Seorang Dokter Jenius dari masa depan bereinkarnasi kembali ke dalam raga seorang putri bangsawan, yang menikah dengan pria yang sangat membenci dirinya. Hingga pada suatu hari yang nahas, dia pun diasingkan ke sebuah wilayah terkutuk bersama pelayannya, karena tuduhan.yang keji.
*
"Aku tidak akan menyerah! Sudah diberi kehidupan dan kesempatan kedua, masa harus aku sia-siakan?"
*
Jadilah saksinya, wahai langit! Jika aku, akan mengguncang dunia kuno ini dengan semua keahlianku!"
*
"Nona, tapi Anda tidak bisa apa-apa, loh!"
*
"Tenang saja ... Dewa memberkatiku dalam komaku kemarin, dan aku akan menunjukkan keahlianku!"
*
Bagaimana kisah si Dokter Jenius ini di dunia kuno yang tidak terdapat di dalam sejarah Kekaisaran?
*
Apakah dia mampu membangun kekuatannya sendiri di sana?
*
Ikuti kisah si Dokter Bar-bar hanya di sini ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20: Kematian tiga Nona Bangsawan!
***
Malam perlahan turun, menyelimuti Balai Pengobatan Anlian dengan kegelapan dan kesunyian, yang menipu mata serta telinga manusia.
Lampu-lampu minyak masih menyala redup, namun pintu gerbang kediaman telah tertutup dengan rapat.
Di dalam ruang obat, hanya tersisa rak-rak kosong dan lima tabung kaca berwarna ungu muda yang berdiri rapi di sebuah meja kayu.
Di atas atap, terlihat tiga buah bayangan yang melesat dengan cepat.
Swoosh ... Swoosh ... Swoosh ...
"Ayo, cepat bergerak!" ujar salah satu dari mereka dengan suara pelan.
"Tugas kita hanyalah mengambil ramuan itu dengan cepat dan bersih! Jangan sampai meninggalkan jejak apapun di dalam sana!" sahut rekannya dengan nada penuh peringatan.
"Baik!"
"Menurut informasi salah satu pelayan itu, ramuan tersebut disimpan di dalam ruang peracikan ramuan. Semoga mereka tidak salah ..." sahut rekannya yang lain.
Mereka bertiga adalah orang bayaran dari ketiga Keluarga Bangsawan yang ditolak oleh Anlian sore tadi.
Keluarga itu berencana untuk mencuri ramuan tersebut, demi ketiga anak gadis mereka yang telah menderita kerugian karena racun aneh.
Kraak!
Jendela ruang itu terbuka dengan satu kali congkelan.
Ketiganya telah mendarat ringan di dalam ruangan tersebut, dan sedang mengamati situasi di dalamnya.
Tanpa mereka sadari, di dalam kehampaan, T2 sedang bertugas untuk merekam semua kejadian itu memakai kristal perekam yang tersedia untuk zaman itu.
"Ayo, lekas cari ramuan penyembuh itu!"
"Baik! Tapi, tunggu dulu ... Kenapa rak-rak obat itu kosong?! Hanya ada lima tabung tersisa di atas meja itu ..." ujar salah satu dari mereka.
Kedua rekannya mulai menyalakan sebuah mutiara malam dengan ukuran kecil, dan langsung menyorot ke sekitarnya.
"Eh, kamu benar! Rak-rak obat itu kosong!" serunya dengan suara rendah.
Mereka melihat kelima tabung itu dengan raut wajah curiga, apakah benar tabung itu adalah ramuan penyembuh yang diperlukan untuk ketiga Nona Muda itu?
"Bukankah seharusnya warna hijau, ya? Kenapa ini berwarna ungu muda?" tanya salah satu mereka dengan nada curiga.
"Mungkin ini adalah ramuan penyembuh yang baru mereka kembangkan. Hanya ada lima buah disini, kita ambil saja semuanya!" sahut makannya dengan mata berbinar.
"Benar! Ambil saja semuanya! Waktu kita sudah terbuang banyak disini ..." ujar pria yang memimpin mereka.
"Apa tidak sebaiknya kita cek dulu kebenarannya? Takut salah kasih ramuan, bisa fatal akibatnya," tanya pria yang satu dengan nada ragu.
"Tidak perlu! Ambil saja semuanya!"
"Baik!"
Setelah memasukkan kelima ramuan tersebut, mereka langsung keluar dari dalam sana dengan cepat.
Mereka merapikan semuanya seperti sedia kala, tanpa menyadari bahwa semuanya sudah terekam jelas ke dalam mutiara perekam milik Anlian.
