Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 : Antara Takhta Kaca dan Detak Jantung
Fajar baru saja menyentuh cakrawala Madrid, Alicia terbangun lebih dulu. Ia menemukan dirinya terlelap dalam dekapan Rafael. Tangan pria itu masih melingkar protektif di pinggangnya, seolah-olah bahkan dalam tidur pun, Rafael tidak ingin membiarkannya pergi. Alicia menatap wajah Rafael yang tenang—jauh dari kesan predator yang biasanya ia tunjukkan kepada dunia.
Tanpa sadar, Alicia menyentuh rahang tegas Rafael dengan ujung jarinya. Ada desir aneh di dadanya, sebuah kehangatan yang tidak ada dalam draf kontrak pertunangan mereka.
"Kau sedang mengagumi hasil investasimu, Alicia?" suara berat Rafael memecah kesunyian. Ia tidak membuka mata, namun sebuah senyum tipis muncul di bibirnya.
Alicia menarik tangannya dengan cepat, wajahnya memerah. "Aku hanya memastikan kau masih bernapas. Aku tidak ingin tunanganku mati sebelum kita menyelesaikan urusan dengan Isabel."
Rafael membuka matanya, menatap Alicia dengan pandangan yang dalam dan penuh selidik. Ia menarik Alicia lebih dekat hingga dahi mereka bersentuhan. "Kau pembohong yang buruk saat baru bangun tidur, Alicia. Detak jantungmu tidak bisa berbohong. Kau mulai merasakan sesuatu yang tidak ada dalam rencana kita, bukan?"
Alicia memalingkan wajah, mencoba menjaga dinding pertahanannya. "Ini hanya adrenalin, Rafael. Kebakaran itu, donasi semalam... itu membuat emosiku tidak stabil. Perasaan adalah kelemahan yang tidak mampu kita beli."
Rafael terdiam sejenak, lalu mengecup kening Alicia dengan lembut—sebuah kecupan yang terasa terlalu nyata untuk sebuah akting. "Benar. Strategi. Mari kita sebut kehangatan ini sebagai 'investasi emosional' agar kerja sama kita lebih solid. Tapi ingat, Alicia... investasi bisa berubah menjadi kepemilikan mutlak."
Mereka berdua bangkit, kembali mengenakan baju zirah berupa setelan mahal dan senyum dingin. Namun, di balik topeng itu, keduanya tahu bahwa ada benih yang mulai tumbuh, sebuah perasaan yang mereka berdua sangkal namun tak bisa mereka cabut.
...****************...
Pukul sepuluh pagi, kantor pusat Solera Luxury Homes tampak sibuk seperti biasa. Namun, keamanan yang biasanya ketat sedang sedikit longgar karena ada pengiriman furnitur besar untuk renovasi lantai eksekutif yang sempat terdampak asap kebakaran tempo hari.
Di dalam kerumunan pekerja bangunan, seorang pria dengan topi rendah dan masker debu melangkah masuk. Matanya nanar, penuh dengan kemarahan yang sudah mencapai titik didih. Itu adalah Santiago.
Santiago tahu setiap sudut gedung ini. Ia tahu kode lift darurat yang belum sempat diganti oleh tim TI baru Alicia. Ia tahu bahwa pada jam ini, Alicia dan Rafael biasanya melakukan rapat koordinasi di ruang kerja utama.
Ia membawa tas olahraga hitam yang berat. Di dalamnya bukan berisi dokumen atau uang, melainkan dendam yang telah ia ubah menjadi senjata. Santiago tidak lagi peduli pada masa depan. Ia hanya ingin menghentikan waktu bagi mereka yang telah merenggut dunianya.
Penyanderaan di Menara Kaca
Di lantai teratas, Alicia sedang berdiskusi dengan Rafael tentang laporan keuangan mingguan. Tiba-tiba, pintu besar ruang kerja itu ditendang terbuka.
BRAKK!
Santiago berdiri di sana, memegang sebuah pistol dengan tangan yang gemetar hebat. Di tangan lainnya, ia memegang sebuah detonator kecil yang terhubung dengan tas hitam yang ia letakkan di depan pintu.
