NovelToon NovelToon
Rajawali Sakti Dari Pesisir Selatan

Rajawali Sakti Dari Pesisir Selatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Dikelilingi wanita cantik / Identitas Tersembunyi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Jenar Karana harus mengejar para pembunuh yang telah mencelakai guru nya, Resi Mpu Tagwas dan membawa lari Mustika Naga Api milik Padepokan Pesisir Selatan. Menurut Resi Mpu Tidu, di kotak kayu yang menjadi tempat Mustika Naga Api ini tersimpan mengenai rahasia tentang dirinya.



Berbekal sepasang pedang pemberian eyang gurunya Maharesi Siwanata yang disebut sebagai Pedang Taring Naga dan Pedang Awan Merah serta ilmu kanuragan yang tinggi, Jenar Karana memburu gerombolan pembunuh itu yang konon katanya berasal dari Kerajaan Pajajaran.



Berhasilkah Jenar Karana melakukan tugasnya untuk merebut kembali Mustika Naga Api yang juga menyimpan rahasia jati diri nya? Temukan jawabannya dalam kisah RAJAWALI SAKTI DARI PESISIR SELATAN, tetap di Noveltoon kesayangan kita semua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ajian Brajamusti

Whuuuuttttt whhuuugggggg..

Dhhaassss dhhaaaaasssss!!!!

Tubuh Wandira mencelat menghantam dinding ruang tahanan. Dua tendangan cepat Jenar Karana yang mendarat di dada dan wajahnya membuat perempuan cantik berkemben ungu itu muntah darah.

Dia berusaha untuk kembali bangkit tetapi Jenar Karana sudah lebih dulu mencengkram lehernya dengan kuat.

"Katakan ini ada dimana? ", tanya Jenar Karana sambil menatap tajam ke arah Wandira.

Phuuiiihhhh...

" Jangan harap tahu apa-apa dari ku!! ", balas Wandira sambil meronta mencoba untuk melepaskan diri.

Sadar bahwa perempuan berkemben ungu ini adalah abdi setia, Jenar Karana menguatkan cengkraman tangannya hingga Wandira kesulitan bernafas. Tanpa ampun, dia kembali menempeleng pipi kiri Wandira dengan keras hingga pipi yang semula licin itu kini bengkak dan memerah.

"Aku beri kesempatan terakhir untuk mu bicara. Kalau masih membangkang, aku tak kan segan-segan untuk membunuh mu!! ", ancam Jenar Karana sambil melotot geram.

Hal ini rupanya cukup berhasil membuat Wandira ketakutan.

"I-ini adalah ruang tahanan kediaman Dewi Amba. Le-tak nya ada di belakang rumah", jawab Wandira dengan nafas tersengal.

Tiba-tiba mata Jenar Karana terpaku pada tusuk konde di rambut Wandira. Sebuah tusuk konde dari perak berbentuk ular seperti yang pernah ia lihat sewaktu bertarung melawan para siluman biaya dari Kali Gentan. Cepat, Jenar Karana mencabut tusuk konde di rambut Wandira dan menjauhkan diri.

Hooooooaaarrrrgggggghhh!!!

Seketika wujud cantik Wandira berubah menjadi sesosok manusia setengah serigala. Ini sama persis seperti siluman buaya Kali Gentan.

"Siluman terkutuk!

Jadi kau menyamarkan diri sebagai manusia untuk menjerat mangsa. Hari ini aku habisi kau!! ", ucap Jenar Karana sambil meraba kantong kulit kambing kecil berisi air suci yang ia simpan di pinggangnya. Untungnya dia benda itu tidak hilang saat di tangkap tadi.

Dia segera mengerahkan tenaga dalam nya hingga kuku tangannya memanjang sebagaimana tahap puncak Ilmu Cakar Rajawali Pesisir Selatan. Segera Jenar Karana mengucurkan air suci petirtaan itu ke jari jemari tangannya sebelum menerjang ke arah sang manusia setengah serigala.

