Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Mertua yang Mengamati
Sejak awal, Ratih Maheswara merasakan ada yang tidak sepenuhnya benar dalam pernikahan putranya. Bukan dari hal besar. Bukan dari pertengkaran terbuka atau sikap kasar. Justru dari hal-hal kecil yang terlalu rapi, terlalu terkontrol, seolah semuanya telah disepakati untuk ditampilkan di depan keluarga.
Aruna terlalu sopan dan tertutup. Bahkan saat Ratih sengaja mengamatinya dari jauh, Aruna selalu tampak tenang. Tenang, seperti seseorang yang sedang menyimpan sesuatu.
“Aruna kelihatannya capek,” Ratih pernah berkomentar pelan pada Revan suatu sore.
Revan hanya menjawab singkat, tanpa menoleh, “Pekerjaannya memang sedang banyak, ma.”
Sementara Revan, putranya sendiri terasa asing. Bukan asing karena berubah, melainkan karena terlalu sama. Terlalu datar. Terlalu terjaga.
Revan jarang menatap istrinya terlalu lama. Jarang menyentuh, bahkan sekadar menggenggam tangan Aruna di depan keluarga. Jika duduk berdampingan, ada jarak tipis di antara mereka, tidak terlihat, tapi cukup bagi seorang ibu untuk bisa merasakannya.
Suatu kali, Ratih mendekat dan bertanya, “Kalian baik-baik saja, kan?”
Aruna tersenyum sopan. “Kami baik, ma.”
Revan mengangguk singkat. “Iya.”
Ratih bukan perempuan bodoh. Ia telah melalui puluhan tahun pernikahan, membesarkan anak, dan hidup di tengah dunia yang penuh kepura-puraan. Ia tahu bedanya pasangan yang sedang menyesuaikan diri dan pasangan yang sedang berpura-pura baik-baik saja. Dan hubungan pernikahan antara Revan dan Aruna terlalu rapi untuk disebut wajar.
Suatu sore, Ratih sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca, ketika Adisti pulang lebih awal dari rumah sakit. Wajah putrinya itu tampak tidak setenang biasanya. Langkahnya melambat dan senyum cerianya tidak langsung muncul.
“Kamu kenapa, Dis?” tanya Ratih lembut.
Adisti duduk di samping ibunya, menggigit bibir sejenak sebelum menjawab. “Ma, boleh aku cerita sesuatu?”
atih menutup bukunya. Nalurinya langsung siaga. “Tentu.”
Adisti menarik napas dalam-dalam. “Tapi Mama jangan marah dulu.”
Ratih mengangguk, meski dadanya mulai terasa tidak nyaman.
“Beberapa hari lalu, waktu aku mampir ke kantor kakak.” ucap Adisti pelan. “Aku tidak sengaja dengar percakapan Kak Revan.”
Ratih terdiam. “Percakapan dengan siapa?”
Adisti menunduk. “Dengan Viona.”
Nama itu jatuh pelan, tapi berat. Ratih tidak langsung bereaksi. Tangannya mengepal perlahan di pangkuan. “Apa yang kamu dengar?”
“Mereka bicara soal hubungan mereka,” jawab Adisti lirih. “Viona marah karena Kak Revan belum menceraikan Kak Aruna. Dan Kak Revan bilang, dia belum bisa. Karena warisan.”
Ratih memejamkan mata sesaat.
“Dia bilang, kalau sekarang bercerai, hak warisnya bisa jatuh semua ke aku,” lanjut Adisti dengan suara bergetar. “Dan dia minta Viona bersabar, sampai semuanya aman.”
Ruang keluarga terasa mendadak hening. Jam dinding berdetak pelan, seolah ikut merasakan perasaan yang sedang dirasakan oleh Ratih. Pandangan Ratih kosong, tapi matanya berkaca-kaca.
“Ma, aku gak bermaksud ngadu,” kata Adisti cepat. “Aku cuma kasihan sama Kak Aruna.”
Ratih menghela napas panjang. Ada rasa perih yang menjalar pelan di dadanya bukan karena Revan, tapi karena Aruna.
Perempuan itu. Menantu yang ia harapkan bisa menjadi rumah bagi putranya. Justru dijadikan sandaran sementara.
“Kamu tidak salah,” ucap Ratih akhirnya, suaranya pelan tapi tegas. “Kakakmu memang salah.”
Ia bangkit perlahan dan berjalan ke jendela. Di luar, sore tampak kelabu. Seperti hatinya.
Ratih tahu Revan tidak sempurna. Ia tahu putranya keras kepala, ambisius, dan sering kali menghalalkan segala cara demi tujuannya. Tapi ia tidak pernah membayangkan Revan akan memperlakukan pernikahan dan seorang perempuan, hanya sebagai alat.
“Papa tidak tahu kan?” tanya Ratih tanpa menoleh.
