Follow;
FB~Lina Zascia Amandia
IG~Deyulia2022
WA~ 089520229628
Seharusnya Syapala sangat bahagia di hari kelulusan Sarjananya hari itu. Namun, ia justru dikejutkan dengan kabar pertunangan sang kekasih dengan perempuan lain.
Hancur luluh hati Syapala. Disaat hatinya sedang hancur, seorang pria dewasa menawarkan cinta tanpa syarat. Apakah Syapala justru menerima cinta itu dengan alasan, ingin membalaskan dendam terhadap mantan kekasih?
Ikuti terus kisahnya dan mohon dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Ciuman di Pedang Pora
Pagi itu, suasana di Batalyon Infanteri 999 terasa berbeda. Udara masih lembap sisa embun. Namun, halaman markas telah ramai oleh barisan prajurit berseragam lengkap.
Mereka berdiri tegap dalam dua barisan berhadap-hadapan, pedang terhunus tinggi membentuk lengkung kehormatan, dan upacara pedang pora akan segera dimulai.
Dentang musik mars lembut terdengar dari kejauhan, mengiringi langkah dua sosok yang menjadi pusat perhatian pagi itu, yakni Syapala Zehra dan Kapten Arkala Adisetya Kelana.
Awalnya, Syapala memang sudah kurang menyambut acara ini, dengan alasan lelah. Namun, Arkala berhasil membujuknya, sebab pedang pora ini hanya dilakukan sekali dalam sepanjang pernikahan mereka. Akhirnya Syapala bersedia mengikuti rangkaian pedang pora, meskipun wajahnya tidak memancarkan kebahagiaan.
"Dik, tolong kerjasamanya, bukankah ini bagian dari membalas sakit hati pada adikku? Buatlah dirimu nyaman di sampingku!" peringat Kala pagi sebelum mereka pergi ke kesatuan Yonif.
Syapala berusaha melangkah anggun di sisi kiri Kapten Arkala. Gaun putih sederhana namun elegan membalut tubuhnya. Di tangannya tergenggam buket kecil bunga dahlia, sementara wajahnya kini memancarkan kebahagiaan bercampur haru. Entahlah, acara pedang pora ini, lagi-lagi selayaknya pernikahan yang selama ini dia impikan ketika masih membina hubungan dengan Erlaga.
Harus digaris bawahi, tadi sebelum kakinya tiba di kantor kesatuan Yonif 999, Syapala merasa acara pedang pora ini tidak berarti. Bahkan dia sempat berkata, "Yang penting Abang daftarkan saja pernikahan kita ke kantor, beres." Kalimat itu ia ucapkan tanpa beban.
Namun, kini rasa haru itu seketika menyelinap. Bahkan rasanya ia ingin menangis dan kalau boleh ia berkata, Syapala ingin katakan di depan Erlaga, "Lihatlah, meskipun aku tidak bersanding denganmu, Kak. Aku bisa bersanding dengan Abangmu."
Di sampingnya, Kapten Arkala melangkah gagah dalam balutan seragam dinas lengkap dengan tanda kehormatan di dada. Tatapan matanya tenang, namun di balik itu jelas terpancar rasa bangga dan cinta yang dalam pada perempuan di sisinya. Meskipun ia tahu, Syapala hanya menganggap pernikahan ini tetaplah pernikahan untuk membalaskan sakit hati.
"Aku bahagia bisa bersanding denganmu Nona Suci. Lihat saja, aku akan buatmu mencintai aku. Dan aku berjanji, akan aku taklukan sikap sombongmu dengan cintaku," janjinya dalam hati sungguh-sungguh.
Tidak lama dari itu, pemimpin upacara memberikan Komando. Dan deretan pedang baja berkilat serempak terangkat tinggi. Ujung-ujungnya saling bersilangan, membentuk gerbang kehormatan yang menjulang di bawah sinar matahari pagi.
Langkah pertama mereka melewati barisan pedang disambut sorakan lembut para prajurit, "Selamat berbahagia, Kapten! Selamat datang di kehidupan baru!"
Suasana terasa khidmat namun hangat, seolah setiap helai daun pun ikut merayakan momen itu. Meskipun di samping Arkala, perasaan Syapala saat ini sedang turun naik, antara haru, tegang dan keterpaksaan. Namun, Arkala tetap tersenyum dan melangkah membawa Syapala sampai ujung barisan.
Ketika pasangan itu tiba di ujung barisan terakhir, dua pedang bersilang menutup jalan mereka. Salah satu prajurit senior tersenyum lebar dan berseru lantang, "Untuk melewati gerbang terakhir, Kapten harus mencium mempelai!" titahnya.
Tawa kecil pecah di antara para prajurit. Jantung Syapala mendadak berdegup, detakannya terasa sangat kencang. Namun, ia berusaha membuang ketegangan itu.
Beda dengan Arkala, ia menatap Syapala, tatapannya lembut dan penuh janji, lalu dengan perlahan ia menunduk, menyentuh kening istrinya dengan ciuman hangat. Saat itu juga, Arkala dapat merasakan ketegangan melanda Syapala, detak jantung itu mampu memberikan jawaban yang nyata, bahwa Syapala begitu tegang dan tentu saja ciuman ini bukan hal yang dia inginkan.
Tepuk tangan dan sorak gembira pun membahana, bergema di seluruh halaman batalyon. Padahal yang disorakinya, tidak merasakan bagian acara ini sesuatu yang membahagiakan, melainkan suatu keterpaksaan.