"SANTIAGO?!" teriak Alicia, ia berdiri secara spontan.
"Duduk! Kembali ke kursi kalian!" raung Santiago. Wajahnya terlihat mengerikan—pucat, dengan kantung mata hitam dan tawa yang terdengar seperti rintihan setan.
Rafael berdiri dengan tenang, mencoba menjadi tameng di depan Alicia. "Santiago, letakkan senjatamu. Kau hanya akan memperburuk keadaanmu. Ini bukan cara seorang pria menyelesaikan masalah."
"Pria?! Kau bicara soal menjadi pria?!" Santiago tertawa histeris. "Kau mencuri perusahaanku, kau mencuri istriku, kau mempermalukanku di depan seluruh dunia! Kau pikir aku masih punya sesuatu untuk diperjuangkan?!"
"Aku tidak mencuri apapun, Santiago. Kau yang membuangnya ke selokan, dan aku hanya memungut apa yang berharga," balas Rafael dengan suara dingin yang memicu amarah Santiago.
Santiago mengarahkan pistolnya tepat ke dada Rafael. "Diam kau, Montenegro! Satu kata lagi, dan aku akan memastikan Alicia melihat otakmu berceceran di atas karpet mahal ini!"
Alicia merasa dunianya berputar. Melihat pistol itu tertuju pada Rafael, ia merasakan ketakutan yang jauh lebih hebat daripada saat ia terjebak di dalam api. "Santiago, tolong... dengarkan aku. Apa yang kau inginkan? Uang? Aku akan memberimu jutaan Euro. Aku akan membatalkan semua tuntutan. Tolong, jangan sakiti dia."
Santiago tersenyum licik. Ia berjalan mendekati meja Alicia, sambil tetap menodongkan pistol ke arah Rafael yang kini dipaksa berlutut oleh tekanan senjata itu.
"Uang? Kau pikir aku bisa memulai hidup baru dengan uangmu setelah reputasiku hancur?" Santiago mengeluarkan sebuah map dari balik jaketnya. Ia melemparnya ke meja Alicia.
"Itu adalah dokumen pengalihan seluruh aset Solera dan pengunduran dirimu secara permanen. Tanda tangani itu sekarang, dan aku akan membiarkan kekasihmu ini hidup," ujar Santiago dengan suara serak.
Alicia menatap dokumen itu. Solera adalah hidupnya. Itu adalah warisan keluarganya, hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun, dan satu-satunya hal yang membuatnya merasa berdaya. Jika ia menandatanganinya, ia akan kehilangan segalanya—takhtanya, identitasnya, dan kekuatannya.
"Alicia, jangan!" teriak Rafael. "Jangan berikan apa yang dia inginkan! Dia tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja meskipun kau menandatanganinya!"
Santiago memukul kepala Rafael dengan gagang pistol, membuat Rafael jatuh tersungkur dengan darah mulai mengalir di pelipisnya.
"RAFAEL!" Alicia menjerit, air mata mulai mengalir deras di pipinya. "Hentikan, Santiago! Cukup!"
"Pilih, Alicia!" raung Santiago. "Perusahaanmu yang agung ini, atau nyawa pria yang kau klaim sebagai tunanganmu ini? Kau selalu bilang bisnis adalah segalanya bagimu. Kau bilang perasaan itu sampah. Sekarang buktikan! Pilih gedung kaca ini, atau detak jantung pria ini!"
Alicia menatap Rafael. Pria itu menatapnya balik dengan mata yang menyiratkan keberanian, namun juga sebuah permohonan agar Alicia tidak mengorbankan dirinya sendiri. Di saat itu, Alicia menyadari sesuatu yang sangat menyakitkan: Semua harta di dunia ini tidak ada artinya jika Rafael tidak ada untuk berbagi dengannya.
Strategi? Kontrak? Semuanya hancur. Yang tersisa hanyalah cinta yang ia sangkal tadi pagi.
