Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir dari rencana Adam
Sesampainya di rumah Adam, Hawa turun dari mobil dengan langkah tergesa sambil menyeka air mata yang terus mengalir.
Perasaan kecewa dan sakit hati menyesaki dadanya akibat perlakuan Adam dan Harun terhadap dirinya. Napasnya terasa tercekik, seolah hidung dan tenggorokannya terjepit, membuatnya tak kuasa menahan tangis.
Terisak-isak, kenyataan tentang kehamilan Raisa menjadi cambukan telak bagi hatinya. Dengan tangan gemetar, Hawa meraih koper, memasukkan pakaian seadanya dengan terburu-buru, berniat pergi secepat mungkin.
Ia telah mengorbankan pekerjaannya dan membangun harapan besar untuk membina rumah tangga bersama Harun, namun dalam sekejap semua impian itu runtuh, bagai istana pasir yang tersapu ombak.
Langkah Rani terdengar pelan saat mamasuki kamar Hawa yang pintunya dibiarkan setengah terbuka.
Setiap pijakan terasa berat, seolah lantai di bawah kakinya ikut menahan beban rasa bersalah yang sejak tadi menyesaki dadanya.
Begitu pandangannya jatuh ke dalam kamar, hati Rani seketika diremas pilu.
Di sana, Hawa tengah terisak dalam diam. Bahunya bergetar hebat, seakan menahan tangis yang tak lagi mampu ia sembunyikan.
Dengan tangan gemetar, perempuan itu mengumpulkan barang-barangnya satu per satu, melipat pakaian dengan gerakan kaku lalu memasukkannya ke dalam tas.
Tak ada suara selain isak tertahan. Setiap lipatan seolah menjadi cara Hawa mengemas luka rapi di luar, porak-poranda di dalam.
Tak ada amarah yang meledak. Tak ada teriakan atau tudingan. Hanya kesedihan sunyi yang justru terasa jauh lebih menyesakkan.
Rani berdiri terpaku di ambang pintu. Kakinya seakan enggan melangkah, sementara dadanya dipenuhi rasa perih yang merambat perlahan. Penyesalan datang bertubi-tubi, menghantam kesadarannya tanpa ampun.
Kini ia benar-benar menyadari betapa cerobohnya dirinya menyikapi wasiat itu. Keputusan yang ia yakini sebagai jalan terbaik justru berubah menjadi pisau yang melukai hati seorang gadis yang telah diamanahkan untuk dibahagiakan.
“Hawa…” panggil Rani akhirnya.
Suara itu lirih, nyaris bergetar, penuh kelembutan namun sarat permohonan.
Rani melangkah satu langkah mendekat. Suaranya terdengar lembut, membujuk dengan sepenuh hati, meski hatinya sendiri nyaris runtuh. Di dalam diam itu, ia masih menggenggam satu harapan besar, bahwa Hawa tidak sungguh-sungguh meninggalkan segalanya, bahwa ikatan suci yang ia dambakan antara Hawa dan Adam masih bisa dilaksanakan… sebelum segalanya berubah menjadi penyesalan yang tak terampuni.
“Hawa… tolong dengarkan Bunda sebentar saja.”
Suara Rani bergetar. Tangannya yang mulai keriput meraih jemari Hawa, menggenggamnya erat seolah takut gadis itu akan pergi dan tak pernah kembali. Tatapan Rani penuh harap, namun juga dibalut keputusasaan yang nyaris tak tertahankan.
“Sebelum kamu pulang, kamu harus segera bercerai dengan Harun,” lanjut Rani lirih namun tegas, seakan kata-kata itu sudah ia pertaruhkan sejak lama. “Tidak perlu lagi memikirkan hubungan Harun dengan Raisa. Semua itu bukan bebanmu, Hawa. Cukup sudah kamu menanggung luka yang bukan kesalahanmu.”
Rani menarik napas panjang, dadanya terasa sesak. “Mulailah hari yang baru… menikahlah dengan Adam. Kamu tidak perlu takut, tidak perlu ragu. Bunda akan selalu ada di pihakmu, apa pun yang terjadi.”
Namun Hawa hanya menunduk. Bahunya bergetar, matanya berkaca-kaca. Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan isak yang mendesak keluar.
“Maaf, Bunda…” suaranya lirih, nyaris tenggelam oleh tangisnya sendiri. “Hawa ini hanya wanita biasa. Tidak pantas untuk Mas Harun… apalagi untuk Mas Adam.”
Kata-kata itu keluar dengan getir. Hawa merasa dirinya terlalu kecil untuk berdiri di tengah badai besar keluarga itu, wasiat, pengkhianatan, dan darah yang nyaris tumpah.
“Jadi… kamu maunya bagaimana, Nak?” tanya Rani lembut. Suaranya berusaha tenang, meski hatinya remuk. Ia menatap Hawa penuh sayang, seolah gadis itu adalah sandaran terakhirnya.
Hawa terdiam.
Rani menghela napas berat. Air mata akhirnya jatuh, mengalir perlahan di pipinya.
“Aku pun tidak tahu… apakah Adam masih akan hidup besok hari.” Suara Rani pecah. Ketakutan itu menghantamnya tanpa ampun. Bayangan kehilangan Adam membuat kakinya gemetar, dunia terasa runtuh perlahan.
Hawa mengangkat wajahnya. Air mata menetes satu per satu, namun sorot matanya berubah, lebih tegar, lebih dewasa.