Syapala menghela napas dalam-dalam, sesaat setelah ciuman di kening itu dilepaskan.
Bendera merah putih berkibar gagah di tiang utama, menjadi saksi bisu atas sebuah peristiwa sakral, penyatuan dua jiwa di tengah disiplin dan kehormatan militer.
Di antara barisan prajurit yang masih berdiri tegap, beberapa mata terlihat berkaca-kaca. Karena bagi mereka, pagi itu bukan sekadar upacara kehormatan, melainkan lambang kesetiaan, cinta, dan pengabdian yang lahir dari hati seorang prajurit dan perempuan yang berani mencintai prajuritnya dengan sepenuh jiwa.
Pedang-pedang kembali ke sarungnya. Musik perlahan berhenti. Namun gema dari momen itu, akan lama bertahan di hati setiap saksi yang hadir di Batalyon Infanteri 999 pagi itu.
Sepulang dari acara pedang pora, Syapala langsung memasuki kamar, dia benar-benar sangat kelelahan. Lelah fisik dan perasaan. Hanya beberapa saat saja hatinya merasa terharu karena pernikahan pedang pora yang dilaksanakan tadi nyaris seperti pernikahan yang selama ini dia impikan.
Namun, ketika sampai di rumah, rasa haru itu hilang seketika. Semua hanya karena satu nama, yakni Erlaga.
Syapala membaringkan tubuhnya kasar. Ia tidak peduli gaun pengantin itu akan rusak. Yang jelas, hari ini kakinya terasa sangat pegal.
"Trekkk."
Suara pintu dibuka, tapi Syapala tidak menoleh ke arah pintu. Dia tahu, itu Arkala.
"Dik, cepat ganti gaun pengantinnya. Mama sudah menunggu di meja makan. Kita akan makan bersama," titah Arkala terdengar lembut tapi tegas.
Syapala tidak bergerak, "Saya belum lapar, Abang saja yang makan." Syapala menolak. Sebutan saya masih saja dia gunakan dan melekat setiap kali bicara dengan Arkala.
"Tidak bisa. Ada Mama dan Papa di meja makan. Kalau kamu tidak ada di meja makan, mereka pasti akan curiga," protes Arkala.
Syapala perlahan bangkit, ia menduduki bibir ranjang dengan malas. Sejenak ia berpikir dengan kalimat yang dikatakan Kala barusan. "Benar juga apa kata dia. Tapi, kalau di meja makan itu ada Kak Laga....?
"Pasti ada dia juga di sana, kan?"
Arkala paham siapa yang dimaksud dia oleh Syapala.
"Tidak ada. Laga sudah ke kantornya sesaat setelah kita tadi pergi. Ayolah, demi Mama dan Papaku," ujarnya memaksa.
Dengan malas, Syapala bangkit dan berjalan menuju lemari pakaian. Kemudian dia mengganti gaun pengantinnya di sana di balik lemari.
"Jangan sampai gaun pengantin ini menyusahkan seperti gaun yang kemarin itu," gumamnya penuh harap.
"Gimana, masih kesusahan membuka gaunnya?"
Syapala tersentak saat Arkala sudah berada di dekatnya, ia baru saja berhasil membuka risleting gaun pengantin, setelah beberapa menit lelah membukanya. Punggung mulus itu sontak terpampang jelas di depan mata Arkala, tanpa bisa menghindar lagi.
Syapala membalikkan badan dengan cepat, matanya melotot tajam ke arah Arkala.
"Bisa tidak, Abang diam di sana saja? Tidak lihatkah saya sedang berusaha membuka gaun ini?" sengatnya marah.
Arkala yang disengat, bukannya takut. Dia malah terkekeh dengan gestur menggoda.
"Abang hanya khawatir kalau Adik masih tidak bisa membuka gaun pengantin ini seperti dua hari yang lalu," tukasnya beralasan.
"Pergi, atau saya tidak akan menghadiri makan bersama Mama dan Papa Abang?" dengusnya menganam.
Arkala terpaksa pergi dan menunggu Syapala sampai selesai membuka gaunnya, di sofa.
"Ayo. Jangan lupa tangannya harus tetap bergandengan. Adik tahu, kan, semua ini demi menghindari kecurigaan Mama dan Papa."
Lagi-lagi kalimat itu, terpaksa membuat Syapala mengikuti apa yang dikatakan Arkala. Arkala tersenyum penuh kemenangan.
NB: Kisah ini hanya fiktif belaka. Nama kesatuan, atau nama tokoh hanya karangan Author semata.
NB lagi: Mohon maaf Author telat up date dua hari terakhir ini, kebetulan sudah dua hari suami Author sedang sakit demam dan diare. Mohon doa untuk kesembuhan suami Author. Doa yang sama untuk kalian, semoga kalian tetap sehat. Jaga kesehatan ya. 🥰🥰🥰🥰
.
ud bng cari yg lain yg GK kyk pala yg keras kepala itu😓😓😓
ini yg bikin sakit thor
dan suatu saat pala mau memaafkan laga thooor
pangkat ,jabatan sekolah pekerjaan blum tentu mencermin kan semua juga baik
thooor meski laga ngeselin,penghianat,bodoh jangan sampe laga gugur disaat satgas papua thooor,kasih juga lah laga jodoh thoor biar dirasakan si dokter prita sakit hati