"Aku akan menandatanganinya," bisik Alicia, tangannya meraih pena emas di atas meja.
"Jangan, Alicia! Aku memerintahkanmu sebagai mitramu, jangan tanda tangani!" Rafael berteriak, suaranya parau.
"Diam kau, Rafael!" Alicia menatap Rafael dengan mata yang penuh dengan duka dan kasih sayang. "Aku bisa membangun kembali perusahaan lain. Aku bisa mencari uang lagi. Tapi aku tidak bisa menggantikanmu. Kau adalah satu-satunya hal nyata yang aku miliki sekarang."
Santiago tertawa puas, sebuah suara yang sangat memuakkan. "Lihat itu, Montenegro! Wanita hebatmu ternyata hanyalah budak cinta yang lemah! Dia memilihmu daripada takhtanya!"
Saat Alicia hendak menempelkan ujung pena ke kertas, Rafael menatapnya dengan kode rahasia yang pernah mereka bicarakan—sebuah isyarat tentang sistem keamanan darurat di bawah meja kerja.
Alicia mengerti. Ia harus mengulur waktu.
"Aku akan menandatanganinya, Santiago. Tapi kau harus berjanji... biarkan Rafael keluar dari ruangan ini dulu. Aku akan tetap di sini bersamamu sebagai jaminan," ujar Alicia, suaranya bergetar namun penuh dengan manipulasi yang cerdas.
"Kau pikir aku bodoh?!" bentak Santiago. "Tanda tangani dulu! Sekarang!"
Ketegangan di ruangan itu meledak saat sirine polisi mulai terdengar dari kejauhan. Santiago panik. Ia mulai melihat ke arah jendela, menyadari bahwa waktunya hampir habis.
"Sial! Kau memanggil mereka?!" Santiago mengarahkan pistolnya kembali ke Alicia.
"Tidak! Mereka pasti mendengar keributan dari staf di bawah!" teriak Alicia.
Dalam momen sepersekian detik saat Santiago lengah, Rafael menerjang kaki Santiago dengan sisa tenaganya. Mereka bergulat di lantai. Pistol Santiago terlepas dan terlempar ke arah meja.
"Ambil pistolnya, Alicia! Lari!" teriak Rafael sambil menahan tangan Santiago yang mencoba meraih detonator di sakunya.
Alicia tidak lari. Ia justru mengambil pistol itu. Tangannya gemetar, namun matanya terkunci pada sosok Santiago yang sedang berusaha mencekik Rafael.
"SANTIAGO, HENTIKAN!" teriak Alicia, ia mengarahkan pistol itu ke arah mantan suaminya.
Santiago berhenti, menatap moncong pistol yang dipegang oleh wanita yang pernah ia cintai. Ia melihat wajah Alicia yang penuh dengan air mata, namun juga penuh dengan ketegasan yang mematikan.
"Kau akan menembakku, Alicia? Setelah semua yang kita lalui?" tanya Santiago dengan suara yang tiba-tiba melunak, mencoba memanipulasi emosi Alicia untuk terakhir kalinya.
"Kau bukan Santiago yang aku kenal," jawab Alicia, napasnya memburu. "Pria yang aku kenal tidak akan pernah mencoba membunuh orang yang aku cintai. Pergi, Santiago. Pergi sebelum aku benar-benar menarik pelatuk ini."
Puncak Ketegangan: Pengorbanan Rafael
Santiago, yang menyadari ia telah kalah sepenuhnya, justru tersenyum gila. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan detonator kecil itu.
"Jika aku tidak bisa memilikimu, dan kau tidak ingin kembali kepadaku... maka tidak akan ada yang tersisa dari ruangan ini," ujar Santiago.
"TIDAK!" Rafael melompat ke arah Santiago, mencoba merebut detonator itu.
Sebuah ledakan kecil terjadi di depan pintu—bom asap dan pemicu api yang disiapkan Santiago. Ruangan mulai dipenuhi asap tebal. Dalam kekacauan itu, sebuah tembakan meletus.
DOR!
TIDAK!!!!