Shhrraaaaaakkkkkk!!!

Wandira melompat mundur berusaha menghindari serangan Jenar Karana. Tetapi murid Resi Mpu Tidu ini tak membiarkan lawannya lolos dengan mudah, ia mengejar dan segera pertarungan di dalam bilik tahanan itu pun segera terjadi.

Sepuluh jurus kemudian..

Shhrraaaaaakkkkkk shhrraaaaaakkkkkk!!!

Aaaaaaaarrrrrgggggghhhhh...!!!

Wandira roboh dengan luka menganga pada leher dan dada nya. Dia pun tewas di tangan lelaki tampan yang ia ingin jadikan sebagai pemuas nafsunya. Perlahan tubuhnya menghitam sebelum akhirnya hancur lebur menjadi abu hitam. Angin tiba-tiba muncul dan menyapu abu hitam ini hingga hilang tak tersisa.

Usai menghabisi Wandira, Jenar Karana mengedarkan pandangan mata nya ke sekeliling tempat itu. Ia mencari barang-barang pribadi nya seperti Pedang Taring Naga dan Pedang Awan Merah yang tidak ada disitu. Sepertinya penculik sudah mengambil senjata pusaka nya ini.

Perlahan ia berjalan mendekat ke pintu keluar ruang tahanan dan mengetuk pintu.

Thhoookk thhoookk..!!

Suara ketukan pintu ini membuat Ranti tersenyum senang dan buru-buru masuk ke dalam. Tetapi yang terjadi setelahnya tak sesuai dengan bayangan di dalam otaknya.

Tangan kanan Jenar Karana langsung menyambar leher Ranti dan mencengkeram nya kuat-kuat. Tak berhenti sampai disitu, tangan kiri Jenar Karana meraih tusuk konde perak berbentuk ular di sanggul nya dan mencabutnya dengan cepat.

Tubuh Ranti pun langsung berubah menjadi manusia setengah macan kumbang. Jenar Karana secepat kilat menancapkan kuku nya yang tajam dan menariknya sekuat tenaga. Kejadian ini begitu cepat hingga Ranti tak sempat lagi untuk meronta.

Perempuan setengah macan kumbang itu langsung roboh dan tewas seketika. Seperti Wandira, mayat Ranti pun berubah menjadi abu hitam dan segera hilang tertiup angin.

"Aku harus secepatnya mencari keberadaan Pangeran Dyah Rangga dan kawan-kawan yang lain.. ", gumam Jenar Karana sembari bergerak perlahan penuh kewaspadaan di dalam lorong gelap goa tahanan yang hanya diterangi oleh obor.

Lima puluh langkah dari tempat nya semula, Jenar Karana menemukan sebuah bilik tahanan dan segera mengintip ke dalam nya.

Seorang lelaki tua dengan wajah tak jelas karena janggut panjang dan kumis tebal nya nampak duduk bersila di atas ranjang batu. Beberapa bagian tubuh nya terikat dengan rantai baja pada dinding. Dua mata tombak nampak menancap di dada nya, meskipun sepertinya itu hanya digunakan untuk menyiksa tanpa membunuh sosok lelaki tua itu.

Merasa kasihan, Jenar Karana membuka palang pintu bilik tahanan dan mendekati orang tua itu.

"Kisanak kisanak..!

Kau masih hidup??"

Mata lelaki tua itu terbuka dan menatap ke arah Jenar Karana yang berdiri di depan nya. Dia menelisik Jenar Karana dari ujung rambut hingga ujung kaki sebelum akhirnya tersenyum tipis.

"Dewa Yang Agung masih belum berkenan mencabut nyawa ku, Anak muda.. Uhukk uhukk hehhh.. ", jawab lelaki tua itu dengan nafas tersengal-sengal.