Anlian berkomunikasi dengan T2 dalam benaknya.
"Apakah semuanya sudah kamu rekam, T2?" tanya Anlian.
[Semuanya sudah terekam sangat jelas, Tuan.]
"Bagus! Ini adalah bukti kuat untuk kita, jika ketiga Bangsawan itu ingin menjatuhkan kita ..." ujar Anlian sambil menyeringai.
Anlian dan semua anggotanya sedang bersantai di dalam ruang bawah tanah mereka, sambil meminum arak spiritual buatan Anlian.
"Apakah mereka berhasil mengambil semua racun itu, Nona?" tanya Yaoyao.
"Ya, mereka mengambil semuanya ..." jawab Anlian sambil menyesap teh herbal favoritnya.
Shen Luo menatap Anlian dengan lembut, sambil tersenyum tipis.
"Apakah kita perlu mengejarnya, Istriku?" tanya Shen Luo dengan nada menggoda.
Senyuman Anlian langsung pudar, saat mendengar panggilan itu.
"Jangan panggil begitu jika di dalam rumah! Jijik sekali mendengarnya!" ujar Anlian dengan nada sinis.
"Apakah salah? Anda sekarang sudah menjadi Istri saya loh! Kita sudah menikah ..." sahut Shen Luo sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Istri ... Istri! Kepalamu! Kita hanya menikah diatas kertas, oke?! Ini semua demi status anak-anakku saja, huh!" sahut Anlian dengan nada kesal.
"Baiklah ... baiklah! Saya salah Nona Anlian ... Maafkan saya ..." ujar Shen Luo, menyerah.
"Nah, sekarang, apakah kami perlu mengejarnya?" tanya Shen Luo.
"Tidak perlu! Ketiga Nona Bangsawan itu telah memilih takdir mereka untuk mati, jadi biarkan saja mereka mati ..." jawab Anlian dengan nada santai.
Yaoyao hanya bisa mengelus dada, saat mendengar jawaban Nonanya.
"Anda benar-benar kejam, Nona Duxin!"
"Kejam dan sadis diperlukan, bagi orang-orang yang tidak tahu malu seperti mereka! Orang-orang sombong yang hanya bisa mengandalkan status seperti itu, memang harus dibinasakan satu-persatu, agar dunia ini damai ..."
♨
Keesokan harinya, suara tangis histeris kembali terdengar dari dalam kediaman ketiga keluarga Bangsawan itu.
Putri kesayangan mereka telah tiada dengan tubuh kaku dan membiru diatas ranjangnya, dan mereka tiada dengan mata terbeliak lebar, seperti menahan kesakitan yang teramat sangat.
Kekacauan kembali terjadi di dalam ketiga Kediaman itu.
"Apaa??!!!! Putriku meninggal setelah meminum ramuan itu?! Bagaimana bisa?! Bukankah itu adalah ramuan penyembuh yang populer itu?!" raung Tuan Besar Li dengan wajah memerah.
"Huhuhu ... Seharusnya begitu, Suamiku! Tapi entah kenapa, Anya malah meninggal dengan tragis setelah meminum ramuan itu ..." sahut Nyonya Besar Li sambil terisak.
"Apakah wanita itu sudah tahu, jadi dia mengganti ramuan itu?" tanya Tuan Besar Li dengan nada curiga.
"Saya tidak tahu, Suamiku ... Saya dan kedua Nyonya dari Zhao dan Fang hanya menyewa tiga orang untuk mencuri ramuan itu, karena wanita itu menolak mengobati putri kita ..." jawab Nyonya Besar Li sambil mengusap air matanya.
Brak!
"Keterlaluan sekali dia! Ayo, kita laporkan mereka ke Pengadilan, agar mereka dihukum berat karena sudah menghilangkan tiga nyawa!" ujar Tuan Besar Li dengan wajah emosi.
"Baik, Suamiku ..."
Ketiga Kediaman Bangsawan itu sedang berduka ...
Kain berwarna putih memenuhi pekarangan rumah mereka, namun ketiga pasangan kepala keluarga itu malah sibuk melaporkan semuanya ke Pengadilan.
Mereka tidak sadar, jika semua itu adalah salah mereka.
Mereka yang mencurinya, dan Anlian sudah menyiapkan semua alibi berguna untuk di Pengadilan nanti.
Saat panggilan dari Pengadilan datang ke halaman Keluarga Duxi, Anlian menyeringai tipis.
