Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Setelah kelas selesai, Dimas langsung menuju asrama. Beberapa temannya sebenarnya ingin ngobrol soal pertandingan Voli kemarin, tapi hari ini dia ada janji kencan dan dia tidak boleh buang waktu.
Sampai di kamarnya, Dimas mandi cepat-cepat. Refleks dia mencari body spray, tapi baru sadar kalau dia nggak punya. Bajunya pun… yah, standar anak kampus: banyak yang kusut.
Kayaknya aku harus mulai merapikan diri deh mulai besok…
Dimas akhirnya memilih kaus paling rapi yang dia punya, tidak terlalu kusut, dan celana jeans biru favoritnya.
Dia merogoh saku celananya, mengambil uang tunai seadanya, lalu mengambil ponsel dan kunci mobil barunya sebelum meninggalkan asrama.
Mobil itu terlihat keren banget ketika kena cahaya matahari sore. Dimas tersenyum kecil sebelum membuka kunci dan masuk ke dalam mobil.
Dia melihat jam di dashboard pukul 16.20. Waduh. Sudah agak telat. Dia memasang sabuk pengaman dan segera melaju, tetap dalam batas kecepatan kampus pastinya.
Mobil berbelok keluar dari area parkiran asrama dan menuju ke hotel margonda, tempat mereka janjian. Waktu tempuh normal sekitar sepuluh menit, tapi karena limit kecepatan di area kampus cuma 20–30 km/jam, Dimas yakin dia bakal molor sedikit.
Beberapa mahasiswa yang lagi jalan kaki atau nongkrong di pinggir jalan melirik ketika mobil baru itu melintas. Setelah tahu pengemudinya Dimas yang sedang naik daun setelah pertandingan Voli mereka tersenyum, ada yang melambaikan tangan.
Dimas tiba di depan kafe pukul 16.34. Saat mencari tempat parkir, dia melihat seorang cewek cantik berdiri di samping mobil merah Anin.
Dia memarkir mobilnya di sebelah mobil Anin. Melihat Dimas turun dari mobilnya, Anin tersenyum kikuk sambil merapikan bajunya. Ini pertama kalinya dia datang ke kencan sungguhan.
Dimas keluar dari mobil, tersenyum ke arahnya. Dimas sedikit gugup, tapi ekspresi Anin bahkan lebih kaku.
Senyumnya canggung, membuat Dimas ikut bingung harus bagaimana. Akhirnya dia hanya mengangguk sambil menggaruk kepalanya.
“Kamu datang jam berapa?” tanya Dimas.
“E… Lima menit lebih awal. Maaf ya, aku agak kaku,” kata Anin sambil tersenyum malu.
“Gak apa-apa, aku juga. Yuk, masuk. Oh iya… kamu kelihatan cantik banget,” ujar Dimas. Anin hari itu memakai dress one-piece putih sederhana dengan make-up tipis dan tetap terlihat menawan.
“M-makasih… Yuk, kita masuk,” jawab Anin lirih.
Dimas mengikuti dari belakang. Tepat saat Anin hendak masuk, Dimas membuka pintu untuknya. Anin tersenyum kecil, tidak bereaksi berlebihan, tapi jelas terlihat kalau dia senang.
Mereka akhirnya menemukan meja sudut di restoran Hotel Margonda, tepat di dekat dinding kaca yang menghadap ke kolam. Tempatnya cukup tenang dan agak tersembunyi, cocok untuk kencan pertama. Lampu kuning hangat memantul dari permukaan meja kayu, memberikan suasana nyaman.
Dimas berusaha menarik kursi untuk Anin, tapi Anin yang tidak terbiasa diperlakukan seperti itu sudah menarik kursinya sendiri duluan. Dimas hanya tersenyum canggung sambil duduk di depannya.
Anin terlihat sangat cantik malam itu. Pipi Anin sedikit memerah, entah karena gugup atau karena AC yang cukup dingin.