Adisti menggeleng. “Aku gak berani kasih tahu papa.”
Ratih mengangguk pelan. Ia mengerti. Ardian Maheswara bukan laki-laki yang mudah diajak bicara tentang kegagalan anaknya. Dan membuka rahasia ini bisa memicu konflik yang jauh lebih besar.
“Untuk sementara,” kata Ratih pelan, “kita jangan cerita ke papa.”
Adisti menatap ibunya ragu. “Mama yakin?”
Ratih menoleh. Wajahnya tenang, tapi ada luka yang tidak ia sembunyikan. “Mama ingin melindungi Aruna. Tapi Mama juga tahu, kebenaran seperti ini tidak bisa selamanya disembunyikan.”
Ia kembali duduk, mengusap pelipisnya pelan. “Ada saatnya Revan harus menghadapi akibat dari pilihannya sendiri.”
Malam harinya, Ratih sengaja datang ke rumah Revan dan Aruna dengan alasan ingin makan malam bersama.
Ratih memperhatikan Aruna lebih lama dari biasanya. Saat makan malam, ia mendengarkan perkataan Ratih dengan penuh perhatian, menanggapi secukupnya, dan tidak pernah memotong pembicaraan.
Dan ketika Revan terlambat pulang tanpa penjelasan panjang, Aruna hanya tersenyum tipis.
“Revan sibuk,” katanya ringan.
Ratih menatap menantunya dengan perasaan yang bercampur aduk. Betapa beratnya menjadi Aruna, mencintai, bertahan, dan tetap menjaga martabat suami di tengah kebohongan yang tidak ia ciptakan.
Saat Aruna hendak beranjak, Ratih menghampiri Aruna dan menggenggam tangannya.
“Kamu capek?” tanyanya lembut.
Aruna tersenyum. “Tidak, ma.”
Ratih tahu itu bukan jawaban jujur. Tapi ia tidak memaksa.
Ia hanya berkata pelan, “Kalau suatu hari kamu merasa sendirian. Ingat, kamu punya mama. Mama akan selalu ada untuk kamu.”
Aruna terdiam sejenak. Ada kilat emosi di matanya, cepat, nyaris tidak terlihat. “Terima kasih, ma” jawabnya akhirnya.
Malam semakin larut. Ratih kembali ke rumahnya. Di kamar, Ratih duduk di tepi ranjang, memandangi foto keluarga di album. Wajah Revan kecil tersenyum polos di sana, versi putranya yang tidak lagi ia kenali sekarang.
Ia menyadari satu hal dengan pahit, pernikahan ini bukan hanya sandiwara. Ini adalah bom waktu. Dan jika suatu hari meledak, ia tidak tahu siapa yang akan lebih hancur. Aruna atau Revan.
Ratih memejamkan mata, membiarkan satu air mata jatuh. Dan di dalam hatinya, untuk pertama kalinya, tumbuh ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, bahwa ia mungkin akan terlambat untuk menyelamatkan siapa pun.
Sementara itu di rumah Revan dan Aruna, setelah memastikan ibunya sudah pulang. Revan menghampiri Aruna yang sedang merapikan meja makan, gerakannya rapi, dan terlalu tenang.
“Kok tumben mama tiba-tiba datang makan malam?” tanya Revan.
Aruna berhenti sebentar, lalu melanjutkan menyusun piring. “Mama bilang bosen di rumah, ingin melihat kita.”
Revan mengerutkan kening. “Melihat apa?”
Aruna akhirnya menoleh. Tatapannya datar, “mungkin melihat apakah kita baik-baik aja.”
Revan mendengus pendek. “Kita memang baik-baik aja.”
Ada jeda. Sunyi yang tidak nyaman. “Revan,” ucap Aruna pelan, “kamu gak usah takut, aku gak cerita apa pun ke mama.”
“Memang kamu cerita sesuatu?” potong Revan cepat.
Aruna menggeleng. “Aku tidak pernah bercerita hal yang bukan urusanku.”
Nada itu tenang, tapi berjarak membuat Revan merasa tersudut tanpa tahu kenapa. Ia menarik napas. “Aku hanya tidak ingin drama yang tidak perlu.”
“Drama biasanya muncul dari hal yang disembunyikan,” jawab Aruna lembut.
Revan terdiam. Saat itu, ponsel Aruna bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Aruna melirik sekilas, wajahnya berubah sepersekian detik.
Revan menangkap perubahan itu. “Siapa?”
Aruna mengunci layar. “Bukan urusan kamu.”
Namun dari luar, terdengar suara bel berbunyi. Dan sebelum Aruna sempat bergerak, ponselnya kembali bergetar, kali ini ada panggilan masuk.
Nama yang muncul membuat Aruna langsung tersenyum, Revan melihatnya.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya. Siapa sebenarnya yang menghubungi Aruna, hingga mampu membuatnya tersenyum.