"Orang kaya bodoh! Mereka yang berbuat, malah mereka yang melaporkan jika Balai Pengobatan kita membunuh ketiga putrinya! Otak mereka sudah di makan an-jing rupanya, sehingga tidak bisa memilah, mana yang benar dan mana yang salah!"
"Ayo, kita penuhi panggilan mereka ... agar mereka tambah malu disana!"
"Baik!"
Setelah menutup paksa Balai Pengobatannya hari itu, Anlian bersama Yaoyao dan Shen Luo segera berangkat menuju ke Pengadilan.
♨
Sesampainya di Pengadilan, ruangan itu sudah penuh sesak dengan para warga yang kepo.
Hakim Agung duduk diatas kursi Balairung dengan wajah serius, matanya menatap tajam kedatangan Anlian dan kedua rekannya.
Tanpa membuang waktu, Hakim Agung langsung mengetuk palunya dan bertanya kepada Anlian dengan suara tegas.
Tok!
"Saudari Anlian! Anda dituduh menyebabkan kematian dari ketiga Nona Bangsawan di wilayah ini! Apakah Anda mengakuinya?" ujar Hakim Agung dengan suara lantang.
Anlian maju perlahan ke arah depan, lalu dia menjawab sambil membungkukkan tubuhnya.
"Saya tidak melakukannya, Tuan Hakim ..." jawab Anlian.
Nyonya Besar Li langsung bangkit dari duduknya dengan emosi yang membuncah, lalu dia menunjuk ke arah Anlian sambil terisak.
"Jangan bohong! Putri saya meninggal setelah meminum ramuan dari Balai Pengobatan Anda semalam!" ujar Nyonya Besar Li dengan wajah garang.
Anlian menoleh ke arah wanita itu dengan wajah datar, lalu dia bertanya dengan suara dingin.
"Kapan saya memberikan ramuan penyembuh saya kepada putri Anda yang sombong itu, hm?" tanya Anlian.
"Yang saya ingat, dia datang kemarin sore dengan kedua temannya, untuk meminta saya menyembuhkan penyakitnya dengan angkuh. Dan saya menolaknya ... Saksinya banyak disana, dan saya tidak memberikan apa-apa kepadanya," lanjut Anlian dengan nada sedingin antartika.
Tubuh Nyonya Besar Li bergetar ...
Dia tahu bahwa dia telah salah langkah sekarang, otaknya langsung membeku saat itu juga.
Hakim Agung mengerutkan dahinya, menanti jawaban dari Nyonya Besar Li.
"Jawab pertanyaan itu, Nyonya Besar Li! Bukankah Anda yang menuduh Nona Anlian tadi?!" perintah Hakim Agung dengan tidak sabar.
"Jawaban dia benar, Yang Mulia ... Putri saya memang diusir dari sana kemarin sore ..." jawab Nyonya Besar Li dengan wajah linglung.
Nyonya Besar Fang tidak mau menerima kekalahan, dia berteriak histeris.
"Tapi ramuan itu berasal dari Balai Pengobatan milik Anda! Kenapa Anda tidak mengakuinya?!" raung Nyonya Besar Fang menggila.
Anlian menatap ke arah Nyonya Besar Fang dengan wajah meremehkan.
"Anda menuduh saya, apakah ada buktinya?" tanya Anlian dengan nada datar.
"Buktinya—"
Sebelum Nyonya Besar Fang berkata lebih lanjut, Shen Luo maju dan membungkuk dengan hormat dihadapan Hakim Agung.
"Izinkan saya bicara, Yang Mulia ..."
"Diizinkan! Silahkan bicara ..."
"Balai Pengobatan kami disusupi pencuri tadi malam, dan racun yang sedang kami kembangkan memang hilang dari sana tadi pagi. Kami khawatir ada yang menggunakan racun tersebut untuk berbuat kejahatan, dan kami berniat akan melaporkannya ke Yamen, setelah selesai mengobati pasien hari ini. Namun, kami tidak menyangka ... jika ramuan racun itu diambil oleh ketiga Keluarga Bangsawan ini, dan mereka malah menyalahkan Balai Pengobatan kami ..." ujar Shen Luo panjang lebar.
"Bohong!!! Kalian hanya ingin membuat alibi saja, kan?! Kalian menolak untuk bertanggung-jawab!!" raung Tuan Besar Fang drngan wajah emosi.
Tanpa basa-basi, Anlian langsung mengeluarkan mutiara perekam dari dalam saku bajunya, dan memberikannya kepada Hakim Agung.
"Silahkan Anda lihat sendiri, Yang Mulia. Semuanya terekam jelas di sini ..." ujar Anlian.
