NovelToon NovelToon
Diceraikan Suami Dinikahi Ceo Milyader

Diceraikan Suami Dinikahi Ceo Milyader

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romansa / Tamat
Popularitas:31.7k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.

Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.

Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.

Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.

Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.

Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Kaisar melangkah mendekat. Sorot matanya sangat tajam, seolah-olah bisa melubangi jas yang dikenakan Hendra hanya dengan tatapannya.

Kaisar tidak menatap Hendra atau Rima, melainkan langsung berjongkok di samping Aisya yang masih memunguti pecahan kaca.

"Berhenti, Aisya. Jangan lukai tanganmu lagi," bisik Kaisar dengan nada yang sangat lembut, sangat kontras dengan suaranya yang dingin tadi.

Kaisar meraih tangan Aisya, melihat ada goresan kecil di jari wanita itu. Ia segera mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya dan membalut luka Aisya dengan hati-hati di hadapan semua orang.

Aisya mendongak, matanya yang basah menatap Kaisar dengan bingung. "Mas... Mas Kaisar?"

Kaisar berkedip pada Aisya sambil tetap menggenggam tangan Aisya untuk membantunya berdiri. Ia kini menatap Hendra dengan tatapan yang menghujam.

"Tuan Hendra, bukan?" tanya Kaisar dingin.

"I-iya, Pak Kaisar... mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Pelayan rendahan ini sangat ceroboh, dia merusak jas saya dan gaun rekan saya," jawab Hendra berusaha mencari muka, berharap Kaisar akan memecat pelayan itu.

Kaisar tersenyum sinis, senyuman yang membuat bulu kuduk Hendra merinding.

"Pelayan rendahan? Kamu baru saja membentak dan menghina wanita yang baru saja kamu katakan tidak kenal ini?" ucap Kaisar sembari melangkah lebih dekat, membuat Hendra mundur ketakutan.

"Asal kamu tahu, Tuan Hendra. Jas yang kamu banggakan itu harganya tidak ada apa-apanya dibandingkan satu tetes air mata wanita ini. Dan kamu, Rima!" Kaisar beralih menatap Rima dengan jijik. "Jangan pernah berani menunjukkan wajah kamu di hotel saya lagi setelah malam ini!"

"Tapi Pak... dia hanya pelayan! Harusnya bapak membela saya dong, bukan pelayan ini!" Rima membela diri.

"Dia bukan hanya pelayan. Dia adalah tamu istimewa saya," tegas Kaisar. Ia kemudian menoleh kembali pada Aisya, menatapnya dengan penuh rasa hormat yang membuat semua orang di ruangan itu terdiam. "Aisya, kamu tidak perlu meminta maaf pada orang-orang yang tidak menghargaimu. Ayo ikut saya."

Kaisar membawa Aisya pergi dari hadapan Hendra yang mematung dengan wajah hancur dan Rima yang gemetar ketakutan.

Hendra hanya bisa melihat istrinya dibawa pergi oleh bos besarnya. Matanya terpaku pada Kaisar yang merangkul bahu Aisya dengan protektif. Ada rasa panas yang menjalar di dada Hendra. Cemburu, malu, dan ketakutan yang luar biasa. Ia ingin berlari, menarik tangan istrinya, dan menjelaskan bahwa semua tadi hanyalah sandiwara demi karier.

"Aisya! Tunggu!" seru Hendra, baru saja akan melangkah.

Namun, sebuah tangan dengan kuku-kuku merah tajam mencengkeram lengan jasnya. Rima berdiri di sampingnya dengan wajah yang memerah karena marah.

"Mau kemana, Mas?! Kamu mau mengejar pelayan rendahan itu dan meninggalkan aku dalam kondisi seperti ini?" sentak Rima. "Lihat gaunku! Ini jus jeruk, lengket, dan bau! Kamu harus tanggung jawab!"

"Rima, lepaskan! Itu istriku!" desis Hendra dengan suara rendah yang penuh penekanan.

Rima tertawa sinis, tidak melepaskan cengkeramannya sedikit pun. "Istri? Tadi kamu bilang tidak kenal, kan? Sekarang kamu mau mengakuinya di depan semua orang setelah Pak Kaisar membawanya? Mas, jangan bodoh. Kalau kamu kejar dia sekarang, aku pastikan besok pagi surat pemecatan mu sudah ada di meja ayah."

