duduk, lalu seolah baru tersadar dari trans, ia berkedip cepat. Wajahnya kembali melembut, bahunya sedikit turun. Ia melihat ke arah Nadira yang menatapnya seperti sedang melihat alien.
"Eh? Kenapa, Nad?" tanya Naura polos, kembali ke mode "siswi manis".
"Kenapa?! Ra, lo tadi keren banget! Lo kayak... kayak bos perusahaan besar atau agen rahasia yang lagi negosiasi gencatan senjata! Lo bahkan nggak kelihatan takut sama sekali. Lo beneran Naura sahabat gue, kan?"
Naura tertawa kecil, meski ada sedikit kegugupan di matanya karena menyadari ia baru saja melakukan kesalahan besar: menunjukkan jati dirinya di depan orang yang tidak seharusnya tahu. "Ah, masa sih? Gue cuma... nggak suka aja liat orang kasar. Gue refleks aja tadi, Nad."
Di sudut kafe, Raisa hampir menjatuhkan perangkat catatannya. Ia menekan earpiece-nya kuat-kuat.
"Komandan... baru saja terjadi anomaly," lapor Raisa, suaranya tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut. "Subjek menunjukkan kemampuan manajemen konflik tingkat tinggi. Dia menetralisir situasi krisis dalam waktu kurang dari dua menit tanpa kekerasan fisik. Ini bukan kemampuan akting biasa. Ini hasil pelatihan."
Di seberang sana, Arkan yang sedang menatap layar monitornya, berhenti mengetik. Matanya menyipit melihat rekaman CCTV kafe yang berhasil ia retas secara real-time. Ia melihat bagaimana Naura berdiri dengan tenang di depan pria besar itu.
"Begitu rupanya," gumam Arkan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang berbahaya. "Dia bukan sekadar 'aset' yang harus dijaga, Raisa. Dia adalah pemain utama yang sedang bosan."
Arkan menutup laptopnya dengan suara keras. "Pertahankan posisi, Frost. Jangan biarkan dia tahu kau terkesan. Permainan ini baru saja naik ke level yang lebih menarik."
......................
Keesokan harinya di sekolah, suasana XII-IPA 1 terasa lebih berat dari biasanya. Arkan tidak lagi duduk dengan santai; ia tampak beberapa kali memijat pelipisnya di depan layar tablet yang menampilkan kode-kode rumit yang terus berubah merah.
Saat jam istirahat, Arkan tidak menuju kantin. Ia menunggu sampai kelas benar-benar kosong, lalu menghampiri meja Naura yang sedang berpura-pura membaca novel.
"Gue butuh lo," ucap Arkan tanpa basa-basi. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan di tengah keheningan kelas.
Naura mendongak, matanya yang jenaka menatap Arkan dengan selidik. "Butuh gue buat apa? Tugas kelompok etika literasi lagi?"
"Gue butuh kemampuan 'profesional' lo yang kemarin lo tunjukin di kafe," Arkan menatap Naura intens. "Sistem server utama perusahaan ayah gue kena serangan ransomware berlapis. Raisa sudah coba bantu dari sisi teknis, tapi kami butuh seseorang yang bisa membaca pola perilaku peretasnya dan melakukan negosiasi digital. Gue tahu lo bisa."
Naura tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu namun penuh rahasia. "Wah, tawaran yang menarik. Tapi gue ini cuma siswi SMA yang pengen lulus dengan nilai bagus, Arkan. Kenapa lo nggak panggil tim IT profesional aja?"
"Karena tim profesional nggak akan bisa menembus enkripsi ini secepat lo," Arkan mencondongkan tubuh. "Ikut gue ke kantor pusat sore ini. Gue jemput."
Naura menutup novelnya dengan suara plak yang tegas. Ia menyandarkan punggung, menatap Arkan dengan senyum yang kali ini tidak terlihat polos sama sekali. "Gue nggak kerja gratisan, Arkan. Dan gue nggak tertarik sama uang."
"Lalu apa?"
"Gue mau transparansi," ujar Naura tajam. "Gue tahu identitas 'siswa teladan' lo itu cuma sampul. Gue mau lo jujur tentang satu hal, dan gue bakal bantu pulihin sistem perusahaan lo sampai bersih."