" Aku akan membebaskan mu, Kakek tua. Setelah itu kita keluar dari neraka ini", ucap Jenar Karana sambil bergerak mencekal rantai baja itu dan berusaha untuk memutuskannya.

Tetapi meskipun sudah mengerahkan seluruh tenaga dalam yang ia miliki, rantai baja itu sama sekali tidak bisa diputuskan.

"Percuma saja Anak muda..

Rantai ini terbuat dari baja yang ditempa dengan api abadi dan dicampur dengan batu langit. Sekuat apapun kau, kau tak akan bisa memutuskannya", ujar lelaki tua itu dengan pasrah.

" Jadi kau tak akan bisa lepas dari rantai ini? "

Lelaki tua itu menggelengkan kepalanya perlahan.

"Aku sendiri yang membuat rantai rantai ini jadi aku tahu kekuatan nya. Jangan buang tenaga mu sia-sia. Lebih baik kau bersiap untuk menghadapi para siluman di luar sana.. "

Hemmmmmmm...

"Aku hargai niat baik mu, Anak muda. Aku Mpu Supa bukan orang yang tidak tahu terimakasih. Sebagai ucapan terimakasih ku, aku akan memberikan sesuatu yang mungkin berguna untuk mu di masa depan. Mendekatlah.. "

Jenar Karana dengan patuh mendekat dan lelaki tua itu menggerakkan kepalanya. Janggut panjang nya bergerak dan melilit pergelangan tangan Jenar Karana.

Tiba-tiba tubuh lelaki tua yang mengaku sebagai Mpu Supa ini memancarkan cahaya biru terang dan cahaya itu langsung menjalar ke Jenar Karana lewat lilitan jenggot panjang nya.

Tubuh Jenar Karana mengejang hebat seperti di sambar petir. Dalam keadaan ini, mata batinnya melihat Mpu Supa mengajarkan nya gerakan dan rapalan ilmu yang ia turunkan pada sang murid Padepokan Pesisir Selatan ini.

BLLAAAAARRRRRRR!!

Tubuh Jenar Karana terpental ke belakang dalam keadaan duduk bersila setelah Mpu Supa menarik lilitan jenggot nya.

"Anak muda, aku sudah menurunkan Ajian Brajamusti ku kepada mu. Dengan ilmu ini kau bisa menghabisi para siluman di luar sana dan keluar dari tempat terkutuk ini hidup-hidup. Ingatlah untuk membunuh Dewi Amba jika kau berhadapan dengan nya.... "

Setelah berkata demikian, kepala Mpu Supa lunglai. Jenar Karana segera mendekati nya dan meletakkan jari tangan ke depan hidung Mpu Supa. Sudah tidak ada nafas dan ini menjadi tanda bahwa Mpu Supa mengerahkan seluruh tenaga dalam yang tersisa untuk menurunkan Ajian Brajamusti kepada nya. Jenar Karana pun langsung menghela nafas panjang.

Di depan mayat Mpu Supa, Jenar Karana bersujud dua kali sebelum akhirnya meninggalkan ruang tahanan itu.

Kembali Jenar Karana menyusuri lorong goa tahanan itu. Sekitar dua ratus langkah, ia menghentikan langkah kaki nya. Dua orang perempuan cantik berbaju minim seperti Wandira dan Ranti berdiri di depan pintu ruang tahanan. Sayup-sayup ia mendengar suara Si Kundu dari dalam ruang tahanan ini. Senyum tipis terukir di wajah Jenar Karana sebelum berkata,

"Rupanya ia juga masih hidup.. "

1
Batsa Pamungkas Surya
mksh atas sajian ceritanya kang Ebez
👍
mf lom bs ksih kopi🙏
Idrus Salam
Apapun yang terjadi... akan lebih baik jika disegerakan up kembali 😄
Hendra Yana
lanjut
Tamburelo
Di daerah kita mah gak ada serigala kang. Yg ada asu....asu ajag.🤣🙏
Mujib
/Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
😅😅😅
Mujib
👀👀👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!