“Hawa akan menunggu proses perceraian dengan Mas Harun,” ucapnya pelan namun mantap. “Setelah itu… sebaiknya kita batalkan saja wasiat ini, Bunda! Dengan cara apa pun.”
Kalimat itu seperti palu yang menghantam hati Rani. Ia terdiam. Seribu bahasa seakan membeku di tenggorokannya. Harapan yang tadi ia genggam erat, perlahan retak oleh ketulusan Hawa yang memilih menyingkir demi menghentikan luka yang lebih besar.
Rani hanya memeluk Hawa. Tangis keduanya menyatu antara ibu yang dikuasai rasa bersalah, dan seorang perempuan yang memilih berkorban meski hatinya sendiri sudah penuh luka.
Dua hari kemudian...
Adam masih belum juga sadarkan diri. Tubuhnya terbaring kaku di atas ranjang rumah sakit, berada di batas tipis antara hidup dan mati. Selang-selang infus menancap di lengannya, monitor jantung berdetak pelan dengan irama yang membuat siapa pun yang mendengarnya menahan napas. Alat bantu pernapasan modern menutupi sebagian wajahnya.
Setiap detik terasa seperti ancaman kehilangan.
Sementara itu, dengan langkah tertatih dan kepala tertunduk, Harun mendatangi kediaman Rani. Wajahnya kusut, mata cekung, dan napasnya berat. Rasa bersalah menempel di setiap langkahnya, menghantam dadanya tanpa ampun. Namun semua penyesalan itu terasa terlambat.
Begitu pintu terbuka, Harun bahkan belum sempat membuka mulut.
“Prrak!!”
Tamparan keras mendarat telak di pipinya. Tubuh Harun terhuyung, kepalanya menoleh ke samping. Rasa perih di wajah tak sebanding dengan luka yang menghantam hatinya.
“Maaf, Ma” ucapnya refleks, suaranya gemetar.
“Maaf?” bentak Rani tajam. Suaranya bergetar oleh amarah yang sudah ia tahan semalaman. Matanya memerah, napasnya memburu. “Kau masih berani bilang maaf?!”
Rani menatap Harun dengan sorot mata penuh kekecewaan, bukan hanya sebagai seorang ibu, tapi sebagai manusia yang hatinya telah dihancurkan oleh perbuatan anaknya sendiri.
“Puas kau melihat Adam terbaring setengah mati seperti itu?” suaranya meninggi. “Atau memang itu yang kau inginkan, Harun? Kau sengaja ingin membunuhnya?!”
Harun terdiam. Tubuhnya kaku. Lidahnya kelu. Ia ingin membela diri, ingin berkata bahwa semua itu terjadi karena emosi sesaat, karena amarah yang tak terkendali. Namun semua alasan itu mati sebelum sempat keluar. Tidak ada satu pun yang pantas.
“Kondisi ini sudah sangat rumit!” lanjut Rani dengan suara pecah. Tangannya mengepal, dadanya naik turun menahan tangis dan amarah. “Semua orang sudah terluka, semua sudah hancur… tapi kenapa kau masih tega membuat semuanya semakin terbelit, semakin gelap?!”
Air mata Rani akhirnya jatuh. Ia memukul dadanya sendiri, menahan rasa sesak yang hampir membuatnya roboh.
“Kau tahu tidak, Harun?” suaranya melemah namun justru terasa lebih menyakitkan. “Adam bisa mati kapan saja… dan kau adalah penyebabnya, kenapa kau tidak bunuh saja aku, aku lebih rela kau tusuk daripada Adam, sosok yang sudah memperjuangkan kita!" ucap Rani menasik terisak.
Harun menunduk semakin dalam. Bahunya bergetar. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa kecil, tak berdaya, tak berarti. Penyesalan baru datang hari itu.
“Aku salah, Ma…” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar. “Aku tidak bermaksud”
“Cukup!” potong Rani tegas. “Kesalahanmu sudah terlalu besar untuk sekadar ditutup dengan penyesalan.”
Rani mengambil surat kuasa itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Tanpa berkata apa pun, ia menandatangani berkas penyerahan perusahaan di Sumatera kini resmi berpindah ke tangan Harun.
“Ambil ini!”
Berkas itu melayang dari tangannya dan jatuh tepat di depan kaki Harun.
“Ini yang kau mau, bukan?” lanjut Rani, suaranya datar, nyaris tanpa emosi namun menyimpan amarah besar.
Lalu ia menegakkan tubuhnya, menatap putranya dengan sorot mata dingin yang belum pernah Harun lihat sebelumnya.
“Pergi,” ucapnya pelan namun menusuk.
“Bawa istri simpananmu itu.” Rani menarik napas dalam, seakan menahan amarah dan kecewa yang siap meledak.
“Sebelum aku semakin membencimu… bukan hanya sebagai seorang ibu yang kecewa, tapi sebagai manusia yang kehilangan segalanya karena ulahmu.”
Kata-kata itu menghantam Harun lebih keras daripada tamparan mana pun.
Rani melanjutkan dengan suara bergetar, namun tegas.
“Jika kau masih ingin melihat Adam hidup… ceraikan Hawa dan jangan lagi kau permainkan hati yang tulus itu.” Ruangan mendadak terasa sunyi.
Harun berdiri terpaku. Tak ada lagi yang mampu ia lakukan selain menerima kenyataan. Perintah untuk mengusir itu bukan sekadar luapan amarah, melainkan hukuman paling menyakitkan yang dijatuhkan seorang ibu dari hati yang telah hancur sepenuhnya.