Arkan terdiam, menunggu syarat itu keluar.
"Gue tahu lo bukan remaja 17 tahun," lanjut Naura, suaranya kini dingin dan penuh perhitungan. "Buktikan kalau dugaan gue benar. Kasih tahu gue berapa umur lo yang sebenarnya, dan siapa lo di silsilah Ar-Rais Group. Kalau sistem itu pulih, gue mau denger pengakuan itu langsung dari mulut lo."
Rahang Arkan mengeras. Rahasia itu adalah protokol keamanan tingkat tertinggi di keluarganya. Namun, melihat kerumitan serangan di kantor ayahnya, ia tidak punya banyak pilihan.
"Oke," jawab Arkan pendek. "Sistem pulih, dan lo dapet kebenarannya. Jam empat sore di parkiran belakang."
......................
Di Kantor Pusat Ar-Rais Group
Gedung pencakar langit itu tampak sunyi namun mencekam. Di lantai paling atas, di ruang kendali utama, Naura duduk di depan konsol pusat. Jari-jarinya bergerak secepat kilat, jauh lebih cepat daripada saat ia mengerjakan tugas sekolah. Raisa berdiri di sudut ruangan, mengawasi dengan tangan bersedekap, matanya tidak lepas dari setiap baris kode yang dimasukkan Naura.
Dua jam berlalu dalam ketegangan. Keringat tipis muncul di dahi Naura.
"Selesai," ucap Naura sambil menekan tombol Enter dengan mantap. Layar yang tadinya merah pekat perlahan berubah menjadi hijau.
“Firewall aktif, enkripsi dibalikkan, dan data Black Ledger kalian aman.”
Naura berputar di kursi kerjanya, menatap Arkan yang berdiri di dekat jendela besar yang menghadap pemandangan kota. "Janji adalah janji, Arkan. Atau harus gue panggil dengan nama lain?"
Arkan menghela napas panjang. Ia melepaskan dasi sekolahnya yang terasa mencekik, lalu berjalan mendekati Naura. Auranya berubah total; tidak ada lagi kesan siswa SMA yang kaku, yang ada hanyalah pria dewasa dengan otoritas yang luar biasa.
"Nama gue memang Arkan," ucapnya dengan suara berat yang sangat berbeda. "Tapi gue bukan berumur 17 tahun. Umur gue 24 tahun."
Naura sedikit menaikkan alisnya, meski ia sudah menduga hal itu.
"Gue lulusan tercepat di akademi intelijen luar negeri sebelum diminta pulang untuk memegang kendali perusahaan," Arkan melanjutkan, menatap langsung ke mata Naura. "Dan seperti yang lo curigai, gue adalah pewaris tunggal Ar-Rais Group setelah ayah gue. Penyamaran di sekolah itu hanya untuk memantau pergerakan organisasi yang mengincar data ini melalui lo."
Naura tersenyum puas, senyum seorang pemenang. "Dua puluh empat tahun... pantesan lo nggak pernah nyambung kalau diajak ngomongin soal crush atau tren TikTok sama Bimo."
Arkan menumpu kedua tangannya di sandaran kursi Naura, mengurung gadis itu dalam jarak yang sangat dekat. "Sekarang gue sudah jujur. Jadi, Naura... atau siapa pun nama asli lo di agensi lo... apa langkah lo selanjutnya setelah tahu kalau lo baru saja menyelamatkan aset milik pria berumur 24 tahun?"
Naura hanya tertawa kecil, tidak merasa terancam sama sekali. "Langkah selanjutnya? Gue rasa, gue bakal nikmatin sisa masa SMA gue dengan memeras 'Kakak' kelas gue yang kaya raya ini."
Raisa berdeham keras dari sudut ruangan. "Komandan, momen dramatisnya bisa ditunda? Kita masih harus melacak lokasi peretasnya."
Arkan menjauh dari Naura, kembali ke mode profesionalnya, namun ia sempat membisikkan sesuatu di telinga Naura sebelum pergi. "Hati-hati, Naura. Di dunia nyata, kebenaran itu seringkali lebih berbahaya daripada plagiarisme."