Hendra membeku di tempat. Ancaman itu seperti belati yang menempel di lehernya. Ia menoleh ke arah Joko, manajer keuangannya, yang berdiri tak jauh dari sana dengan wajah masam.

"Hendra!" panggil Joko dengan nada memerintah. "Kenapa kamu diam saja? Anak saya sedang kesusahan. Cepat antar Rima ke atas untuk mengganti pakaiannya. Saya sudah memesan suite room untuknya beristirahat. Jangan biarkan dia malu lebih lama lagi di sini!"

"Tapi, Pak..."

"Tidak ada tapi-tapi, Hendra. Kerjakan tugasmu atau kamu tahu konsekuensinya," potong Joko dingin.

Hendra menarik napas pendek yang terasa sangat sesak. Ia menatap ke arah koridor lift tempat Aisya dan Kaisar menghilang. Logikanya berperang dengan hatinya.

Jika ia pergi, ia kehilangan martabat sebagai suami. Jika ia bertahan, ia kehilangan mata pencahariannya, satu-satunya hal yang membuatnya bisa bertahan dari tuntutan ibunya, Mira.

"Ayo, Mas! Kakiku sudah pegal!" Rima merengek sambil menarik-narik lengan Hendra.

Dengan langkah berat dan hati yang hancur, Hendra akhirnya berbalik. Ia menuntun Rima menuju lift eksekutif.

Rima sesekali melirik Hendra melalui pantulan cermin lift dengan senyum kemenangan.

"Kamu sudah melakukan hal yang benar, Mas," bisik Rima sambil merapatkan tubuhnya pada Hendra. "Wanita seperti dia tidak pantas untukmu. Biar saja Pak Kaisar mengurusnya, mungkin dia memang sudah biasa menggoda pria kaya di pasar."

"Tutup mulutmu, Rima," jawab Hendra tajam tanpa menoleh.

Ting!

Pintu lift terbuka di lantai dua puluh. Hendra berjalan kaku mengikuti Rima menuju sebuah kamar. Rima menempelkan kartu akses dan pintu langsung terbuka.

"Mas, masuk dulu. Bantu aku membuka ritsleting belakangnya. Tanganku tidak sampai dan ini lengket sekali," ujar Rima sambil melangkah masuk ke dalam kamar yang remang-remang.

Hendra berdiri di ambang pintu, ragu dan merasa sangat berdosa. Di bawah atap hotel yang sama, istrinya sedang bersama pria lain karena kesalahannya sendiri, dan kini ia justru masuk ke dalam kamar hotel dengan wanita yang ingin menghancurkan rumah tangganya.

"Mas, ayo! Kamu mau aku kedinginan?" panggil Rima dari dalam kamar.

1
Rina Arie
good
A.R
pecat saja sih tuk lakinx sama sih pelakor dan jgn lupa jg sihh bpknx pelakor jgn kasih tempat
sunshine wings
Happy ending.. 👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
sunshine wings
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings
Hahaha.. 🤣🤣🤣🤣🤣
sunshine wings
Jangan protes sayang..
sunshine wings
Terima kasih ma kerana melimpahkan kasih sayangmu yg tak terhingga pada Aisya.. I love you ma.. ❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings
😱😱😱😱😱😍😍😍😍😍
sunshine wings
😍😍😍😍😍
sunshine wings
Wowww.. Ga lebih berat dari selembar tisu.. Bener² mamasnya ya.. Tapi itulah bentuk penghargaan yg setimpal dengan wanita bernama Aisya.. ❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings
Turutkan aja Aisya.. Kasih sayang mas Kaisar bukan kaleng².. 😂😂😂😂😂❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings
Mas Kaisar lebih protektif dari biasanya.. 💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings
Memang kamu bodoh Hendra.. Isteri sendiri ga dipertahanin.. Ga dibelain juga..
sunshine wings
Anakmu yg mandul buk..
sunshine wings
😭😭😭😭😭 Tangisan kebahagiaan author.. Ya Allah Ya Rabb.. Terima kasih atas kemanisan yg Engkau limpahkan ke atas keluarga kecil ini.. ❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings
Syukur alhamdulillah.. Allah itu maha berkuasa.. 🥹🥹🥹🥹🥹🤲🏼🤲🏼🤲🏼🤲🏼🤲🏼
sunshine wings
😅😅😅😅😂
sunshine wings
😢😢😢😢😢
sunshine wings
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings
💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!