Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.
Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Perubahan yang Menakutkan dan Perjalanan Melalui Rawa Jiwa
Pintu pos penjaga hancur di belakang mereka, meninggalkan gema kehancuran di udara. Di hadapan Jiangzhu berdiri Penjaga Hutan Mati, sosok menakutkan dengan empat lengan yang memegang pedang tulang berlumur racun hijau. Aura mematikan monster itu terasa mencekik.
"Jiangzhu, menyingkir!" teriak Yue, menarik Dewi Ling'er menjauh, meskipun kakinya sendiri gemetar hebat di bawah tekanan energi monster itu.
Namun, Jiangzhu tidak bergerak. Ia merasakan sensasi aneh di lengan kirinya yang kini gelap. Rasa sakit yang membakar sebelumnya kini bercampur dengan energi baru yang mengalir deras. Sisik hitam di bahunya merayap naik, memberinya perasaan dingin yang tajam.
"Pak Tua... aku merasa... berbeda," gumam Jiangzhu.
Jangan melawan, Nak! Biarkan energi itu mengalir! Gunakan kekuatan barumu! Penatua Mo berseru, suaranya terdengar mendesak.
Jiangzhu bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar. Ia tidak lagi bertarung seperti yang biasa ia lakukan, melainkan seperti bayangan yang mengikuti insting. Saat Penjaga Hutan Mati mengayunkan pedang tulangnya, Jiangzhu melakukan tindakan berani. Ia menggunakan lengan kirinya yang bersisik untuk menahan serangan.
TRANG!
Suara benturan logam bergema keras. Mata Yue terbelalak melihat lengan Jiangzhu tetap utuh, sementara pedang tulang monster itu retak.
"Sekarang... giliranku," bisik Jiangzhu, suaranya terdengar berbeda, sedikit serak dan rendah.
Lengan kiri Jiangzhu membesar, menunjukkan kekuatan luar biasa. Energi ungu samar memancar dari sisik hitamnya.
Teknik Lengan Mutasi: Cengkeraman Energi!
Jiangzhu mencengkeram wajah monster itu. Kukunya yang panjang menancap kuat pada tengkorak penjaga hutan. Seketika, energi gelap tersedot dari tubuh monster itu ke dalam lengan Jiangzhu. Monster itu mengeluarkan suara melengking yang mengguncang tanah di sekitar mereka.
BUMMM!
Tubuh penjaga hutan itu mengempis, kekuatannya terkuras habis. Jiangzhu berdiri di tengah reruntuhan, terengah-engah, merasakan energi aneh berdenyut di lengan kirinya. Lengan itu kini terlihat lebih kuat, dengan urat-urat yang menonjol.
"Kita harus pergi... sekarang!" Jiangzhu merasa ada sensasi aneh di tenggorokannya.
"Lewat lubang ventilasi itu! Itu mengarah ke Rawa Jiwa!" Yue menunjuk ke celah di langit-langit yang runtuh.
Mereka memanjat keluar, meninggalkan sisa-sisa penjaga hutan. Di luar, pemandangan Hutan Mati berubah. Kabut asam mulai turun, dan tanah di bawah kaki mereka berubah menjadi air hitam kental yang berpendar biru redup Rawa Jiwa.
Setiap langkah di rawa terasa berat, seolah ada sesuatu yang mencoba menahan mereka. Ini bukanlah lumpur biasa, melainkan tempat berkumpulnya energi sisa dari banyak jiwa yang terjebak.
"Jangan dengarkan suara-suara itu! Tutup telinga Awan!" teriak Yue.
Awan menangis terisak, menyembunyikan wajahnya di dada Jiangzhu. Jiangzhu bisa merasakan energi dari rawa itu, tetapi lengan mutasinya memancarkan aura yang membuat energi jiwa-jiwa itu menjauh, seolah enggan mendekat.
"Jiangzhu, kau... sisik di lenganmu terus menyebar," Yue menatap khawatir ke arah bahu Jiangzhu. Sisik hitam itu sudah mencapai bagian bawah rahangnya.
"Aku tahu," jawab Jiangzhu singkat. Ia merasakan perubahan dalam dirinya yang sulit dikendalikan. "Cepat jalan, Yue. Kita tidak punya banyak waktu."
Yue menelan ludah. Ia melihat perubahan pada Jiangzhu, menyadari bahwa kekuatan baru ini datang dengan harga yang mahal.
Di kejauhan, melalui kabut rawa, terlihat cahaya samar dari lampion merah di sebuah dermaga tua. Itu adalah jalan keluar menuju wilayah pusat Benua Barat. Namun, di antara mereka dan dermaga, permukaan rawa mulai bergejolak. Sesuatu yang besar, sesuatu yang tersembunyi di kedalaman Rawa Jiwa, mulai bergerak.
"Pak Tua Mo... makhluk apa itu?" Jiangzhu mencengkeram pedangnya. Meskipun ada perasaan tegang, ada juga dorongan kuat yang sulit dijelaskan.
Itu adalah 'Penjaga Rawa Purba'. Nak, jangan hadapi dia! Prioritaskan keselamatan!
"Tidak ada waktu untuk lari," gumam Jiangzhu.
Ia menurunkan Awan dan menyerahkannya kepada Yue. "Bawa Ibu dan Awan ke dermaga. Jangan berhenti. Aku akan mencoba mengulur waktu."
"Jiangzhu, ini terlalu berbahaya!" Yue berseru.
"Aku akan baik-baik saja," jawab Jiangzhu, meskipun ia tidak yakin. Lengan mutasinya berdenyut, memancarkan energi. Saat kepala besar makhluk itu muncul dari air, Jiangzhu justru melangkah maju, siap menghadapi tantangan yang ada di depannya.