Alicia menjerit. Ia melihat Rafael jatuh berlutut, memegangi perutnya yang mulai bersimbah darah. Santiago berdiri dengan tatapan kosong, pistol di tangannya kembali berasap.
"RAFAEL!" Alicia berlari menuju Rafael, mengabaikan Santiago yang kini jatuh terduduk, tampak jiwanya sudah benar-benar kosong.
Alicia memangku kepala Rafael. Darah merah membasahi gaun hijaunya yang mahal. "Bertahanlah, Rafael! Tolong, jangan tinggalkan aku! Aku mencintaimu! Aku mencintaimu, bukan karena strategi, bukan karena bisnis... aku benar-benar mencintaimu!"
Rafael tersenyum lemah, tangannya yang berlumuran darah membelai pipi Alicia. "Akhirnya... kau mengatakannya... tanpa... kontrak..."
Petugas SWAT mendobrak pintu, mengamankan Santiago yang tidak lagi melawan, dan segera memberikan pertolongan medis kepada Rafael.
Malam harinya, di lorong rumah sakit yang sunyi, Alicia duduk sendirian dengan pakaian yang masih bernoda darah. Ia tidak peduli dengan wartawan yang mengepung gedung, ia tidak peduli dengan harga saham Solera yang merosot tajam karena insiden ini.
Yang ia pedulikan hanyalah lampu ruang operasi yang masih menyala merah.
Don Mateo datang mendekat, menatap Alicia dengan rasa kasihan. "Dia akan selamat, Alicia. Rafael adalah pria yang kuat. Dia sudah sering menghadapi maut."
"Ini salahku," bisik Alicia. "Aku terlalu fokus pada dendam hingga aku membawa maut ke pintu rumahku sendiri. Aku hampir kehilangan dia karena keegoisanku."
"Kau menyelamatkannya, Alicia," kata Don Mateo. "Kau memilih dia di atas perusahaanmu. Itu adalah langkah paling berani yang pernah kau lakukan."
Saat lampu operasi akhirnya mati, seorang dokter keluar dengan wajah lelah namun memberikan anggukan kecil. "Tuan Montenegro telah melewati masa kritis. Pelurunya tidak mengenai organ vital, tapi dia kehilangan banyak darah."
Alicia jatuh terduduk, menangis sejadi-jadinya karena lega. Di saat itulah ia menyadari bahwa babak baru hidupnya bukan lagi tentang membalas dendam kepada Isabel atau Santiago. Babak baru ini adalah tentang mempertahankan apa yang benar-benar berharga.
...****************...
Beberapa hari kemudian, Rafael mulai sadar. Alicia duduk di samping tempat tidurnya, memegang tangannya erat-erat. Tidak ada lagi pembicaraan tentang merger atau akuisisi.
"Jadi..." bisik Rafael, suaranya masih sangat lemah. "Apakah tawaranmu untuk membangun perusahaan baru itu masih berlaku? Karena sepertinya kita akan sibuk dengan pemulihan citra."
Alicia tersenyum, kali ini senyum yang benar-benar hangat. "Aku akan memberikan seluruh saham Solera kepada yayasan sosial jika itu artinya kau tetap bernapas di sampingku, Rafael."
"Jangan konyol," Rafael tertawa pelan, meski itu membuatnya kesakitan. "Aku tetap menginginkan wanita paling kuat di Madrid. Tapi kali ini... aku menginginkan wanita yang tidak takut mengakui bahwa dia mencintaiku."
Mereka berdua terdiam, saling menatap dalam keheningan yang penuh makna. Namun, di luar sana, Isabel tidak tinggal diam. Ia mendengar tentang tragedi itu dan mulai menyusun narasi baru di media sosialnya, menggambarkan Alicia dan Rafael sebagai pasangan yang membawa "nasib buruk" dan kekerasan ke kota mereka.
Drama belum berakhir. Namun kali ini, Alicia dan Rafael tidak lagi bertarung sebagai mitra bisnis. Mereka bertarung sebagai dua jiwa yang telah menemukan satu sama lain di tengah reruntuhan kaca dan api.