“Jadi… gimana hidup kamu belakangan ini?” tanya Dimas pelan. “Setelah semua yang terjadi, pasti banyak perubahan.”
Pertanyaan itu membuat Anin langsung mengangkat wajahnya. Begitu ayahnya terlintas di pembicaraan, rona merah di pipinya menghilang. Matanya sedikit berkaca-kaca.
“Ya… semuanya lumayan,” jawab Anin, suaranya kecil. “Aku sudah bayar sewa delapan bulan yang tertunggak, dan aku sudah memakamkan bapak di tempat yang dia mau. Terima kasih… sudah bikin itu semua terjadi.”
Ada ketulusan yang dalam dalam suaranya. Anin sudah menyelidiki semuanya. Dari polisi, dia tahu Dimas benar-benar tidak terlibat dalam kejadian yang merenggut nyawa ayahnya.
Dimas menggeleng pelan. “Nggak usah dipikirin. Sekarang yuk pesan makan dulu, aku lapar banget.” Dia mencoba mengalihkan suasana, membuatnya sedikit lebih ringan.
“Boleh… aku juga lapar,” jawab Anin sambil menarik napas dan mencoba tersenyum lagi.
Dimas mengangkat tangan, memberi isyarat ke pelayan. Anin membuka menu, memandanginya sebentar, lalu menyerah.
“Aku… nggak tahu mau pesan apa,” katanya sambil menyodorkan menu itu ke Dimas.
Dimas tersenyum lalu berkata kepada pelayan,
“Mas, dua Tap Burger sama soda draft rasa lemon, ya.”
Anin langsung menatap Dimas dengan ekspresi sedikit kaget mereka kencan pertama, tapi dia memesan burger?
Tapi justru karena itu, Anin merasa Dimas terlihat… imut banget.
Dimas sendiri memesan tanpa mikir panjang. Burger di restoran itu memang terkenal enak, dan dia yakin Anin akan suka.
“Kamu lucu,” kata Anin sambil tersenyum kecil, bahkan sempat menyentuh ujung hidungnya karena malu.
“Ehh… t-terima kasih, mungkin,” jawab Dimas. Dia sendiri tidak paham kenapa dia dipuji barusan, tapi apa pun itu, dia senang.
Setelah suasana agak cair, Anin bertanya sambil meliriknya,
“Jadi, kamu kuliah di UI? Berarti kamu pasti pintar banget, ya.”
Dimas tertawa kecil. “Nggak lah, biasa aja. Aku cuma orang yang penasaran sama banyak hal. Kalau kamu sendiri? Sibuk apa sekarang?”
Anin mengerjapkan mata, lalu menarik napas pelan. “Aku nggak terlalu suka belajar yang berat-berat. Sekarang aku ikut beberapa drama panggung. Aku… pengin jadi aktris.”
Dia mengucapkannya pelan, seolah takut orang akan menertawakannya.
“Jadi aktris? Wah, keren itu,” Dimas berkata dengan mata berbinar. “Dengan wajah kamu, kamu pasti bisa jauh banget.”
“Aku belajar cantik itu bukan berarti jago akting, tahu…” jawab Anin sambil pipinya memerah parah.
Tiba-tiba suara lantang memotong suasana manis itu.
“Hei! Boleh minta tanda tangan?”
Seorang perempuan muda mendekat dengan penuh semangat. Anin yang tadinya kesal karena momen mereka dirusak, langsung siap memberi tanda tangan dia mengira itu untuk dirinya.
Tapi ketika melihat arah tatapan perempuan itu… Anin terdiam.
Wanita itu menatap Dimas, bukan Anin.
Dimas juga kaget. Dalam pikirannya, harusnya Anin yang famous. Tapi ternyata cewek muda itu menatapnya penuh kagum.
[Ding!! Misi: Berikan Tanda Tangan Hadiah Minimum: Rp 10.000.000)]