Jiangzhu merasakan tulang-tulang di pergelangan tangan kirinya berderak, bunyinya seperti kayu kering yang dipatahkan secara paksa. Ia menunduk dan melihat dengan ngeri bagaimana kuku-kukunya memanjang, mengeras, dan berubah warna menjadi hitam legam seperti obsidian yang diasah. Darah yang mengalir dari sela-sela sisik itu tidak lagi berwarna merah; warnanya ungu gelap, kental, dan mengeluarkan aroma belerang yang menusuk hidung.
"Mundur, Yue! Bawa mereka sejauh mungkin dari sini!" raung Jiangzhu. Suaranya bukan lagi suara pemuda yang ia kenal. Ada nada ganda yang bergema di balik pita suaranya, sesuatu yang parau, kuno, dan penuh kebencian.
Yue tidak membantah. Ia bisa merasakan tekanan udara di sekitar Jiangzhu mendadak anjlok, menciptakan kekosongan yang menyesakkan paru-paru. Dengan gerakan cepat yang dipicu oleh ketakutan murni, ia menyeret Dewi Ling’er ke arah lubang ventilasi, sementara Awan menangis tanpa suara, tangannya yang kecil gemetar saat menyentuh sisa-sisa jubah Jiangzhu yang robek.
Bocah, kendalikan dirimu! Jangan biarkan 'dia' mengambil alih seluruh saraf motorikmu! Penatua Mo berteriak, suaranya terdengar seperti lonceng yang dibunyikan di tengah badai.
Jiangzhu tidak menjawab. Pikirannya saat ini hanyalah kumpulan fragmen rasa sakit dan warna merah. Saat Penjaga Hutan Mati itu melayangkan keempat pedang tulangnya sekaligus, Jiangzhu tidak lagi merasa perlu untuk menangkis. Ia merasa seolah-olah ia bisa melihat aliran energi di udara titik-titik lemah yang berdenyut seperti lampu redup.
Dengan satu entakan, Jiangzhu melesat. Kecepatannya membuat udara di sekitarnya meledak. Lengan kirinya yang bermutasi mencengkeram salah satu pedang tulang monster itu, dan dengan satu remasan tangan yang kini lebih mirip cakar naga, pedang yang setebal paha manusia itu hancur menjadi serpihan debu putih.
KRAKK!
Sensasi kekuatan yang mengalir dari lengan ke punggungnya terasa memabukkan, hampir seperti candu yang paling berbahaya. Jiangzhu merasakan sebuah dorongan liar untuk merobek, untuk menghancurkan, untuk menghapus keberadaan makhluk di depannya. Namun, jauh di sudut terkecil hatinya, ia masih bisa melihat wajah ibunya. Itulah satu-satunya hal yang mencegahnya menjadi monster sepenuhnya saat ini.
Begitu mereka keluar ke Rawa Jiwa, Jiangzhu merasa seolah-olah ia sedang berjalan di atas hamparan daging yang membusuk. Permukaan air hitam di bawah kakinya tidak terasa basah; air itu terasa seperti minyak yang lengket, mengandung jutaan bisikan tak berbentuk yang mencoba merambat masuk ke dalam pori-pori kulitnya.
"Jangan berhenti berjalan," desis Jiangzhu. Setiap kali ia bicara, uap ungu keluar dari mulutnya, membekukan lumut-lumut rawa di depannya. "Jika kau berhenti, jiwa-jiwa di bawah sana akan menyeretmu masuk. Mereka tidak butuh dagingmu, Yue. Mereka butuh kehangatan hidupmu."
Yue menatap bahu Jiangzhu yang kini dipenuhi tonjolan tulang kecil yang menembus kulit. "Jiangzhu, tanganmu... kau mulai kehilangan kulit manusiamu."
Jiangzhu melirik lengannya yang kini berkilau hitam di bawah cahaya biru redup rawa. Ia merasa lengannya itu bukan lagi bagian dari tubuhnya, melainkan sebuah senjata parasit yang ia tempelkan di bahunya. "Asal aku masih bisa memegang pedang untuk melindungi kalian, aku tidak peduli jika seluruh tubuhku berubah menjadi batu," jawabnya sinis.
Namun, kejujuran itu pahit. Di balik kata-katanya yang keras, Jiangzhu merasakan ketakutan yang dingin. Ia takut suatu saat nanti, ketika ia menoleh ke arah Awan atau ibunya, yang ia rasakan bukan lagi cinta, melainkan rasa lapar.
Saat makhluk rawa purba itu mulai menampakkan kepalanya yang bersisik lumut di kejauhan, Jiangzhu merasakan pedang hitam di tangan kanannya bergetar hebat. Pedang itu seolah-olah mengenali musuh yang setara.
"Pergilah, Yue," bisik Jiangzhu, kali ini lebih lembut, seolah-olah ia sedang mengucapkan selamat tinggal pada kemanusiaannya yang terakhir. "Rawa ini butuh tumbal agar yang lain bisa lewat. Dan aku punya terlalu banyak dosa untuk tetap dibiarkan hidup dalam ketenangan."
Ia berdiri tegak di atas air hitam yang bergejolak, membiarkan energi Iblis dan energi Langitnya bertarung di dalam nadinya, menciptakan percikan listrik ungu di ujung jari cakarnya. Di Benua Barat ini, pahlawan mati sebagai legenda, tapi monster... monster hidup cukup lama untuk memastikan musuh-musuhnya memohon kematian. Dan Jiangzhu siap menjadi monster itu.