Hakim Agung menerima mutiara perekam itu dengan cepat, lalu dia menyalurkan energi spiritual miliknya ke dalam mutiara tersebut.
Wusssh!
Sebuah cahaya putih memancar keluar dari dalam mutiara itu, dan langsung menampilkan seluruh kejadian semalam dengan bersih dan lengkap.
Kerumunan orang yang menonton langsung gempar, karena mereka mendengar semua percakapan ketiga pria di dalam rekaman itu.
"Ternyata mereka orang bayaran dari ketiga Keluarga Bangsawan ini! Maling teriak maling, huh! Dasar tidak tahu malu!"
Hakim Agung berdiri dengan wajah tegas, dan menunjuk ketiga wanita Bangsawan itu dengan wajah murka.
"Apakah benar kalian yang membayar ketiga orang itu untuk mencuri ramuan dari Balai Pengobatan?" tanya Hakim Agung dengan wajah datar.
Ketiga pasangan Bangsawan itu langsung berlutut di depan Hakim Agung dengan tubuh gemetar ketakutan.
"K--kami terpaksa melakukannya, Yang Mulia! Tabib wanita itu sangat sombong dan tidak ingin mengobati putri kami ..." jawab Nyonya Besar Zhao dengan suara bergetar.
Anlian menatap ketiga pasangan itu dengan wajah datar.
"Saya sombong? Sombong dari mananya? Justru ketiga putri Andalah yang sombong! Berbuat semena-mena diluar dan memaki rakyat dengan kata-kata kotor, apakah itu yang dinamakan dengan 'Martabat'?" ujar Anlian.
"Menggunakan status orangtua mereka untuk memaki orang lain yang lebih rendah statusnya, apakah itu yang dinamakan etika para putri Bangsawan? Saya memang dari wilayah Utara, wanita udik seperti yang mereka ucapkan kepada saya, namun saya memiliki uang sendiri, usaha sendiri, dan etika yang lebih baik dari mereka ..."
"Status saya pun tidak rendah, namun mereka memaki saya, hanya karena saya bisa membayar sebuah ruangan pribadi di Menara Jinxiang. Saya sudah bilang kepada mereka, jika mulut kotor akan mendatangkan penyakit kotor, namun mereka tidak percaya ..." lanjut Anlian menjelaskan masalahnya.
"Dan setelah itu, mereka terkena penyakit kotor dan masih menyalahkan dan memaki saya di depan Kediaman saya sendiri? Hahahaha, otak para Nona Bangsawan itu benar-benar sudah dimakan an-jing rupanya! Sama seperti kalian ini, para orangtua yang berbuat, malah menyiramkan air kotor ke wajah saya!" ujar Anlian dengan nada sinis.
Hakim Agung menghela napas panjang, karena apa yang Anlian bilang itu adalah kebenaran.
"Saya sudah memutuskan, Tabib Anlian tidak bersalah! Ketiga keluarga dikenakan denda masing-masing seribu tael emas kepada Tabib Anlian, dan kalian dikenakan hukuman penjara selama satu tahun!"
TOK! TOK! TOK!
Setelah palu diketuk tiga kali, maka keputusan itu sudah sah, dan Anlian mendapat tiga ribu tael emas dengan mudah.
Mereka bertiga keluar dengan langkah ringan, sambil berjalan ke depan orang yang berjualan tanghulu.
"Satunya berapa?" tanya Anlian.
"10 sen, Nona ..."
"Saya ambil semua ... Yaoyao, bayar!" ujar Anlian dengan santai.
"Baik, Nona ..."
Shen Luo memandang Anlian dengan takjub, apakah dia benar-benar ingin memakan permen itu semuanya?
Namun Anlian hanya memakan satu tusuk, dan sisanya dia bagikan kepada semua anak jalanan yang dia temui di sepanjang jalan.
"Yaoyao ... Beli beras yang bagus, tepung putih, telur, daging babi, dan minyak yang banyak. Nanti malam kita keluar untuk membagikan semuanya kepada rakyat miskin secara diam-diam. Dan kita akan melakukan hal ini setiap bulan, untuk kebaikan anak-anak aku ..." perintah Anlian.
"Baik, Nona!"
"Dan, Shen Luo ..."
"Hmm,"
"Aku lapar ... Mau makan pancake daun bawang buatanmu sendiri ..."
"Baik, ayo kita pulang!"
♨♨♨
Terima kasih atas dukungan kalian dengan membaca cerita ini. Jika kalian suka tolong bantu Author d4ngan komen, like, Subscribe, dan ratingnya oke? 😊🙏🏻
Terima kasih ...💖💖💖